
Brengsek kau Mahen! Kau ambil cintaku! Aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia!" teriak Bastian di arena Balapan sambil bersimpuh di tanah dan tak henti air matanya menetes.
Bastian merasakan hati serta dadanya sangat sakit dan sesak, kemudian dia bangkit, naik ke atas motor serta melajukan dengan kecepatan tinggi, memutari arena balapan berulang-ulang hingga hatinya merasa puas dan bebannya sedikit berkurang.
Dua teman Bastian kebetulan baru tiba disana dan mereka segera menghampiri Bastian yang sudah menghentikan laju motornya.
"Bas! yang sabar, ikhlaskan Devani Bas, itu sudah pilihannya. Suatu saat kamu pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik lagi dari dia," ucap Deni sambil menepuk pundak Bastian.
"Tidak Den! Itu tidak mungkin! Aku tidak bisa melupakan Devani sampai kapanpun," ucap Bastian sambil menatap Nanar kepada Deni.
"Dia cinta pertama dan terakhirku, aku pastikan Den, dia akan kembali kepelukanku. Aku tidak peduli walau statusnya janda, suatu saat dia pasti jadi istriku," ucap Bastian.
"Masih banyak perempuan baik dan hebat di luaran sana sobat, jadi move on lah, jangan kamu rusak hati dan mahligai pernikahan yang sudah ditakdirkan oleh sang pencipta. Kamu nanti bakal hancur sendiri, Sobat!" ucap Ken.
"Kamu tidak usah ikut campur Ken! Ini urusanku, mau hancur atau tidak aku tidak peduli, sekarang saja hatiku sudah hancur akibat pria itu," ucap Bastian lagi sambil berlalu menuju ke motornya dan pergi meninggalkan arena balapan.
Ken dan Deni menggelengkan kepala, lalu Ken berkata, "Ternyata cinta itu benar buta ya Den, tidak mempertimbangkan logika, yang bisa menghancurkan sang pecinta itu sendiri."
"Entahlah Ken, makanya aku belum mau jatuh cinta. Takut, nantinya seperti Bastian, sakit karena cinta," ucap Deni sambil tertawa menatap Ken.
"Itu karena cewek belum ada yang mau sama kau! Coba kalau kau sudah merasakan indahnya cinta, taik ayam pun kau bilang coklat," balas Ken.
"Memangnya aku buta Ken, tidak bisa membedakan taik ayam dengan coklat," ucap Deni lagi.
"Lah, 'kan, kau yang bilang tadi, bahwa cinta itu buta Den?" ucap Ken.
"Hehehe, benar juga ya Ken. Ayo kita pergi dari sini! Kita doakan saja semoga Bastian segera sadar bahwa Devani bukan cintanya lagi, dan tidak patut untuk di perjuangkan," ucap Deni.
"Ayo!" ajak Deni sembari naik ke atas motornya dan pergi meninggalkan tempat balapan itu.
__ADS_1
Bastian ternyata tidak pulang ke rumahnya, dia pergi ke Bar. Bastian menggedor pintu Bar yang belum buka.
Cleaning service yang sudah datang untuk membersihkan Bar pun, menjadi sasaran Bastian. Dia memaksa agar secepatnya membuka pintu Bar.
Mas cleaning service pun segera melapor kepada pemilik Bar, tadinya si pemilik mau marah tapi begitu dia melihat yang datang adalah putra dari anggota dewan rakyat yang menjadi pelanggan di Barnya, pemilik Bar pun buru-buru membuka dan mempersilakan Bastian untuk masuk.
"Sediakan aku minuman, cepat!" perintah Bastian sambil menyerahkan kartu ATM di tangannya.
"Mau yang mana Den?" tanya pemilik Bar.
"Yang bisa menghilangkan sakit kepala dan sakit hati," ucap Bastian asal, hingga membuat mas cleaning service tersenyum-senyum sendiri di belakang Bastian.
Pemilik Bar tidak berani berkomentar, lalu dia memberikan alkohol yang kadarnya tinggi terlalu tinggi karena dia tahu, Bastian bukan pecandu. Dia hanya pernah datang ke sana untuk memata-matai papanya.
"Ini Den, silahkan diminum," ucap Alex si pemilik Bar sambil menuangkannya ke dalam gelas.
Bastian menghabiskan minuman itu dengan sekali teguk, lalu dia minta untuk dituangkan lagi. Beberapa kali pemilik Bar sudah menuangkan minuman itu ke dalam gelasnya hingga tetes terakhir dalam botol.
Pemilik Bar langsung menelepon Tuan Calvin, tapi karena tuan Calvin sedang mematikan ponselnya, jadi Alex tidak bisa menghubungi beliau.
Alex langsung meminta sang cleaning service untuk membantunya membawa Bastian ke bilik khusus, yang biasanya di sewa oleh para penikmat wanita.
Bastian terkapar di kamar itu, sejenak dia lupa akan masalahnya. Tapi hal ini membuat Alex khawatir, pasti dia akan kena marah oleh Tuan Calvin dan dia takut Barnya ini bakal kena segel jika Tuan Calvin sampai marah.
Kembali ke rumah kediaman keluarga Andara. Di sana sudah terlihat lengang, hanya beberapa orang pelayan yang sedang membersihkan barang yang berserakan dan kotor dari sisa-sisa acara pernikahan Mahen dan Devani.
Mahen lupa jika dia tidak menyimpan foto-foto Devina yang masih terpampang banyak di dinding kamarnya.
Tadinya selesai acara Mahen berencana akan membawa Devani ke rumah baru yang sudah di hias, tapi karena Devani belum pulih makanya Mahen memutuskan untuk membawa Devani beristirahat di dalam kamar saja.
__ADS_1
Sementara Hansen sudah kabur menemui teman-temannya karena dua hari lagi dia akan kembali ke Turki.
Tugas Hansen untuk membuat sang Kakak menikah lagi sudah selesai, makanya dia akan kembali untuk melanjutkan tugas memimpin perusahaan Papa Emir yang sudah sebulan lebih dia tinggalkan.
Mahen menggandeng tangan Devani masuk ke dalam kamarnya, tapi sesampainya Devani di dalam kamar itu, dia berdiri mematung saat melihat kamar Mahen penuh dengan foto almarhumah kakaknya.
Terbersit dalam pikirannya, rasa kecewa, ternyata Mahen masih memikirkan sang Kakak dengan tidak menyimpan foto-foto itu saat membawa dirinya masuk ke dalam kamarnya.
Melihat perubahan rona wajah dan sikap Devani, Mahen jadi tersadar, lalu dia berkata, "Maaf Van, aku tidak sengaja, aku lupa jika foto-foto Devina masih terpampang banyak di sini," ucap Mahen yang merasa bersalah.
"Sebenarnya aku sudah mempersiapkan kamar untuk kita, tapi karena kamu masih belum pulih, aku takut untuk membawamu ke rumah kita," ucap Mahen lagi.
Mahen mengambil kunci mobilnya, lalu mendekati Devani, dia mencium puncak kepala Devani sambil berkata, "Maafkan aku ya Sayang," ucap Mahen lalu menarik Devani ke dalam pelukannya.
Kemudian tanpa persetujuan dari Devani, Mahen menggendongnya ala bridal style, membawanya keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.
Devani kaget, lalu dia berkata, "Mau kemana kita Kak? Tolong turunkan aku! Nanti kita terjatuh. Aku memang sakit, tapi badanku masih berat lho Kak, lagipula malu sama para pembantu yang melihat kita, apalagi sempat Papa Mama dan Annisa melihat, mau kita kemanakan wajah ini," ucap Devani.
Mahen tidak mempedulikan ucapan Devani, dia ingin memperbaiki suasana yang sempat membuat istrinya ini kecewa. Dia terus menggendong Devani menuruni anak tangga, walau sempat hampir terjatuh, tapi Mahen berhasil menjaga keseimbangan tubuh mereka kembali hingga sampai ke bawah.
Para pelayan yang melihat sempat menahan nafas, takut kedua majikannya celaka, tapi akhirnya mereka tersenyum apalagi melihat perlakuan Mahen yang menurut mereka cukup romantis.
Devani malu melihat tatapan para pelayan, lalu dia menyembunyikan wajahnya di dada Mahen. Menghirup aroma mint dari tubuh suaminya itupun membuat Devani merasa tenang dan nyaman.
Mahen terus menggendong Devani keluar rumah, lalu dia membuka pintu mobil dan mendudukkan Devani di bangku depan dekat dia akan duduk menyetir.
Mau di bawa kemanakah Devani? ikuti kelanjutannya terus ya guys🙏😉
See you ♥️♥️♥️
__ADS_1
Baca juga yuk sobat karya sahabatku dan jangan lupa beri dukungannya ke karya kami ya🙏