
Mahen sudah kembali ke rumah sakit, dia langsung masuk ke ruang rawat Mama Intan ingin memberitahukan kabar baik yang tadi dia dengar dari dokter, sebelum dia mengantar Annisa pulang.
Ketika melihat Mahen tiba, Mama Intan pun bertanya, "Annisa tidak rewel kan Hen?"
"Nggak Ma, dia paham kok dan Devani selalu bisa menenangkannya," jawab Mahen.
"Syukurlah," ucap Mama Intan.
"Oh ya Ma...Pa, ada kabar baik, tadi Dokter bilang, Devina sudah melewati masa kritis," ucap Mahen.
"Alhamdulillah," ucap Mama Intan dan Papa Andara bersamaan.
Saat mereka sedang merasakan kegembiraan, tiba-tiba datang seorang perawat yang memberitahukan bahwa dokter ingin bertemu dengan keluarga Devina.
Mahen dan Papa Andara segera menemui Dokter, lalu Dokter meminta mereka untuk ikut masuk ke dalam ruangan ICU.
Ternyata Devina sudah sadar, tapi kondisinya sangat lemah dan menurut dokter bisa saja sewaktu-waktu dia kembali kritis.
Dokter sebenarnya belum mengizinkan keluarga pasien untuk menjenguk tapi karena permohonan Devina membuat Dokter terpaksa mengizinkan.
Mahen dan Papa Andara senang, sekaligus cemas atas penjelasan Dokter, lalu mereka meminta izin agar mama Intan juga di perbolehkan untuk menjenguk, berharap bisa memberikan kekuatan agar Devina semangat untuk sembuh.
Dokter diam sejenak, tapi akhirnya beliau memberi izin, menurutnya mungkin ini adalah saat terakhir dimana pasien ingin bertemu keluarganya.
Papa Andara masuk ke dalam terlebih dahulu, sementara Mahen menjemput mama Intan di ruang rawatnya.
Melihat kondisi putrinya yang sangat memprihatikan membuat hati pria paruh baya itu menangis, tapi dia tidak mau menampakkan kesedihannya di depan putri sulungnya itu.
Papa Andara menggenggam tangan Devina yang terlihat sangat lemah, lalu dia melihat putrinya itu tersenyum dengan air mata menetes di kedua sudut matanya.
__ADS_1
Devina membuka alat bantu pernafasan yang terpasang di hidungnya, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Papa Andara melarang dengan memberi kode meletakkan jari telunjuk ke mulutnya.
Papa Andara tidak mau Devina memaksakan diri dengan keadaannya yang masih sangat lemah, lalu beliau mengusap air mata putrinya itu sembari tersenyum.
Mahen yang baru masuk dan melihat istrinya sudah sadar, tak kuasa menahan air mata, lalu dia mendekat dan mencium kening sang istri.
Bersamaan dengan itu Devina membelai wajah Mahen, sambil terbata-bata diapun berkata, "Maafkan aku Yang, tolong jaga Annisa dan keluargaku."
Setelah mengatakan hal itu, Devina dengan nafas terengah-engah menyebut nama Devani, lalu dia menggenggam erat tangan Mama Intan seraya tersenyum.
Papa Andara dan Mama Intan bisa merasakan jika usia putrinya tidak akan lama lagi. Sambil meneteskan air mata, Papa meminta Mahen untuk segera membimbingnya, mengucap dua kalimat syahadat.
Devina dengan perlahan dan tersengal-sengal mengikuti setiap ucapan Mahen. Tepat diakhir kalimat dan dalam pelukan Mahen, Devina menghembuskan nafas terakhirnya.
Mahen panik, sambil memeluk erat tubuh istrinya, diapun berteriak memanggil Dokter.
Dokter dan perawat pun datang, mereka segera memeriksa denyut nadi Devina, lalu Dokter pun mengatakan, "Maaf Pak, istri Anda telah berpulang."
Tubuh mama Intan luruh ke lantai, beliau pingsan. Mama Intan belum bisa menerima kenyataan bahwa putrinya telah pergi mendahuluinya.
Papa Andara segera menghubungi Devani dan kerabat yang lain. Devani menangis, dia menyesal, kenapa tadi pulang lebih awal hingga dia dan Annisa tidak bisa bertemu Devina menjelang akhir hidupnya.
Mendengar tangisan Devani, Annisa terbangun, lalu dia bertanya, "Bunda kenapa nangis? Bunda mimpi buruk ya?" tanya Annisa sambil matanya mengerjap-ngerjap menahan kantuk.
Devani langsung mengangkat Annisa, mendekapnya erat-erat dan terus menangis. Dia tidak sanggup untuk mengatakan kebenaran, bahwa gadis kecil kesayangannya itu, kini tidak memiliki mama lagi.
Annisa semakin bingung, dia mengelap air mata bundanya, lalu berkata lagi, "Bunda jangan nangis dong? Annisa jadi ikut sedih, nanti Annisa ikut nangis Bun," ucap Annisa.
Kemudian dia berkata lagi, "Sebentar ya Bun!" ucap Annisa sambil turun dari tempat tidur, pergi keluar kamar.
__ADS_1
Annisa pun berlari ke dapur, dia mengambil segelas air minum. Ketika dia hendak kembali ke kamar sambil membawa air minum tersebut, Annisa melihat Mbok Ijah keluar dari kamarnya sambil menangis.
Dia lalu menghampiri simbok sambil berkata, "Lho...simbok kok ikut nangis sih! Memangnya simbok juga mimpi buruk ya, seperti Bunda. Mbok jangan nangis dong, ini minum dulu biar sedihnya hilang," ucap Annisa.
Mbok Ijah tidak bisa berkata apapun selain menerima gelas air minum yang di berikan oleh Annisa. Beliau menduga jika Annisa belum mengetahui tentang kabar kematian mamanya.
Setelah memberikan air minum itu kepada simbok, Annisa pun mengambil air minum lagi dan membawanya ke kamar, lalu dia berikan kepada Devani.
"Ini Bunda, minum dulu ya, biar nggak sedih lagi," ucap Annisa sambil mengulurkan gelas itu ke mulut Devani.
"Kenapa hari ini semua orang menangis ya? Bunda nangis, simbok juga, apa mimpi buruknya bisa sama-sama ya Bun?" tanya Annisa lagi.
Devani yang mulai tenang dan tangisnya mereda, segera meminta Annisa untuk duduk di pangkuannya, lalu diapun berkata, "Sayang Bunda...mama Nisa sekarang sudah pergi ke surga, jadi...Nisa nggak boleh sedih, Nisa harus menjadi anak yang sholehah ya, karena hanya doa anak yang sholeh dan sholehah lah yang akan membawa kita serta orang tua masuk ke dalam surga," ucap Devani yang masih bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada Annisa.
"Huwaaa...hiks...hiks...hiks," Annisa pun menangis setelah mendengar ucapan Devani.
Annisa teringat dengan temannya yang mamanya juga telah pergi ke surga dan kemana-kemana hanya berdua saja dengan sang Papa.
Mendengar Annisa menangis, membuat Devani heran, apa mungkin gadis dipangkuannya ini, memahami apa yang tadi dia katakan.
Annisa masih saja terisak, lalu dia bertanya, "Mama masih hidup 'kan Bun? Mama Nisa, pasti sembuh! hiks...hiks...hiks. Ayo Bun, kita ke rumah sakit, lihat Mama."
Annisa pun kembali menangis, sambil menarik-narik tangan Devani, diapun mengajak Devani balik ke rumah sakit.
Devani kembali berkata, "Kita harus sabar ya Sayang, kita harus ikhlas, sebentar lagi Papa dan Eyang akan pulang ke sini, membawa jenazah mama kamu. Jadi, kita tunggu saja ya..."
"Huwaaa...hwaaa...hiks...hiks...hiks.
Annisa kembali menangis dan kali ini tidak bisa di bujuk lagi.
__ADS_1
Sementara di luar kamar, Mbok Ijah bersama pembantu yang lain telah mempersiapkan tempat untuk menyambut kepulangan jenazah.
Warga di sekitar rumah yang mendengar kabar duka pun segera berduyun-duyun datang. Mereka hendak ikut berbela sungkawa.