
Setelah kepergian Mahen dan Devani ke kamar, kedua Mama langsung tos, mereka senang akhirnya anak-anak mereka bisa dekat dan sebentar lagi menikah sesuai dengan harapan mereka.
Senyum merekah di wajah keduanya, lalu mama Mahen bermaksud untuk menemui Annisa agar jangan ikut dulu kemanapun papanya akan pergi, sampai sang Papa dan bundanya berhasil menikah.
Begitu sampai di kamar Annisa, sang Oma langsung mencium cucunya yang baru bangun tidur sambil berkata, "Pagi Sayang..., ayo bangkit, kita mandi dulu ya, setelah itu baru sarapan dan minum susu," ucap sang Oma.
"Bunda kemana Oma?" tanya Annisa, karena biasanya setiap pagi yang datang ke kamarnya selalu sang bunda.
"Oh, Bunda dan Papa sedang bersiap. Papa mau antar Bunda check up ke Dokter. Nisa di rumah saja ya dengan Oma dan Eyang, Nisa mau 'kan jika Papa semakin dekat dan sayang sama Bunda. Jadi, kita harus selalu beri mereka waktu untuk sering pergi berdua sampai bunda jadi mama Nisa. Bagaimana? Apa Nisa setuju?"
"Iya Oma, Nisa nggak apa-apa kok tinggal di rumah. Kan Nisa sudah besar, lagi pula ada Oma dan Eyang di rumah yang temani Nisa."
"Good," ucap Oma sambil mengacungkan kedua tangannya.
Bertepatan Annisa dan Oma selesai bicara, Mahen dan Devani pun masuk, mereka berencana ingin mengajak Annisa.
Mahen mendekati putrinya dan mencium Annisa sambil berkata, "Ayo Sayang kita bersiap, antar Bunda ke rumah sakit," ajak Mahen.
"Nisa di rumah saja, boleh Pa? Ya Bunda? Maaf deh Bun, Nisa nggak bisa ikut antar Bunda. Bau, di rumah sakit, lagipula Dokter 'kan pernah bilang, anak-anak nggak baik ikut kesana, rumah sakit gudangnya penyakit kata Oma," ucap Annisa hingga membuat sang Oma menutup mulutnya.
Dalam batinnya Oma berkata, 'Waduh, Nisa kok keceplosan, ketahuan dong, jika ini ide Oma."
"Oh gitu, jadi Oma yang bilang," ucap Mahen sambil memandang sang Mama dengan tatapan curiga.
Annisa langsung menjawab, "Yang dikatakan oleh Dokter dan Oma, memang benar 'kan Pa?" tanya Annisa.
"Iya sih, benar. Jika sesekali kesana nggak apa-apa, yang penting jangan keseringan," ucap Mahen lagi.
"Nggak ah Pa, Nisa mau jadi anak yang sehat, jadi Nisa di rumah saja deh, boleh Bun?"
__ADS_1
"Terserah Papa, Bunda nurut Papa saja," jawab Devani yang sontak dapat kedipan mata dari Mama Mahen.
Devani nggak paham akan maksud kode dari sang Mama, lalu dia bertanya, "Mata Mama kenapa? Mama sakit? Jika iya, ayo sekalian kita ke Dokter Ma," ucap Devani.
"Eh, mata Mama nggak kenapa-kenapa kok, cuma kelilipan saja tadi. Ya sudah, cepat kalian pergi, sudah siang, nanti antrian panjang. Annisa biar di rumah saja bermain sama Mama dan eyangnya. Bagaimana Nisa, mau ikut atau di rumah saja?" tanya Oma.
"Di rumah saja Oma!" jawab Annisa.
Akhirnya Mahen pun menyerah, dia tahu, ini pasti ulah sang Mama, tapi bagus juga sih, udara rumah sakit memang tak baik bagi anak-anak.
"Baiklah, kamu boleh tinggal, tapi ingat! nggak boleh nakal ya, apalagi nyusahin Oma dan Eyang," ucap Mahen kepada Annisa.
"Oke Pa, hati-hati ya Pa bawa Bunda," ucap Annisa.
"Siap Bu Bos!" jawab sang Papa sembari tangan Mahen memberi hormat kepada putrinya.
Annisa, Devani dan mama pun tertawa melihat sikap Mahen. Lalu Annisa memeluk dan mencium papanya dan melakukan hal yang sama terhadap sang Bunda.
"Papa dan Bunda pergi dulu ya Nak. Ma, kami berangkat dulu ya," pamit Mahen disusul Devani.
"Iya Sayang, hati-hati ya," ucap mama.
Mahen dan Devani pun berangkat ke rumah sakit, dalam perjalanan dia ingin memperjelas keputusan Devani, lalu dia pun bertanya, "Maaf Van, boleh aku bertanya?"
"Heem, tanya apa Hen?"
"Aku ingin dengar langsung untuk mempertegas keputusanmu tentang pernikahan kita. Apakah kamu benar setuju menikah denganku? Dan tidak akan menyesal nantinya Van?" tanya Mahen yang sebelumnya telah menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang agak lengang.
Devani terdiam hingga membuat Mahen ragu dan takut jika Devani membatalkan pernikahan mereka.
__ADS_1
Sekali lagi Mahen mengulang pertanyaannya dengan menggenggam kedua tangan Devani. Mereka saling tatap, lalu Devani berkata, "Kamu meragukan keputusanku Hen?"
"Aku ingin mendengar sekali lagi Van, kamu mengucapkan bahwa bersedia menikah denganku tanpa paksaan dari siapapun dan siap bersama kami mengarungi bahtera rumah tangga kita dalam keadaan suka maupun duka," ucap Mahen.
"Aku bersedia menikah dengan kamu Hen, aku bersedia menjadi Mama dari Annisa dan aku tidak akan pernah menyesali keputusanku walau apapun cobaan yang akan datang menerpa rumah tangga kita," ucap Devani dengan tegas hingga membuat Mahen berterimakasih dan mencium kedua tangan Devani.
"Tapi satu yang aku minta Hen, beri aku cinta, cinta tulus, tanpa bayang-bayang saudari kembarku," ucap Devani.
"Insyaallah, aku akan memenuhi permintaan mu, tapi aku mohon, ingatkan aku! Jika aku lalai dalam hal apapun. Karena kunci kebahagiaan rumahtangga adalah kerjasama yang solid antara suami dan istri," ucap Mahen sambil menggenggam erat tangan Devani.
"Iya, kita akan saling mengingatkan," ucap Devani.
"Terimakasih sekali lagi Van. Maaf,
jika aku salah menilaimu selama ini. Ternyata kamu adalah sebuah mutiara yang tersembunyi, langka, baik, mengagumkan dan berharga, bukan seperti yang aku tuduhkan selama ini," ucap Mahen.
Aku juga minta maaf Hen, selama ini telah membencimu karena aku menganggap, kamu itu diktator, selalu mengatur semua tingkah laku kakakku hingga aku merasa kamu telah menjauhkan dia dariku. Dan aku marah karena kamu selalu berpikir, aku itu seperti virus yang bisa menulari, membawa ketidak baikan bagi orang lain," ucap Devani dengan jujur.
"Kamu tidak salah, semua yang kamu ucapkan memang benar, jadi tolong...maafkan aku, yang telah menjauhkan mu dari Devina," ucap Mahen sambil mengatupkan kedua tangannya.
Dia sangat menyesal karena terlambat mengenal kepribadian Devani.
"Makanya, aku ingin lebih mengenalmu dan memahamimu. Kita akan belajar saling mengenal, saling percaya, belajar pacaran, belajar saling mencintai setelah hari pernikahan kita nanti," ucap Mahen.
"Iya Hen."
Mahen sekarang merasa tenang telah mendapatkan kepastian dari Devani, tinggal kerjasama mereka nanti untuk mewujudkan semuanya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah sakit. Sesampainya di sana, perawat langsung mempersilakan mereka untuk masuk ke ruangan Dokter, karena sebelumnya Mahen telah membuat janji kepada Dokter untuk jadwal check up.
__ADS_1
Dokter pun memeriksa kondisi kaki serta lengan Devani dan beliau mengatakan di bagian kaki sudah bagus, hanya di bagian lengan saja yang masih harus dilakukan perawatan.
Setelah selesai pemeriksaan, Dokter pun meresepkan obat dan berpesan agar Devani jangan dulu mengangkat beban berat, agar lengannya cepat pulih.