BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 55. BERZIARAH


__ADS_3

Melihat pandangan Lusy yang menampakkan ketidaksukaannya membuat Devani risih. Dia memilih berjalan di belakang Mahen, namun Mahen yang mengetahui hal itu langsung menarik lengannya dan tersenyum.


"Ayo, silahkan masuk. Kamu tunggu di sofa sana ya, aku selesaikan pekerjaan sedikit lagi baru kita ke makam, "ucap Mahen.


Devani pun menuruti perkataan Mahen, dia duduk sambil melihat ke sekeliling, tapi saat matanya tertuju ke sebuah bingkai foto yang ada di meja Mahen matanya membulat, di sana terpajang fotonya bersama Annisa yang sedang tertawa lepas.


Devani tidak tahu, kapan Mahen mengambil foto itu, bahkan dia sendiri tidak tahu jika ada fose seperti itu.


"Kamu curang, aku kok tidak tahu jika ada fotoku di sini dan kapan kamu mengambil pose itu, kenapa aku tidak ingat!" tanya Devani.


"Saat aku mulai jatuh cinta sama kamu! Melihat Annisa dan kamu begitu bahagia bisa tertawa lepas, aku baru sadar kebahagiaan ku masih ada, hanya hatiku saja yang tertutup selama ini."


"Iya, tapi aku 'kan malu Hen."


"Malu dengan siapa? Aku yang melihat kalian di sini setiap hari. Kesinilah! ada yang ingin aku perlihatkan lagi sama kamu," ajak Mahen.


"Mahen membuka ruangan pribadinya, lalu mengajak Devani masuk, disana Devani lebih terkejut lagi, saat melihat di dinding ruangan, fotonya terpampang begitu banyak dengan beragam gaya."


"Ya ampun, kamu ada-ada saja Hen, kenapa begitu banyak fotoku di sini, sudah seperti studio foto saja isi kantor mu."


"Supaya yang kuingat, selalu dan hanya kalian. Di rumah aku bersama kalian, di sini juga hanya kalian yang ada bersamaku."


"Apa kamu tidak takut dikatakan sebagai CEO bucin nantinya," ucap Devani.


"Bucin dengan istri sendiri memangnya salah?"


Devani hanya tersenyum menanggapi jawaban dari Mahen. Kemudian dia berkata, "Sudah siapkah pekerjaan kamu Hen, ayo kita berangkat nanti mama dan papa menunggu kita di sana terlalu lama," ucap Devani.


"Sudah kok, sebentar ya!"


Mahen keluar ruangan untuk menemui Lusy dan memberikan berkas tersebut kepadanya sambil berkata, "Lusy, kosongkan jadwal saya lima hari kedepan, jika ada yang penting kamu telepon saja ke ponsel Saya," perintah Mahen.


"Memangnya Bapak mau kemana kok libur begitu lama Pak?" tanya Lusy kepo.


"Menata masa depan," jawab Mahen sambil tersenyum meninggalkan ruangan Lusy.


Lusy bengong, dia tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh pimpinannya, tapi kemudian dia bangkit dan mengejar Mahen, "Pak, tunggu! Tunggu Pak!" teriak Lusy tapi Mahen keburu masuk ke dalam lift bersama Devani.


"Eh, apa mungkin mereka akan menikah?" monolog Lusy.


"Tidak! Oh, jangan! Dia milikku, Pak Mahen harus jadi milikku, tidak akan aku biarkan siapapun memilikinya, termasuk wanita tadi. Aku harus cari tahu!" ucap Lusy lagi.


Kemudian Lusy menelepon Gara, teman Mahen yang biasa membawa bosnya itu pergi ke club malam.


"Hallo Gar! Bisa kita ketemuan nanti sepulang kantor?" tanya Lusy ketika Gara mengangkat panggilan telepon darinya.


"Memangnya ada apa Lus? Oh ya, bos kamu belakangan kok nggak pernah kelihatan, memangnya dia kemana Lus? Aku telepon juga nomornya tidak aktif," tanya Gara.


"Sudah berapa lama rupanya, Bos ku tidak kesana?" tanya Lusy lagi.

__ADS_1


"Hampir satu bulan."


"Aku tahu Gar alasannya, pasti gara-gara perempuan tadi."


"Apa maksudmu Lus, memangnya Mahen sudah punya gebetan lagi."


"Nanti kita ketemu saja biar enak ngobrolnya," ucap Lusy.


"Oke, aku tunggu di tempat biasa ya," ucap Gara lalu menutup teleponnya.


Sementara Mahen dan Devani sudah sampai di makam, ternyata kedua mama dan papa, Annisa serta Hans sudah sampai di sana. Mereka sedang membersihkan makam dengan alat sederhana untuk membersihkan rumput yaitu wangkil atau pacul mini.


Mahen dan Devani ikut membersihkan makam tersebut, setelah itu barulah Mahen memimpin doa, mendoakan almarhumah Devina secara bersama-sama.


Adapun doa yang di baca oleh Mahen sebagai berikut:



Mengucap salam



Yang artinya: "Assalamuallaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Allah yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian."




Artinya: "Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepadaNya."




Membaca surah Al Fatihah




Membaca surah pendek seperti


Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas




Membaca kalimat tahlil

__ADS_1




Yang artinya: "Tiada Tuhan selain Allah.



Kemudian Mahen membaca doa ziarah kubur sebagai penutup,



Yang artinya: "Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikan lah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikan lah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari istrinya. Masukkan lah dia ke dalam surga, berikanlah perlindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkan lah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya."


Mereka meneteskan air mata saat terkenang almarhumah semasa hidupnya. Ziarah ini mengingatkan bahwa semua yang bernyawa pasti akan mati, cepat ataupun lambat, hanya tinggal menunggu giliran saja.


Semua pamit dengan mengucapkan salam kepada ahli kubur, lalu meninggalkan tempat itu untuk pulang ke rumah.


Mahen meminta Hans untuk membawa mobilnya pulang, karena Mahen akan menyetir mobil Devani.


Keduanya pamit akan menyelesaikan urusan dulu, baru menyusul pulang, sedangkan Annisa memilih pulang bersama Eyang dan Oma serta Hans.


Mahen dan Devani pergi ke cafe tempat anak-anak dan temannya menunggu.


Sesuai janji Mahen telah membelikan seperangkat alat musik untuk anak-anak tersebut dan besok pihak toko akan mengirimnya ke cafe.


Mereka juga akan mengundang anak-anak tersebut datang ke acara selamatan akad nikahnya lusa.


Saat melihat kedatangan Mahen dan Devani, anak-anak itu bersorak, apalagi saat diberitahu jika besok mereka sudah bisa berlatih dengan menggunakan alat yang baru.


Melihat wajah sumringah anak-anak itu, Mahen merasa senang bisa berbagi dengan mereka. Saat anak-anak mengerumuni Mahen, Nindi dan Athar menarik tangan Devani, mereka berbisik tentang Bastian.


Devani sedih mendengarnya, lalu dia berkata kepada temannya itu bahwa dia akan menemui Bastian lagi sebelum acara balapan di mulai.


Mahen yang melihat ada perubahan di mimik wajah Devani, segera meninggalkan anak-anak itu dan mendekatinya sambil bertanya, "Ada apa Van? Ada masalah?" tanya Mahen.


"Bastian!"


"Kenapa dengan dia, bukannya balapannya nanti malam?"


"Saat ini dia sedang minum-minum bersama preman yang biasa nongkrong di perempatan jalan sana."


"Kamu ingin kita kesana?" tanya Mahen.


"Memangnya kamu mau mengantarku kesana?"


"Ayo, kita coba sadarkan dia, karena itu tidak ada manfaatnya. Apalagi nanti malam, dia akan balapan. Apa dia mau mati sia-sia," ucap Mahen.


Kemudian Devani dan Mahen pamit kepada anak-anak dan teman-temannya, karena mereka akan mencari Bastian.

__ADS_1


__ADS_2