BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 39. MENENTUKAN TANGGAL PERNIKAHAN


__ADS_3

Mama Intan dan mama Mahen memeluk Devani secara bergantian. Mereka sangat gembira mendengar keputusan Devani, akhirnya mereka tetap akan menjadi besan.


"Sekarang Papa ingin tahu, apa kamu tidak akan menyesal nantinya menikahi Devani Hen?" tanya Papa Andara.


"Tidak Pa, aku akan berusaha membuat Devani bahagia, walaupun mungkin diantara kami saat ini belum ada cinta," ucap Mahen.


"Belajarlah dari pernikahan Papa dan Mama Nak, saling memahami dan saling percaya, itu yang paling penting, mudah-mudahan cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu," ucap Papa Emir.


"Iya Pa," ucap Mahen.


"Kamu kembalilah kekamar, jika ingin istirahat Nak, biar kami para orangtua dan Mahen yang akan menentukan kapan rencana pernikahan kalian akan dilaksanakan," ucap Papa Andara.


"Iya Pa, tapi satu permintaanku Pa, aku tidak ingin ada resepsi, cukup kerabat dekat dan tetangga saja sebagai saksi. Buatlah acara sesederhana mungkin Pa," pinta Devani.


"Bagaimana menurutmu Hen, apa kamu setuju dengan persyaratan Devani?" tanya Papa Andara.


"Saya terserah dengan keputusan Papa," ucap Mahen.


"Baiklah jika begitu, pernikahan akan kita adakan di kantor urusan agama dengan di hadiri oleh kerabat dekat dan tetangga sebagai saksi, tapi jika kalian berubah pikiran dan ingin menggelar resepsi, kami kapanpun siap," ucap Papa Andara lagi.


"Iya betul yang dikatakan oleh besan. Kami semua siap menggelar resepsi jika kalian mau," ucap Papa Emir.


"Apa kamu tidak ingin memiliki kenangan indah, sekali seumur hidup, menggelar acara pernikahan secara meriah Van, seperti pernikahan kakakmu dulu?" tanya Mama Intan.


Mendengar perkataan mama, Papa Andara langsung menyenggol lengan sang Mama.


"Keputusan sudah kita serahkan kepada mereka Ma, jika mereka berdua maunya seperti itu, ya...kita sebagai orangtua harus mendukung. Papa berterimakasih dan sangat bahagia Devani mau mengabulkan keinginan kita," ucap Papa Andara.


"Kalau begitu aku pamit ke kamar dulu ya Pa, Ma, Om, Tante...takut Annisa mencariku, sebab tadi pamitnya untuk mengambil air minum dan susu Annisa," ucap Devani.


"Panggil kami Papa dan Mama juga dong Van, kami 'kan sebentar lagi jadi orangtua kamu."


"Iya. Aku pamit dulu ya Pa, Ma," ucap Devani.

__ADS_1


Setelah Devani pergi ke kamarnya, Mama Mahen pun bertanya kepada besannya, "Sebenarnya apa alasan Devani ya Jeng, kenapa tidak mau mengadakan resepsi pernikahan? Apa dia malu menikah dengan Mahen yang seorang duda," tanya mama Bastian kepada Mama Intan.


"Ma...aku yakin bukan itu alasannya, Devani 'kan belum sembuh benar, jadi dia takut nanti kelelahan dan kondisinya bisa ngedrop kembali," bela Mahen.


Mahen tahu, Devani pasti tidak ingin berita pernikahan mereka di ketahui oleh teman-temannya, terutama Bastian. Tapi sebelum acara itu dilaksanakan, Mahen berencana ingin menghubungi Bastian untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.


Jika memang Bastian mau memaafkan Devani dan menerima Devani kembali, Mahen akan mundur, berarti Devani bukanlah jodoh untuknya.


Papa Andara yang melihat Mahen melamun pun bertanya, "Ada apa denganmu Nak? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Eh...nggak kok Pa!" jawab Mahen.


"Jika kamu lelah dan


mengantuk, istirahatlah! kamu semalaman pasti begadang 'kan menjaga Devani," ucap Mama Intan.


"Nggak apa-apa kok Ma. Jadi kapan Pa, Ma... sebaiknya pernikahan kami dilaksanakan, biar nanti aku saja yang mengurus semuanya," ucap Mahen.


"Kalau bisa, mau kami secepatnya Jeng, mumpung Hans masih di sini. Maklumlah sudah kelamaan dia disini, padahal Hans harus secepatnya kembali. Perusahaan tidak bisa terlalu lama di tinggal tanpa seorang pemimpin," ucap Papa Emir.


"Biasalah Jeng, namanya anak muda, pasti saat ini sedang telepon-teleponan dengan teman-temannya. Soalnya teman-temannya sudah tidak sabar menunggu kepulangan Hansen," ucap mama Mahen.


"Menurut papa, sebaiknya acaranya kita laksanakan minggu depan. Kalau Papa tidak salah ingat, tanggal itu bertepatan dengan hari ulang tahun Devani," ucap Papa Andara.


"Iya Pa... benar, minggu depan adalah tanggal kelahiran Devina dan Devani, Mama setuju Pa!" ucap Mama Intan.


"Alhamdulillah jika begitu, kami pun setuju," ucap Papa Emir.


"Bagaimana Hen?" tanya Mamanya.


"Aku setuju Ma," ucap Mahen.


Hansen yang baru saja tiba di sana pun merasa heran, apa sebenarnya yang keluarganya sedang bicarakan.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, Pa... Ma, setuju ngapain ya?" tanya Hansen sambil nyengir kuda.


"Makanya jangan telepon cewek melulu, nggak tahu kan ada kabar bahagia," ucap Papa Emir.


Hansen tersenyum malu, sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Kemudian diapun bertanya, "Memangnya ada kabar bahagia apa Pa?"


"Kakak kamu akan menikah minggu depan," jawab mamanya.


"Apa Ma! Aduh... kalah lagi deh aku, Kakak sudah mau dua kali, aku sekalipun belum," ucap Bastian sambil nyengir menunjukkan susunan giginya yang rapi dan putih bersih.


Makanya Hans, kamu jangan mikirin kerja melulu, cari dong! Di sini banyak lho... gadis cantik," ucap Mama Intan.


"Gadis cantik memang banyak Tante, tapi tidak ada yang sebaik dan secantik Devani, aku kalah cepat dari Kak Mahen dan harus mengalah demi Annisa. Jika bukan karena Annisa mungkin aku akan bersaing dengan Kak Mahen," ucap Hans dengan senyumnya yang khas sambil melirik sang Kakak.


"Dasar kamu! Adik suka usil," ucap Mahen.


Serius loh Kak! Awas jika Kakak menyia-nyiakan Devani, aku akan mengambilnya dari Kakak berikut Annisa!" ucap Hans yang memang terlihat serius.


"Kamu bisa saja Nak Hans," ucap Mama Intan.


"Iya ini Jeng! Hans memang begitu, kalau ngomong asal, nggak pernah serius, makanya telat dapat jodoh," ucap mama Mahen.


"Siapa bilang aku nggak serius Ma! Coba saja sekarang kalau Kak Mahen berani batalin pernikahan, langsung... besok aku bawa Devani ke kantor KUA," ucap Hans lagi.


"Sudah, sudah! Jangan kau goda terus kakakmu Hans," ucap Papa Emir.


"Kalau belum punya gebetan, apa mau kami carikan Nak Hans," tawar Papa Andara.


"Terima kasih Om, Jika ada pilihan yang terbaik, boleh juga Om. Susah sekarang menemukan gadis yang benar-benar baik dan tulus mencintai kita, apalagi di kota," ucap Hansen.


"Kalau memang mau, nanti kami carikan Hans! Banyak tuh gadis baik dan sholehah di kampung Mama Devani," ucap Papa Andara.


"Iya Om, aku mau. Tapi ketemuannya nanti ya Om, jika aku datang kesini lagi, saat Annisa punya adik," ucap Hans yang sengaja mencandai sang Kakak.

__ADS_1


"Kamu apaan sih Hans, nikah saja belum, masa sudah memikirkan buat adik untuk Annisa," jawab Mahen.


"Nih anak memang minta di getok," ucap mama Mahen sambil mengacak-acak rambut Hans yang kebetulan duduk di dekatnya.


__ADS_2