BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 43. AKU BUKAN DIA


__ADS_3

"Sudah kinclong Pak Bos! saran saja ya Pak, jangan terlalu larut dengan kesedihan, kasihan adek comel dia masih membutuhkan kasih sayang Pak Bos. Ibu cantik juga pasti sedih bila melihat penampilan Pak Bos seperti tadi," ucap karyawan klinik perawatan tersebut.


"Terimakasih sudah mengingatkan Saya, Kalau begitu Saya permisi dulu ya, ini tips buat kamu, untuk makan bakso," ucap Mahen sambil tersenyum.


Terimakasih kembali Pak Bos. Mudah-mudahan lancar terus rezekinya dan Saya doakan, semoga segera mendapatkan pendamping lagi yang sama baiknya seperti ibu cantik."


"Aamiin..." jawab Mahen.


Mahen pun meninggalkan klinik perawatan tersebut, lalu pulang ke rumah pribadinya dulu untuk mandi dan bersiap.


Kini Mahen nampak lebih tampan dan gagah, hal ini diakui oleh para pelayan di rumahnya serta para tetangga yang kebetulan lewat di depan rumah.


Setelah berdandan rapih, karena nanti sekalian mau bertemu dengan tamu dari luar negeri, Royan pun bergegas melajukan mobilnya ke rumah keluarga Andara.


Setibanya di sana, Mahen heran, kenapa rumah tampak lengang, biasanya terdengar suara Annisa sedang bermain, atau Papa mama sedang ngobrol di beranda.


Mahen mengucap salam dan mbok Ijah yang membuka pintu.


"Kok sepi Mbok, pada kemana semua," tanya Mahen.


"Papa, mama Aden dan Den Hansen serta Den Nisa pergi jalan-jalan, Tuan masih di kantor, sedangkan Nyonya ada di kamar. Kalau Den Devani lagi berdandan Den, silahkan Aden duduk dulu, biar Mbok lihat dan panggilkan Den Devani," ucap Simbok lalu naik ke lantai atas untuk melihat Devani.


Sesampainya di depan kamar Devani, simbok pun memanggil sambil mengetuk pintu.


Ketika Devani membuka pintu, Simbok kaget dan mundur beberapa langkah. Mbok Ijah tidak percaya dengan penglihatannya, lalu dia mengucek mata sambil berkata, "Den Vina!"

__ADS_1


"Mbok, ini aku...Devani! Coba mbok lihat aku baik-baik!" ucap Devani.


"Iya Den maaf, asli...sama percis Den, Mbok yang setiap hari melihat Den Vani aja bisa salah mengenali, apalagi orang lain," ucap Simbok.


"Tapi Mbok, aku bukan dia. Aku tetap ingin jadi diriku sendiri," ucap Devani sedih.


Simbok tahu, makanya Devani dari dulu ingin tampil beda, itu karena dia tidak suka orang lain menyama-nyamakan dirinya dengan saudara kembarnya. Biar dia terlihat jelek di mata orang, tapi seenggaknya Devani punya identitas, bukan numpang tenar kepada kembarannya.


"Oh ya Den, Den Mahen sudah datang," ucap Simbok.


"Iya Mbok, ini juga sudah siap," jawab Devani.


Mbok duluan turun ya Den, mau manggil Nyonya," ucap Simbok.


Devani pun mengangguk, lalu dia mengenakan sepatu hak tinggi, tapi karena merasa kurang nyaman, akhirnya Devani melepasnya dan memakai sepatu kets yang biasa dia gunakan.


Mahen yang melihat Devani terpaku, dia seperti sedang melihat almarhumah istrinya hidup kembali.


Tanpa sadar, Mahen mengulurkan tangan hendak meraba wajah Devani tapi akhirnya dia tersentak, sadar bahwa wanita dihadapannya bukanlah Devina.


Mahen mendesah, merasa bersalah, lalu berbalik badan sambil berucap, "Maaf..."


Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulutnya, dia tidak boleh bersikap seperti ini, tidak boleh membiarkan bayangan Devina hidup dalam diri Devani.


Devani sadar, pasti Mahen tadi menganggap dirinya adalah Devina, lalu untuk mencairkan suasana Devani pun berkata, "Makanya aku lebih suka tampil beda Hen, seperti penampilanku biasanya."

__ADS_1


"Karena aku bukan dia dan tidak ingin menjadi dia serta tidak mau orang lain menganggapku dan mencintaiku sebagai dia."


"Aku adalah aku dan selamanya tidak akan bisa dan tidak mau menjadi dia," ucap Devani sambil tertunduk. Dia sedih dan merasa dirinya tidak ada di dunia ini.


Mahen pun berbalik menghadap Devani, lalu sambil memegang kedua tangan gadis itu, diapun berkata, "Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu Van. Mungkin karena baru melihatmu berpenampilan seperti ini, makanya aku jadi ingat dia, tapi aku janji akan berusaha mencintaimu apa adanya."


"Kau adalah Devani dengan segala kekurangan dan kelebihanmu sendiri, bukan Devina almarhumah istriku," ucap Mahen sungguh-sungguh dengan perasaan menyesal.


"Terimakasih Hen, jika kamu sadar akan hal itu," ucap Devani.


Saat Mahen hendak berkata lagi, Mama Tiara pun datang dengan mengayuh kursi rodanya.


"Sudah akan pergi Nak! Oh ya Hen, Annisa dibawa oleh mama dan papamu pergi jalan-jalan, maaf kami tidak mungkin melarangnya," ucap Mama Intan.


"Nggak apa-apa Ma, biarlah mereka puaskan bermain dengan Annisa selagi masih di Indonesia, nanti jika sudah pulang mereka hanya bisa melepas rindu dari balik kamera," ucap Mahen.


"Oh ya Ma, kami pamit dulu. Izin saya bawa Devani ya Ma," ucap Mahen sambil menyalim tangan mama Intan. Devani pun pamit dengan melakukan hal yang sama.


Keduanya pun berjalan beriringan lalu Mahen membukakan pintu mobil, mempersilakan Devani masuk dan duduk di sebelahnya.


Dari depan pintu sang mama melambaikan tangan sambil memperhatikan keduanya berangkat. Dalam hatinya mama berkata, 'Aku berharap kamu tetap menjadi menantuku yang terbaik Hen. Cintailah Devani apa adanya, dengan begitu kamu akan tahu, dia juga banyak menyimpan kebaikan dan kelebihan, tak kalah dari Devina.'


Setelah mobil Mahen tak terlihat lagi, barulah mama Intan masuk dan menutup pintu, ternyata di sana Mbok Ijah juga sedang memperhatikan mama Intan.


"Mbok...apa kamu berpikir hal yang sama dengan ku?" tanya Mama Intan.

__ADS_1


Simbok pun mengangguk, lalu berkata, "Aku juga berharap Nya, Den Mahen bisa tulus mencintai Den Vani bukan mencintai karena Den Vani telah menghidupkan kenangannya terhadap Den Vina," ucap Simbok sambil mendorong kursi roda majikannya kembali ke kamar.


__ADS_2