BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 37. BASTIAN PULANG


__ADS_3

"Tidurlah Van! kamu perlu banyak beristirahat," kata Mahen.


Devani pun mengangguk, lalu dia memejamkan mata, tapi bayangan Bastian masih saja mengganggu pikirannya. Dia masih belum percaya jika Bastian melanjutkan kuliah ke luar negeri.




5 hari kemudian di rumah kediaman orangtua Bastian.



Mama Bastian yang sudah lama tidak merawat bayi sedikit kewalahan, tapi kedatangan bayi perempuan itu di dalam rumah mereka, berhasil mengembalikan keharmonisan antara mama dan papa Bastian.



Papa Bastian sekarang sering meluangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarganya. Beliau benar-benar menyesal atas semua yang telah terjadi, jadi mulai sekarang Papa ingin menebus semua kesalahannya.



Saat Mama Bastian merasa kerepotan, Papa pun membantu dengan membuatkan susu, mengganti popok dan sesekali menidurkan bayi mungil itu.



Keduanya jadi teringat, saat dimana Bastian masih bayi, kebahagiaan tersebut kini terulang kembali walau bayi itu bukan hasil buah cinta mereka.



Bastian yang baru saja kembali dari liburan, segera bertanya kepada penjaga gerbang rumahnya, "Pak, selama saya pergi, apakah ada seorang gadis yang mencari saya?" tanya Bastian.



"Oh... ada Den, sekitar 5 hari yang lalu. Seorang gadis cantik yang bernama De...de...Devani Den, datang dan memaksa ingin bertemu Aden, tapi sesuai perintah, saya bilang Aden sudah berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah di sana."



"Bagus Pak! Lalu, bagaimana reaksinya Pak?" tanya Bastian.



"Gadis itu terlihat sedih, Den dan pergi terburu-buru dengan mobilnya."



"Ya sudah kalau begitu Pak, terima kasih ya Pak sudah membantu saya," ucap Bastian sambil berjalan masuk ke dalam rumah.



Mama yang melihat kepulangan Bastian merasa sangat senang, lalu mama mengajak Bastian ke kamar bayi, beliau ingin menunjukkan betapa lucu bayi mungil tersebut.



Namun Bastian belum sepenuhnya bisa menerima kehadiran adiknya di sana, dia hanya memegang pipi bayi mungil tersebut sambil berkata, "Maafkan aku ya Dek, saat ini aku belum bisa menyayangimu sebagaimana harusnya. Tapi aku berjanji akan berusaha, asalkan mamaku bisa bahagia dengan kehadiranmu di sini."



Mama yang mendengar perkataan putranya hanya mendesah, beliau paham dengan perasaan Bastian saat ini. Seperti halnya saat pertama kali dirinya menerima kehadiran bayi itu.

__ADS_1



Setelah itu Bastian pun pamit kepada sang Mama, dia ingin beristirahat karena baru kembali dari perjalanan jauh yang sangat melelahkan.



Di pintu kamar, Bastian berpapasan dengan sang Papa yang baru saja selesai membuatkan susu untuk si kecil.



Masih Ada kesenjangan di antara mereka berdua, selama ini Bastian sangat marah dan tidak terima dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh Papanya.



Bastian berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tapi Papa Calvin langsung menarik lengannya sambil berkata, "Maafkan Papa Nak, Papa salah, Tapi walau bagaimanapun Papa harus bertanggung jawab, dia adalah anak papa dan juga adikmu."



"Sudahlah Pa! Aku sudah memaafkan Papa, tapi maaf...untuk saat ini, aku belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran anak perempuan papa itu," ucap Bastian sambil berlalu ke arah kamarnya.



Papa tidak bisa berkata apa-apa lagi itu memang hak Bastian untuk marah terhadapnya.



Sesampainya di kamar, Bastian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tapi rasa lelah tidak membuatnya bisa melupakan bayangan Devani.



Pikirannya kembali melayang, dia ingat saat Devani sedang berjalan bergandengan tangan dengan Annisa dan Mahen.




Selama liburan, Bastian memang menonaktifkan ponselnya, dia tidak ingin diganggu oleh siapapun termasuk panggilan dari devani.



Sambil tiduran, Bastian mengaktifkan kembali ponselnya. Dia melihat di sana banyak sekali panggilan tak terjawab dari Devani dan teman-teman balapannya.



Yang membuat Bastian penasaran, ada banyak panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal, bahkan lebih banyak dari panggilan yang dilakukan oleh devani.



Kemudian Bastian melakukan panggilan kepada salah satu teman balapannya, dia ingin tahu kenapa mereka menelponnya berulang-ulang.



Saat panggilan dari Bastian tersambung, dia mendengar suara sahabatnya itu berkata, "Bas! kami pikir kamu sudah ganti nomor dan tidak mau bersahabat dengan kami lagi. Kemana saja kamu selama ini, Bas? Apa kamu tidak tahu sesuatu yang buruk telah terjadi kepada devani?"



"Memangnya apa urusanku! Mau apapun yang terjadi dengan Devani aku tidak peduli, dia bukan siapa-siapa ku lagi. Kami sudah tidak memiliki hubungan apapun," ucap Bastian.

__ADS_1



"Memangnya ada apa dengan kalian Bas? Kasihan loh Devani, lengannya patah, kakinya terkilir dan banyak luka di tubuhnya. Masa tidak ada perhatianmu sedikitpun untuknya," ucap teman Bastian dan Devani.



"Apa! Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia dan kenapa sampai cedera begitu berat? Apa dia masih ikut balapan?" tanya Bastian yang akhirnya peduli.



"Entahlah, kami juga tidak tahu Bas, apa sebenarnya yang terjadi dengan dia. Lima hari yang lalu dia datang ke arena balapan dan meminta kami untuk menyediakan motor, padahal kami sudah melarangnya karena dia tidak memakai pakaian untuk balapan melainkan memakai seragam kantor."



"Jadi, dia terjatuh di arena balapan?" tanya Bastian.



"Ya... kamu benar. Jenguklah dia Bas, walau bagaimanapun dia itu teman kita dan pernah jadi orang terdekatmu."



"Entahlah! nanti aku pikirkan dulu," jawab Bastian lesu.



"Yang penting kami sudah memberitahu kamu Bas, jangan sampai kamu menyesal. Devani sekarang dirawat di rumah pengobatan alternatif patah tulang yang tidak jauh dari rumah sakit Harapan."



"Terima kasih atas informasinya sobat, aku akan pikirkan dulu, apakah aku akan menjenguk dia atau tidak. Sudah dulu ya Sob, aku mau istirahat, karena aku baru saja tiba dari luar kota," ucap Bastian.



Setelah menutup panggilannya, Bastian sejenak berpikir, dia ragu apakah dia sanggup bertemu Devani, yang menurutnya pasti ada Mahen serta putrinya di sana.



"Lebih baik sekarang aku mandi dulu, baru nanti aku pikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya," monolog Bastian.



Bastian pun mengambil handuk serta baju mandi, lalu dia mempersiapkan air hangat dalam bathtub untuk merilekskan tubuh serta pikirannya yang terasa sangat lelah.



Setelah mandi, Bastian merasa tubuhnya segar kembali. Lalu dia memakai pakaian tidur, merebahkan dirinya di kasur dengan harapan, malam ini dia bisa istirahat dengan tenang.



Namun, ingatannya kembali kepada apa yang diucapkan oleh temannya tadi tentang kecelakaan yang menimpa Devani, lalu Bastian bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, mengambil kunci mobil dan melajukannya ke alamat yang tadi temannya sebutkan.



Sesampainya Bastian di rumah pengobatan alternatif, diapun bertanya kepada seseorang yang berpapasan dengannya, di mana ruangan Devani dirawat.


__ADS_1


Kebetulan orang tersebut adalah salah satu anak dari pemilik rumah pengobatan tersebut dan beliau memberitahu bahwa Devani ada di ruangan sebelah kanan dari tempatnya berdiri sekarang.


__ADS_2