
Mama Intan yang dalam keadaan pingsan akhirnya dibawa ke ruangan rawat. Karena kondisi tubuh beliau sangat lemah, dokter pun menyarankan agar di beri cairan infus untuk menambah tenaga.
Papa Andara dan Devani yang merasa cemas, setuju dengan saran dokter, lalu Dokter memerintahkan salah satu perawat untuk segera memasang selang infus ke tangan mama Intan.
Sementara Mahen yang tidak melihat Annisa ada di sana segera menghampiri Devani dan bertanya, "Van...di mana putriku kamu tinggalkan?"
"Annisa sedang bermain Kak bersama Bastian," ucap Devani sambil memijat-mijat kaki mamanya.
"Bastian! siapa dia? Kamu jangan sembarangan ya... membiarkan putriku bergaul dengan orang yang tidak atau baru saja kita kenal!" ucap Mahen kesal.
"Kamu jangan khawatir terlalu berlebihan, Bastian itu orang yang baik, lagipula dia sayang dengan anak-anak. Bastian juga yang telah menolong Devina tadi," ucap Devani.
"Dimana mereka sekarang! Awas saja jika terjadi sesuatu dengan Annisa!" ancam Mahen.
"Mereka sedang bermain di taman, jika kamu tidak percaya, silahkan saja lihat sendiri, Annisa pasti senang ada yang mengajaknya bermain, sementara kita fokus dengan masalah Devina dan Mama."
"Pak Mahen jangan khawatir, aku kenal baik kok dengan Bastian, dia temanku," ucap Trias.
"Iya Hen, biarkan Annisa bermain, dia juga pasti bosan di sini, tanpa bisa ngapa-ngapain, biar dia sejenak lupa dengan keinginannya untuk bersama mamanya," ucap Papa Andara.
"Tapi Pa! Aku takut dia kenapa-kenapa, sementara kondisi mamanya juga masih belum ada perubahan."
"Mari Pak! jika Bapak merasa khawatir, kita lihat saja mereka di taman. Bapak bisa menilai sendiri nanti, seperti apa Bastian itu," ucap Trias.
Mahen pun mengikuti Trias untuk mencari Annisa, lalu ketika tiba di taman, dia melihat Annisa begitu bahagia, tertawa lepas sambil bermain kuda-kudaan di rerumputan taman rumah sakit.
Sementara Bastian menjadi kuda dan sesekali dia memperagakan saat kuda meringkik hingga membuat Annisa tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Kemudian Bastian menggendong Annisa di atas pundaknya, berlari-lari kecil mengelilingi taman tersebut. Menangkapkan capung serta kupu-kupu hingga Annisa semakin senang dan sejenak lupa akan permintaannya untuk bersama sang mama.
"Lihat Pak! Benar 'kan kata Devina. Annisa sangat gembira, Bastian pandai mengambil hati anak-anak."
"Memang aku akui dia pandai mengambil hati Annisa, tapi coba lihat penampilannya, dia bukan seperti orang baik-baik. Dia seperti preman pasar yang sering memalak para pedagang kaki lima. Dan coba lihat itu! kalung serta gelang yang dia pakai seperti rantai yang di gunakan untuk mengikat binatang."
"Pak, memandang orang itu jangan cuma dari penampilan! banyak kok orang yang berpenampilan gagah, rapi seperti orang kantoran, eh... ternyata pencopet. Gaya itu lagi trend Pak sekarang, maklum anak muda, seperti Bapak tidak pernah muda saja!" ucap Trias yang rada tersinggung dengan ucapan Mahen.
Kemudian Trias mendekati Bastian dan berkata, "Bas...Nisa, sudah dulu mainnya, itu Papa Nisa nyari kalian!" ucap Trias.
Annisa pun turun dari pundak Bastian sambil berkata, "Om kita istirahat dulu ya, nanti kita main lagi. Nisa mau temuin Papa dulu," ucap Annisa.
Setelah mengatakan hal itu, Annisa pun berlari menghampiri Papanya lalu dia berkata, "Pa... bagaimana keadaan mama? Apa aku sudah boleh ketemu mama? Kenapa Dokter melarang kita ya Pa untuk ketemu mama, memangnya mama masih tidur ya Pa, bersama adik bayi dan tidak boleh diganggu? Aku kan kangen mama, Pa," ucap Annisa sambil memandang Mahen dengan wajah polosnya itu.
Mahen bingung bagaimana mau menjawab begitu banyak pertanyaan putrinya, dia lalu menggendong Annisa, mencium pipinya sambil berkata, "Mama masih tidur Nak! Nanti kalau mama sudah bangun, Pak Dokter pasti ngizinkan kita bertemu mama. Kamu doain mama dong, biar mama segera bangun," ucap Mahen.
"Mama kok tidurnya lama banget Pa? Biasanya 'kan mama yang banguni Nisa dan Papa karena tidurnya kelamaan. Kalau begitu yuk kita gantian banguni mama, mama pasti belum makan!" ucap Annisa lagi sambil turun dari gendongan Mahen dan menarik tangan papanya itu untuk kembali ke ruang ICU.
Bastian lalu mendekati Annisa, berjongkok dihadapannya dan berkata, "Annisa sayang, mama Nisa 'kan sedang lelah, jadi dokter minta mama untuk istirahat yang lama. Nisa, sayang mama 'kan?" tanya Bastian.
Nisa pun mengangguk, lalu berkata, "Tentu saja Om, Nisa sayang... sekali sama mama," ucap Annisa.
"Kalau gitu, yuk...ke dalam temuin eyang dan bunda, kita doain mama Nisa bersama-sama," ajak Bastian.
"Ayo Om, ayo Pa," ajak Annisa sambil menarik tangan Bastian dan Papanya.
Mahen tidak berkata apapun selain mengikuti kemauan putrinya, hingga mereka tiba di depan ruang ICU. Annisa celingukan mencari keberadaan eyang dan bundanya, lalu dia bertanya, "Pa, eyang Kakung, eyang putri dan bunda kemana ya? Kok nggak ada disini Pa?"
__ADS_1
"Oh...eyang putri sakit Nak, dan tadi di bawa ke ruangan dan diperiksa oleh Pak Dokter," ucap Mahen.
"Eyang boleh kita jenguk 'kan Pa?"
"Oh, boleh, ayo kita kesana!" ajak Mahen.
Mereka segera ke ruangan tempat mama Intan di infus. Devani yang melihat Nisa datang segera menggendong dan membawa ke sisi eyang putrinya yang sedang tidur.
Sekarang kesempatan bagi Mahen untuk bertanya dan meminta penjelasan kepada Bastian tentang kronologis kecelakaan tersebut, mumpung putrinya ada yang jaga.
"Bas, aku ingin bicara! Bisa kita bicara sebentar di luar?" tanya Mahen.
Bastian pun mengangguk, dia sudah bisa menduga apa yang akan di bicarakan Mahen dengannya.
Keduanya pun keluar ruangan, Trias yang takut ada kesalahpahaman antara kedua pria itu, segera mengikuti mereka, begitu juga dengan Papa Andara.
"Sekarang, tolong kamu jelaskan! bagaimana istriku bisa celaka dan kenapa bisa kamu yang menolongnya!" ucap Mahen.
Bastian pun menceritakan semuanya tanpa ada yang dia tutupi, termasuk dirinya yang ikut dalam rombongan tersebut.
Begitu mendengar istrinya celaka di sebabkan oleh Bastian dan teman-temannya, Mahen langsung menarik kerah baju Bastian dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sudah mengepal hendak memberi bogem mentah ke wajah Bastian.
Trias yang melihat hal itu, langsung menengahi, "Tunggu Pak! itu bukan sepenuhnya kesalahan Bastian! kenapa Bapak hendak memukulnya. Dia 'kan sudah mau bertanggungjawab dengan membawa kak Devina kesini, toh itu bukan murni kesalahannya. Bapak cari dan pukul saja teman Bastian yang menyebabkan mobil Kak Vina menabrak pohon!" ucap Trias.
"Kamu jangan ngebela dia ya! mentang-mentang dia temanmu!Jika dia tidak sok jagoan, sok preman, sok ugal-ugalan di jalan raya, istriku tidak akan kritis seperti sekarang! Jika terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap istri dan calon bayiku, jangan harap aku akan melepaskan dia. Aku akan tuntut dan jebloskan dia ke penjara," ucap Mahen sambil menggebrak bangku yang mereka duduki.
Tangan Mahen gemetar lalu sekali lagi dia menarik kerah baju Bastian dan hendak memukulnya.
__ADS_1
Namun Pak Andara segera menghalangi, menarik tangan Mahen dan berkata, "Sabar Hen, semuanya tidak akan selesai dengan cara kekerasan. Tenanglah...serahkan semua kepada pihak polisi, biar mereka yang akan melakukan penyelidikan kasus ini," ucap Pak Andara.
Mahen akhirnya menurunkan tangannya. Bastian juga tidak membantah sepatah katapun mengenai tuduhan Mahen karena dia memang merasa ikut bersalah.