BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 72. KEJUTAN ROMANTIS


__ADS_3

Mahen menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mereka, terlihatlah di sana pemandangan indah tubuh sang istri yang putih mulus tanpa sehelai benang pun.


Lalu Mahen menggendong Devani ke kamar mandi. Dia ingin mandi bersama sang istri. "Kakak keluar dulu dong, biar aku bisa mandi dengan cepat. Aku malu lho kak!" ucap Devani.


"Apa yang membuatmu malu, bukankah kita sudah sama-sama melihat milik masing-masing.


Ayo sini aku bantu kamu mandi biar cepat selesai," ucap Mahen.


"Ih... Kakak," ucap Devani yang masih malu, saat Mahen mulai menggosokkan sabun ke tubuhnya.


Setelah itu, Mahen mengguyur tubuh Devani dengan shower perlahan-lahan, hingga busa sabun pun luruh dan tubuh Devani terlihat bersih.


Sebelum melilitkan handuk, Mahen menyempatkan diri, mencium punggung Devani sambil berkata di telinganya, "Tunggu waktu yang tepat, aku akan memakanmu setiap hari."


Devani buru-buru berlari keluar, dia tidak ingin terpancing lagi, bisa gawat nantinya, nggak bakal makan malam malah di makan sebagai hidangan.


Hilda mengetuk pintu saat Devani sedang berpakaian. Dia datang membawakan sebuah gaun yang indah, tapi tidak terlalu ketat, sesuai permintaan Mahen. Karena Mahen tidak ingin lekuk tubuh istrinya di konsumsi umum.


"Selamat malam Mbak," sapa Hilda kepada Devani, saat Devani membukakan pintu.


"Selamat malam, ada apa ya?" tanya Devani.


"Ini Mbak, pakaian untuk Anda, yang di minta oleh Bos Mahen. Mbak bisa melihatnya dulu sesuai dengan selera atau tidak, soalnya permintaan dadakan, jadi kami tidak bisa memberikan pelayanan yang terbaik," ucap Hilda.


"Nggak apa-apa kok Mbak, Kak Mahen sudah mempercayakan semuanya kepada Anda, aku pikir itu pasti yang terbaik," ucap Devani.


"Terimakasih Mbak, ternyata pilihan Bos Mahen selalu tepat, istri yang pengertian. Saya permisi Mbak, jika butuh sesuatu, hubungi saja nomor saya, yang ada pada Bos Mahen," ucap Hilda.


"Oke Mbak, sekali lagi terimakasih," jawab Devani.


Setelah kepergian Hilda, Devani pun memakai gaun tersebut bersamaan dengan keluarnya Mahen dari kamar mandi.


Saat melihat Devani kesusahan untuk menarik resleting baju yang letaknya di belakang, Mahen menghampiri, mencium punggungnya sembari membantu menarikkan resleting tersebut.


"Cantik. Apa kamu suka?" ucap Mahen.

__ADS_1


Devani mengangguk, lalu meneruskan dandannya. Dia hanya merias wajahnya dengan riasan natural saja dan mengenakan hijab pashmina.


Mahen yang sudah selesai berpakaian, mendekat, lalu mengulurkan lengannya agar Devani menggandengnya.


"Ayo ratuku, kita berangkat," ajak Mahen dengan senyum mengembang di bibirnya.


Devani tersenyum, lalu menggandeng lengan Mahen dan menjawab, "Siap Tuan Raja!"


Keduanya tertawa, lalu meninggalkan kamar, menuju ke tempat khusus yang sudah disiapkan oleh Hilda.


Malam ini Mahen mengajak Devani dinner di tempat romantis, suasana begitu tenang dengan hiasan lilin, bunga dan temaramnya lampu.


Mahen menarik kursi dan mempersilakan Devani untuk duduk lalu dia memberi kode dengan tepukan tangan, datanglah dua orang dengan membawa gitar serta menyanyikan lagu-lagu romantis.


Begitu alunan musik mulai terdengar, Mahen mendekati Devani, dia berlutut sambil mengulurkan setangkai bunga mawar import yang sudah di siapkan oleh Hilda di meja mereka, lalu berkata, "Istriku, mau kah kamu mendampingiku dalam suka dan duka, sampai maut memisahkan kita?"


Devani tersenyum malu, lalu dia menerima bunga mawar pemberian Mahen, menciumnya dan menjawab, "Insyaallah, aku mau."


"Terimakasih Sayang," ucap Mahen sambil mengulurkan tangannya, mengajak Devani berdansa, mengikuti alunan musik yang masih mengalun syahdu.


Mereka melihat dentuman kembang api warna-warni meledak di udara, lalu meninggalkan sebuah tulisan, "I love you my wife,"


Devani merasa bahagia dan sangat terharu mendapatkan kejutan seperti itu dari Mahen.


Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba Mahen memasangkan sesuatu di leher Devani. Ternyata benda itu adalah sebuah kalung berlian yang sangat indah dengan liontin huruf MD yang terukir sangat unik.


Mahen telah mempersiapkan kalung itu, sejak Devani memutuskan memilih dirinya dan menolak kembali kepada Bastian.


Devani meneteskan air mata, dia tidak pernah membayangkan akan di beri kejutan manis yang begitu romantis di hari pernikahannya.


Kemudian dia memeluk Mahen, mengucapkan terimakasih sambil menangis di dalam dekapan suaminya itu.


Mahen memeluk erat Devani, mencium puncak kepalanya, lalu menghapus air mata Devani sembari berkata, "Tersenyumlah, kamu jelek jika sedang menangis."


Devani tersenyum, sekali lagi ciuman mendarat di kening Devani. Kemudian Mahen kembali memeluknya, sembari mengucapkan permintaan, "Ajari aku sayang, agar bisa menjadi pecinta sejati seperti yang kamu harapkan."

__ADS_1


Devani mencium tangan Mahen, lalu dia memberikan ciuman romantis di bibir suaminya itu.


Mahen membalas ciuman itu, dia senang ada kemajuan pada diri Devani. Sekarang Devani lebih berani mengekspresikan perasaannya ketimbang saat ciuman pertama mereka tadi sore.


Makan malam romantis inipun berakhir dengan canda tawa serta alunan musik sesuai request keduanya.


Saat jam menunjukkan pukul 24.00 WIB, Mahen mengajak Devani kembali ke kamar.


Mahen menggendong istrinya ala bridal style, hingga membuat Devani malu dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Mahen untuk menghindari tatapan tamu serta pelayan yang kebetulan masih melintas di sekitaran mereka.


Mahen mendudukkan Devani di atas tempat tidur, lalu dia bertanya, "Apa boleh aku meminta hakku malam ini Yang?"


Mendengar permintaan Mahen, Devani diam, dia masih takut membayangkan bagaimana rasa sakitnya nanti, saat dia menyerahkan keperawanannya. Apalagi setelah mendengar cerita Mahen tadi sore, tentang belah duren.


Namun, Devani juga tidak boleh egois, bagaimana pun dia harus melayani Mahen yang telah sah menjadi suaminya.


Melihat Devani terdiam, Mahen menarik kembali perkataannya, "Nggak apa-apa Yang, jika kamu belum siap, aku sabar menunggu sampai kamu juga menginginkannya," ucap Mahen.


"Kamu jangan takut, aku ikhlas menundanya. Sini, biar aku bantu membuka gaunmu, agar kita bisa langsung istirahat," ucap Mahen lagi.


Melihat Mahen ikhlas Devani lega, tapi dia teringat kembali kejadian tadi sore, di mana Mahen menahan rasa sakit kepalanya karena hal itu sempat tertunda.


Lalu, Devani memberanikan diri, dia bangkit dan mendekati Mahen. Devani mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Keduanya saling pandang dan dengan malu Devani berkata, "Aku siap Yang."


Setelah mengatakan hal itu, Devani langsung mendaratkan ciuman di bibir sang suami. Ciuman Devani mulai lihai, hingga membuat mahen, sedikit terkejut.


Mendapatkan jawaban serta ciuman seperti itu dari Devani, semangat Mahen kembali bergelora, dia ******* bibir sang istri, memainkan lidahnya disana hingga Devani kewalahan dan susah bernafas.


Mahen menghentikan ciumannya dan saat ini matanya sudah berkabut. Tapi, dia masih ingin menegaskan, apakah Devani memang benar siap memberikan haknya malam ini atau hanya karena terpaksa.


Mahen ingin, mereka melakukan penyatuan karena memang saling membutuhkan, hingga bisa menumbuhkan perasaan cinta lebih dalam di hati masing-masing.


Bersambung....


Sambil menunggu aku Up lagi, mampir yuk ke karya sahabatku. Terimakasih 🙏♥️

__ADS_1



__ADS_2