
Malam ini Mahen sekeluarga menginap di rumah keluarga Andara dan rencananya besok pagi Mahen akan ke kantor lebih awal karena banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Setelah jam makan siang, barulah Mahen akan mencari Bastian untuk membicarakan semua yang menjadi uneg-uneg hatinya sebelum pernikahan dilangsungkan.
Papa Emir yang melihat Mahen masih membolak balik ponselnya pun berkata, "Pergilah tidur Nak! Bukankan besok pagi kamu banyak pekerjaan?" tanya papa Emir.
"Iya Pa, sebentar lagi, mata ini belum mau terpejam," jawab Mahen.
"Tenang Kak, kakak tidak perlu risau, apa lagi yang kakak pikirkan? Aku akan membantu mengurus semua keperluan pernikahan kalian, jadi kakak bisa tetap fokus pada pekerjaan!" ucap Hansen.
"Terima kasih Hans, kamu memang adik terbaikku," ucap Mahen.
"Kalau begitu aku permisi ya Pa, Ma. Ayo Hans! Kamu juga harus tidur," ucap mahen lagi.
"Sebentar lagi Kak! tanggung nih, ada pekerjaan sedikit yang harus aku selesaikan," ucap Hans yang masih berkutat dengan laptop.
Papa dan Mama yang melihat Mahen masuk kedalam kamarnya pun bertanya kepada Hans, "Bagaimana menurutmu Hans, apakah kakakmu benar serius dan bisa membahagiakan Devani? Papa akan malu dengan keluarga Andara, jika kakakmu nanti tidak bisa mencintai dan menyia-nyiakan Devani," ucap Papa Emir.
"Kita harus percaya dengan Kak Mahen Pa, dulu...dia sangat menyayangi Kak Devina, aku yakin seiring berjalannya waktu, dia juga pasti bisa menyayangi Devani," ucap Hans.
Kemudian Hans berkata lagi, "Papa Mama harus percaya dengan Kak Mahen, jika suatu saat Kak Mahen memang menyia-nyiakan gadis itu, aku janji Pa! Aku yang akan membahagiakannya. Jujur, sejak pertama kita datang dan aku melihat Devani, aku menyukainya, tapi aku tidak mungkin bersaing dengan Kakak dan juga keponakan ku sendiri," ucap Hansen yang ternyata memang serius dengan perasaannya.
"Sudahlah, ayo kita tidur, mudah-mudahan semua berjalan sebagaimana yang kita harapkan," ucap Papa Emir sambil mengajak mama ke kamar yang tadi sudah disiapkan oleh Mbok Ijah.
Keesokan pagi, Mahen sudah berdandan rapi, saat dia turun menuju ke ruang makan, ternyata Devani sudah ada di sana sedang menyiapkan sarapan.
Mahen pun menghampirinya sambil berkata, "Selamat pagi Van," sapa Mahen.
"Selamat pagi Hen. Silahkan sarapan, aku sudah siapkan semuanya," pinta Devani sambil menunjuk kearah sepiring nasi goreng telur ceplok kesukaan Mahen dan Annisa.
"Kamu kenapa malah ke dapur Van? biarlah untuk beberapa hari kedepan, biar simbok dulu yang menyiapkan sarapan, sebaiknya kamu perbanyak istirahat," ucap Mahen.
"Aku akan tambah sakit jika hanya tiduran saja, Hen," ucap Devani.
"Oh ya Van, hari ini 'kan akhir pekan, aku akan pulang lebih awal, aku ingin mengajak kamu dan Annisa ke suatu tempat," ucap Mahen.
__ADS_1
"Iya Hen, terimakasih. Saat ini aku memang lagi ingin jalan-jalan, lagipula jenuh tiduran melulu di kamar," ucap Devani.
"Syukur deh, jika kamu tidak keberatan, sekarang... temani aku sarapan dulu ya. Oh ya Van, kenapa belum ada seorangpun yang datang kesini buat sarapan ya?" tanya Mahen heran, padahal jam sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB.
"Mungkin pada capek Hen, jadi sengaja pada telat sarapan. Kalau Nisa, saat aku hendak ke dapur dia sudah bangun sih, cuma minta dibuatin susu dan sekarang pasti tidur lagi," ucap Devani.
Mereka pun akhirnya sarapan berdua Devani mengambilkan segelas susu untuk Mahen, sementara dirinya hanya minum segelas jus jeruk hangat.
Ternyata semuanya sudah pada bangun, tapi ketika mereka hendak ke meja makan, mama Mahen melarangnya, lalu mereka pun pada kembali ke kamarnya masing-masing.
Beliau yang melihat Mahen dan Devani ada di ruang makan, sengaja ingin memberi kesempatan kepada keduanya agar lebih dekat dengan sarapan hanya berduaan saja.
Mama sengaja mengintip dari balik tirai pintu, beliau senang Devani bisa melayani Mahen, menyajikan makanan dan minuman layaknya seorang istri dan tersenyum gembira saat mendengar Mahen akan meluangkan waktu untuk mengajak Devani serta Annisa jalan-jalan nanti sore.
Kemudian mama punya akal, nanti akan mengajak Annisa pergi sebelum Mahen kembali, supaya Mahen bisa pergi hanya berduaan saja dengan Devani.
Takut ketahuan sedang mengintip, saat mendengar Mahen sudah selesai makan, Mama Mahen pun kembali ke kamarnya.
Melihat mama tersenyum-senyum sendiri, saat kembali ke kamar, Papa Emir pun jadi penasaran, lalu beliau bertanya, "Ada apa Ma? Papa lihat nampaknya Mama sangat senang? Memangnya apa yang Mama dapatkan dari hasil mengintai?"
Kok mendadak Ma, belum tentu yang lain bisa 'kan? Apa Annisa mau pergi tanpa Papa dan bundanya, bukankah jam segitu Mahen masih di kantor," ucap Papa Emir.
"Sengaja Pa, tadi mama dengar Mahen akan pulang cepat dan mengajak Devani serta Annisa jalan, jadi biar kita saja yang ajak Annisa biar mereka bisa jalan berduaan," ucap Mama.
"Kalau Papa, terserah Mama saja, yang penting Annisa mau dan nggak bakalan menangis," ucap papa Emir.
"Sip... aman, biar Hans nanti yang membujuk Annisa."
Mahen pun pamit kepada Devani untuk berangkat ke kantor dan titip pesan buat papa mama jika dia sudah berangkat duluan ke kantor.
Devani pun mengantar Mahen sampai ke teras, dia sudah memantapkan hati untuk menerima Mahen dan melupakan Bastian.
Kini keputusannya sudah bulat, menjadi istri Mahen dan mama Annisa. Mungkin ini keputusan yang terbaik demi masa depannya, mengingat usianya juga tidak lagi muda dan memang sudah sangat pantas untuk menikah.
Mahen tersenyum dan melambaikan tangan saat melihat Devani juga sedang tersenyum melepas keberangkatannya pagi ini.
__ADS_1
Dalam batinnya Mahen berkata, 'Ternyata kamu bisa juga bersikap manis Van, mudah-mudahan keputusan yang telah kita ambil tidak salah dan kamu bisa jadi istri yang baik untuk ku dan mama yang baik pula bagi Annisa.'
Mobil Mahen pun sudah meninggalkan pelataran rumah Andara dan Devani segera masuk ke dalam kamar, ingin melihat apakah Annisa sudah bangun atau belum.
Ternyata Annisa belum bangun, jadi Devani memutuskan untuk rebahan sambil membuka akun sosmednya.
Devani berfoto selvi dengan memeluk Annisa yang sedang tidur, lalu mengunggahnya di Instagram, di Facebook juga di status WhatsApp nya dengan kata 'Siap membuka lembaran baru dan tinggalkan masa lalu.'
Begitu foto itu diunggah, banyak komenan masuk dari para sahabatnya, namun Annisa hanya menanggapinya dengan emot bahagia.
Bahkan Bastian yang saat ini sedang bersiap untuk mengantar sang mama dan adiknya ke klinik Dokter sempat melihat status tersebut.
Bastian membanting ponselnya di kursi sambil berkata, "penghianat! Akhirnya kamu akui juga perselingkuhanmu."
Mama yang baru saja keluar dari kamar sambil menggendong baby Mizzly pun merasa heran, saat melihat perubahan wajah Bastian.
Ada kemarahan dan kesedihan tersirat di wajah putranya, lalu beliau pun mendekati Bastian sambil bertanya, "Ada apa Bas? Apa kamu baik-baik saja?"
"Nggak ada apa-apa Ma, ayo kita berangkat, kasihan Baby Mizzly, dia harus segera mendapatkan perawatan sebelum demamnya makin naik. Oh ya Ma, kapan Papa balik dari Bogor?" tanya Bastian.
"Kata Papa, saat ini sudah dalam perjalanan pulang, tadi mama minta untuk langsung menyusul ke klinik," ucap mama.
"Kenapa memangnya Bas?" tanya mama.
"Siang ini aku dan teman-teman berencana untuk pergi camping ke gunung Ma, boleh ya Ma! Bukankah nanti ada papa yang menemani mama di rumah," ucap Bastian.
"Pergilah Nak! kamu juga perlu hiburan, nggak baik anak laki-laki mengurung diri saja di rumah. Yang penting hati-hati, tetap jaga sikap dan perilaku di sana karena biasanya di tempat seperti itu masih kental mistisnya," ucap mama.
"Iya Ma, ayo Ma kita berangkat, nanti setelah papa sampai aku baru pergi," ucap Bastian.
Dalam perjalanan, Papa Calvin menelepon mama, ternyata beliau sudah sampai lebih dahulu di klinik.
Mendengar hal itu, Bastian pun mempercepat laju mobilnya, hingga dalam waktu 20 menit mereka pun sudah sampai di klinik anak.
Papa yang melihat mereka sampai lalu mengulurkan sebuah kertas yang bertuliskan nomor antrian, jadi mama tidak perlu lagi mengantri untuk mengambilnya.
__ADS_1
Tidak berapa lama mereka pun di panggil oleh perawat agar masuk ke ruangan Dokter. Mama, papa dan baby Mizzly pun masuk, sedangkan Bastian menunggu mereka di luar sambil memainkan ponselnya.