
Setelah menyerahkan kartu namanya, Mahen pun pamit meninggalkan rumah orangtua Bastian, dia sangat yakin jika Bastianlah yang telah membawa pergi Devani.
Mama Bastian yang sedang kebingungan menghadapi kerewelan si kecil di tambah lagi dengan masalah Bastian, segera meminta pelayan di rumahnya untuk menghubungi Papa Calvin.
Begitu panggilan tersambung, beliau meminta agar Papa Calvin pulang secepatnya dan segera membantu mencari keberadaan Bastian sebelum masalah ini di laporkan ke polisi.
Papa Calvin pun bergegas pulang, dalam perjalanan dia berpikir keras, bagaimana caranya agar Bastian segera kembali.
Akhirnya beliau menemukan ide, yaitu dengan memblokir semua rekening serta kartu ATM atas nama Bastian, dengan begitu Bastian tidak akan bisa pergi jauh dan jika butuh uang, dia pasti akan segera menghubungi orangtuanya.
Hanya melalui telepon saja, semua sudah berhasil di blokir, tinggal menunggu hasil dari rencana Papa Calvin.
Setibanya di rumah, mama Bastian yang panik langsung memberondong Papa Calvin dengan banyak pertanyaan. Kemudian Papa menenangkan mama Bastian bahwa semuanya sudah diurus tinggal menunggu telepon masuk saja dari Bastian.
Mama mondar mandir seperti gasing, pikirannya belum juga bisa tenang walau sang suami bilang sudah aman.
Ternyata trik yang dilakukan oleh Papa Bastian berhasil, ketika Bastian sedang belanja bahan makanan untuk mengisi stok di kulkas, kasir mengatakan bahwa kartu ATM nya telah di blokir.
Bastian heran, lalu dia menyerahkan kartu yang lain, ternyata sama di blokir juga. Bastian pun kesal, lalu dia menelepon mamanya, "Ma, kenapa semua ATM ku terblokir, memangnya ada apa Ma dan Mama atau papa yang sudah menblokirnya?" tanya Bastian.
Ternyata yang menjawab bukannya sang mama, melainkan Papa Calvin. Tanpa basa-basi papa Calvin pun bertanya, "Di mana kamu sekarang Bas?" tanya Papa.
"Aku sedang keluar kota bersama teman-teman Pa!" jawab Bastian.
"Pokoknya papa nggak mau tahu, kamu harus secepatnya pulang. Kalau kamu tidak pulang, jangan harap papa akan memberikan kamu uang," ancam Papa Calvin.
"Satu hal lagi, bawa pulang gadis itu, sebelum polisi mencarimu!" ucap Papa Bastian lagi.
"Gadis yang mana Pa? Aku keluar kota bersama teman-teman ku dan semuanya laki-laki. Tidak ada gadis yang aku culik, Papa jangan ngada-ngada," ucap Bastian lagi.
"Kamu tidak bisa bohong! kami sudah tahu, kamu menculik Devani bukan?" tanya Sang Papa.
"Pa! tolong dong, aku butuh uang sekarang, ini aku lagi di supermarket, membeli makanan," pinta Bastian.
__ADS_1
Papa Bastian tidak menjawab, lalu beliau mematikan ponselnya sepihak. Kemudian menelepon seseorang dan ternyata beliau sudah minta tolong seorang pelacak jaringan telekomunikasi.
Setelah beberapa saat menunggu, orang tersebut pun memberikan informasi di mana posisi Bastian berada.
Papa Calvin langsung bisa menebak, jika Bastian saat ini berada di villa mereka yang ada di luar kota.
"Ma, mana nomor telepon calon suami gadis itu, papa dan dia sekarang juga harus ke villa kita untuk mencari Bastian, karena teman papa yang bekerja di bagian jaringan telekomunikasi mengatakan bahwa posisi Bastian saat ini ada di sana," ucap Papa Bastian.
"Benarkah Pa, syukurlah. Ini Pa, kartu nama calon suami gadis itu," ucap Mama Bastian sambil menyerahkan kartu nama Mahen kepada suaminya.
"Ini 'kan pengusaha muda yang namanya sempat meroket, dan tenggelam, sejak kematian istrinya. Berarti pernikahan besok adalah pernikahan keduanya," ucap Papa Bastian.
Kemudian beliau menghubungi Mahen. Mahen melihat nomor telepon tak di kenal, berharap itu panggilan yang ada hubungannya dengan Devani.
Mahen buru-buru menerima panggilan tersebut dan ternyata benar dugaannya, Papa Bastian memintanya untuk pergi ke villa yang alamatnya dia kirimkan ke ponsel Bastian via WhatsApp.
Mahen yang memang berada tidak jauh dari rumah Bastian segera memutar arah mobilnya mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Papa Calvin.
Papa Calvin pamit kepada istrinya, bergegas menuju villa mereka.
Para orangtua bisa bernafas lega, mereka bersyukur mendengar berita tersebut dan segera menunggu kabar selanjutnya.
Hans pun menutup panggilan, dia hanya meminta para orangtua agar berdoa semoga benar Devani memang berada di villa keluarga Bastian.
"Hen awas!" teriak Hans yang melihat mobil melaju sangat kencang dari arah depan mereka yang hampir menyerempet mobil Mahen.
"Huh, sembarangan saja mereka, seperti jalan nenek moyang mereka sendiri saja!" gerutu Mahen yang sedang kesal.
Sementara Bastian kembali ke villa tanpa membawa apapun, karena dia tidak memilliki uang untuk membayar barang belanjaan yang tadi sempat dia pilih.
Dengan perasaan marah serta kesal Bastian melempar kunci mobilnya ke atas sofa hingga membuat pelayanan takut.
"Bagaimana keadaan Devani Bi, apa dia mau makan makanannya?" tanya Bastian kepada pelayan yang tadi sebelum pergi, dia minta untuk mengantarkan makanan ke kamar tempat Devani di kurung.
__ADS_1
Pelayan menggeleng, "Maaf Den, gadis itu tetap tidak mau makan, padahal tubuhnya nampak sangat lemah. Bibi takut Den, Nona itu sakit," ucap pelayan kepada Bastian.
Bastian kemudian berjalan ke arah ruangan tempat Devani dikurung, dia melihat Devani terbaring sambil menggigil dan memegangi perutnya.
Devani sakit, dia demam hingga membuat Bastian khawatir dan bergegas memanggil pelayan agar mencarikan dokter dan membawanya datang ke villa.
Bastian memegang kening Devani, lalu dia berlari ke dapur, mengambil es batu dan sapu tangan untuk mengompresnya.
"Van, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sakit, kamu sih tidak mau makan," ucap Bastian sambil terus mengompres kening Devani.
Devani sadar tapi dia tidak berkata apapun, dia hanya menurut saja saat Bastian dengan telaten mengompres kepalanya hingga dokter datang kesana.
Dokter memeriksa keadaan Devani, lalu memberi obat demam dan sakit perut, tapi sebelum di minumkan, dokter meminta agar Devani makan dulu.
Devani tetap tidak mau makan hingga membuat Bastian marah dan berkata, "Jika kamu tidak mau makan, aku akan menculik juga putri Mahen dan membawanya pergi jauh dari kota ini," ancam Bastian.
"Tolong Bas! jangan kamu sakiti mereka, apalagi Annisa," ucap Devani lirih.
"Kalau begitu makanlah dulu," ucap Bastian sambil menyodorkan makanan ke mulut Devani.
Akhirnya Devani pun menurut, dia makan beberapa suap, lalu meminum obatnya.
Bastian merasa lega, lalu dia meminta agar Devani beristirahat, supaya obat bekerja dan demamnya turun.
Devani menurut karena tenaganya memang sedang lemah, sejak pagi dia tidak ada makan maupun minum.
Melihat Devani tertidur, Bastian pun menyelimutinya dan menunggui Devani sambil menghidupkan ponsel, mengecek apakah ada pesan masuk ataupun panggilan. Begitu banyak panggilan tak terjawab dan beberapa pesan, tapi Bastian tidak membalasnya, lalu dia kembali mematikan ponselnya.
Bersambung.....
*******
Advertisement
__ADS_1