BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 48. PERHATIAN KECIL YANG MEMBAHAGIAKAN


__ADS_3

"Bicaralah baik-baik kalian, hargai apapun keputusan Devani dan aku akan melakukan hal yang sama. Tolong jangan memaksa, apalagi melakukan kekerasan," ucap Mahen kepada Bastian.


Kemudian dia melanjutkan ucapannya, "Aku tunggu kamu Van di mobil, apapun keputusanmu aku ikhlas, jadi jangan merasa terpaksa maupun tertekan," ucap Mahen, kemudian dia berjalan ke mobilnya dan menunggu di sana.


"Ayolah Sayang, maafkan aku. Kesalahanku 'kan tidak terlalu fatal, masa kamu tidak bisa memaafkan aku, ingatlah kebersamaan kita selama ini, anak-anak di cafe juga berharap 'kan kita jadi orang tua asuh mereka," mohon Bastian.


"Bukan masalah maaf-memaafkan, tapi ucapan dan janji. Aku sudah memaafkanmu Bas, tapi hubungan kita sudah selesai, kini aku akan memenuhi janjiku terhadapnya dan keluarga," ucap Devani.


"Jangan kau korbankan hidupmu Van, hanya karena janji, toh dia memberimu kebebasan untuk menentukan pilihan, kenapa malah kamu tidak manfaatkan kesempatan itu," ucap Bastian yang terus berusaha meyakinkan Devani.


"Aku dan dia sudah memberimu kesempatan, aku menunggumu tapi kemana saja kamu selama ini? Surat menyurat sudah dia urus, mahar pernikahan sudah dia beli, pakaian pengantin sudah dia pesan, keluarga terdekat dan tetangga sudah diundang, makanan dan minuman sudah dipesan, kemana hati nurani ku Bas? Jika tega menggagalkannya.


"Aku takkan sanggup mempermalukannya dan mempermalukan keluarga kami. Ini keputusanku sendiri, bukan paksaan siapapun, jadi kumohon Bas, ikhlaskan aku, semoga hidup kita bahagia di jalan yang kita pilih masing-masing," ucap Devani sambil menahan tangisnya.


"Baiklah Van, jika itu keputusanmu, tapi aku tidak akan pernah melupakanmu. Jika dia menyia-nyiakan hidupmu, aku akan ambil kamu kembali ke sisiku, ingat itu Van! Aku mencintaimu sampai kapanpun."


Setelah mengatakan semuanya, Bastian pun pergi meninggalkan tempat itu.


Dengan langkah gontai, Bastian membawa pergi hatinya yang patah, cintanya kini telah kandas dan hanya tinggal penyesalan.


Bastian meneteskan air mata, dia tidak pernah menyangka, kesalahan yang menurutnya kecil, ternyata dampaknya sangat besar bagi kehidupan cintanya.


Melihat Bastian telah pergi, Mahen pun segera menghampiri Devani, lalu dia menghapus air mata di pipi gadis itu dengan saputangannya.


Mahen belum berani menanyakan apa keputusan Devani, tapi dia bisa menduga saat melihat kepergian Bastian dengan perasaan sedih.


Devani sedih, tapi dia sudah memutuskan, bahagia atau tidak pernikahannya nanti adalah takdir hidup yang harus dia jalani dan perjuangkan.

__ADS_1


Setelah membersihkan wajah Devani, Mahen menggandeng lengan gadisnya sambil berkata, "Ayo kita pulang!"


"Pergilah ke kantor, aku tidak apa-apa, sebentar lagi aku akan pulang," jawab Devani.


"Biar aku temani kamu di sini. sebentar ya, aku akan kabari sekretarisku dulu, untuk membatalkan jadwalku hari ini," ucap Mahen sembari mengeluarkan ponselnya dari kantong.


Mahen menelepon Lusy sekretarinya, untuk membatalkan semua janji hari ini dengan alasan ada hal penting yang harus dia lakukan.


Setelah itu, dia mengajak Devani ke tempat yang teduh dan yang ada tempat duduknya. Mahen ingin menemani sampai dia bisa tenang dan menyampaikan apa keputusannya.


Merekapun duduk di bawah sebuah pohon mahoni yang sangat besar dan rindang, dimana di bawahnya ada sebuah ayunan panjang yang terbuat dari besi.


Lalu Mahen memanggil pedagang bubur yang mangkal tidak jauh dari tempat mereka dan memesan semangkuk bubur ayam.


"Makanlah! Bukankah kamu belum sarapan?" ucap Mahen sambil mengulurkan satu sendok bubur ke mulut Devani.


Devani pun mengangakan mulutnya, dia menelan bubur tersebut perlahan, lalu berkata, "Terimakasih Hen."


"Senyum dong, ayo makan lagi, kamu pasti lapar 'kan," ucap Mahen sambil menyuapkan bubur itu lagi ke mulut Devani.


Devani tersenyum simpul, lalu dia menerima suapan bubur yang kedua dari tangan Mahen dan berkata, "Kamu sudah sarapan? Maaf, tadi aku tidak menemanimu, tapi aku sudah sajikan di atas meja," ucap Devani.


"Ya, terimakasih. Aku sudah memakan nasi goreng yang kamu sajikan. Hari ini rasanya lebih nikmat dari biasanya, mungkin kamu menggorengnya dengan ditambah bumbu cinta," goda Mahen.


Pujian dari Mahen berhasil membuat wajah Devani memerah karena malu. Kemudian dia berkata, "Kamu bisa saja membuat orang senang, bumbunya toh setiap hari sama."


"Betul bumbunya sama, tapi aku harap ada cinta di setiap masakan yang kamu sajikan, jadi rasanya setiap hari akan semakin nikmat," ucap Mahen lagi, sambil menyuapkan bubur ke mulut Devani.

__ADS_1


Tak terasa bubur itupun sudah habis, lalu Mahen memberi Devani segelas air minum sambil berkata, "Masih nggak percaya? Buktinya sekarang, aku sengaja menyuapimu dengan cinta, hingga rasa bubur ini semakin nikmat dan lihatlah bersih tak bersisa," ucap Mahen sambil membersihkan sisa bubur yang menempel di sudut bibir Devani dengan ibu jarinya.


Ada getar aneh dan rasa bahagia dalam hati Devani saat Mahen memperlakukannya seperti itu. Perhatian kecil Mahen berhasil membuat perasaan sedihnya berkurang.


Abang penjual bubur pun senyum-senyum sendiri melihat kedua sejoli itu. Dia salut, Pak Direktur mengorbankan waktu berharganya, hanya demi menyuapi sang kekasih.


Setelah selesai, Mahen mengembalikan mangkok dan gelas serta membayar bubur sambil berkata, "Terimakasih ya Mas, bubur buatan Mas sangat lezat. Calon istri saya sampai bersih menghabiskannya," ucap Mahen.


"Kelezatan itu berkat keikhlasan Bapak dalam memberikan perhatian untuk si Embak. Saya saja kalau pas lagi sakit dan tidak berselera makan, jika disuapi istri, eh...sepiring penuh bisa habis," ucap penjual bubur sambil tertawa.


Devani menahan senyumnya, tidak dia pungkiri, apa yang dilakukan Mahen dan apa yang dikatakan Mas penjual bubur semuanya benar. Devani yang biasanya makan bubur tidak pernah habis, eh...hari ini bisa makan sampai kandas.


Setelah mengucapkan terimakasih, Mahen dan Devani pun meninggalkan tempat itu, untuk pulang ke rumah.


Mahen putuskan hari ini tidak jadi ke kantor, tapi dia ingin menemani Devani ke dokter serta mengambil perhiasan yang mereka pesan.


Namun sebelumnya Mahen akan menelepon pihak toko perhiasan agar tidak mengantarnya ke kantor. Sepulang dari sana, rencananya Mahen akan mengajak Devani ke butik langganannya untuk fitting baju pengantin.


Kedua mama yang mendengar suara mobil Mahen kembali ke rumah merasa terkejut, tapi setelah mereka melihat Mahen dan Devani turun beriringan dari dalam mobil pun menjadi senang.


Lalu sang mama bertanya, "Nggak jadi ngantor Nak?"


"Nggak Ma, Mahen sudah batalkan semua janji karena mau menemani Devani untuk check up tangannya ke dokter, sekalian mau singgah ke toko perhiasan dan fitting baju ke butik," ucap Mahen.


"Kenapa tangan mu Nak? Apa sakit lagi?" tanya mama Mahen khawatir sambil memeriksa lengan Devani.


"Nggak apa-apa kok Ma, hanya ngilu, Mahen saja yang terlalu khawatir hingga mengajakku untuk check up ke Dokter," jawab Devani.

__ADS_1


"Baguslah Nak, itu tandanya dia sayang dengan kamu dan tidak ingin terjadi hal yang buruk dengan lenganmu," timpal Mama Intan.


Keduanya tersenyum malu, lalu pamit ke kamar untuk berganti pakaian serta bersiap pergi ke dokter.


__ADS_2