BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 41. MENJELASKAN KESALAHPAHAMAN


__ADS_3

Setelah melihat papa mamanya keluar dari ruangan dokter, Bastian pun menghampiri mereka dan bertanya, "Bagaimana kondisi Mizzly Ma? Apa harus rawat inap?"


"Tidak Bas, dokter hanya memberi syrup dan kata Dokter hanya demam biasa jadi wajar untuk Mizzly yang sudah mulai aktif bertambah kepintaran," ucap mama.


"Syukurlah jika begitu Ma, hai adik cantik, cepat sembuh ya...nanti jika sudah sembuh, kita main lagi," ucap Bastian sambil mencolek pipi bayi mungil itu.


Papa Calvin merasa senang melihat istri dan putranya itu bisa memaafkan kesalahannya serta menyayangi mizzly.


"Pa...mama dan dedek Mizzly pulang dengan papa ya, aku akan langsung pergi camping bersama teman-teman, mungkin dua atau tiga hari baru pulang," ucap Bastian.


"Memangnya kamu mau kemping ke mana Bas?" tanya papa Calvin.


"Teman-teman mengajak camping ke daerah pegunungan Dieng Pa," jawab Bastian.


"Ya sudah, yang penting kalian hati-hati di sana, tapi ingat! Setelah pulang dari sana, kamu harus menata hidupmu lagi, demi masa depanmu. Kamu mau berbisnis atau mau ambil gelar S2, semua tergantung pilihanmu," ucap Papa Calvin.


"Baik Pa, nanti aku pikirkan dulu mau pilih yang mana. Sekarang aku pamit dulu ya Pa, Ma," ucap Bastian.


Setelah pamit kepada kedua orang tuanya Bastian pun segera menuju ke arena balapan, mereka berkumpul di sana sesuai janji sebelumnya.


Namun Bastian sangat terkejut saat melihat di antara teman-temannya yang sedang duduk, ada mahen di sana.


Mahen segera menghampiri Bastian, lalu dia berkata, "Maaf Bas, aku terpaksa menemuimu dengan cara seperti ini karena, ada hal penting yang harus aku katakan dan jelaskan kepadamu sebelum kamu pergi bersama mereka," ucap Mahen.


"Dari mana kamu tahu, aku akan datang ke sini! Jangan bilang, jika kamu memata-mataiku dan juga teman-temanku!," ucap Bastian ketus.


"Maaf...aku terpaksa meminta seorang temanmu untuk memberi kabar jika kamu datang ke tempat ini. Soalnya, kamu tidak pernah mengangkat panggilan telepon dariku ataupun Devani," ucap Mahen.


Ternyata tadi, saat Mahen hampir sampai ke kantor, ponselnya berdering. Teman Bastian mengatakan jika pagi ini Bastian akan datang di arena balapan dan mereka akan berangkat camping. Teman Bastian itu meminta agar Mahen datang secepatnya karena tidak lama lagi, mereka akan segera berangkat.


Mahen pun memutar haluan mobilnya menuju arena balapan dan ternyata dia beruntung, kali ini bisa bertemu dengan Bastian.


Kemudian Mahen berkata, "Tolong Bas, aku minta waktu sebentar, mari kita duduk di sana," ajak Mahen ke arah pohon rindang tempat dia memarkirkan mobilnya.


Bastian pun mengikuti Mahen, lalu Mahen pun mempersilakan Bastian untuk duduk di dalam mobil. Di sana mereka bisa bicara dengan tenang dan leluasa, tanpa didengar oleh teman-teman Bastian.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku! cepatlah! aku tidak punya banyak waktu, kami akan segera berangkat," ucap Bastian tanpa basa-basi.


Begini Bas, aku ingin menjelaskan kesalahpahaman di antara kamu dengan Devani.


"Sebenarnya kami tidak ada hubungan apapun saat kamu melihat kami di mall tempo hari," ucap Mahen.


"Kamu salah paham Bas, putriku memang sangat menyayangi Devani seperti mamanya sendiri makanya dia ingin mengajak bundanya untuk memilihkan baju guna dipakai pada saat ulang tahunnya nanti," ucap Mahen lagi.


"Jadi, kenapa Devani berbohong dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kalian bertiga bergandengan tangan layaknya seperti sebuah keluarga yang bahagia."


"Kami tidak bisa menolak Bas, karena saat itu, tiba-tiba Annisa menggandeng tangan kami. Seandainya saja, kamu ada di posisi ku, apa mungkin kamu akan marah terhadap Annisa Bas! Gadis kecil yang tidak tahu apa-apa, yang hanya merindukan kasih sayang keluarga yang utuh," ucap Mahen lagi.


Bastian pun terdiam, lalu dia melanjutkan perkataannya, " Jadi mengapa Devani mesti berbohong saat aku telepon? Kenapa dia mengatakan jika sedang bersama keluarganya padahal kenyataannya sedang pergi bersamamu," ucap Bastian lagi yang belum bisa terima dengan penjelasan dari Mahen.


"Devani tidak salah, kami juga 'kan keluarganya, berarti dia tidak berbohong Bas."


"Itu berbeda Hen, kamu itu bukan siapa-siapanya dia lagi, kamu hanya mantan kakak iparnya dan bisa dibilang sebagai orang lain."


"Sekarang terserah kamu Bas, mau percaya atau tidak, yang penting aku sudah menjelaskan kebenarannya," ucap Mahen sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Ternyata kamu tahu Devani kecelakaan Bas? Kenapa kamu tega tidak menemui dan menjenguknya, untuk memberikan semangat kepada dia, sementara saat itu dia sedang terpuruk, butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya," ucap Mahen.


Bastian diam, dia memang salah, ego dan kecemburuannya lebih besar daripada kepercayaannya terhadap Devani.


Saat dia ingin berkata lagi, tiba-tiba teman-temannya datang menghampiri, lalu berkata, "Ayo Bas, kita berangkat! Lihatlah bus kita sudah datang. Jangan sampai kita kemalaman tiba di sana dan tidak sempat memasang tenda."


Bastian pun segera keluar dari mobil Mahen, lalu dia berkata, "Maaf Hen, aku harus segera berangkat, lain kali kita bicara lagi. Aku ingin menenangkan pikiran dengan pergi bersama teman-temanku," ucap Bastian sambil meninggalkan Mahen dan berlari bersama teman-temannya ke arah Bus yang akan berangkat.


Mahen yang melihat Bastian pergi, kemudian berteriak, "Kamu hanya punya waktu satu minggu Bas, untuk memperbaiki hubunganmu dengan Devani! Jika kamu tidak menelepon ataupun datang menemui dia, jangan salahkan aku. Kamu akan kehilangan Devani untuk selamanya!" teriak Mahen.


Namun Bastian tidak begitu menghiraukan teriakan Mahen, dia melompat masuk ke dalam bus yang sudah berjalan sambil berkata, "Aku titip dia Hen! Jagalah Devani. Tolong sampaikan permintaan maafku terhadapnya!" ucap Bastian yang suara teriakannya menghilang bersama perginya bus yang membawa rombongan.


"Aku sudah mencoba ya Bas, untuk menyatukan kalian lagi, tapi semua terserah kamu, jika kamu tidak menemui Devani dalam waktu seminggu kedepan, berarti Devani memang jodohku dan siapapun tidak akan aku biarkan untuk memiliki cintanya lagi," monolog Mahen sambil menghidupkan mobilnya dan pergi dari tempat itu.


Mahen pun kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sesuai janji dia akan kembali lebih cepat untuk mengajak Devani dan Anisa jalan-jalan ke suatu tempat yang sudah lama tidak dia kunjungi sejak istrinya meninggal.

__ADS_1


Sementara di rumah kediaman keluarga Andara, Papa dan Mama Mahen sedang membicarakan sesuatu kepada besannya, mereka ingin membawa Annisa jalan-jalan bersama Hans sebelum Mahen pulang.


Mama Intan setuju, dan papa Andara melalui telepon juga menyetujui rencana sang besan. Kemudian, sekarang giliran Mama Mahen untuk membujuk Annisa agar mau ikut dengan mereka.


Mama menemui Annisa di kamarnya tanpa sepengetahuan Devani. Saat melihat cucunya sedang asyik menulis, mama Intan pun bertanya "Lagi ngapain Sayang?" tanya Mama Mahen.


"Eh Oma, Anisa sedang mengerjakan tugas Ma, tapi sudah hampir selesai kok. Silahkan masuk Oma!" ucap Annisa.


"Begini sayang, Oma, Opa dan Om Hans ingin mengajak kamu jalan-jalan, kita akan mendatangi tempat-tempat yang indah, yang belum pernah Om Hans lihat," ucap Oma.


"Kamu kan tahu Nis, Om Hans sebentar lagi akan pulang ke Turki jadi dia tidak akan memiliki banyak waktu lagi untuk jalan-jalan. Bagaimana Nis, kamu mau 'kan?" tanya Oma.


"Tapi Oma, Nisa dan bunda sudah janji mau pergi dengan Papa, nanti tunggu Papa pulang," jawab Annisa.


"Begini Sayang, minggu besok, bunda dan papa 'kan akan menikah, jadi sebentar lagi, bunda akan menjadi mama Nisa. Bagaimana jika kita kasi kesempatan kepada Bunda dan Papa untuk pergi berduaan saja, biar mereka bisa lebih dekat dan papa bisa lebih perhatian terhadap bunda kamu. Nisa mau 'kan, melihat Papa menyayangi Bunda dan melihat mereka bahagia?" tanya Oma.


"Iya... mau Oma, Nisa mau melihat Papa dan Bunda bahagia. Nisa pingin punya Papa dan Mama seperti dulu, biar teman-teman nggak ngejekin Nisa terus, yang katanya nggak punya mama," ucap Annisa yang terisak karena teringat ejekan temannya yang usil di sekolah.


"Nah sekarang, ayo kita bersiap dan temuin Bunda untuk pamit. Opa serta Om Hans sudah menunggu kita di teras," ucap Oma.


Annisa pun mengganti pakaian dan mengkuncir rambutnya di bantu oleh Oma, setelah itu Oma mengajak Annisa menemui Devani yang kebetulan sedang ada di kamarnya.


Oma mengetuk pintu kamar Devani dan Devani pun segera membukanya saat mendengar suara mama Mahen memanggil.


"Ya...Ma, ada apa? Lho...kamu kok sudah bersiap Nis, memangnya Papa sudah pulang?" tanya Devani.


"Belum Bun," jawab Nisa.


"Begini Van... mama, papa dan Hans ingin jalan-jalan, sambil membeli keperluan yang mau kami pakai dalam acara akad nikah kalian nanti, boleh ya kami ajak Annisa?" tanya mama.


"Bagaimana ya Ma, Vani nggak bisa mutusin, soalnya tadi Mahen bilang akan mengajak kami keluar jalan-jalan sore ini," ucap Devani.


Kalau begitu, nanti... biar mama saja di jalan yang telepon Mahen, untuk minta izin. Sekarang kami mau berangkat dulu ya, soalnya Papa dan Hansen sudah menunggu di bawah.


"Iya Ma, hati-hati ya Ma. Hati-hati ya Sayang, "Ucap Devani juga kepada Annisa sambil mencium pipi gadis kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2