BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BaB 36. PENGOBATAN ALTERNATIF PATAH TULANG


__ADS_3

Dokter mengatakan, luka-luka Devani akan mengering dalam beberapa hari, karena beliau telah memberikan obat yang terbaik agar cepat sembuh. Yang menjadi persoalan sekarang adalah kakinya yang terkilir dan lengan kirinya yang mengalami patah tebu.


"Jadi Dok, bagaimana untuk pengobatan selanjutnya?" tanya Papa Andara.


"Saya sarankan agar membawa putri bapak ke khusus pengobatan patah tulang, mengenai luka-lukanya masih bisa rawat jalan. Sebenarnya, bisa sih dengan cara operasi, tapi menurut saya lebih baik ke pengobatan alternatif patah tulang saja Pak, soalnya saya juga pernah mengalami hal seperti anak Bapak, Alhamdulillah cepat sembuh."


"Boleh minta rujukan tempat pengobatan alternatif patah tulang yang bagus Dok?" tanya Papa Andara.


"Sebentar ya Pak, saya tuliskan alamatnya, tidak jauh dari sini kok, jadi untuk perawatan lukanya bisa dilakukan di sana juga. Rumah sakit ini menjalin kerjasama dengan mereka."


"Syukurlah jika begitu Dok, saya jadi sedikit tenang," ucap Papa Andara.


Setelah mendapatkan alamat pengobatan alternatif patah tulang tersebut, papa Andara segera mengurus biaya administrasi untuk keluar dari rumah sakit karena Devani akan segera dipindahkan ke tempat tersebut.


Selagi menunggu urusan selesai, Papa kembali ke ruangan Devani untuk menemani anak dan istrinya. Tidak lama setelah itu Mahen dan Annisa pun muncul.


"Bunda...bunda kenapa Yang?"


Annisa mau memeluk bundanya tapi ditarik oleh Mahen.


"Jangan Nak, bunda kamu sedang sakit, nanti kena lukanya tambah sakit," ucap Mahen.


"Sini Nis dekat Bunda," pinta Devani.


"Sakit ya Bun, kenapa bunda bisa jatuh, tapi bunda naik mobil?" tanya Annisa.


"Bunda jatuh dari motor Nis," jawab Devani.


"Bunda balapan lagi ya?" tanya Annisa hingga membuat Mahen menyenggol tangan putrinya.


"Nggak kok, hanya rindu naik motor saja," jawab Devani sambil tersenyum.


Selagi Annisa ngobrol dengan Devani, Mahen mendekati papa Andara, dia ingin tahu bagaimana kondisi Devani sebenarnya.


Papa Andara menjelaskan apa yang telah dikatakan Dokter, bahwa lebih baik Devani dibawa ke pengobatan alternatif patah tulang yang tidak jauh dari tempat itu.


"Jadi Pa, kapan Devani akan dibawa ke sana?" tanya Mahen.


"Ini lagi menunggu suster yang akan memberikan obat dan juga surat jalan sebagai rujukan ke sana," ucap Papa Andara.


"Oh... jika begitu saya hubungi papa dan mama agar langsung saja menuju ke tempat pengobatan alternatif tersebut," ucap Mahen.


Mahen pun segera menelpon Hans, agar membawa Papa Mamanya ke alamat yang nanti akan dia kirimkan via WhatsApp.

__ADS_1


Saat Mahen sedang menelepon suster pun masuk ke ruangan dan memberitahu jika pasien sudah bisa dipindahkan.


Sebentar lagi, perawat pria akan membantu membawa brankar untuk mengantar Devani ke mobil ambulans yang sudah menunggu di di halaman depan rumah sakit.


Perawat laki-laki pun masuk, dengan dibantu oleh papa dan juga Mahen, mereka bersama-sama memindahkan Devani ke atas brangkar, lalu perawat tersebut mendorong brankar menuju ke ambulans.


Mahen membantu papa Andara mendorong kursi roda Mama Intan sedangkan Papa Andara menuntun cucunya hingga ke mobil. Lalu mereka bersama-sama menuju ke tempat perawatan Devani yang baru.


Sesampainya di sana perawat laki-laki dibantu oleh Mahen membawa Devani masuk ke dalam ruangan yang telah disiapkan oleh pihak pengobatan alternatif tersebut.


Dukun sangkal putung pun segera menangani lengan Devani yang patah. Beliau memperbaiki susunan tulang, lalu membalut dengan daun tumbuhan bakung yang sudah dipanggang menggunakan minyak obat.


Setelah itu dibalut lagi dengan kain kasa serta diapit oleh dua bilah bambu tali yang sudah dipipihkan dan dihaluskan dari bagian yang tajam, lalu diikat kencang, agar tulang patah yang sudah dibenahi letaknya tidak tergeser lagi.


Untuk bagian kaki Devani yang terkilir, dukun sangkal putung mengurutnya dengan menggunakan minyak urut racikan sendiri yang terbuat dari aneka rempah, lalu membenahi letak urat-urat syaraf yang sempat tergeser dari tempatnya dan yang sempat membengkak akibat benturan keras saat Devani terjatuh.


Selama proses pengobatan Devani tidak merasa kesakitan sedikitpun, karena sebelumnya dukun sangkal putung telah meminta Devani untuk minum segelas air putih yang telah beliau bacakan suatu rapalan dalam tata cara pengobatan yang dia yakini bisa menghilangkan rasa sakit pada pasiennya.


Setelah selesai, Devani di minta untuk menginap di sana untuk beberapa waktu, yang telah dukun sangkal Putung tentukan sampai Devani bisa berjalan kembali dan tulang lengan yang patah bisa menyatu seperti sebelumnya.


Mengenai luka-lukanya, Dokter dari rumah sakit harapan bersedia datang untuk merawat Devani di luar jam tugasnya di rumah sakit.


Kini semua bisa tenang, hanya tinggal menunggu, menemani Devani di sana sampai dia sembuh.


Mahen membulatkan matanya kearah Hans, dia tidak ingin adiknya membuat Devani mengingat kejadian tersebut.


Papa Emir dan mama Mahen memberikan semangat kepada Devani, bahwa pasti akan segera sembuh setelah mendapatkan perawatan di sana.


Devani bersyukur, orang-orang terdekatnya begitu peduli atas musibah yang menimpanya. Tapi dia sedih saat ingat Bastian, yang telah pergi meninggalkannya tanpa pesan apapun.


Mahen melihat sepintas kesedihan di wajah Devani, lalu dia mendekat, duduk di samping Devani dan berbicara setengah berbisik ke telinga gadis itu, "Kenapa kamu sedih, bicaralah padaku. Apa kamu seperti ini karena pembicaraan kita semalam, kalau begitu aku minta maaf Van," ucap Mahen.


"Aku tidak akan pernah menyinggung hal itu lagi. Kamu jangan cemas, setelah kamu sembuh, aku mungkin akan membawa Annisa pergi jauh, agar terbiasa tanpa kamu di sisinya. Sekali lagi maafkan aku Van," ucap Mahen yang merasa menyesal.


Setelah mengatakan hal itu, Mahen beranjak dari tempat duduknya, dia hendak bergabung dengan yang lain yang sedang memperhatikan pasien yang baru saja tiba dan sedang dalam proses pengobatan.


Namun, belum lagi Mahen melangkah, Devani menarik lengan Mahen sambil berkata, "Jangan bawa pergi Annisa, dia penyemangat hidup keluargaku. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk memikirkan permintaanmu tadi malam, sampai aku sembuh," ucap Devani sambil meneteskan air mata.


Mahen kembali duduk, lalu mengelap air mata Devani dengan kedua ibu jarinya, lalu diapun berkata, "Jangan melakukan hal itu karena terpaksa Van! Aku hanya sementara membawa pergi Annisa sampai bisa mendapatkan mama baru untuknya agar tidak bergantung kepadamu. Dan aku tidak bermaksud untuk menjauhkan dia selamanya dari keluarga Andara," ucap Mahen.


"Tapi jika memang kamu bersedia menjadi mamanya, mungkin itu jalan terbaik untuk Annisa dan terbaik untuk hubungan baik kedua keluarga kita," ucap Mahen lagi.


"Baiklah Hen, aku janji akan memberimu keputusan setelah aku keluar dari tempat ini," ucap Annisa.

__ADS_1


"Ha...begini yang mama dan papa suka, kalian bisa saling dekat, bukan seperti anjing dan kucing seperti dulu," ucap mama Mahen yang memergoki mereka sedang ngobrol serius.


"Kalau begitu, setiap malam biar Mahen saja yang menjaga Devani di sini, gantian...siangnya baru para orangtua. Mengenai Annisa biar pulang dengan kami dan tugas Hans untuk menemaninya bermain," ucap mama Mahen lagi.


"Siap Ma, beres," ucap Hansen.


"Iya 'kan...Nisa! Kamu nggak boleh nangis lagi cari bunda, coba lihat! kasihan 'kan bunda. Bunda tinggal di sini dulu sampai sembuh dan kamu boleh jenguk bunda setiap siang bersama opa dan oma," ucap Hans lagi.


"Kalau Bunda sudah sembuh, Annisa boleh ya Om, tidur dengan bunda lagi?" tanya Annisa.


"Tanya Papa dong, masa tanya Om, Nisa 'kan anak Papa," ucap Mahen yang sengaja ingin menggoda putrinya.


"Eh...iya, boleh ya Pa?" tanya Annisa


"Kalau bunda kamu setuju, setiap malam pun Nisa boleh tidur dengan Bunda," ucap Mahen lagi.


"Bagaimana Bun? Boleh 'kan jika Nisa setiap hari tidur sama Bunda?" tanya Annisa kepada Devani.


Devani hanya tersenyum, dia masih harus memikirkan semuanya dengan matang sebelum memberi keputusan.


Annisa yang tidak mendapatkan jawaban dari Devani nampak sedih, lalu dia memeluk papanya sambil berkata, "Bunda nggak setuju Pa!"


"Sayang...jangan paksa Bunda, Bunda kamu 'kan sedang sakit," ucap Mahen, sambil memeluk putrinya.


"Eh, iya...Maafkan Nisa ya Bunda. Semoga Bunda cepat sembuh ya, biar bisa main lagi dengan Nisa."


"Iya Sayang, selalu doain Bunda ya," jawab Devani.


Kalau begitu kami pulang dulu, mobil kamu biar Hans yang pakai ya Hen? Nanti dia akan antar pakaian ganti dan membawa makanan buat kamu," ucap Mama.


"Iya Ma."


"Ini Hans kuncinya," ucap Mahen sambil menyerahkan kunci mobil ketangan Hans.


"Oh ya, kalau lupa jalan pulang, hidupkan saja google maps Hans," ucap Mahen lagi.


"Oke Kak," jawab Hansen.


Papa dan mama Andara juga pamit, mama Intan harus istirahat takut sakitnya malah bertambah parah.


"Hen...terimakasih ya, sudah bersedia menjaga Devani. Papa dan mama pulang dulu, besok pagi-pagi sekali kami akan kembali kesini," ucap Papa Andara sambil memeluk Mahen.


"Sama-sama Pa, Papa dan Mama... hati-hati ya di jalan," ucap Mahen.

__ADS_1


Mama juga pamit kepada Devani dan Mahen, setelah mencium dan memberi semangat kepada putrinya, Papa pun mendorong kursi roda mama Intan keluar dari tempat pengobatan tersebut.


__ADS_2