BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 87. INSAF


__ADS_3

Gara membopong tubuh Devani, lalu membaringkannya di atas tempat tidur, kemudian Gara mencari pakaian untuk Devani.


Dia ingat telah meminta pengurus club untuk mengurus semua kebutuhan di Villa, mungkin saja mereka juga telah membelikan pakaian baru untuk wanitanya.


Ternyata benar, di dalam lemari pakaian Gara terdapat beberapa paper bag. Lalu Gara memeriksa isinya, hanya pakaian dalaman saja.


Beberapa helai lingerie dan onderdil wanita lainnya. Gara mencari lagi, barang kali masih ada paperbag yang lain di dalam sana.


Gara menemukan beberapa gaun wanita tergantung di dekat pakaiannya. Tapi itu semua adalah gaun malam, jadi tidak mungkin Gara pakaikan untuk wanitanya di saat sekarang ini.


Akhirnya Gara memutuskan untuk mengambil baju kemeja dan celana pendeknya untuk dia pakaikan.


Gara yang tidak memiliki pilihan lain untuk minta tolong, karena di villanya cuma ada dia dan kedua pengawal, harus membuka satu persatu pakaian basah di tubuh Devani agar dia tidak terserang demam.


Dia harus siap melihat kepolosan dan kemolekan tubuh itu, toh... bagaimanapun, tadi malam Gara sudah menikmati tubuh wanita di hadapannya ini walau dalam keadaan mabuk.


Tangan Gara gemetar, sambil menutup mata, dia mulai membukanya satu persatu. Dia pengecut saat tidak dalam pengaruh alkohol, tapi jika dia minum sekarang, takutnya malah semakin hasratnya tergoda dan malah menyakiti wanitanya.


Semua sudah terbuka, Gara menggeser tubuh Devani ke seprai yang tidak basah, lalu menyelimutinya dulu sebelum di pakaikan baju.


Lalu Gara menarik seprai yang basah dan menggulung pakaian basah tersebut ke dalam seprai. Saat Gara memegang pakaian dalaman Devani, pikirannya menjadi liar dan nafasnya mulai tersengal dan dengan susah dia menelan saliva.


Dengan terburu-buru dia mencampakkan gulungan sprei basah itu ke dalam tempat pakaian kotornya, setelah itu Gara memakaikan kemeja dan celananya kepada Devani dengan tidak membuka selimut di tubuhnya.


Walaupun kesusahan dan tersenggol sana sini, tapi akhirnya Gara berhasil. Tapi dia tidak memakaikan pakaian **********.


Namun Gara merasa tubuh wanitanya panas, dia demam, itulah pemikiran Gara saat ini.

__ADS_1


Gara mencari obat demam dan termometer yang ada di laci nakasnya, soalnya dia selalu nyetok untuk jaga-jaga saat kakak dan keponakannya datang, bermain ke villa.


Termometer pun di selipkan pada ketiak Devani untuk beberapa saat, dan hasilnya menunjukkan panas badannya 40°C


Kemudian Gara mencari di internet, apa yang harus dia lakukan untuk membantu menurunkan demam.


Devani mengigau, hingga membuat Gara panik, lalu dia mengambil sebaskom air dan handuk kecil untuk mengompres.


Gara berlari ke dapur, mengambil sendok dan air minum, setelah itu menuang paracetamol ke dalam sendok dan membuka paksa mulut Devani agar obat tersebut masuk ke dalam kerongkongannya. Setelah itu dia memberi Devani minum dengan menggunakan sendok pula agar Devani tidak dehidrasi.


Gara kembali mengambil handuk kecil yang berada di kening Devani, mencelupkan ke air dan memerasnya, lalu menempelkannya kembali.


Karena demamnya belum juga turun, Gara terpaksa membuka selimut yang menutupi tubuh wanitanya dan dia lupa jika tadi tidak memakaikan pakaian dalam, hingga tidak sengaja, melihat bayangan si kembar yang menjadi candunya dan melihat kaki putih mulus terpampang di hadapannya.


Dengan menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, Gara pun menutup matanya, sambil mengompres bagian ketiak, untuk mempercepat turunnya panas pada tubuh Devani.


Melihat wanitanya pucat pasi, tergeletak, bak tak bernyawa, Gara merasa sangat bersalah. Mungkinkah dia adalah wanita baik-baik, hingga shok dan akhirnya sakit karena mendapatkan perlakuan buruk darinya tadi malam.


Devani membuka mata, pandangannya kosong, hanya air mata yang terus meleleh diujung matanya. Dia tidak bereaksi apapun saat Gara mengelap air matanya dan mengganti kompresan pada dahi dan ketiaknya.


Gara yang melihat hal itu meraup wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar sangat menyesal telah menyakiti wanita yang ada di hadapannya itu. Gara sangat marah, terutama pada dirinya sendiri. Akibat alkohol dan kecanduannya terhadap wanita membuat wanita di hadapannya seperti mayat hidup


Kemudian Gara bangkit, mengambil handphonenya, dia menghubungi pengawal yang ada di luar untuk memanggilkan seorang dokter.


Setelah itu Gara menelepon pengelola Club malam yang telah menawarkan wanita itu kepadanya. Dia ingin mendapatkan penjelasan, siapa sebenarnya wanita tersebut.


Jika memang perkiraannya benar, bahwa wanitanya itu adalah perempuan baik-baik, Gara akan bertanggung jawab dan akan menikahinya.

__ADS_1


Namun panggilannya tidak tersambung, mungkin karena signal sebab villanya ini terletak di area perbukitan yang jauh dari pemukiman penduduk. Tapi, nanti dia akan mencobanya lagi, barangkali tidak tersambung karena pengelola Club, belum mengaktifkan ponselnya.


Gara kembali mendekati wanitanya, dan kondisinya masih sama, lalu Gara mengelap kembali air mata yang meleleh dan mengganti air kompresan.


Sambil menunggu dokter datang, Gara mencoba menelepon Mahen. Dia ingin bertemu sahabatnya itu, besok sore, untuk meminta pendapatnya.


Panggilannya ke Mahen ternyata tersambung, lalu Gara pun berkata, "Hen, besok sore kamu punya waktu? Aku ingin membicarakan sesuatu hal yang penting, aku butuh saranmu. Tolong ya Hen! please, aku tidak bisa seperti ini terus. Aku kena batunya Hen, aku telah menyakiti seseorang," ucap Gara hingga membuat Mahen Heran.


Dia belum pernah melihat Gara seperti ini, bahkan sampai memohon minta bertemu hanya sekedar meminta saran.


Menurut Mahen pasti Gara tengah dalam masalah dan melakukan kesalahan fatal hingga dia sampai sebegitunya merasa menyesal.


Mahen mengiyakan permintaan Gara lalu bertanya, "Di tempat biasa 'kan Gar?"


"Nggak Hen, aku nggak mau kesana. Aku harus menghindari tempat itu, agar bisa perlahan menghilangkan kecanduanku terhadap alkohol dan wanita. Aku harus bisa Hen, demi menebus kesalahanku. Temui saja aku di restoran yang menuju ke arah villaku, karena aku belum bisa meninggalkan wanitaku terlalu lama."


Mahen tertawa terbahak-bahak melihat perubahan sikap sahabatnya itu, lalu dia berkata, "Ooh, ceritanya playboy kita sudah insaf nih. Aku jadi penasaran, seperti apa wanitamu itu, yang telah berhasil membuatmu berubah 180° dalam satu malam," ucap Mahen.


"Nanti! suatu saat aku pasti akan mengenalkannya kepada mu. Saat ini dia sedang sakit dan aku juga belum tahu, apa dia bisa dan mau memaafkan perbuatanku atau tidak," ucap Gara.


Kemudian dia berkata lagi, "Aku tutup dulu ya Hen, itu dokter sudah datang, ingin memeriksa kondisi wanitaku."


"Ya sudah, satu pesan ku, ingat Gar! jangan terlalu kasar bermain hingga sampai membuat wanitamu sakit, padahal baru satu malam," ucap Mahen yang niat hatinya, ingin menghibur sahabatnya agar jangan stres.


"Iyalah, kalau soal lembut dan mesra aku memang harus banyak belajar darimu. Tapi soal pengalaman tentang sifat dan banyaknya wanita, kau Hen, yang harus banyak belajar dariku," balas Gara sambil tertawa.


Kedua sahabat itupun mengakhiri percakapannya, mereka sama-sama tidak tahu, jika wanita yang keduanya perbincangkan adalah pelabuhan terakhir, hati masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2