BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 22. UNTUK KU SAJA


__ADS_3

Mahen membawa keluarganya ke rumah keluarga Andara terlebih dahulu, baru ke rumah pribadinya.


Dalam perjalanan, Annisa mengoceh banyak hal tentang sekolah dan kegiatannya di rumah bersama Devani. Oma dan Opa sangat senang, bocah kecil itu bisa ceria lagi seperti saat mamanya masih ada.


Mendengar cerita dari Annisa, Oma merasa yakin Devani juga bisa menjadi istri dan ibu yang baik seperti kakaknya. Beliau sudah tidak sabar ingin segera membicarakan hal ini kepada Mahen dan juga besannya.


"Hans...kapan kuliahmu selesai? tanya Mahen.


"Aku lanjut ambil gelar Master Kak," jawab Hans.


"Pantesan, kakak pikir kamu main-main saja kuliahnya hingga belum tamat juga," ucap Mahen.


"Oh...sorry ya Kak, aku juga tidak mau kalah dengan Kakak. Kalau bisa aku sekalian lanjut S3."


"Ampun deh Hans! Jangan hanya kamu pikirkan kerja-kerja dan kuliah melulu, kapan kamu akan menikah? Mama dan Papa ingin cucu dari kamu!" ucap Mama.


"Iya nih, kapan lagi! Usia kamu semakin tua Hans," ucap Mahen.


"Nunggu Kakak dulu, baru aku menikah," ucap Hans dengan sengaja.


"Aku sudah menikah dan punya anak, jadi tidak akan menikah lagi. Cukup mengurus dan melihat Annisa tumbuh dewasa dan suatu saat menikah."


"Nggak bisa seperti itu Hen! Kamu harus mencari pendamping lagi yang bisa mengurus dirimu. Coba lihat dirimu sekarang, sangat tak terurus, kamu masih muda, masa depanmu masih panjang," ucap Sang Papa.


"Tapi aku tidak bisa Pa! Aku mencintai Devina sampai kapanpun."


"Mama tahu, kamu belum bisa melupakan almarhumah istrimu, tapi dia pasti sedih di sana melihat dirimu seperti ini."


"Pokoknya aku belum bisa Ma, Pa. Maafkan aku."


Mereka semua terdiam, lalu Hans mencoba memecah keheningan, "Nisa mau nggak punya mama lagi?" tanya Hans kepada keponakannya itu.


"Mau Om...Nisa mau punya mama. Nisa sedih saat lihat teman-teman pergi bersama papa-mamanya sedangkan Nisa cuma punya Papa," ucap Annisa.

__ADS_1


"Kamu dengar Kak! Nggak kasihan kakak lihat Nisa. Memangnya sekarang kakak hidup buat siapa? Kalau kakak seperti ini terus berarti yang Kakak pikirkan bukan Annisa tapi diri sendiri," ucap Hans.


Mahen hanya mendesah, dia tidak mau memperpanjang cerita karena mereka sudah tiba di kediaman keluarga mertuanya.


Papa Andara dan juga Mama Intan senang keluarga besannya sudah sampai di Indonesia dengan selamat, mereka lalu mempersilakan semua untuk masuk.


Mama Mahen celingukan, beliau mencari orang yang memang ingin di temuinya.


"Oh ya Jeng, dimana Devani? Kok nggak kelihatan ya?"


"Ada Jeng, dia sedang bersiap, baru saja selesai memasak," jawab Mama Intan.


"Jarang lho anak gadis sekarang yang mau terjun ke dapur, mereka maunya yang praktis saja, beli atau mengandalkan jasa pembantu."


"Mau siapa lagi Jeng yang diandalkan kalau bukan Devani yang harus ke dapur, saya sudah tidak sanggup lagi. Lagipula Annisa senangnya makan masakan bundanya," ucap Mama Intan jujur.


"Iya lho Oma, habisnya masakan bunda enak, seperti masakan mama, Papa saja suka makan masakan bunda, iya 'kan Pa?" tanya Annisa kepada Sang Papa.


"Hen! Apa kamu tidak mendengar perkataan putrimu?" tanya mamanya sambil menyenggol lengan Mahen yang kebetulan duduk didekatnya.


"Heemm...iya, ada apa Ma?" ucap Mahen yang pura-pura terkejut dan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan.


"Kamu!" ucapan mama Mahen terhenti saat melihat Devani muncul sambil memberi salam.


Devani...kamu cantik sekali, beda dari saat kita terakhir bertemu," ucap Mama Mahen.


Hans yang memang selama pernikahan sang kakak baru sekali bertemu Devani, saat ini terpana. Benar yang dikatakan sang mama, Devani memang cantik sama seperti istri kakaknya. Menurutnya bodoh jika Mahen nanti menolak perjodohan tersebut.


Saat tangan Devani terulur, Hans buru-buru menjabatnya, untuk beberapa saat dia terdiam sambil memandang wajah gadis itu.


Mahen yang melihat itupun berdehem hingga membuat Hans tersentak dan melepaskan jabatan tangannya.


Devani hanya tertunduk, lalu pamit kembali ke dapur untuk mengambil minuman buat tamunya itu.

__ADS_1


Sambil menunggu Devani menyajikan minuman, Papa Andara dan Papa Emir ngobrol tentang bisnis, sedangkan mama Intan dan mama Mahen ngobrol dan bermain dengan Annisa.


Mahen pun permisi ke kamarnya untuk mengambil laptop, dia ingin menunjukkan tentang perkembangan bisnisnya kepada Hans.


Ini kesempatan bagi Hans untuk berbicara dari hati ke hati kepada sang kakak, lalu Hans berkata, "Kak Tunggu! Aku ikut ke kamarmu ya, pasti lebih enak kita ngobrol bisnis di sana," ucap Hans.


Mahen tidak menjawab, itu tandanya dia mengizinkan Hans untuk ikut masuk ke kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, mata Hans menyapu ke seluruh ruangan, dia geleng-geleng kepala melihat foto-foto almarhumah kakak iparnya terpampang hampir memenuhi ruangan kamar kakaknya.


"Kak... bagaimana kamu mau membuka hati untuk wanita lain, jika sebanyak ini kamu pajang foto kakak ipar. Apa kamu akan terus hidup bersama kenangannya Kak?" tanya Hans.


"Kamu tidak akan paham Hans! Makanya kamu buruan menikah nanti kamu akan tahu, kenapa aku seperti ini, tidak bisa melupakan pernikahan ku," jawab Mahen.


Sekarang jawab dengan jujur pertanyaan ku Kak, " Apakah Kak Mahen serius tidak ingin menikah lagi? walaupun misalnya para orangtua menjodohkanmu dengan Devani?"


Mahen terkejut lalu dia berkata, "Apa! Kamu ngaco, mana mungkin kami menikah, wanita yang aku cintai cuma Devina."


Sejenak dia terdiam, lalu melanjutkan ucapannya, "Walaupun mereka nyaris sama, tapi tetap saja dia bukanlah Devina dan aku tidak akan pernah bisa mencintai dia."


"Dia adik iparku dan selamanya akan tetap seperti itu," ucap Mahen lagi.


Hans kaget, ternyata sang kakak begitu keras kepala, tapi Hans tidak menyerah begitu saja, dia ingin sang kakak sadar bahwa hidupnya masih panjang, jangan sampai dia sia-sia kan.


Kemudian Hans berkata, "Kalau Kakak memang tidak mau dengan Devani nggak apa-apa, Kakak cari wanita lain. Biarlah...nanti aku bilang sama mama, papa dan kedua orangtuanya, lebih baik dia untukku saja. Aku siap menikah, jika Devani setuju," ucap Hans.


"Apa! Kamu sudah gila ya! kamu tidak mengenal dia Hans! Bagaimana bisa ingin menikahinya! Aku yang tahu perangainya diluaran bagaimana. Dia dan istriku sangat jauh berbeda bagaikan langit dan bumi."


"Aku tidak masalah Kak, nanti kami juga bisa saling kenal setelah menikah, seperti mama dan papa dulu," ucap Hans serius.


"Tidak! Pokoknya kamu tidak boleh menikah dengan dia, aku tidak setuju!" ucap Mahen sembari meninggalkan kamarnya, membawa laptop ke ruang tamu.


Hans menyusul sang Kakak, dia bingung, Mahen menolak di jodohkan dengan Devani tapi dia juga melarang Hans yang ingin menikahi gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2