BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 34. KECEWA DAN SEDIH


__ADS_3

Kebiasaan di rumah Andara, setiap subuh mereka semua terbangun untuk menjalankan kewajiban kecuali Annisa.


Sebelum Devani turun, Mahen terlebih dahulu menemui papa dan mama Andara di ruang makan. Dia memberi jawaban atas yang mereka bicarakan kemaren.


"Maaf Pa, Ma...saya sudah memikirkan semuanya, bahkan tadi malam sempat bicara dengan Devani, tapi mungkin kami memang tidak di takdirkan untuk berjodoh."


"Devani telah menolak saya dan saya juga tidak ingin memaksanya. Jadi, biarlah hubungan kami tetap seperti ini saja, nanti perlahan saya akan menjauhkan Annisa darinya agar tidak semakin tergantung kepada Devani. Bila perlu untuk beberapa saat kami berlibur ke Turki," ucap Mahen.


"Maksudnya Nak Mahen setuju menikah dengan Devani tapi dia menolaknya?" tanya Mama Intan.


"Iya Ma, dia mencintai pacarnya. Itu haknya, saya tidak mau memaksanya Ma. Oh ya Pa, Ma...saya pergi dulu ke kantor dan titip Annisa, nanti saya usahakan pulang cepat untuk menjemputnya. Kebetulan dia hari ini libur sekolah," ucap Mahen.


"Sarapan dulu Nak, itu Mbok Ijah sudah siapin sarapan," ucap Mama Intan.


"Terimakasih Ma, tapi saya buru-buru, pagi ini tamu perusahaan dari luar kota sampai, jadi nanti sarapan bersama mereka," ucap Mahen.


Kemudian Mahen pamit, lalu dia mengendarai mobilnya menuju kantor.


Devani yang mendengar suara mobil meninggalkan rumahnya segera bergegas turun dan bertanya kepada mama papanya, "Pa, Ma...apa Mahen sudah pergi, lalu Annisa bagaimana, apa dia tidak sekolah?"


"Iya, Mahen kedatangan tamu dari luar kota pagi ini makanya dia pergi pagi-pagi dan akan sarapan bersama mereka. Mengenai Annisa memang hari ini dia libur dari sekolahnya dan nanti Mahen akan pulang cepat untuk menjemputnya dan membawanya pulang," jawab Papa Andara.


"Oh..." Devani merasa lega, pagi ini dia tidak bertemu Mahen, karena perasaannya masih tidak enak telah menolak lamarannya tadi malam.


"Kenapa? Sepertinya kamu senang melihat Mahen pergi cepat?" tanya mama Intan.


"Bukan begitu Ma," jawab Devani.


"Van, Papa mau ngomong hal penting, duduklah kita sambil makan agar tidak terlambat ke kantor," pinta papa Andara.


"Kamu telah menolak lamaran Mahen ya?"


"Kok Papa bisa tahu? Apa Mahen yang mengatakan kepada Papa?" tanya balik Devani.


"Ya...dia tadi yang cerita. Tapi tadi malam sebelum dia melamarmu, kami sudah ngobrol banyak hal. Apa tidak bisa kamu pertimbangkan lagi Van?" tanya Papa.


"Iya Nak, dia pria, seorang papa dan sekaligus menantu yang baik. Kita sudah mengenal sifatnya, lagipula kamu dan Annisa juga sudah seperti Ibu dan anak, jadi apa yang membuatmu menolaknya Vin?" tanya mama.


"Maaf Ma, aku tidak ingin punya suami yang terpaksa menikahiku hanya demi anaknya bukan karena mencintaiku," ucap Devani.


"Saat ini mungkin iya, tapi lama-lama kalian pasti bisa saling mencintai," ucap mama lagi.

__ADS_1


"Kalau bisa Ma? Kalau Mahen selamanya terobsesi dengan Devina bagaimana? Aku tidak ingin hidup dengan bayang-bayang Devina Ma, yang selalu ada diantara kami," ucap Devani.


"Atau bukan karena itu alasanmu, tapi karena pria lain, siapa...yang datang waktu itu, Bas... Bas-tian, ya Bastian namanya, yang kamu bilang rumah tangga orangtuanya sedang kacau," ucap Mama.


"Iya Van, karena dia? Kamu sudah siap masuk di dalam keluarga seperti itu? Papa tidak mau kamu kena imbasnya apalagi sampai laki-laki itu menyia-nyiakan kamu seperti papanya menyia-nyiakan mamanya."


"Kemaren malah Papa dengar kabar, wartawan telah memberitakan keluarganya, bahwa istri siri papanya meninggal dunia saat melahirkan dan mamanya datang ke rumah sakit. Sekarang hak asuh putri dari istri siri papanya diambil alih oleh mama temanmu itu," ucap Papa Andara.


"Apa Pa! Papa serius? Papa baca di koran apa Pa? Pantas saja seharian aku telepon Bastian tidak diangkatnya, barangkali dia sedang sibuk dalam penyelenggaraan dan penguburan jenazah," ucap Devani sambil mencomot roti bakar dan meminum segelas susu.


Setelah itu Devani pun bangkit lalu pamit untuk pergi duluan.


"Pa, Ma...aku pergi dulu ya, aku akan menemui Bastian. Mungkin aku akan sedikit terlambat Pa, pergi ke kantor. Aku mohon izin ya Pa, aku ingin menyelesaikan kesalahpahaman diantara kami," ucap Devani lalu menyambar tas dan kunci mobil yang ada diatas meja, lalu berjalan keluar rumah.


Kemudian dia berteriak, "Oh ya Pa, aku naik mobil Papa! Papa nanti naik mobil aku saja ya, kuncinya ada di kamar, diatas nakas. Maaf Pa, Ma, aku terburu-buru, nanti malam kita bicara lagi."


Setelah itu, Devani pun naik ke mobil papanya dan melajukannya dengan kencang ke arah rumah Bastian.


Dalam perjalanan, Devani berusaha menghubungi Bastian, tapi tetap tidak diangkat, padahal ponselnya aktif.


Devani lalu menambah kecepatan mobilnya, dia tidak peduli jika harus menemui Bastian di rumahnya.


Hanya membutuhkan waktu setengah jam saja, Devani pun tiba di rumah Bastian.


"Maaf Non, Den Bastian sudah berangkat keluar negeri tadi malam. Katanya mau lanjut kuliah di sana, tapi jika Non mau bertemu Nyonya akan saya sampaikan."


"Keluar negeri Pak, Bapak tidak sedang membohongi saya 'kan?" tanya Devani dengan perasaan kecewa.


"Ngapain saya membohongi Non, Non boleh tanya langsung ke Tuan dan Nyonya atau ke pembantu yang lain."


"Ke negara mana Bastian perginya Pak?" tanya Devani lagi.


"Katanya Inggris Non, kalau bapak nggak salah dengar, universitas ox...ox gitu Non, Bapak lupa. Maklum bahasa Inggris sih...jadi Bapak susah mengingatnya."


"Universitas Oxford Pak?"


"Ha...iya Oxford."


"Apa nomor ponselnya juga ganti Pak?"


"Saya tidak tahu Non, kalau masalah itu, Den Bas belum pernah menelepon saya sejak berangkat. Barangkali nelepon Nyonya dan Tuan. Sebaiknya Nona bertemu mereka saja untuk bertanya tentang masalah Den Bastian."

__ADS_1


"Terimakasih Pak, lain kali saja. Saya pamit dulu ya Pak, jika Bastian telepon, tolong sampaikan salam saya, Devani. Jangan lupa ya Pak, Devani yang suka pergi ke arena balap bersama Den Bastian."


"Iya Non, insyaallah akan Bapak sampaikan."


Setelah itu, Devani pun pamit, dengan langkah gontai dia kembali ke mobilnya dan menjalankan mobil tersebut ke arena balapan.


Devani ingin melampiaskan rasa sedih dan kecewanya di sana. Dia menyesal, kenapa Bastian pergi sebelum mendengarkan penjelasan darinya.


Sepanjang perjalanan, Devani menangis, dia menyetir seperti alap-alap. Suasana pagi yang masih sepi membuat dirinya dengan mudah melewati kenderaan-kenderaan yang ada di depannya.


Rasa kecewa, sedih dan penyesalan menjadi satu, Devani tidak pernah menyangka Bastian begitu bodoh, pergi meninggalkan dirinya sebelum masalah mereka selesai.


Berarti perkataan yang diucapkan Bastian malam itu bukan hanya main-main, dia benar-benar telah memutuskan Devani.


Sesampainya di arena balapan, Devani turun dari mobil, lalu dia mencari seseorang yang ada di sana untuk menyewa motor.


Setelah mendapatkan motor, Devani yang memakai Rok, tidak peduli. Dia langsung naik ke atas motornya dan melajukan dengan kecepatan tinggi.


Dari kejauhan terlihat Devani diatas motornya meliuk-liuk seperti ular, mengikuti lika liku arena balapan. Sepintas orang melihatnya begitu kagum, tapi mereka tidak tahu, di atas motornya Devani sambil menangis.


Satu putaran telah Devani lewati dengan mulus, tapi saat masuk putaran kedua, dirinya limbung dan motor itu terjatuh.


Tubuh Devani terseret motor, dia sudah tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.


Orang yang punya motor melihat kejadian tersebut, dia berteriak minta tolong. Beberapa orang pun datang dan langsung membuka helm yang dipakai Devani dan mengangkat tubuhnya yang penuh dengan darah ke dalam mobil.


Kebetulan kunci mobil Devani masih tergantung di sana, jadi salah satu temannya itu segera melarikannya ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Dokter yang ada di ruangan UGD langsung memeriksanya, memasang selang infus dan mempersiapkan selang pernapasan.


Mereka berusaha menyadarkan Devani dari pingsannya. Setelah mendengar Devani terbatuk, Dokter lalu memasang selang pernapasan ke hidungnya.


Devani sudah sadar tapi belum sepenuhnya, karena dokter memberi suntikan obat hingga membuatnya mengantuk agar tidak terlalu merasakan sakit saat dokter sedang membersihkan luka-lukanya.


Teman Devani yang menolong dan membawanya ke rumah sakit, mencari ponsel Devani yang ada di dalam tasnya yang terletak di dalam mobil, lalu dia mencari nomor kontak orang tua Devani.


Kebetulan yang dia telepon adalah Papa Andara, mendengar putrinya kecelakaan, papa shok tapi beliau sadar, harus kuat dan segera pergi melihat kondisi Devani di rumah sakit.


Papa Andara meminta tolong kepada si penelepon agar menguruskan terlebih dahulu, administrasi perawatan Devani, supaya Dokter segera menanganinya, sementara papa Andara sedang dalam perjalanan menjemput mama Intan untuk bersama pergi ke rumah sakit.


Dokter segera menangani Devani, menggunting paksa pakaiannya yang compang-camping, lalu menutup tubuh Devani dengan selimut.

__ADS_1


Dari bagian sudut mulut Devani keluar darah, pakaiannya yang koyak terseret aspal kini sudah di lepas dan terlihat lah bagian tubuhnya yang penuh luka terutama kaki dan tangan serta di perkirakan ada anggota tubuhnya yang patah.


Setelah selesai membersihkan luka-luka di tubuh Devani, Dokter pun memeriksa bagian kaki yang terlihat membengkak, mungkin saja di bagian itulah yang terkilir ataupun patah tulang.


__ADS_2