BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 17. GURU DI RUMAH


__ADS_3

"Pusing sekali kepalaku, biasanya aku minum tidak pernah mabuk seperti ini. Bahkan minuman yang kuhabiskan hari ini lebih sedikit dari biasanya, lantas siapa yang mengantarkan aku pulang?" monolog Mahen.


"Itu tadi...Devani! Kenapa dia di sini dan keluar sambil menangis?"


Mahen mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia tetap tidak ingat. Lalu Mahen memandangi dirinya yang sudah tidak mengenakan jas dan kemeja. Sepatu dan kaus kakinya juga berserakan di lantai.


Sejenak dia mengernyitkan alis, lalu berkata dalam batinnya, 'Ah...aku tidak ingat! Sudahlah...nanti aku akan tanya dia, kenapa keluar dari sini sambil menangis.'


Kemudian Mahen mengambil handuk serta baju mandinya, dengan masih terhuyung-huyung Mahen pun masuk ke kamar mandi, membasahi tubuhnya di bawah pancuran air dingin agar tubuhnya segar kembali.


Setelah selesai, Mahen mengenakan pakaian tidurnya, lalu turun untuk mengambil minum di dapur.


Suasana rumah sangat sepi, Mahen tidak melihat seorangpun ada di sana, tapi ketika dia hendak berbalik, seseorang telah berdiri di hadapannya.


"Oh...kebetulan kamu di sini, ada yang mau aku tanyakan," ucap Mahen.


Devani hanya diam, dia juga ingin menyampaikan pesan dari guru Annisa. Devani berharap, apa yang akan di tanyakan oleh Mahen tidak ada hubungannya dengan kejadian tadi. Jika sampai hal itu yang ditanyakan oleh Mahen pasti akan membuatnya malu dan mungkin saja membuat Mahen marah.


"Aku juga ingin menyampaikan sesuatu tapi silahkan kamu duluan!" ucap Devani.


"Kamu duluan saja, memang apa yang mau kamu katakan?" tanya Mahen.


"Guru Annisa tadi berpesan, agar orangtua murid besok jam 10 pagi hadir disekolah untuk rapat bersama dewan guru, tapi maaf...aku tidak bisa mewakilimu besok, karena besok sidang pertanggungjawaban skripsi," ucap Devani.


"Besok aku yang akan kesana sepulang meninjau proyek. Terimakasih infonya," ucap Mahen.


Devani hendak pergi dari sana, tapi Mahen menahannya dengan menarik lengan Devani dan bertanya, "Kenapa saat kamu berlari keluar dari kamarku, aku lihat samar-samar kamu menangis? Apa yang terjadi Van? Apa aku berlaku kasar sama kamu?" tanya Mahen.


"Tidak! tidak ada yang terjadi. Aku tadi hanya membantu Herman membawamu ke kamar. Aku tidak menangis, mungkin penglihatan kamu saja yang kabur karena pengaruh alkohol."


Mahen tenang mendengar penjelasan Devani, mungkin memang dirinya yang tadi salah melihat.

__ADS_1


"Oh ya, satu lagi, tapi sebelumnya aku minta maaf jika menurutmu aku ikut campur. Tolong! sayangi dirimu. Bermabuk-mabukan tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi kalau tadi Annisa sampai melihatmu, apa coba yang akan kamu jelaskan kepadanya."


"Dan dengan tidak sadar, kamu bisa saja menyakiti dan menghancurkan hidup orang lain," ucap Devani yang memberanikan diri untuk menasehati Mahen.


Kemudian Devani meninggalkan Mahen yang masih terpaku di tempatnya, kembali ke kamar untuk beristirahat.


Mahen bingung, dia berusaha menelaah arti perkataan Devani yang terakhir tadi.


Lalu muncul kembali pertanyaan di benaknya, apa memang tadi terjadi sesuatu hal yang hampir menyakiti Devani saat dirinya tidak sadar karena pengaruh alkohol.


Mahen memukul kepalanya sendiri, kenapa dia sampai tidak mengingat apapun, lalu kembali ke kamarnya sambil membawa segelas air dingin.


Sesampainya di kamar, seperti biasa, Mahen tidak bisa tidur. Mahen menatap foto sang istri dan putri kecilnya sambil berkata, "Kenapa Yang, kamu pergi begitu cepat? Aku dan putri kita sangat membutuhkanmu. Bagaimana hidup kami kedepan tanpa kamu Yang," ucap Mahen lirih.


Ketika Mahen mencoba memejamkan mata, ponselnya berdering, ada telepon masuk dari Devani yang memberitahu jika Herman di bawah menunggunya untuk memberikan berkas.


Mahen bergegas turun menemui Herman dan menerima berkas tersebut. Setelah itu dia mengulurkan beberapa lembar uang kertas ratusan ribu kepada Herman sebagai ucapan terimakasih karena telah bersedia kerja lembur dan Mahen mengizinkan Herman besok untuk cuti satu hari biar bisa beristirahat.


Pagi pun tiba, Mahen sudah bersiap hendak pergi bertemu klien, tapi dia menyempatkan diri untuk sarapan bareng putrinya.


Annisa, Devani dan mama Intan sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan bersama.


Saat melihat Mahen menuruni anak tangga, mama Intan memperhatikan menantunya itu. Beliau sedih melihat kondisi Mahen sekarang.


Tubuh Mahen terlihat semakin kurus, rambut acak-acakan, brewok tumbuh tak beraturan diwajahnya hingga membuat penampilannya terlihat kusut, tidak terawat seperti dulu saat Devina masih ada.


Mama Intan memang jarang bertemu Mahen, karena saat Mahen pulang mama sudah tidur, tapi informasi tentang Mahen di luaran,


beliau mengetahui semuanya.


Karena rasa tanggungjawabnya sebagai orangtua, mama tidak ingin melihat hidup anak menantunya ini hancur, makanya mama Intan bersama orangtua Mahen yang masih tinggal di Turki menyewa seorang detektif untuk mengawasi tindak tanduk Mahen diluar, selepas kematian Devina.

__ADS_1


Sebagai orang tua mereka sangat prihatin dengan perubahan Mahen, makanya dalam waktu dekat orangtua serta adik Mahen akan datang ke Indonesia, mereka ingin memperbaiki keadaan dan mencari solusi untuk kebaikan Mahen, Annisa, dan perusahaan kedepannya.


"Selamat pagi Ma," sapa Mahen.


"Pagi...,ayo sarapan Nak. Kamu juga Sayang...makan yang banyak ya," ucap mama kepada Mahen dan Annisa.


"Iya Eyang. Sini Pa piringnya biar Nisa ambilkan," ucap Nisa.


Mahen pun menyerahkan piringnya kepada Annisa, dia tidak ingin mematahkan keinginan putrinya itu, yang ingin belajar melayani orangtua.


"Cukup Nak!" ucap Mahen yang melihat porsi nasi goreng di piringnya cukup banyak.


"Pakai Ayam atau telur Pa?" tanya Nisa.


"Telur saja. Terimakasih ya, anak Papa memang paling pintar," puji Mahen.


"Iya dong, siapa dulu gurunya?"


"Memangnya Bu guru kamu di sekolah mengajarkan hal seperti ini?" tanya Mahen.


"Bukan Bu guru di sekolah Pa, tapi Bu guru di rumah."


"Lho... Papa kok tidak tahu jika ada guru les datang ke rumah? Sejak kapan Nak?"


Mama Intan juga heran, setahu beliau tidak ada guru yang datang ke rumah, lalu mama memandang Devani tapi Devani malah mengedikkan bahunya.


Annisa tersenyum, lalu tiba-tiba dia bangkit dari duduknya dan memeluk Devina sambil berkata, "Ayo perkenalkan Pa, ini guru Annisa di rumah," ucap Annisa sambil tersenyum hingga terlihat gigi gingsulnya yang membuat dirinya terlihat manis.


Mahen tersenyum sekilas, ternyata wanita yang selama ini dia anggap menularkan pengaruh buruk di lingkungan keluarga bisa menjadi guru terbaik bagi putrinya.


Namun Mahen masih saja gengsi untuk mengakui segala kebaikan yang telah Devani lakukan.

__ADS_1


Mahen hanya menanggapi perkataan putrinya dengan mengatakan, "Ayo kembali ke tempat duduk dan lanjutkan makanmu! Jangan ganggu Bunda, bukankah Bundamu harus cepat berangkat ke kampus!" ucap Mahen sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya tanpa sedikitpun memandang ke arah Devani.


__ADS_2