
"Ada yang penting Hen?" tanya Devani saat Mahen sudah selesai menerima telepon dan kembali menghampiri Devani.
"Nggak, hanya teman yang minta ketemuan. Sudah lama nggak ada kabar jadi dia heran, kemana aku hampir sebulan nggak ada kabar," jawab Mahen.
"Oh, berarti sejak Mama Papa datang kamu tidak pernah bertemu dia," ucap Devani.
"Iya Benar, aku 'kan pokus kerja, menemani Mama Papa serta menemani kamu," ucap Mahen sambil tersenyum saat menekankan kata kamu kepada Devani.
"Iya deh, terimakasih ya, sudah jadi teman baik dan setia," balas Devani.
"Ayo kita cari Bastian lagi", ajak Mahen.
"Oke," jawab Mahen sambil menggandeng tangan Devani ke arah mobil.
Mereka pun meninggalkan tempat itu, menyusuri jalanan untuk mencari Bastian yang kata Nindi sedang nongkrong dan minum-minum dengan preman jalanan.
Mahen sudah mengitari daerah sekitaran cafe tapi tidak melihat Bastian, lalu dia mencoba mencari ke tempat lain yang biasa para preman nongkrong tapi juga tidak melihat satu orangpun ada di sana.
"Bagaimana Van, kemana kita harus mencarinya lagi? Apa tidak ada tempat lain yang biasanya kalian nongkrong atau tempat berkesan untuk kalian berdua," tanya Mahen.
"Ada sih! Pantai. Tapi tidak mungkin Bastian kesana, tempatnya lumayan jauh dan hari pun telah senja, nggak mungkin 'kan? sedangkan Bastian akan balapan malam ini," ucap Devani.
"Biasanya, kalau ada masalah, kami selalu kesana, berteriak sekencang-kencangnya melepaskan penat dan sesak di dada, hingga terasa lega, baru kembali," ucap Devani lagi yang terkenang saat Bastian menghadapi masalah perselingkuhan sang Papa dan saat dia sendiri dulu stres merasa di banding-bandingkan dengan saudara kembarnya yaitu almarhumah Devani.
Melihat Devani terdiam lama, Mahen pun bertanya, "Kenapa diam, teringat kenangan di sana ya?"
Devani tidak menjawab, hanya suara ******* nafasnya saja yang terdengar berat di telinga Mahen.
Kemudian Mahen bertanya lagi, "Apakah pernah malam hari kalian kesana?"
"Pernah, saat itu dia sedang ada masalah dengan orangtuanya," jawab Devani.
__ADS_1
"Berarti ada kemungkinan dia di sana, apalagi malam ini bulan sedang purnama, suasana di sana pasti sangat terang," ucap Mahen.
"Entahlah!" ucap Devani.
"Begini saja, kita cari dia disana baru ke arena balapan," ajak Mahen.
"Apa kamu tidak capek Hen, aku rasa sebaiknya kita pulang, mudah-mudahan tidak terjadi apapun dengan Bastian dan dia akan segera sadar, yang dia lakukan itu tidak berguna," ucap Devani.
"Tidak Van, sudah kepalang basah, kita akan cari dia sampai ketemu. Lagipula harus ada yang menyadarkannya, seperti aku dulu. Kalian semua mendukungku, hingga aku sadar dan bisa menerima kenyataan," ucap Mahen.
"Kalau itu keputusan mu dan tidak merasa keberatan, ya sudah ayolah kita pergi sekarang, biar jangan terlalu malam kita sampai di sana," ucap Devani.
"Iya, ayo. Kamu tunjukkan jalannya ya, aku tidak pernah pergi ke sana, ucap Mahen.
Devani pun mengangguk, lalu Mahen melajukan mobilnya menuju pantai yang di maksud oleh Devani. Pantai ini masih berada di wilayah Jakarta.
Di sana sangat sepi, mereka tidak melihat keberadaan Bastian, lalu Devani pun berkata, "Mungkin Bastian tidak kesini Hen, sebaiknya kita pulang," ajak Devani.
Mahen belum setuju dengan ucapan Devani, lalu dia berkata, "Tunggu Van! Ayo kita ke sebelah sana, barangkali dia datang dari arah lain. Jika tidak ada, barulah kita pergi dari sini!" ucap Mahen sambil menggandeng tangan Devani.
Devani kepayahan berjalan di pasiran pantai karena saat ini, dia memakai sepatu berhak sedang dan sesekali angin kencang menerbangkan rok yang dipakainya hingga dia harus memegangi agar tidak tersingkap ke atas.
Sebenarnya pemandangan rona merah di ufuk barat, angin pantai sepoi-sepoi, dan suara ombak yang berdeburan silih berganti sangat indah untuk dinikmati oleh pasangan yang sedang jatuh cinta, tapi tidak bagi Devani dan Mahen saat ini.
Hati Devani sedang gundah, dia khawatir dengan Bastian, sedangkan Mahen, fokus memandang ke sekeliling agar tidak melewatkan tempat yang kemungkinan bisa Bastian duduki untuk menyendiri di sana.
Ternyata, usaha Mahen tidak sia-sia, dia melihat dari kejauhan seseorang sedang berdiri menghadap laut, di atas pohon kayu besar yang tumbang karena terangkat akarnya dan jatuh batangnya mengarah ke bibir pantai.
Pria di sana sedang menjerit sekuatnya tapi suaranya hilang di bawa angin serta gemuruh dan deburan ombak yang bersahut-sahutan.
__ADS_1
Di belakang pria itu, terparkir sebuah mobil Jeep warna putih, yang tentunya membuat Devani yakin jika yang berada di kejauhan sana adalah Bastian.
"Hen, itu Bastian!" teriak Devani.
"Iya, aku tahu Van. Hanya seorang pria yang sedang patah hati dan stres yang mau datang sendirian menjelang malam, di tempat sepi seperti ini," ucap Mahen.
Mahen dan Devina terus berjalan, tapi mereka belum berani terlalu dekat. Keduanya masih memperhatikan apa yang Bastian sedang lakukan.
Mereka melihat Bastian memegang sebotol minuman, dengan penampilan acak-acakan dia minum dan berteriak serta sesekali terdengar suara tangis lirih dan berkata bahwa apa yang terjadi dalam hidup ini, tidak adil baginya.
Devani menangis melihat keadaan Bastian, dia saat ini berada diantara pilihan yang sulit.
Kemudian Mahen berkata, "Kamu tunggu di sini! Biar aku yang akan berbicara dengan Bastian," ucap Mahen sambil berjalan dan naik ke batang kayu tumbang tersebut ke arah Bastian berdiri.
Bastian tidak menyadari kehadiran Mahen, dia asyik menghabiskan minuman di botol yang ada dalam genggaman tangannya.
Mahen menepuk pelan pundak Bastian sambil berkata, "Bas, Aku ingin bicara!" ucap Mahen.
Bastian menoleh, lalu dengan menyeringai sambil sempoyongan dia berkata, "Siapa kamu! menjauhlah, aku mau sendiri!"
"Bas, ini aku Mahen! Lihat aku baik-baik dan itu Devani!" ucap Mahen sambil memegang pundak Bastian, lalu menunjuk ke arah Devani berdiri.
Saat mendengar nama Devani, Bastian terkesiap, dia melihat ke arah gadis itu lalu berteriak, "Pergi! Aku tidak butuh penjelasan dan belas kasihan dari kalian!" teriak Bastian lalu tertawa dan melemparkan botol minuman yang telah kosong ke arah Devani.
Mahen kaget, tapi dia tidak sempat menahan tangan Bastian yang melemparkan botol itu kepada Devani.
Botol meluncur, menyerempet mengenai pelipis Devani. Dia jatuh sambil memegangi pelipisnya yang sakit serta mengucurkan darah. Tiba-tiba saja tempat itu menjadi gelap gulita, Devani pingsan hingga tubuhnya terkulai di pasiran.
Botol yang sempat menyerempet pelipis Devani pun pecah, kacanya berhamburan di sebelah tubuh Devani yang pingsan.
Mahen berteriak, melompat dari batang kayu itu untuk menolong Devani. Mahen memeluk tubuh gadis itu, lalu mengambil sapu tangan dari sakunya untuk menahan darah yang mengucur.
__ADS_1
Sapu tangan yang tipis tidak bisa menahan banyaknya darah yang keluar, lalu Mahen membuka kemejanya dan menutup serta menekan dengan perlahan agar darah berhenti mengalir.