BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 28. MERIJEK PANGGILAN


__ADS_3

Selama di perjalanan, hanya suara tawa Hans dan Annisa yang terdengar. Mahen fokus dengan stir sementara Devani asyik dengan ponselnya, dia sedang membalas pesan masuk dari Bastian.


Saat Bastian menanyakan Devani sedang berada dimana saat ini, dia pun bingung harus membalas apa. Apabila jujur, Bastian pasti cemburu dan marah. Mau berbohong tapi hati Devani merasa tidak nyaman.


Devani tidak membalas pesan terakhir dari Bastian karena Annisa dan Hans mengajaknya main tebak-tebakan. Hal ini membuat Bastian penasaran, makanya dia putuskan untuk menelepon Devani.


Ponsel Devani berdering, berkali-kali, tapi dia hanya memandangi dan mengecilkan volume ponselnya. Devani merasa tidak enak untuk mengangkat panggilan video dari Bastian.


Akhirnya Devani merijeknya dan membalas pesan Bastian bahwa dirinya sedang berkumpul bersama keluarga. Bastian pun paham lalu dia mengirim pesan lagi, nanti sebelum Devani tidur dia ingin bicara dengan Devani lewat panggilan Video.


Mahen yang melihat Devani merijek panggilan pun bertanya, "Kenapa nggak kamu angkat? Dari laki-laki itu ya?" tanya Mahen.


Devani hanya diam, lalu Mahen berkata lagi, "Takut dia marah, jika tahu kamu pergi denganku. Kalau dia marah biar aku yang akan menjelaskan," ucap Mahen.


"Nggak enak saja, nanti aku pasti akan mengatakan jika bertemu Bastian bahwa aku sedang pergi dengan kalian," jawab Devani sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas.


Suasana kembali hening, Hans yang mendengar percakapan antara Mahen dan Devani penasaran, apa benar Devani sudah memiliki pacar. Kalau benar, bakalan sulit tugasnya untuk menyatukan keduanya.


"Kamu sudah punya pacar Van?" tanya Hans.


Devani hanya mengangguk. Kemudian Hans bertanya lagi, "Gantengan mana pacar kamu dengan Kakakku?"


"Hans...!" seru Mahen.


"Opss..." ucap Hansen sambil menutup mulutnya. Lalu dia berkata lagi, "Hanya ingin tahu lho Kak, apa Kakak ku kalah saing atau tidak."


"Kamu diam Hans atau aku turunkan kamu di sini!" ancam Mahen kepada adiknya.


"Jangan Pa! disini 'kan sepi, lagipula gelap, kasihan Om Hans," ucap Annisa.

__ADS_1


"Terimakasih anak cantik, sudah belain Om dari penindasan Papa kamu," ucap Hans.


Mahen melirik Hans dari kaca spionnya, dia tidak ingin membuat suasana semakin canggung.


Annisa tidak mau melihat Papa dan Om nya berdebat, lalu dia mengalihkan pembicaraan, "Pa...kita jalan-jalan ke Mall dulu ya, Nisa mau lihat-lihat baju, sebentar lagi Nisa 'kan ulang tahun," ucap Annisa.


"Memangnya kapan kamu ulang tahun Sayang?" tanya Hansen kepada Annisa.


"Lusa Om," jawab Annisa.


"Okelah kita ke Mall dulu, nanti Nisa boleh pilih baju mana yang Nisa sukai, biar Om yang bayar, sebagai kado ulang tahun.


"Horee... terimakasih Om. Om Hansen baik deh, Nisa tambah sayang sama Om."


Kemudian Hansen berbisik kepada Annisa, dia menanyakan kapan Devani ulang tahun. Annisa yang menduga Om nya punya rencana lalu membisikkan jawabannya ke telinga Hans.


"Ada rencana apa kamu Hans? jangan kamu peralat anak kecil ya!" ucap Mahen.


"Iya, tenang Pa. Om Hans baik kok," ucap Annisa.


"Ayo turun, kita sudah sampai," ucap Mahen.


"Eh...iya, ayo Om! Nisa sudah tidak sabar ingin segera punya baju baru."


"Ayo... let's go anak cantik," ucap Hansen sambil menurunkan Annisa.


Devani juga turun, sementara Mahen masih memarkirkan mobilnya di posisi yang benar dan pas.


Annisa menggandeng tangan Devani lalu berkata, "Bunda...nanti pilihkan baju yang bagus buat Nisa ya!"

__ADS_1


"Iya Sayang, ayo...kita jalan, itu Papa kamu sudah nunggu," ucap Devani.


Annisa menggandeng tangan Devani dan juga Mahen, dia terlihat sangat bahagia seperti telah memiliki keluarga yang lengkap.


Devani dan Mahen saling pandang tapi mereka tidak bisa berkomentar apapun.


Hans yang berjalan di belakang merekapun tersenyum, ternyata keponakannya sangat pintar, Annisa punya cara tersendiri untuk menyatukan bunda dengan sang papa.


Dari kejauhan ada seseorang memperhatikan mereka, ternyata Bastian kebetulan ada di sana sedang menunggu sang mama berbelanja.


Bastian yang malas ikut mamanya ke dalam hanya menunggu di parkiran sambil memainkan ponselnya.


Wajah Bastian memerah, tangannya mengepal, dia kecewa, ternyata Devani telah membohonginya.


Bastian mengikuti Devani dari kejauhan, karena dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang jika dia marah di sana.


Apalagi mama Bastian sedang ada di dalam, mamanya pasti akan kecewa, apabila tahu Bastian juga di kecewakan oleh wanita. Seperti halnya sang mama telah di kecewakan oleh papanya.


Bastian mengendap-ngendap diantara ramainya pengunjung. Saat dia melihat Devani, Mahen dan Annisa masuk ke toko pakaian anak, Bastian pun ikut masuk, dia terus mengikuti dan mengintai Devani dari balik rak-rak baju yang ada di sana.


Annisa dengan gembira memilih-milih baju bersama Devani, sementara Mahen dan Hans menunggu mereka di tempat duduk yang telah di sediakan oleh pemilik toko.


Melihat Mahen celingukan seperti mencari sesuatu, Hans pun bertanya, "Apa yang Kakak cari? Kalau mencari toko gaun wanita, itu...lihatlah! di sana cantik-cantik gaunnya, pasti pas jika dipakai oleh Devani," ucap Hans sambil menunjuk toko pakaian wanita yang ada di seberang toko yang sedang mereka datangi ini.


"Nggak usah ikut campur! kamu seperti peramal saja, yang serba tahu apa yang aku pikirkan," ucap Mahen.


"Ya... barangkali kamu mau berbaik hati membelikan dia gaun, karena semenjak aku datang, belum pernah aku lihat Devani memakai gaun seperti almarhumah Kak Devina. Dia pasti sangat cantik bila mengenakan gaun, nggak kalah dari para top model," ucap Hans.


Mahen pun berjalan meninggalkan Hans, dia benar masuk ke dalam toko yang telah Hans tunjukkan.

__ADS_1


Apakah Mahen akan membelikan Devani gaun? atau dia sedang mencari sesuatu yang lain.


Ikuti terus ceritaku yuk sobat, dan jangan lupa aku tunggu lho dukungan kalian. Terimakasih 🙏


__ADS_2