BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 38. SETUJU MENIKAH


__ADS_3

Bastian segera bergegas menuju ke tempat di mana Devani dirawat. Ketika Bastian hendak memasuki ruangan tersebu, dia ragu karena melihat Mahen dan putrinya sedang duduk, ngobrol sambil tertawa dengan Devani. Sangat jelas terlihat ketiganya sedang bahagia.


Akhirnya Bastian mengurungkan niatnya, diapun pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa.


Hari demi hari Devani lalui di rumah pengobatan tersebut, dengan bantuan dan dukungan semangat dari kedua keluarga.


Mereka silih berganti datang untuk menjaga serta menghibur Devani yang hanya bisa terbaring dan duduk di tempat tidurnya.


Mahen dengan telaten, sering mengajak Devani jalan-jalan di sekitar lingkungan rumah pengobatan tersebut dengan menggunakan kursi roda. Dia ingin menghilangkan rasa jenuh yang sempat membuat devani kehilangan semangatnya untuk sembuh.


Begitu pula dengan Annisa, gadis kecil itu selalu punya ide untuk menghibur Devani dengan canda tawanya, hingga membuat orang-orang di sekitar merekapun ikut tertawa.


Devani sangat berterima kasih kepada semuanya, terutama keluarga Mahen yang senantiasa membuat dirinya bersemangat.


Kini sudah sebulan lebih Devani mendapatkan perawatan di sana. Hubungan Mahen dan Devani pun kian hari semakin dekat.


Mahen dengan telaten setiap hari datang untuk membantu Devani berlatih berjalan, guna memulihkan fungsi kakinya lagi.


Kini kaki Devani sudah tidak bengkak lagi dan luka-lukanya juga sudah mengering, hanya tinggal memulihkan tulang lengan kirinya saja.


Sesuai dengan arahan dukun sangkal putung, Mahen pun berhasil membantu Devani dalam melatih kakinya hingga bisa normal berjalan.


Sedangkan balutan pada lengan kiri Devani juga sudah dibuka, sekarang hanya tinggal perawatan dengan, menggunakan minyak urut khusus yang diberikan oleh dukun sangkal putung.


Menurut Pak dukun sangkal Putung, dua hari lagi Devani sudah diperbolehkan untuk pulang dan kabar ini sangat menggembirakan bagi keluarga kedua belah pihak.


Mereka berharap Devani memenuhi janjinya akan memberikan keputusan kepada Mahen tentang lamarannya tempo hari setelah pulang ke rumah.


Devani sudah putuskan tidak mau terpuruk terus dengan memikirkan Bastian lagi, karena menurutnya Bastian pasti sudah tidak peduli lagi terhadap dirinya.


Seandainya Bastian masih peduli, dia pasti sudah menghubunginya, sejak lama dan mau mendengarkan penjelasan dari Devani.


Pagi ini Devani kembali berlatih, menggerakkan tangan dan kakinya di depan Pak dukun sangkal putung.


Beliau sangat senang saat melihat perkembangan kesehatan Devani, ternyata lebih cepat dari perkiraannya.


Kemudian beliau berkata, "Bagus Dek, semuanya sudah kembali pulih, jadi hari ini kamu diperbolehkan untuk pulang. Namun pesan saya, harus tetap berhati-hati karena tulang lengan kamu belum sepenuhnya pulih seperti sedia kala," ucap Bapak dukun sangkal Putung.


"Iya Pak, saya akan berhati-hati, terimakasih ya pak, selama ini sudah menolong saya hingga sembuh, semoga pertolongan Bapak berkah dan dibalas kebaikan oleh Tuhan," ucap Devani.

__ADS_1


Mendengar Devani sudah diperbolehkan pulang, Mahen pun segera menghubungi keluarga Andara dan juga orangtuanya.


Mereka sengaja berkumpul di rumah kediaman Andara untuk menyambut kepulangan Devani, sedangkan Hansen diberi tugas untuk menjemput keduanya.


Annisa yang mendengar kabar bahwa bundanya akan pulang, bersorak gembira, lalu dia berlari ke kamarnya, bersiap untuk menyambut kedatangan sang Bunda.


Hans yang sudah sampai di rumah pengobatan segera menemui sang kakak dan juga Devani, lalu diapun memberi ucapan selamat sebelum pergi membantu membawakan tas pakaian milik Devani ke dalam mobil.


Ketika Devani ingin membantu mengangkat tas, Mahen pun melarang karena dia takut, tangan Devani akan bermasalah lagi.


Merekapun pamit kepada Bapak dukun sangkal putung dan kepada para pasien yang selama ini dirawat dekat dengan ruangan Devani.


Setelah itu, Mahen meminta Devani agar segera naik, karena mereka akan segera berangkat.


Devani dan Mahen duduk di bangku belakang, sementara Hans fokus menyetir.


"Hans...pelan-pelan saja bawa mobilnya ya, jangan sampai membuat Devani cidera lagi," ucap Mahen.


"Siap Bos!" jawab Hansen.


Hans pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang sambil menghidupkan lagu-lagu romantis kesukaannya.


"Oh...baik Van, kamu tidak suka ya dengan lagu-lagu romantis?" tanya Hans.


Devani tidak menjawab pertanyaan dari Hans, dia hanya membalas dengan senyuman.


Sebenarnya Devani menyukai lagu-lagu itu, hanya saja mulai sekarang dia harus menghindari dan melupakan semua hal yang bisa mengingatkan dia kepada Bastian.


Sesampainya mereka di kediaman keluarga Andara, para orang tua pun sudah menunggu, mereka memeluk Devani sambil mengucap syukur.


Annisa yang baru saja turun dari lantai atas, begitu melihat Devani, diapun segera berlari, menghambur ke dalam pelukan bundanya.


"Nisa senang loh Bun, Bunda sudah diizinkan pulang, apa kaki dan tangan Bunda sudah sembuh total?" tanya Annisa sambil memeriksanya.


"Sudah sayang, tapi tangan Bunda belum bisa digunakan untuk mengangkat beban yang terlampau berat."


"Oma, Opa... malam ini kita menginap saja di sini ya! Annisa rindu, ingin bobok dengan Bunda. Boleh 'kan Bun?" pinta Annisa.


"Boleh, tapi kamu harus ingat, tidurnya nggak boleh lasak ya, jangan sampai menimpa tangan bunda, karena bunda kamu belum sepenuhnya sembuh," ucap Oma.

__ADS_1


"Baik Oma. Dan bunda jangan khawatir deh, Nisa tidak akan lasak tidurnya," ucap Annisa sambil tersenyum dan menggandeng tangan bundanya.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu di kamar Nak," pinta mama Mahen.


"Nis, ajak Bunda sana ke kamar!" ucap Mama Intan.


"Ayo Bun," ajak Annisa.


Devani pun menuruti permintaan para orangtua, memang saat ini dirinya masih butuh istirahat yang banyak, soalnya saat di rumah perobatan, Devani kurang tidur.


Ketika Devani sudah masuk ke dalam kamarnya, para orangtua pun meminta Mahen untuk duduk dan ngobrol bersama mereka.


Mereka ingin mendengar bagaimana sebenarnya perkembangan hubungan Mahen dengan Devani.


Kemudian, papa dan mama Mahen pun bertanya, "Bagaimana Hen, Apa kalian sudah membicarakannya?" tanya mama yang merasa penasaran dan tidak sabar.


"Belum Ma," jawab Mahen singkat.


"Biarlah Devani istirahat dulu Ma, aku tidak ingin memaksanya. Apapun keputusannya nanti aku akan terima," ucap Mahen.


Saat mereka sedang membicarakan tentang keputusan Devani, tiba-tiba gadis itu muncul di tengah anak tangga, dia ingin turun mengambil air minum di dapur, sekaligus akan meminta tolong Mbok Ijah, untuk membuatkan susu kepada Annisa.


Devani yang mendengar percakapan itu pun menimpali, "Ma, Pa...aku setuju dengan apapun keputusan kalian."


Mereka semua terkejut, lalu memandang ke arah datangnya suara, kedua orangtua dari masing-masing keluarga pun tersenyum mendengar jawaban Devani.


Kemudian mereka meminta Devani untuk duduk sebentar, karena ingin memastikan tentang apa yang baru saja mereka dengar.


"Sini Nak, duduk dengan Mahen. Kami semua ingin memastikan keputusan yang baru saja kamu ucapkan," ucap Papa Andara.


"Iya Pa," ucap Devani.


"Apa benar kamu setuju dan siap menikah dengan Mahen?" tanya Papa.


"Iya Pa."


"Apa kamu tidak akan menyesal?" tanya Papa lagi.


Devani dengan mantap menjawab, "Tidak Pa."

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap mereka semua yang ada di sana termasuk Mahen.


__ADS_2