BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 81. MENYAMBANGI BASTIAN


__ADS_3

Mahen tiba di butik milik Mamanya Bastian, di sana dia melihat dua orang karyawan wanita sedang melayani pembeli, lalu Mahen masuk berpura-pura ingin membeli gaun buat sang istri.


Seorang karyawan menghampiri Mahen lalu bertanya, "Ada yang bisa kami bantu Mas?"


"Begini Mbak, aku ingin memberi kejutan kepada istri, ingin membelikan dia sebuah gaun malam. Jika ada yang edisi terbatas ya Mbak," ucap Mahen.


"Oh, ada Mas. Tapi apa ukuran yang Anda cari Mas?" tanya karyawan itu lagi.


"Pokoknya postur tubuhnya seperti Mbak," jawab Mahen.


"Baiklah, sebentar ya Mas, akan Saya ambilkan."


Mahen menunggu sembari mengecek ponselnya, berharap ada kabar dari Devani. Ternyata tidak ada sama sekali kecuali pesan dari Lusy bahwa sebentar lagi harus memimpin rapat.


Mahen tidak peduli, dia mengcansel semua jadwal kerjanya. Yang utama saat ini adalah mencari Devani.


Sepuluh menit kemudian, karyawan itupun datang membawa dua model gaun, agar Mahen bisa memilih.


"Ini Mas, silahkan di pilih."


Mahen pura-pura memilih, sambil bertanya, "Bos kalian ya mana Mbak, barangkali aku kenal. Karena temanku katanya pemilik butik di sekitar sini," tanya Mahen.


"Oh, Bos kami sebenarnya Ny.Calvin, berhubung beliau sedang repot mengurus bayi makanya untuk sementara yang menghandle adalah putranya, Den Bastian."


"Bastian, ya itu teman saya. Tapi sayang, aku kehilangan nomor kontaknya. Apa Bastiannya, datang hari ini?" tanya Mahen.


"Ada Mas sedang di atas," jawab karyawan tersebut.


"Boleh saya menemuinya?"


"Oh, silahkan Mas. Naik saja ke lantai dua, mas belok kanan, disitu ada pot bunga besar, nah di sebelahnya adalah ruangan Den Bastian."

__ADS_1


"Terimakasih Mbak, bungkus saja kedua baju itu dan kartu debit saya, Saya naik dulu ya Mbak."


Mahen pun menaiki tangga berulir yang menuju ke lantai dua ruko tersebut, seperti yang di katakan Si Mbak, memang di sana ada sebuah pot bunga yang besar, lalu di sebelahnya terdapat sebuah ruangan yang saat ini sedang tertutup.


Terdengar suara orang batuk di dalam sana dan itu adalah suara Bastian. Mahen mengetuk pintu, saat Bastian memintanya untuk masuk, Mahen pun membuka pintu.


Bastian terperanjat melihat kedatangan Mahen, lalu dia berkata, "Ngapain kamu kesini, mau mengejek kekalahanku!" ucap Bastian ketus.


"Maaf Bas, kamu salah paham."


"Lantas, untuk apa kamu datang kesini! Apa kamu belum puas setelah mengambil Devani dariku?"


"Aku cuma ingin bertanya Bas, apakah kamu melihat atau bertemu Devani pagi ini?"


"Apa! Kemana memangnya Devani?" tanya Bastian sambil berdiri dari tempat duduknya lalu menarik kerah kemeja Mahen.


"Kalau terjadi hal buruk sama dia, atau kamu menyakitinya, aku tidak akan tinggal diam, ingat itu Mahen!" ucap Bastian lagi, lalu menarik dasi Mahen hingga lehernya tercekik.


"Kamu pikir aku senang melihat istriku hilang! Atau jangan-jangan kamu yang menculiknya lagi, seperti waktu itu!" ucap Mahen sambil menarik tangan Bastian agar melepaskan cengkeramannya.


Keduanya berkelahi hingga barang-barang di ruangan itu berserakan dan pecah. Sementara, para karyawan dan pelanggan yang mendengar suara ribut, merasa terkejut. Satu orang karyawan mengecak ke atas, tapi Bastian malah mengusirnya.


"Pergi kamu! Urus saja pekerjaan kamu di bawah. Ini urusan kami, kalian jangan ada yang ikut campur!" teriak Bastian, lalu menutup pintu ruangannya dengan keras.


Karyawan itupun ketakutan mendengar bentakan dari Bastian, lalu diapun kembali ke bawah untuk meneruskan tugasnya dan menceritakan kepada temannya agar tidak usah ikut campur dengan urusan bos mereka.


Sementara di ruangan Bastian, keduanya masih berkelahi, sudut bibir mereka berdarah. Lalu Mahen berkata, "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti istriku, termasuk kamu. Walaupun kamu pernah menjadi orang spesial bagi Devani, jika ketahuan kamu dalang penculikan kali ini, aku tidak akan memberimu ampun! Aku pastikan kamu akan mendekam di penjara seumur hidup!" ancam Mahen, lalu bergegas meninggalkan ruangan Bastian.


"Tunggu!" cegah Bastian.


Mahen menghentikan langkahnya, lalu dia berbalik dan berkata, "Apa kamu berubah pikiran dan ingin mengatakan dimana kamu menyekap Devani! Cepat katakan Bas! Kasihan dia, saat ini pasti ketakutan."

__ADS_1


"Maaf Hen, aku tidak menyekap Devani. Aku serius! Saat itu aku memang marah terhadap mu dan aku berjanji pada diriku, akan merampas Devani kembali darimu. Tapi, Mama telah menyadarkanku agar tidak menghancurkan masa depanku lagi."


Kemudian Bastian berkata lagi, " Mama bilang, cintaku hanya obsesi, bukan cinta sejati. Aku mencintai Devani Hen dan aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaannya. Mungkin dia memang jodohmu dan bukan jodohku. Tapi, jika kamu menyia-nyiakan dia, aku pasti akan merebutnya dari mu."


"Kalau bukan kamu, siapa Bas? yang berkepentingan terhadap hilangnya Devani."


"Apa kamu sudah menyelidiki saingan bisnismu, perempuan atau kerabat yang tidak menyukai pernikahan kalian Hen? Dalam situasi seperti ini, semua patut dicurigai," ucap Bastian hingga membuat Mahen terdiam sambil mengingat-ingat apa dia pernah bermusuhan dengan seseorang.


"Tolong bantu aku Bas, bantu mencari Devani. AKBP Wirya juga sedang membantu kami menyelidiki kasus hilangnya Devani."


"Coba kamu ceritakan bagaimana Devani sampai menghilang, bukankah dia belum mulai bekerja, itu berita yang aku dengar dari teman-temannya."


Kemudian Mahen menceritakan bagaimana awal mula hilangnya Devani, lalu motor beserta kuncinya hanya ditinggal begitu saja di pinggir jalan.


Bastian yang mendengarkan cerita Mahen berkesimpulan jika itu bukan perampokan. Menurutnya, jika itu perampokan, pasti sepeda motornya juga dibawa.


Mahen setuju dengan pendapat Bastian, jika uang yang mereka incar, pasti si penculik sudah menelepon minta tebusan.


"Jadi, darimana kita harus mulai mencarinya Bas, sementara ponselnya juga tidak aktif. Pikiranku saat ini benar-benar buntu Bas!" ucap Mahen.


"Tenang Hen! Kita harus tenang, agar bisa mikir jalan keluarnya. Sekarang kamu pulanglah dan tenangkan dirimu dulu, aku pasti bantu mencari Devani. Jika dapat kabar tentang dia, aku akan langsung kabari kamu," ucap Bastian.


Mahen pun setuju, lalu dia meminta maaf kepada Bastian karena telah sembarangan menuduh dan telah membuat ruangan kerjanya porak poranda. Kemudian, keduanya pun berpelukan dan saling memaafkan. Mereka sekarang adalah teman dan akan saling bantu mencari Devani.


Bastian juga sadar, sebenarnya Mahen orang yang baik, buktinya anak-anak di bawah asuhan mereka juga menyayangi Mahen.


Mahen turun dan mengambil pesanan bajunya, lalu dia berkata, "Maaf Mbak, jika telah membuat kekacauan di tempat ini."


"Sudah selesai masalahnya kan Mas?" tanya karyawan yang sedang memasukkan baju pesanan Mahen ke dalam tas.


"Alhamdulillah sudah Mbak, hanya kesalahpahaman saja," ucap Mahen.

__ADS_1


"Syukurlah, terimakasih telah belanja di butik kami, Mas. Sering-sering lah main kesini dan borong gaunnya lagi," ucap karyawan butik tersebut sambil tersenyum.


Para karyawan senang, Mahen membeli gaun termahal di butik mereka. Dengan begitu, mereka akan mendapatkan bonus yang lumayan karena telah berhasil menjual dua gaun termahal sekaligus.


__ADS_2