BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 30. PERMINTAAN MAAF PAPA BASTIAN


__ADS_3

Selama dalam perjalanan pulang Devani mengotak-atik ponselnya, dia berharap ada pesan dari Bastian. Tapi ternyata, Bastian benar-benar marah dan memang menginginkan putus dengan Devani.


Sementara Bastian hanya diam di sepanjang perjalanan pulang bersama sang mama. Dia pokus menyetir sambil menghidupkan musik-musik yang menyiratkan kegalauan.


Mama Bastian, awalnya tidak mau bertanya sebelum Bastian sendiri mau menceritakan masalahnya, tapi melihat putranya terlihat sedih dan gelisah, akhirnya beliau pun bertanya, "Bas... sebenarnya siapa gadis tadi?"


"Bukan siapa-siapa Ma," jawab Bastian.


"Kenapa mama lihat kamu marah sama dia, sebenarnya ada masalah apa? Tadi saat kita pergi, mama lihat kamu baik-baik saja tapi kenapa setelah bertemu gadis tadi kamu berubah seperti ini."


Kemudian mama berkata lagi, "Sekarang cerita ke Mama, barangkali Mama bisa bantu," ucap mama Bastian.


"Entahlah Ma, kenapa nasib kita sama," ucap Bastian sambil meraup wajahnya.


"Maksudmu? Dia pacarmu dan juga selingkuh?"


Bastian hanya menghela nafas, lalu dia melanjutkan ucapannya, "Apa kita memang tidak pantas untuk bahagia ya Ma? Kenapa dan apa kesalahan kita sebenarnya, hingga mereka tega mengkhianati cinta kita," ucap Bastian lagi.


"Apa kamu punya bukti Bas, jika gadis itu selingkuh? Jangan sampai kamu salah mengambil keputusan hingga kamu menyesal," ucap mama Bastian.


"Tadi mereka bergandengan bertiga ma, layaknya sebuah keluarga dan saat aku hubungi sebelum itu, Devani tidak jujur mengatakan sedang di mana."


"Oh...namanya Devani, gadis yang cantik. Tapi saran mama kamu selidiki dulu dan dengarkan penjelasan dari dia."


"Sudahlah Ma kita bicarakan yang lain saja, aku benci orang yang suka selingkuh. Aku sudah putuskan di dia Ma dan aku bersyukur tahu sejak dini sebelum terlambat seperti mama," ucap Bastian.


"Terserah kamu Bas, yang penting mama sudah mengingatkan, jangan kamu terburu-buru mengambil keputusan yang akan membuatmu menyesal."


Akhirnya Bastian pun tiba di rumah. Setelah mengantar sang mama, dia pamit ingin pergi berkumpul bareng teman-temannya. Kemudian Bastian menyerahkan kunci mobil dan menggantinya dengan motor.

__ADS_1


Bastian lebih suka bepergian dengan motornya ketimbang mobil. Saat dia baru mengeluarkan motonya dari garasi, sang papa pun pulang diantar sopir.


Malam ini adalah jatah untuk menginap di rumah mama Bastian, tapi berhubung istri sirinya sedang menunggu proses melahirkan, Papa Calvin berniat hanya ingin pulang sebentar.


Saat melihat Bastian mengeluarkan motornya, Papa Calvin pun bertanya, "Bas...mau kemana? Papa harap malam ini kamu di rumah saja untuk temani mama. Karena papa harus pergi lagi ke rumah sakit. Papa hanya pulang untuk mandi dan istirahat sebentar," ucap Papa Calvin Mahesa.


Karena hati Bastian yang sedang tidak enak, diapun membantah omongan papanya dengan berkata, "Jika memang Papa di rumah cuma sebentar, ngapain juga Papa pulang! Hanya membuat mama sedih," ucap Bastian.


"Kamu tidak punya hak untuk mengatur Papa, mau pulang atau tidak, itu bukan urusanmu dan ini juga rumah Papa, jadi Papa punya hak untuk pulang atau tidak!" ucap Papa Calvin marah.


Beliau memang saat ini sedang panik, karena dari kemaren menunggu kelahiran calon bayinya, yang menurut dokter ada masalah dengan kandungan istri sirinya itu.


Setelah mengatakan hal itu Papa Calvin masuk rumah, sementara Bastian yang tidak tega meninggalkan mamanya sendirian di rumah segera memasukkan motornya kembali ke garasi.


Mama yang baru keluar dari kamar mandi terkejut saat melihat sang suami sudah duduk di atas tempat tidur mereka.


"Oh... ternyata Papa ingat pulang juga. Aku pikir sudah jam segini nggak bakalan pulang, maaf...tadi aku sudah suruh Bibi tidur dan menyimpan makanan di kulkas. Jadi kalau Papa mau makan, silahkan hangatkan sendiri, aku capek, kami baru saja pulang dan ingin segera beristirahat," ucap mama Bastian sambil mengeringkan rambutnya.


"Jangan dekat-dekat! Aku capek Pa!" seru mama Bastian sambil terus berusaha menghindar.


Selama ini mama Bastian memang tidak pernah mau untuk mendengarkan apa alasan perselingkuhan suaminya.


Beliau selalu menghindar dan terkadang mengunci kamarnya agar papa Calvin tidak bisa masuk dan tidur di kamar tamu.


Namun Papa Calvin bukan malah pergi tapi semakin mendekat dan memeluk sang istri.


Malam ini juga beliau harus mengatakan kebenarannya. Papa Calvin ingin meminta maaf, atas semua kesalahan yang selama ini dia perbuat dan simpan rapat-rapat.


Papa Calvin berharap setelah itu proses kelahiran bayinya akan dipermudah oleh Allah, karena keikhlasan Mama Bastian untuk memaafkan kesalahan mereka.

__ADS_1


Melihat Papa Calvin yang bersikeras tidak mau melepaskan pelukannya juga, lalu mama Bastian berkata, "kenapa? Apa disana papa tidak dilayani hingga pulang dan bersikap seperti ini!" ucap mama Bastian yang terdengar sangat ketus.


Hati mama Bastian merasa sangat sakit, tapi dia tidak bisa meminta cerai ataupun diceraikan karena memikirkan nama baik kedua keluarga besar yang menanggap perceraian adalah aib.


Dalam keluarga besar Mahesa yang namanya istri sah hanya satu dan sampai mati, jadi...bagi istri kedua, statusnya hanya cukup sebagai istri siri saja dan anak-anak yang mereka lahirkan tidak berhak menyandang nama keluarga besar dan juga hak waris.


Bagi yang berani melanggar, akan dicabut hak waris serta dikeluarkan dari keluarga dan tidak boleh menginjak rumah tua keluarga mereka. Hal ini sudah menjadi aturan keluarga secara turun menurun.


Papa Calvin terus saja memeluk dan menciumi sang istri sambil berkata, "Maafkan Papa dong Ma, sudah cukup lama kita seperti ini, Papa memang salah, tapi Papa tidak bisa lari dari tanggungjawab. Ayolah Ma, Papa mohon...maafkan Papa dan kita mulai dengan awal yang baru."


"Lagipula, semua itu terjadi juga karena kesalahan mama. Mama terlalu asyik mengurus bisnis dan bepergian keluar kota dengan teman-teman sosialita mama."


"Papa stres Ma, belum lagi karena banyaknya tekanan pekerjaan hingga membuat Papa khilaf, menerima ajakan teman-teman untuk minum."


"Papa mabuk malam itu dan tidak sadar telah merenggut paksa kesucian seorang gadis kampung yang baru saja kerja di sana. Dia tidak bersalah, maafkan dia Ma," ucap Papa Calvin sambil terus memeluk tubuh sang istri tanpa mau melepaskannya sebelum dia menyelesaikan omongannya.


Mendengar penjelasan suaminya, hati mama Bastian kembali sakit, dia menangis dan meronta sejadi-jadinya, tapi akhirnya dia kehabisan tenaga dan terkulai lemah dalam pelukan Papa Calvin.


Selama ini mama Bastian buta, selalu menganggap semua itu kesalahan penuh sang suami, tapi ternyata akar permasalahan itu terjadi karena keterlenaan dirinya sendiri.


Melihat istrinya sudah tidak lagi meronta, Papa Calvin pun berkata,


"Walau bagaimanapun, aku harus bertanggungjawab, dia mengandung dan akan segera melahirkan putriku Ma, aku mohon maafkanlah kesalahan kami."


"Mungkin...dengan maaf dan keikhlasanmu, putri kami segera lahir dengan selamat. Saat ini mereka sedang berjuang di rumah sakit Ma, karena kata dokter kandungannya bermasalah, jadi aku harus memilih, menyalamatkan ibunya atau anak kami."


"Dia memohon, agar Dokter menyelamatkan putri kami saja serta dia ingin bertemu mama untuk pertama dan terakhir kali, sebelum operasi pengangkatan bayi dilakukan." ucap Papa Calvin sedih.


Mama Bastian masih diam, beliau tidak tahu harus bagaimana bersikap. Hatinya sakit karena pengkhianatan tapi sebagai seorang wanita dan seorang ibu, dia juga sedih, mendengar apa yang menimpa madunya tersebut.

__ADS_1


Wanita itu berani berkorban nyawa demi kelahiran sang putri, berarti dia juga ibu yang baik. Jika mama Bastian ada di posisinya, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama.


__ADS_2