
Mahen dan Hans sudah tiba lebih dulu di villa keluarga Bastian. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Mahen mematikan mesin mobilnya sebelum memasuki pekarangan villa.
Kemudian Mahen dan Hans berjalan kaki menghampiri penjaga yang sedang membersihkan rumput di halaman villa.
"Permisi Mang," sapa Mahen.
"Iya, ada apa ya Den?"
Begini Mang, kami mencari Bastian, apa Bastiannya ada di dalam Mang?" tanya Mahen.
Penjaga diam, dia ragu-ragu untuk menjawab, karena dia tidak mengenal Mahen dan Hans, lagipula Bastian juga sudah berpesan, jangan sampai ada yang tahu jika dia dan Devani datang dan akan menginap di sana.
"Maaf Den, Den Bas tidak ada disini. Sudah lama keluarga Tuan tidak kesini," ucap Mamang berbohong.
"Oh, gitu ya Mang," ucap Mahen kecewa.
Tapi Hansen menyenggol lengan Mahen dan Mahen pun berpura-pura tidak menghiraukan senggolan Hans. Lalu Mahen berkata lagi kepada penjaga, "Baiklah Mang, kalau begitu kami permisi, jika Bastian kesini, titip salam saja ya Mang, temannya datang mencari," ucap Mahen.
"Baik Den, Nanti kalau Den Bas datang, akan saya sampaikan. Maaf, saya permisi ya Den, mau melanjutkan pekerjaan," ucap Mamang yang memang ingin menghindar karena takut kebohongannya di ketahui Mahen.
Mahen menarik lengan Hans, mengajaknya pergi menjauh dari tempat itu. Awalnya Hans menolak, tapi karena mendapatkan kedipan mata dari Mahen, akhirnya dia tahu, jika Mahen hanya ingin berpura-pura pergi.
Mereka kembali ke mobil lalu Mahen berkata, "Kita harus menyusup ke sana Hans, aku tahu Mamang tadi berbohong dan aku melihat sekilas mobil Jeep Bastian ada di samping villa itu, walau tidak begitu kentara karena tertutup rimbunnya pepohonan," ucap Mahen
"Iya, aku juga melihatnya Hen, makanya aku menyenggol lenganmu tadi," ucap Hans.
"Begini saja, aku akan menyusup ke dalam, kamu tunggu Papanya Bastian sampai, baru menyusulku ke dalam," ucap Bastian.
"Baiklah Hen, kamu harus berhati-hati ya!" ucap Hans.
"Ya, aku pergi dulu," jawab Mahen sambil naik ke tembok pagar pembatas pekarangan Villa yang kebetulan tidak terlalu tinggi.
Mahen melihat ke sekeliling dan ternyata Villa ini tidak banyak penjaganya jadi, dia bisa dengan mudah menyusup ke dalam.
__ADS_1
Dia hanya melihat dua pelayan wanita sedang sibuk memasak di dapur, lalu Mahen masuk ke ruang tengah sembunyi di balik sofa dan guci hiasan yang ada di sana.
Saat Mahen hendak berpindah ke tempat lain, dia melihat Bastian terburu-buru keluar dari sebuah kamar sambil membawa baskom berisi air dan memegang sebuah handuk kecil.
Perasaan Mahen tidak enak, lalu setelah Bastian tidak terlihat, Mahen langsung menyelinap masuk ke dalam kamar tersebut.
Mahen terkejut melihat Devani dengan wajah pucat terbaring di tempat tidur dengan selimut menutupi tubuhnya.
Kemudian, Mahen memegang kening Devani yang terasa sedikit panas dan akhirnya dia tahu bahwa Bastian baru selesai mengompresnya.
"Kamu sakit Van," monolog Mahen.
"Aku akan membawamu pulang Van dan kita akan ke rumah sakit," ucap Mahen sambil mengangkat tubuh Devani kedalam pelukannya.
Devani terbangun, dia mengerjapkan mata, lalu matanya membulat saat melihat dirinya sudah ada dalam gendongan Mahen.
"Hen, benarkah kamu datang? Kamu mencariku Hen?" tanya Devani yang masih lemas.
Mahen mengangguk, mendekap erat tubuh Devani sambil berkata, "Tenanglah! Kamu aman sekarang. Kamu demam Van? Aku akan membawamu keluar dari sini dan kita akan ke rumah sakit," ucap Mahen.
Belum sempat Mahen menjawab, rupanya Bastian datang dari arah dapur dan melihat Mahen yang keluar dari kamar sambil menggendong Devani.
"Lepaskan Devani Hen! Kamu tidak boleh membawanya pergi, dia milikku dan kami akan menikah!" teriak Bastian sambil berusaha merebut Devani dari pelukan Mahen.
Tarik menarik pun terjadi, hingga membuat Mahen hampir saja terjatuh karena menahan berat badan Devani.
Kemudian Devani berteriak, "Hentikan Bas! Aku bukan milikmu, aku wanita bebas dan berhak menentukan pilihan! Jadi tolong, biarkan aku pergi dengan Mahen," ucap Devani yang masih dalam gendongan Mahen.
"Kamu dengar itu Bas! Jadi hargailah keputusan Devani, biarkan kami pergi!" pinta Mahen.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan Devani pergi! Sadarlah Van, kamu tidak mencintainya. Rumah tangga kalian pasti tidak akan bahagia. Menikahlah denganku Van, aku mohon. Aku janji tidak akan mengecewakanmu dan aku akan membahagiakanmu," ucap Bastian sambil menarik Devani kembali dari pelukan Mahen.
Saat Bastian hampir mendapatkan Devani, dari arah depan muncul Papa Calvin dan Hans, beliau pun berkata dengan lantang, "Hentikan Bas! Hentikan kegilaanmu, atau polisi akan datang menangkap dan memenjarakan mu."
__ADS_1
"Tapi Pa! Kami saling mencintai, aku tidak mau Devani menikah dengan Mahen!" ucap Bastian nggak kalah lantang dari sang Papa.
"Kamu tidak berhak menentukan keputusan, dengan siapa gadis itu akan menikah! Itu hidupnya, jadi biarkan dia yang memilih," ucap Papa Calvin lagi yang sudah merendahkan nada bicaranya.
Kemudian Papa Calvin bertanya kepada Devani, "Nak, tentukanlah pilihanmu, kamu jangan takut, itu hak mu."
"Terimakasih Pak," ucap Devani kepada Papa Calvin.
Kemudian Devani menatap Bastian sambil berkata, "Maafkan aku Bas, aku akan pergi dengan Mahen dan besok kami akan menikah."
Mendengar keputusan final dari Devani, tubuh Bastian luruh ke lantai, dia bersimpuh dan meneteskan air mata, menyesali nasib, bahwa dirinya telah kehilangan wanita yang sangat dia cintai.
Papa Calvin pun berkata kepada Mahen, "Pergilah! Bawa calon istrimu, biar saya yang akan menenangkan Bastian, putraku.
Mahen pun membawa Devani pergi dari Villa itu bersama Hans. Hans berlari ke arah mobil Mahen yang sudah dia pindahkan ke halaman villa. Lalu Hans membuka pintu belakang, agar Mahen bisa segera masuk dan mendudukkan Devani di sana.
Setelah sang Kakak duduk dengan nyaman sambil memeluk Devani, Hansen segera melajukan mobil meninggalkan Villa keluarga Bastian.
Hansen pun bertanya kemana akan membawa Devani, apa langsung pulang ke rumah atau pergi ke rumah sakit.
Mahen meminta Hans agar membawa mereka pulang ke rumah saja, nanti biar Dokter yang diminta datang ke rumah untuk memeriksa kondisi Devani lagi.
Hans melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju kediaman keluarga Andara, sedangkan Mahen, sambil tetap memeluk Devani menelepon orangtuanya, memberitahu bahwa mereka sedang dalam perjalanan pulang bersama Devani.
Para orangtua bersyukur karena Devani telah ditemukan, lalu papa Andara menelepon Dokter keluarga agar segera datang ke rumahnya.
Devani selama ini memang memiliki riwayat penyakit lambung kronis, takutnya penyakitnya itu kambuh, karena selama Devani di tahan oleh Bastian, dia tidak makan dan minum apapun.
Menurut Andara, biarlah dokter keluarga mereka yang akan datang memeriksa Devani, karena Dokter tersebut sudah terbiasa dan tahu bagaimana memberikan pengobatan yang cocok untuk Devani saat penyakitnya itu kambuh.
Bersambung.....
*******
__ADS_1
Sambil menunggu author up lagi, mampir juga yuk para sobat ke karya sahabatku dan jangan lupa ya, beri dukungannya ke karya kami. Terimakasih 🙏♥️