
Di villa milik Gara.
Gara masuk ke dalam kamarnya, dia melihat wanita itu meringkuk di sudut ruangan sambil memegangi lututnya. Mata wanita itu sembab karena seharian tidak berhenti menangis.
Dia memberanikan diri untuk mendekatinya, lalu bertanya, "Maaf, jika aku boleh tahu, siapa namamu? Aku sungguh-sungguh ingin meminta maaf dan menebus kesalahanku. Aku ingin bertemu keluargamu, tolong! bicaralah padaku," ucap Gara.
"Kalau kamu tidak mau menyebutkan namamu, ya sudah, aku panggil Vina saja ya! Dulu, sewaktu aku kecil, aku punya sahabat namanya Vina. Dia sangat baik dan lucu. Namun sayang, sampai sekarang kami tidak pernah bertemu."
"Vina di bawa pulang oleh keluarganya, karena dia harus menemani adek kembarnya yang baru keluar dari rumah sakit."
"Waktu itu, Vina tinggal di rumah neneknya selama setahun lebih karena orangtuanya harus bolak balik ke rumah sakit, jadi tidak ada yang menjaganya dirumah, makanya Vina di titipkan di rumah neneknya."
"Setelah adik kembarnya sehat, dia dijemput kembali dan aku lupa meminta alamatnya. Eh, tidak lama setelah itu si nenek pun meninggal, sementara keluarga si nenek tidak ada yang tinggal di daerah kami lagi. Menurut kabar yang aku dengar mereka semua merantau."
"Boleh ya, aku panggil kamu Vina?" tanya Gara lagi, tapi tetap tidak ada reaksi dari wanitanya itu.
Kemudian Gara lebih mendekat, dia ingin melihat reaksi wanitanya, apakah masih sama dengan tadi pagi atau tidak.
Ternyata wanita itu tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya memandang dengan tatapan kosong dan makanannya juga belum di sentuh.
Gara sedih melihatnya, lalu dia mengambil makanan itu dan berusaha menyuapinya, tapi tetap tidak ada tanggapan.
Hal ini tidak bisa Gara biarkan, dia harus segera melakukan sesuatu, ya... Gara harus membawanya ke rumah sakit untuk di rawat.
Lagipula, jika di villa terus, wanita itu tidak akan memiliki teman. Gara tidak mungkin selamanya tinggal di villa, dia juga harus membantu sang Papa mengelola bisnisnya.
Gara menyiapkan mobil, malam ini juga, dia harus ke kota membawa wanitanya ke rumah sakit.
"Kalian tolong bantu aku! Salah satu dari kalian yang stir mobil, aku akan menjaga wanitaku di belakang," perintah Gara kepada kedua pengawalnya.
Gara memakaikan jaket, lalu dia membimbing Devani ke dalam mobil. Gara semakin khawatir karena tidak ada reaksi apapun, benar-benar seperti mayat hidup.
Pengawal melajukan mobil sesuai arahan Gara untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit yang terdekat dengan rumah orang tua Gara. Jadi Gara bisa dengan mudah mengontrol perkembangan perawatan Devani, karena beberapa hari lagi dia harus masuk kerja di kantor Papanya.
Sesampainya di rumah sakit, Gara menemui bagian pelayanan dan dia minta di berikan kamar VIP dan pelayanan yang spesial untuk perawatan Devani.
Setelah mengurus administrasi dan menandatangani beberapa surat, mereka pun di antar oleh seorang perawat menuju ke ruangan yang di maksud.
Gara juga sengaja membayar dua orang perawat untuk menjaga dan mengurus semua keperluan Devani karena dia tidak bisa menjaga Devani 24 jam.
Tapi, Gara berjanji akan sering menjenguk dan memastikan Devani harus sembuh barulah Gara akan menebus kesalahannya.
Malam ini, Gara menginap di rumah sakit untuk menjaga Devani, besok pagi barulah dia pulang ke rumah setelah perawat khusus masuk dan memulai tugasnya.
Sepanjang malam Devani hanya diam, duduk dan sesekali masih meneteskan air mata. Hal ini membuat Gara bingun bagaimana harus bersikap.
Jika saja Devani mau ngomong apa yang diinginkan pasti Gara akan menuruti semua yang dia minta bahkan jika harus di penjara sekalipun.
Gara mendekati Devani lalu berkata, "Vin, kamu harus tidur! hari sudah sangat larut!" ucap Gara.
__ADS_1
Kemudian Gara merebahkan tubuh Devani dan menyelimutinya. Dia duduk di sisi ranjang, memainkan ponsel dan sesekali memperhatikan wanita itu.
Menjelang pagi, barulah Gara tertidur di kursinya dan dia terkejut saat terbangun wanitanya tidak ada di atas ranjangnya.
Gara mencari keseluruh ruangan sampai ke kamar mandi, tapi Devani tidak dia temukan.
Akhirnya Gara keluar kamar dan bertanya kepada perawat yang sedang menuju ke ruang pasien, apakah melihat pasien dari ruang VIP yang Gara sebutkan ciri-cirinya. Perawat pun menggeleng hingga membuat Gara semakin khawatir.
Dia menyusuri lorong rumah sakit, bahkan sampai ke taman dan kantin juga tidak menemukan Devani.
Gara pun meminta bantuan security untuk membantunya menemukan Devani. Mereka keliling mencarinya hingga tiba di sebuah mushollah. Gara tertegun melihat seorang wanita duduk sembari menangis di sana. Peralatan sholat ada di sampingnya, dia adalah wanita yang Gara cari.
Perlahan Gara masuk dan mendekatinya, lalu berkata, "Sudah selesai sholat? Ayo kita kembali ke ruangan," ajak Gara.
Devani tidak menjawab sepatah kata pun, lalu dia bangkit dan berjalan meninggalkan mushollah dan kembali ke ruangannya.
Gara yang berjalan mengikuti Devani merasa lega, ternyata wanitanya tidak gila seperti yang dia perkirakan. Wanita itu masih ingat menjalankan ibadah, hanya saja dia tidak mau berbicara dengan siapapun.
Di rumah kediaman Andara.
Mahen sudah bersiap akan pergi ke kantor bersama Hans, saat ponselnya berdering, ternyata dari Gara.
"Kamu sibuk Hen?"
"Lumayan lah, ini sedang mau ke kantor, ada yang harus aku kerjakan sebelum pergi mencari istriku. Selama istriku menghilang semua pekerjaan ku terabaikan."
"Oh, ya sudah jika kamu repot, lain waktu saja."
"Memangnya ada apa Gar?"
"Aku hanya ingin ngobrol, kapan kamu ada waktu chatt aja aku ya. Aku juga pagi ini masuk kantor, Papa memintaku agar serius mengurus bisnisnya."
__ADS_1
"Lantas, bagaimana dengan wanitamu? Apa kamu tinggalkan dia di villa?" tanya Mahen.
"Nggak Hen, dia sudah aku bawa ke rumah sakit yang dekat dengan rumah Papaku, agar aku lebih mudah memantaunya."
"Oh, syukurlah. Nanti saat aku ada waktu, pasti aku akan menjenguknya Gar. Aku juga penasaran, seperti apa wanitamu itu hingga bisa membuatmu insaf seperti ini," ucap Mahen.
"Datanglah! Aku usahakan setiap hari menjenguk dan menjaganya sepulang dari kantor," ucap Gara.
"Apa dia sudah tidak histeris lagi Gar?" tanya Mahen.
"Tidak Hen, bahkan dia sudah ingat untuk beribadah, tapi dia tidak mau bicara sepatah katapun kepada ku dan yang lainnya," ucap Gara.
"Oh, syukurlah, sudah banyak kemajuan. Sekarang kamu harus terus menunjukkan perhatianmu, dengan begitu dia akan tahu, jika kamu sungguh-sungguh menyesal dan tidak bermaksud menyakiti dan mempermainkannya."
"Iya Hen, terimakasih ya. Maaf telah menggangumu. Jika nanti, tidak terlalu repot di kantor, aku pasti ke kantor mu. Sudah dulu ya, aku juga mau bersiap, Papa pasti sudah menungguku," ucap Gara.
"Semangat sobat, kamu pasti bisa mendapatkan wanita baik itu suatu saat," ucap Mahen.
"Aamiin," ucap Gara.
Gara pun menutup panggilannya, lalu dia bersiap dan pamit kepada Devani untuk pergi bekerja.
Dua orang perawat yang akan menjaga Devani pun sudah tiba. Mereka membawa sarapan dan pakaian ganti untuk Devani.
__ADS_1
Setelah kepergian Gara, kedua perawat itupun meminta Devani untuk membersihkan diri, berganti pakaian, lalu sarapan. Devani pun menuruti permintaan kedua perawat itu tanpa membantah sedikitpun hingga dia selesai sarapan.