BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 92. KECURIGAAN YANG TERBUKTI


__ADS_3

"Memangnya kamu mencurigai seseorang di sini?" tanya Mahen.


"Aku belum bisa pastikan Hen, tapi secara tidak sengaja, samar-samar aku mendengar percakapan seseorang di telepon. Itu wanita yang berada di sebelah ruangan ini patut kita curigai."


"Apa Hans! Kamu sembarangan, dia itu sekretaris ku, mana mungkin dia berani melakukan hal buruk terhadap keluargaku karena taruhannya adalah pekerjaannya," ucap Mahen tidak percaya.


"Ya, aku bilang semua patut kita curigai, sebab saat aku hendak ke sini, aku sempat mendengar dia sedang melakukan percakapan lewat telepon dan terdengar dia mengancam seseorang," ucap Hansen.


Kemudian, Hansen berkata lagi, "Lagipula tadi aku sempat mengintip dari balik pintu ruangannya yang terbuka sedikit. Glagat sekretaris mu itu sangat mencurigakan, dia menerima telepon sambil celingukan dan memelankan nada bicara sepertinya takut jika seseorang mendengar percakapan mereka," ucap Hansen lagi.


"Serius kamu Hans?"


"Kamu harus waspada, barangkali ada motif lain dari penculikan Devani, bukan tentang uang."


Mahen berpikir sejenak, lalu dia teringat perubahan sikap Lusy belakangan ini yang terlihat sangat genit, dan selalu memancing perhatiannya.


"Kenapa kamu diam Hen? Apa ada yang membuatmu curiga?" tanya Hansen.


"Sebentar Hans, aku akan menelepon seseorang."


Mahen mencari nomor kontak Gara, lalu dia melakukan panggilan. Gara yang sedang rapat bersama sang Papa merijek panggilan dari Mahen.


"Aduh Gar! Kenapa kamu rijek? Ayo dong angkat!" ucap Mahen.


"Ada apa memangnya Hen? Kenapa kamu malah menelepon temanmu yang pemabuk dan pemain perempuan itu? Apa ada hubungannya dengan dia?" tanya Hansen penasaran.


"Tadi aku sempat bertanya ke Lusy, darimana dia tahu jika aku sedang mencari Devani, dia gugup dan mengatakan jika Gara yang memberitahu dia. Nah aku ingin bertanya kepada Gara, apa benar dia telah menceritakan masalah hilangnya Devani kepada Lusy. Padahal aku cuma menceritakan hal ini kepada Gara, Bastian dan AKBP Wirya. Karena aku tidak mau membahayakan Devani jika motif penculikan ini adalah untuk meminta tebusan."


"Oh, begitu. Coba kamu telepon lagi, mungkin tadi, dia tidak mendengar saat ponselnya berbunyi," pinta Hans.


Mahen pun melakukan panggilan lagi dan kali ini Gara mohon izin kepada sang Papa untuk menerima panggilan dari temannya yang mungkin saja penting karena berulang-ulang.


Gara pun keluar ruangan untuk mengangkat panggilan dari Mahen.

__ADS_1


"Hallo Hen, ada apa? Aku sedang rapat bersama papa dan staf perusahaan," ucap Gara.


"Oh, maaf Gar. Aku telah mengganggu pekerjaan mu, ya sudah, nanti saja aku telepon lagi," ucap Mahen.


"Nggak apa-apa Hen, katakanlah! Aku permisi keluar sebentar untuk mengangkat panggilan darimu."


"Begini Gar, apa kamu mengatakan semua yang aku ceritakan kepada orang lain?"


"Maksudmu apa Hen? Cerita yang mana?" tanya Gara heran.


"Cerita tentang hilangnya Devani dan tentang semua masalah pribadiku?"


"Apa kamu meragukan aku Hen? Aku memang bejat, tapi yakinlah aku bisa menjaga rahasia temanku. Apalagi ini rahasiamu," ucap Gara.


"Walaupun kepada Lusy? bukankah dia juga sahabatmu?"


"Ya, aku berani bersumpah, tidak akan pernah bahagia, jika aku membuka rahasia sahabatku sendiri kepada orang lain termasuk kepada Lusy," jawab Gara.


"Terimakasih jika begitu Gar, Aku tahu, kau memang sahabat sejati ku walaupun kita belum terlalu lama saling mengenal, tapi rasanya kita sudah seperti sahabat sejak kecil," ucap Mahen.


"Nggak Gar, hanya memastikan saja, sudah sana, kamu balik rapat! Nanti, papa kamu marah dan perusahaan jadi di alihkan ke orang lain," ucap Mahen sambil tertawa menggoda sahabatnya.


"Biar saja diberikan kepada orang lain, asalkan hasil perputarannya untuk ku," jawab Gara, dengan tertawa.


"Itu kan memang mau kamu! Nggak kerja, tapi uang ngalir terus," timpal Mahen lagi.


"Hahaha, tahu aja kamu Hen! Aku tutup dulu ya, itu papaku sudah mengintip dari balik pintu," ucap Gara.


"Oke Gar, aku juga mau kembali bekerja."


Setelah Mahen menutup teleponnya, Hansen langsung berkata, "Bagaimana Hen, benar 'kan kecurigaan ku? Makanya kita harus selidiki gerak-gerik Lusy, bila perlu kita pancing dia."


"Iya Hans, kamu memang jeli. Aku salut dan mengaku kalah, tapi kita harus berhati-hati, jangan sampai Lusy tahu jika kita telah mencurigainya, aku takut keselamatan Devani terancam," ucap Mahen.

__ADS_1


Sementara, Devani di rumah sakit masih saja duduk termenung di atas tempat tidur pasien yang menghadap jendela. Dia tidak bereaksi apapun saat perawat mengajaknya ngobrol. Pandangan matanya kosong dan sesekali masih terlihat air mata menetes di pipinya.


Lyra dan Tasya adalah nama perawat yang ditugaskan oleh Gara untuk menjaga dan menghibur Devani.


Keduanya sangat prihatin melihat kondisi Devani, lalu Lyra mengelap air matanya dengan tissue sambil berkata, "Mbak, jangan sedih terus dong, semua yang terjadi sudah takdir dari Allah, Mbak harus sabar dan ikhlas, karena perjalanan hidup ke depan masih panjang Mbak."


"Iya Mbak, Mbak beruntung punya kekasih seperti Mas Gara, yang perhatian dan sayang sama Mbak, hingga dia berat untuk pergi walau sebentar. Ini saja mas Gara bolak balik telepon menanyakan tentang Mbak."


Mendengar perawat mengatakan jika Gara adalah kekasihnya yang baik, Devani menatap tajam kepada kedua perawat tersebut. Pandangannya sangat menakutkan, ada amarah dan kekecewaan di sana.


Perawat yang merasa ketakutan, segera meninggalkan Devani, menjauh dari tempat duduknya.


"Tiba-tiba Devani mengamuk lagi, sambil menangis dan berkata, "Lepaskan aku! Aku kotor! Aku tidak pantas lagi untuk mendampingi mu Kak, hiks...hiks...hiks," tangis Devani.


Perawat pun berusaha menenangkan, tapi kewalahan. Tenaga Devani sangat kuat, dia memberontak, berusaha lepas dari dekapan kedua perawat tersebut.


Akhirnya seorang perawat laki-laki datang membantu rekannya dan dia meminta Lyra untuk memberikan suntikan penenang kepada Vina, nama yang di berikan oleh Gara.


Setelah di suntik, perlahan tubuh Devani melemah dan terkulai lemas hingga kedua perawat itu segera membaringkannya.


Gara yang baru saja selesai meeting, segera menelepon perawat, dia ingin tahu tentang Devani.


Perawat menceritakan semua yang terjadi, lalu Garan pun buru-buru pamit kepada sang Papa untuk pulang lebih awal.


Papa Gara mengizinkan, tapi dia memerintahkan orang kepercayaannya untuk mengikuti Gara. Sang Papa penasaran, sebenarnya apa yang telah membuat Gara begitu tidak tenang sejak tadi.


Gara melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, lalu setelah sampai diapun berlari di lorong rumah sakit menuju kamar perawatan Devani


Nafas Gara tersengal-sengal, saat tiba disana. Dia melihat Devani terbaring, dengan mata menatap kosong ke langit-langit kamar.


Gara mengelap air mata yang menetes di kedua sudut mata Devani, kemudian Gara berkata, "Tolong, maafkan aku! Aku sangat bersalah terhadapmu, sampai kapan? kamu akan seperti ini terus," monolog Gara.


Pengawal kepercayaan Papa Gara, mengintip dari balik pintu, baru kali ini dia melihat Gara menangisi seorang wanita.

__ADS_1


Setelah mendapatkan informasi, pengawal itupun pergi meninggalkan rumah sakit untuk segera melaporkan semua info yang dia dapatkan hari ini kepada Papa Gara.


__ADS_2