
Mahen dan Hans telah tiba di kantor, Lusy yang melihat kedatangan Mahen merasa senang, lalu dengan gaya lenggak-lenggoknya dia berusaha menarik perhatian Mahen.
"Lus, tolong siapkan berkas yang perlu aku tandatangani karena aku hari ini tidak akan terlalu lama di kantor!" perintah Mahen.
"Oh, belum ketemu ya Pak, istri Bapak?" tanya Lusy keceplosan.
"Darimana kamu tahu jika aku mencari istriku?" tanya Mahen heran. Seingatnya, dia belum ada memberitahu orang kantor jika Devani menghilang. Dia hanya pernah bilang ke Lusy untuk mengcansel semua urusan karena ada urusan penting.
Lusy sedikit gugup, lalu dia teringat Gara. Gara 'kan, sekarang teman akrab Mahen, pastilah Mahen memberitahu Gara tentang masalahnya. Kemudian Lusy menjawab, "Anu Pak, Gara yang cerita. Tapi tolong ya Pak jangan marahi dia, karena aku yang mendesak bertanya kenapa Bapak sampai 3 hari nggak ngantor," ucap Lusy.
Mahen pun menarik nafas, dia tidak bisa mengalahkan Gara akan hal ini, karena Lusy juga temannya.
Melihat Mahen tidak bertanya lagi, Lusy pun segera mengambil apa yang di minta oleh Mahen, lalu dia kembali ke ruangan Mahen.
Dengan sengaja Lusy menjatuhkan berkas dan Mahen yang sedang duduk di kursi kerjanya menoleh ke asal suara, tapi apa yang dia lihat, Lusy mengambil berkas itu dengan sengaja mengarahkan bagian dadanya yang terbuka ke arah Mahen. Tentu saja gundukan gunung kembarnya yang putih mulus terlihat oleh Mahen.
Mahen yang melihat hal itu menarik nafas dalam, lalu dia berkata, "Aku peringatkan lagi, besok gunakan pakaian yang lebih sopan atau kamu tidak usah masuk bekerja!" ucap Sultan tanpa menoleh kearah Lusy.
Mendengar ucapan Mahen, Lusy terpaksa menjawab, "Iya Bos, maaf. Aku berpenampilan seperti ini, demi membantu Bos juga, agar klien-klien kita senang dan cepat menandatangani kerjasama."
"Aku tidak butuh menjual tubuh wanita untuk mendapatkan klien dan kerjasama. Jangan kau samakan aku dengan Bos di tempat kerjamu yang lama! Ingat itu Lus!" ucap Mahen lagi.
__ADS_1
"Lusy tidak berkutik, namun dia tidak kekurangan akal. Saat Mahen terlihat memijat kepalanya sambil menandatangani berkas-berkas, Lusy pun berkata, "Bos sakit?"
"Iya, kepalaku tiba-tiba berdenyut, sakit sekali rasanya. Tolong Lus, kamu panggilkan adikku di luar!" pinta Mahen.
"Begini saja Pak, aku akan ambil obat sakit kepala dan Fresh care, untuk meringankan sakit kepala Bapak sementara, sambil menunggu adik Bapak ke sini," ucap Lusy yang bergegas keluar.
Mahen menghentikan pekerjaannya saat kepalanya semakin sakit. Begitu Lusy muncul dan membawa obat serta air minum, tanpa pikir lagi Mahen langsung meminumnya.
Lusy tersenyum, lalu dia mendekat, dan berkata, "Adik Bapak sedang di lantai bawah, sebentar lagi paling kesini. Aku bantu gunakan fresh care ya Pak?" tanya Lusy.
Belum mendapatkan jawaban dari Mahen, Lusy mendekatinya dan mengoleskan fresh care tersebut di kening dan kanan kiri kepala Mahen.
Mahen menutup mata, dia tidak mau setan menggoda imannya. Dia harus ingat, bahwa yang utama saat ini adalah menemukan istrinya.
Lusy memijat kepala Mahen, tapi lama-lama Mahen merasakan jika Lusy sepertinya sengaja memijat kepalanya dari arah depan saja. Kemudian Mahen berkata, "Berhenti, sudah cukup Lus, terimakasih," ucap Mahen.
"Tapi, apa sudah lebih enakan Pak?" tanya Lusy yang masih berharap ingin berlama-lama menyentuh Mahen. Aroma maskulin di tubuh Mahen membuat Lusy seperti terhipnotis, dia rela melakukan apapun asal bisa mendekati bosnya itu.
"Silahkan kembali ke ruanganmu! Oh ya, jangan lupa seminggu ini aku ingin semua jadwalku di tunda. Bilang saja kepada Klien jika aku sedang sakit."
Lusy kecewa, Mahen mengusirnya. Selama Mahen tidak ngantor dia pasti akan sulit untuk mendekati Mahen. Karena dia juga harus sibuk menggantikan posisi Mahen di saat Mahen tidak ada.
__ADS_1
Hansen yang berkeliling perusahaan, tidak menemukan kecurigaan apapun, semua karyawan terlihat baik. Barangkali hilangnya Devani tidak ada urusannya dengan orang-orang buang bekerja dengan Mahen.
Namun ketika Hansen melewati ruangan Lusy, sayup-sayup dia mendengar Lusy sedang bicara dengan seseorang dari ponselnya.
Pembicaraan Lusy membuat Hansen sedikit curiga, di sana Lusy terlihat celingukan, takut suaranya di dengar oleh orang lain. Lusy pun menutup mulut sambil ngobrol.
Hansen mendengar, samar-samar Lusy sedang berdebat dengan seseorang dan mengancam jangan sampai orang itu buka mulut tentang wanita yang telah dia serahkan. Jika sampai hal itu terbongkar Lusy nggak akan segan-segan untuk menyingkirkannya.
Lusy yang merasa ada seseorang memperhatikan, segera menutup panggilan telepon tersebut. Lalu dia menoleh tapi tidak melihat siapapun ada di sana.
Hansen sudah buru-buru pergi sebelum Lusy curiga dan kini dia masuk ke ruangan Mahen.
Mahen yang melihat adiknya baru muncul pun bertanya, "Darimana saja kamu Hans?"
Kemudian Hansen pun menjawab, bahwa dirinya berkeliling perusahaan untuk mencari sesuatu hal yang bisa saja menjadi bukti untuk menemukan petunjuk dalam pencarian Devani.
"Aku curiga ada orang dalam yang terlibat atas hilangnya Devani Hen," ucap Hansen.
"Maksudmu apa Hans?"
"Aneh 'kan, jika Devani hilang begitu saja tanpa ada jejak ataupun permintaan tebusan, sementara hari ini, sudah hari ke empat istrimu menghilang," ucap Hansen.
__ADS_1