
Pramusaji mempersilakan Mahen dan Devani menuju ke tempat khusus yang sebelumnya sudah di booking oleh sekretarisnya.
Sambil menunggu kedatangan tamunya, Mahen meminta pramusaji untuk menyediakan minum. Lalu Mahen bertanya kepada Devani, minuman apa yang dia suka sebelum pramusaji pergi menyiapkannya.
"Kamu mau minum apa Van?" tanya Mahen.
"Jeruk hangat saja," jawab Devani.
"Mas, jeruk hangat dua ya, lainnya nanti, nunggu tamu Saya tiba," pinta Mahen.
"Baik Pak, Bu, sebentar...akan Saya siapkan," ucap pramusaji.
Tidak lama menunggu minuman itu pun tiba, Mahen mempersilakan Devani untuk minum jus pesanannya dan dia permisi ke toilet sebentar.
Saat Mahen sedang ke toilet, dua orang tamu dari Jepang yang ditunggu oleh Mahen pun tiba.
Devani menyambut mereka dengan ramah, dia mempersilakan kedua tamu itu untuk duduk. Awalnya, dia bingung harus berbahasa apa karena dia tidak menguasa bahasa Jepang.
Namun dengan tanggap Devani langsung menyambut mereka dengan memakai bahasa Inggris, lalu mengatakan, jika Pak Mahen sedang ke toilet.
Kedua tamu itu mengira jika Devani adalah sekretaris Mahen, lalu mereka mencoba beramah tamah dengan Devani.
Syukurnya Devani bisa mengimbangi pembicaraan kedua tamu itu dengan pasih dan lihai, hingga membuat mereka senang berkomunikasi dengannya.
Mahen yang dari kejauhan melihat tamunya bisa akrab dengan Devani tanpa rasa canggung, diapun tersenyum. Dalam hatinya Mahen memuji kehebatan Devani dalam bersosialisasi.
"Selamat sore Tuan Arata, Tuan Daisuke," sapa Mahen sambil mengulurkan tangannya kepada rekan bisnisnya itu.
Devani heran memandang ke arah Mahen, kenapa malah dia berbahasa Indonesia kepada tamunya itu.
Tapi Mahen hanya melihat Devani dengan tersenyum, sambil berkata lagi kepada tamunya, "Maaf Tuan-Tuan! Perkenalkan, ini calon istri Saya, namanya Devani. Kebetulan kami sedang ada keperluan di luar, jadi berhubung waktunya mepet, langsung saja kami kesini," ucap Mahen.
"Senang sekali berkenalan dengan calon istri Pak Mahen, kami kira Nona ini sekretaris Bapak, untung saja tidak kami godain," ucap Tuan Arata sambil tersenyum menatap Devani.
"Calon istri yang pintar, bisa jadi partner yang hebat nih Pak Mahen, bekerjasama mengembangkan bisnis," puji Tuan Daisuke.
Devani tersenyum menanggapi omongan kedua tamu tersebut, lalu dia berkata, "Jika Saya tahu para Tuan, mahir berbahasa Indonesia, tak susah Saya kerepotan dalam menggunakan bahasa asing," ucap Devani sambil tersenyum.
"Jika tidak begitu, kami tidak akan pernah tahu, jika pilihan Pak Mahen memang Top," ucap Tuan Arata.
"Tuan-Tuan silahkan lanjutkan perbincangan bisnisnya, Saya mau angkat telepon sebentar," pamit Devani yang kebetulan memang ada panggilan masuk pada ponselnya.
"Silahkan Nona," ucap Tuan Arata dan Tuan Daisuke.
__ADS_1
Mahen dan kedua tamunya itu membicarakan kerjasama bisnis mereka, Devani sengaja berlama-lama duduk di pojokan cafe tersebut padahal panggilan telepon sudah selesai sejak tadi.
Dia tidak enak jika bergabung sementara itu pembicaraan bisnis.
Devani baru kembali ke tempatnya setelah Mahen menelepon. Ternyata pembicaraan mereka telah selesai dan di meja telah terhidang berbagai macam menu.
"Ayo silahkan dimakan Tuan-Tuan," ucap Mahen.
"Mari Nona," ucap Tuan Arata.
"Silahkan Tuan," balas Devani.
"Ayo kita makan Van!" ajak Mahen.
Merekapun menikmati hidangan yang tersaji dan para tamu puas dengan sambutan Mahen.
Setelah selesai makan, mereka kembali berbincang, lalu Tuan Arata dan Tuan Daisuke berkata agar mengundang mereka saat Mahen dan Devani nanti menikah.
Namun Devani menjawab, bahwa pernikahan mereka hanya akan diadakan sederhana. Jadi tidak banyak mengundang tamu, hanya tetangga dan kerabat dekat saja.
Mereka tadinya heran kenapa pengusaha sukses, acara pernikahannya hanya sederhana, tapi setelah Mahen memberikan alasan bahwa Devani tidak terlalu suka keramaian dan nggak mau acara mereka di ekspose media, akhirnya mereka pun paham.
Pertemuan hari ini, sukses bagi Mahen dan berakhir dengan penandatanganan kontrak kerjasama. Setelah itu kedua Tuan dari Jepang itu pun pamit kembali ke hotel.
Mahen ingin tahu dunia pergaulan Devani selama ini, awalnya Devani menolak tapi karena Mahen berkata ingin berusaha memahami dan mengenal Devani lebih jauh demi rumah tangga mereka kedepannya, akhirnya Devani pun setuju.
Di dalam perjalanan, Mahen pun berkata, "Terimakasih."
Devani bingung, lalu dia bertanya, "Untuk apa kamu berterimakasih?"
"Secara tidak langsung kamu membantu suksesnya pertemuan bisnis ku tadi. Aku tidak menyangka kamu bisa menjembatani kami," ucap Mahen.
"Kamu sih, ke toiletnya nggak tepat. Aku tadi sempat bingung mau berbahasa apa, eh...tahunya mereka mahir bahasa kita. Bukan karena aku suksesnya, tapi karena kondisi yang terpaksa jadi aku berani dan bisa menghadapi mereka. Harusnya aku yang berterimakasih, dari sini aku belajar berhubungan dengan klien asing, jadi kedepannya aku nggak canggung lagi jika menggantikan Papa, meneruskan bisnisnya," ucap Devani.
"Oke deh, jadi kita impas. Kamu bantu aku dan secara tidak langsung aku juga membantumu. Jadi ucapan mereka tadi ada benarnya, mungkin kedepannya kita bisa jadi tim yang sukses," ucap Mahen sambil tersenyum.
"Nggak ah, kamu cari orang lain saja. Kita 'kan sering berbeda prinsip," ucap Devani.
"Ya... kita harus belajar saling memahami, kamu pahami aku dan aku juga akan berusaha memahami mu," ucap Mahen lagi.
"Nggak tahu deh..." ucap Devani sambil menaikkan bahunya.
"Makanya, aku saat ini masih belajar memahami mu, aku ingin tahu sebenarnya dunia kalian di jalanan itu seperti apa? Apa memang seperti yang aku pikirkan atau tidak," ucap Mahen.
__ADS_1
"Jadi, apabila seperti yang kamu pikirkan bagaimana?"
"Ya...kamu harus berubah! Begitu pula sebaliknya. Jika ada yang tidak kamu suka pada sikap atau kelakuanku, kamu boleh protes kok. Aku akan berusaha memperbaikinya."
"Bagaimana? Kamu setuju?" tanya Mahen.
"Oke lah, tapi ingat! Kamu jangan diktator, mau kamu saja yang harus aku turuti, aku juga berhak protes!" ucap Devani.
"Setuju! Deal..." ucap Mahen sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Mahen dan Devani pun menautkan jari kelingking, tanda setuju dengan kesepakatan yang mereka buat.
Kini mobil Mahen sudah sampai di tempat Devani sering nongkrong bersama Bastian dan teman-temannya.
Saat melihat mobil mewah asing yang belum pernah parkir di sana, teman-teman Devani pun mendekat, mereka penasaran sebenarnya siapa orang yang ada di dalamnya.
Devani dan Mahen pun turun, mereka pada bengong kenapa Devani datang bersama orang berpenampilan kantoran ke tempat tongkrongan mereka.
"Hai..." sapa Devani sambil tos kepada teman-temannya, sedangkan Mahen masih berdiri memperhatikan keakraban mereka.
Salah satu teman pria Devani menyenggol lengannya tanpa sengaja, karena ingin bertanya siapa yang datang dengannya. Karena kebetulan itu lengan yang sakit, Devani pun mengaduh dan meringis menahan sakit.
Mahen yang melihat hal itu merasa tidak senang, lalu dia mencengkram kuat lengan teman Devani tersebut sambil berkata, "Jangan sembarangan Bung, main senggol seenaknya!"
Devani yang melihat hal itupun segera menarik tangan Mahen dari lengan temannya sambil berkata, "Dia tidak sengaja, jadi tolong lepaskan! please."
Mahen pun melepaskan cengkeramannya, dia menghela nafas dan pergi menjauh. Devani mengatupkan kedua tangan, meminta maaf kepada temannya lalu menghampiri Mahen.
"Dia temanku, dia tidak bermaksud menyakitiku, jadi kumohon tenanglah, lenganku juga tidak apa-apa Hen," ucap Devani.
"Tapi 'kan...melihat raut wajah Devani, Mahen jadi teringat dengan kesepakatan tadi dan akhirnya diapun mengalah. Tapi Mahen berkata, "Aku tidak akan melarangmu berteman dengan siapapun, tapi aku tidak suka laki-laki manapun sembarangan menyentuhmu," ucap Mahen.
Devani diam, karena yang diminta Mahen memang tidak berlebihan, lagipula haram bagi wanita disentuh oleh pria yang bukan muhrim. Apalagi jika nanti jadi menikah, maka dirinya akan menjadi hak mutlak, milik Mahen.
Melihat Devani terdiam, Mahen pun bertanya, "Bagaimana? Apa kamu setuju Van dengan syaratku?"
Devani pun mengangguk, lalu dia berkata, "Baiklah, ayo kita kesana, aku ingin memperkenalkan kamu dengan teman-teman ku."
Bastian pun berjalan mengikuti Devani, lalu dia mengulurkan tangannya kepada teman pria Devani yang tadi sempat dicengkeramnya sambil berkata, "Maafkan aku teman, aku panik, karena lengan Devani yang itu masih belum pulih dari patah tulangnya."
"Ya, teman. Aku juga minta maaf, aku tidak sengaja, aku lupa kalau lengan Devani patah," ucap teman Devani.
Devani pun tersenyum, lalu dia memperkenalkan Mahen kepada teman-temannya.
__ADS_1
Mahen menjabat tangan semua teman pria Devani, tapi tidak dengan teman wanitanya. Dia hanya mengatupkan kedua tangannya saja di depan mereka. Akhirnya merekapun paham, lalu mengajak Mahen dan Devani untuk masuk ke dalam cafe.