BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 35. UNTUNG SELAMAT


__ADS_3

"Mbok, kami titip Annisa ya, dia masih tidur. Devani kecelakaan Mbok jadi kami harus ke rumah sakit," ucap Papa Andara.


"Baik Tuan, mudah-mudahan tidak ada hal serius yang terjadi dengan Non Devina," ucap Mbok Ijah.


"Iya mbok, kami juga berharap demikian," ucap Mama Tiara.


"Kami pergi dulu ya Mbok," ucap papa dan mama.


"Hati-hati ya Tuan, Nya," ucap mbok Ijah yang mengiringi majikannya sampai ke pintu.


Papa menelepon sekretarisnya untuk mengcansel semua jadwal kegiatan hari ini, setelah itu beliau membantu mama naik ke mobil dan memasukkan kursi roda ke dalam bagasi, lalu melajukan mobil ke rumah sakit harapan sesuai yang diinfokan oleh teman Devani.


Annisa bangun, dia mencari Devani, Papa dan eyangnya, tapi saat tidak menemukan mereka, Annisa pun menangis. Mbok Ijah yang sedang masak di dapur segera menghampiri Annisa.


"Den Nisa jangan nangis, sini sama simbok," ucap Mbok Ijah sambil mendekati Annisa.


"Bunda, Papa dan Eyang mana mbok, kok semua nggak ada?" tanya Annisa sambil mengelap air matanya.


"Papa ke kantor, Eyang Kakung dan Eyang putri ke rumah sakit, jenguk bunda. Kata temannya, bunda sakit. Den Nisa di sini saja sama mbok sambil menunggu papa jemput."


"Hiks...hiks...hiks, Nisa mau sama Bunda Mbok," ucap Annisa.


"Nanti...tunggu papa aja ya."


"Mbok...Nisa pinjam telepon ya, Nisa mau telepon papa, biar papa cepat pulang jemput Nisa," pinta Annisa.


"Memangnya Den Nisa ingat nomor Papa?"


"Ada Mbok, kartu nama Papa di tas Nisa, sebentar ya Mbok, aku ambil dulu," ucap Annisa sambil berlari menuju kamarnya.


Annisa pun memberikan kartu nama Mahen kepada simbok, lalu Mbok Ijah melakukan panggilan ke nomor Mahen dengan menggunakan telepon rumah yang ada di dapur.


Mahen yang melihat ada panggilan telepon dari rumah keluarga Andara segera mengangkatnya, pasti ini ada hubungannya dengan Annisa.


"Hallo...ini siapa?"


Mendengar suara Mahen, mbok Ijah langsung memberikan telepon tersebut kepada Annisa.


"Pa...ini Annisa. Papa cepat kesini dong jemput Nisa, di rumah nggak ada orang, eyang pergi ke rumah sakit. Kata simbok Bunda sakit, Nisa mau jenguk Bunda Pa!"

__ADS_1


"Bunda sakit? sakit apa bunda Nis?"


"Nggak tahu Pa, makanya Papa cepat jemput Nisa biar kita jenguk Bunda."


"Iya...sebentar lagi papa jemput Nisa, ini papa selesaikan pekerjaan sedikit lagi. Coba teleponnya kasi ke simbok, papa mau ngomong sama simbok!" pinta Mahen.


"Mbok... ini papa mau ngomong," ucap Annisa sambil mengulurkan telepon yang ada ditangannya kepada Mbok Ijah.


"Ya Den, ada apa Den?"


"Mbok, memangnya Devani sakit apa, kok sampai dibawa ke rumah sakit?" tanya Mahen.


"Den Vani kecelakaan Den, katanya jatuh dari motor," jawab Mbok Ijah


"Kok bisa jatuh dari motor Mbok? Memangnya Devani pergi ke kantor naik motor?"


"Nggak Den, tadi perginya sendiri, nggak bareng Tuan dan naik mobil kok Den, Mbok pun kurang tahu bagaimana kejadiannya, karena Tuan dan Nyonya tadi belum sempat cerita, mereka terburu-buru pergi ke rumah sakit," ucap Mbok Ijah.


"Memangnya di rumah sakit mana Devani di rawat Mbok?"


"Kalau nggak salah, tadi kata Tuan, rumah sakit Harapan Den," jawab mbok Ijah lagi.


"Baiklah Mbok, bantu Annisa bersiap ya Mbok, sebentar lagi saya jemput."


Setelah Mahen menutup teleponnya, mbok Ijah langsung memandikan Annisa dan memakaikan pakaiannya.


"Den Nisa tunggu disini dulu ya, sebentar lagi papa aden datang menjemput, Mbok mau lanjut masak," ucap Mbok Ijah.


"Iya Mbok. Nisa tunggu di sini saja sambil nonton TV," ucap Annisa.


Simbok pun pergi ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara Mahen buru-buru membereskan berkas-berkas dan menyimpan dalam laci meja kerjanya, setelah itu dia meninggalkan pesan kepada sekretaris bahwa dia mau ke rumah sakit.


Mahen meninggalkan kantor dengan terburu-buru, dia cemas dan merasa bersalah, mungkinkah Devani kecelakaan karena memikirkan masalah yang mereka bicarakan tadi malam.


Karena penasaran, sambil menyetir, Mahen menelepon Papa Andara, dia ingin tahu bagaimana kabar Devani dan apa sebenarnya yang terjadi.


"Hallo...ya Hen," ucap Papa Andara saat menerima panggilan dari Mahen.


"Pa...kata Simbok, Devani kecelakaan? Bagaimana keadaannya Pa?" tanya Bastian.

__ADS_1


"Papa masih di jalan Hen, belum jelas bagaimana kejadiannya. Tadi teman Devani yang kabari papa, katanya dia jatuh dari motor, saat di arena balapan. Padahal tadi dia pamit, mau kerja dan berangkat duluan dengan menggunakan mobil Papa," ucap Papa Andara.


"Ini Hen mama mau ngomong," ucap Papa sambil memberikan ponselnya kepada mama Tiara.


"Hallo Nak, kamu cepat ke rumah sakit ya, mama takut terjadi hal buruk dengan Devani," pinta mama Intan sambil terisak.


"Iya Ma, Mahen jemput Annisa dulu baru kesana, Mama yang sabar ya, mudah-mudahan saja Devani nggak kenapa-kenapa," ucap Mahen.


Kemudian Mahen menutup panggilannya dan menambah kecepatan mobilnya menuju kediaman Andara.


Sesampainya di sana, Annisa langsung berlari memeluk sang papa dan menarik tangan Mahen sambil berkata, "Ayo Pa, buruan kita ke rumah sakit, Nisa sudah tidak sabar ingin bertemu Bunda!"


"Ayo sayang, tapi pamit dulu ya sama Simbok," pinta Mahen.


Annisa pun berpamitan dengan simbok lalu mereka bergegas berangkat ke rumah sakit.


Dalam perjalanan, Mahen mengabari orangtuanya dan juga Hans agar segera menyusul ke rumah sakit.


Hans memesan taksi online, sementara Papa dan mamanya pergi bersiap.


Papa Andara dan mama, sudah tiba di rumah sakit Harapan, mereka bertanya di bagian pelayanan tentang pasien atas nama Devani Arsya, pasien yang pagi tadi masuk karena kecelakaan.


Bagian pelayanan pun mencari data Devani, lalu memberitahu jika Devani saat ini dirawat di ruang mawar, pelayanan kelas satu.


Setelah mengucapkan terimakasih, Papa Andara mendorong kursi roda mama Intan, menuju ruang mawar. Ternyata di sana dua teman Devina sedang menjaganya.


Devina sudah sadar dengan banyak balutan perban di bagian tangan dan juga kakinya. Untung saja di bagian wajah dan kepala tidak ada luka yang serius, karena dokter sudah menscanning bagian kepalanya. Hanya kakinya terkilir dan lengan kirinya patah tebu.


Melihat kondisi putrinya seperti itu mama Intan kembali menangis, sedangkan Papa sedang berbicara dengan kedua teman yang membawa Devani ke rumah sakit.


Beliau menanyakan bagaimana kejadian yang sebenarnya hingga Devani bisa jatuh dari motor padahal tujuan perginya adalah ke kantor.


Keduanya menjelaskan saat Devani tiba di arena balapan dan menyewa sepeda motor. Awalnya mereka juga melarang karena melihat Devani menggunakan pakaian kantor, yang tentu saja nggak layak buat kostum balapan, tapi Devani memaksa hingga mereka terpaksa memberikan sepeda motor tersebut.


Papa yang mendengar penuturan dari kedua teman Devani pun menggelengkan kepala, beliau tahu bagaimana jiwa Devani, jika dia sudah menginginkan sesuatu bagaimana pun caranya harus dia dapatkan.


Kemudian papa mendekati Mama untuk melihat kondisi Devani. Devani yang sedang terbaring melihat mama dan papanya tiba, hanya mengucapkan kata maaf karena telah membuat Papa mamanya khawatir.


Mama mengelus rambut Devani sambil bertanya, "Kenapa kamu masih nekat balapan Van? Mama 'kan sudah bilang, balapan tidak layak untuk seorang wanita, apalagi kamu anak kami, tinggal satu-satunya," ucap Mama Intan.

__ADS_1


"Untung saja kamu selamat Van, jika tidak, kami tidak tahu harus menjalani hidup kedepannya seperti apa," ucap mama lagi sambil memegangi dada kirinya yang terasa sakit.


Setelah melihat kondisi putrinya, papa Andara langsung menuju ke ruangan Dokter untuk menanyakan keadaan Devani yang sebenarnya dan untuk menanyakan bagaimana tindakan pengobatan yang terbaik agar dia cepat sembuh.


__ADS_2