
"Serius! Kamu siap?" tanya Mahen.
"Tapi pelan-pelan ya Yang, aku takut, apalagi setelah mendengar cerita Kak Mahen tadi," ucap Devani.
"Siap Nyonya Mahen," ucap Mahen sambil menggendong Devani ala bridal style dan merebahkannya di atas ranjang yang bertabur bunga.
Harum bunga mawar dan aroma pewangi ruangan membuat suasana semakin romantis, keduanya saling berbagi kasih.
Ciuman-ciuman lembut kini berubah panas dan menuntut, saat keduanya mulai merasakan hawa panas menjalari tubuh mereka masing-masing.
Mahen mulai tak terkendali saat erangan dan ******* lolos dari mulut Devani. Nyanyian indah yang terdengar di telinganya itu, menggelitik, membangkitkan gairah yang selama ini telah terpendam lama.
Pengalaman yang dimiliki oleh Mahen berhasil membuat Devani terbang melayang, rasa takut akan cerita belah duren kini lenyap, yang tertinggal adalah tuntutan demi tuntutan untuk diperlakukan istimewa.
Satu persatu pakaian di tubuh mereka pun tercampak ke sembarang arah. Dengan nafas memburu dan mata yang berkabut, Mahen tidak menyia-nyiakan kesempatan, saat sang istri mulai menuntut untuk diperlakukan lebih. Mahen dengan bersemangat membuat penyatuan.
Junior yang sudah siap tempur, tak ayal lagi masuk, perlahan demi perlahan, menembus dinding pertahanan keperawanan sang istri.
Jeritan tertahan Devani membuat Mahen memperlambat ritme asahan pedangnya. Pedang itu kini semakin tajam, menembus hingga berhasil mengoyak selaput kebanggaan seorang wanita.
Keduanya pun telah mencapai puncak kenikmatan yang layaknya di rasakan oleh para pengantin baru.
Kini keduanya benar-benar telah dipersatukan, baik di atas kertas maupun secara batiniah.
Mahen dan Devani pun membersihkan sisa-sisa pertempuran mereka, baru setelahnya beristirahat, tidur hingga menjelang pagi.
Pagi ini, Mahen menggoda sang istri lagi hingga penyatuan pun kembali terjadi.
Selesai membersihkan diri, keduanya menjalankan ibadah dan bersiap untuk sarapan pagi. Hilda dan rekan-rekannya telah mempersiapkan semuanya nyaris sempurna.
__ADS_1
Wajah keduanya terlihat bahagia, bergandengan tangan menuju ke tempat khusus yang telah Hilda persiapkan.
Sarapan pagi juga masih di warnai dengan keromantisan keduanya. Mahen terus menggoda Devani, dia ingin memberikan kasih sayang serta perhatian yang seperti Devani harapkan.
Selesai sarapan, keduanya sepakat keliling, untuk menikmati keindahan alam dan sejuknya udara pagi di sekitar hotel.
Ternyata kejutan dari Mahen tidak hanya itu saja, orang suruhan Hilda telah datang membawa mobil, siap mengantar mereka ke tempat-tempat romantis yang memiliki pemandangan lebih indah.
Seharian mereka berkeliling menikmati pemandangan dan kebersamaan sebagai pengantin baru.
Sore hari mereka putuskan untuk pulang karena kasihan meninggalkan Annisa terlalu lama.
Setibanya mereka di rumah, Annisa langsung menghambur ke pelukan bundanya dan juga Mahen, lalu dia bertanya, "Mana adik Nisa Pa?"
Mahen dan Devani saling pandang, mereka bingung harus menjawab apa. Untung saja Mama Mahen datang dan berusaha memberi penjelasan kepada cucunya.
"Sayang, adiknya masih dalam perut bunda, adik masih sangat kecil, jadi belum bisa tinggal dengan kita."
"Sekecil ini!" ucap mama Mahen sambil menunjukkan ujung kukunya.
"Nanti kalau sudah sebesar itu, baru adek dilahirkan dan tinggal dengan kita," ucap Mama Mahen lagi, sembari menunjuk foto Annisa saat bayi yang tergantung di dinding.
"Oh gitu ya Ma, iya deh... Nisa akan tunggu sampai adek sebesar itu. Nanti Nisa boleh 'kan menggendong adek, Oma?"
"Tentu saja, kita semua akan menggendongnya."
"Oh ya Bun, malam ini aku boleh 'kan tidur dengan Bunda?" tanya Annisa.
Devani memandang Mahen, lalu dia berkata, "Boleh, Nisa boleh kok tidur dengan Bunda."
__ADS_1
Mahen memasang muka cemberut, malam ini dia gagal mendapatkan jatah.
"Nisa 'kan sudah besar, sudah mau jadi kakak, tidurnya nggak boleh dengan bunda lagi. Harus berani tidur di kamar sendiri," rayu Mahen.
"Nanti Pa, jika adek sudah keluar dari perut Bunda, baru Nisa bobok sendiri, nah gantinya adek yang bobok dengan Bunda," ucap Annisa.
Mahen menepuk keningnya sendiri hingga membuat Mama dan Devani tertawa.
"Kalau begitu kapan dong mau buat adeknya," ucap Mahen di telinga Devani.
Devani terkikik mendengar ucapan Mahen, lalu dia mencubit pelan perut suaminya. Mama yang melihat keakraban anak-anaknya merasa senang, sementara Annisa yang melihat Papanya di cubit oleh bundanya pun bertanya, "Papa kenapa di cubit Bunda?"
"Habisnya Papa kamu sih, sukanya usil," ucap Mama Mahen.
"Oh, iya Oma. Bun, ayo kita ke kamar, Nisa ngantuk," ajak Annisa.
"Papa ikut ya?"
"Nggak boleh! Papa tidur di kamar Papa saja. Ayo Bun!" ajak Annisa sambil menarik tangan Bundanya.
Mahen hanya bisa pasrah dan mengalah melihat Devani yang di tarik putrinya ke kamar.
Bersambung......
Mampir yuk sobat ke karya sahabatku, nggak kalah seru loh, jangan lupa tinggalkan jejak kalian di karya kami ya.🙏♥️
__ADS_1
