
"Ada apa ini Hen? Kenapa kamu datang bersama aparat polisi?" tanya Gara terlihat kurang senang.
"Oh...maaf Gar, ini hanya kebetulan saja. Maaf Gar, aku boleh melihat wanitamu?" tanya Mahen.
"Tapi untuk apa Hen? Maaf Hen, aku harap jangan sekarang, dia lagi istirahat dan kondisi mentalnya belum stabil. Lagipula dia juga baru keluar dari rumah sakit," ucap Gara.
"Aku mohon Gar, aku tidak akan mengganggunya, hanya melihat wajahnya sebentar untuk menghilangkan rasa penasaranku," ucap Mahen.
"Tolong Dek, bekerjasama lah dengan kami, ini demi kasus yang sedang kami selidiki," ucap Pak Wirya.
"Baiklah Pak, tapi aku mohon jangan sampai membuat wanita itu ketakutan, aku takut dia kembali mengamuk," ucap Gara.
"Sebaiknya, Dek Mahen saja yang kesana untuk melihat, agar dia tidak terkejut dan histeris. Jika terlalu ramai dikhawatirkan akan membuatnya takut."
"Iya Om," jawab Mahen.
"Ayo Gar, tolonglah!" pinta Mahen.
Kemudian dengan ragu, Gara menuju ke kamar di mana wanitanya berada, tapi sebelum masuk Gara berbalik dan berkata, "Apa kamu pikir dia istrimu Hen? Itu pasti tidak mungkin!"
"Aku juga berharap begitu Gar," ucap Mahen. Namun, semakin dia mendekat ke kamar, detak jantungnya semakin tak karuan.
__ADS_1
Kemudian Gara membuka pintu kamar, di mana wanitanya sedang terbaring membelakangi arah pintu.
"Masuklah Hen, itu dia sedang tidur."
Mahen pun mengendap masuk, dia tidak ingin mengejutkan wanita yang saat ini sedang bergelung di dalam selimut.
Tapi alangkah terkejutnya Mahen saat wanita itu berbalik dan tampaklah wajahnya menyembul dari dalam selimut.
Mahen terperanjat, dia tidak bisa berkata-kata, perlahan air matanya pun menetes.
"Van," akhirnya hanya satu kata yang bisa Mahen ucapkan. Tenggorokannya saat ini seperti tercekat, hingga Mahen tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Mahen tak kuasa lagi menahan kesedihannya, lalu dia menghambur ke atas tempat tidur dan memeluk istrinya yang masih tertidur.
"Aku kotor...aku kotor! Pergi, pergilah! Hiks...hiks...hiks. Tangis Devani pun pecah, dia menutup wajahnya karena malu berhadapan dengan Mahen.
"Van, ini aku. Mahen, suamimu," ucap Mahen berusaha mendekat.
"Hiks...hiks...hiks," Devani kembali menangis, nafasnya sesak, dia tidak menyangka jika Mahen bisa menemukannya secepat ini, sementara dirinya belum siap sama sekali.
Mahen tidak peduli, lalu dia memeluk Devani sekuatnya, Devani meronta sambil terus berkata bahwa dirinya kotor dan tidak pantas lagi untuk bertemu dan mendampinginya.
__ADS_1
Melihat Devani yang terus histeris, Mahen tak kuasa menahan tangisnya lagi. Dia mendekap erat sambil menciumi puncak kepala istrinya.
"Ini bukan kesalahanmu Van! Jadi jangan seperti ini. Aku salah, aku tidak bisa melindungi istriku. Tenanglah! kamu tidak kotor, kamu Istriku."
Devani terus terisak-isak tapi tenaganya sudah melemah, dia tidak mampu meronta dan keluar dari pelukan Mahen.
"Menangis lah, aku di sini Van. Maafkan aku. Kita pulang ya, semua merindukan kamu. Papa, mama dan Annisa semua cemas. Mereka pasti senang melihatmu kembali," ucap Mahen.
Gara yang melihat hal itu terpaku, dia merasa sangat bersalah, ternyata wanita yang di booking nya adalah istri sahabat karibnya sendiri.
Dia tidak tahu lagi bagaimana cara menebus kesalahannya. Nasi telah menjadi bubur dan tidak mungkin kembali lagi menjadi nasi.
Kini hanya tinggal penyesalan yang ada di hati Gara, kenapa dia tidak mengenal istri sahabatnya itu dan kenapa malam itu dia sampai mabuk.
Gara tahu, bagaimana perasaan sahabatnya sekarang dan dia pasrah apapun hukuman yang akan Mahen berikan untuknya. Gara siap menanggung, meskipun harus menyerahkan dirinya kepada pihak yang berwajib.
Tapi sebelumnya, Gara harus menyeret siapa dalang di balik penjualan Devani. Dia akan membawa orang itu untuk ikut bertanggung jawab.
Gara mendekati Mahen lalu berkata, "Maafkan aku Hen, aku penyebab semua ini. Aku bersedia menanggung apapun hukumanku."
"Entahlah Gar, aku harus menghukummu bagaimana, dia istriku Gar. Istriku terganggu jiwanya akibat kebiasaan burukmu!" ucap Mahen.
__ADS_1
Gara keluar dari kamar, lalu dia mengacungkan kedua tangannya kepada AKBP Wirya. Semua yang ada di sana pun terkejut, mereka bingung dengan sikap Gara, termasuk sang mama.
Polisi menunggu Mahen keluar untuk mendapatkan penjelasan atas kejadian sebenarnya.