BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 26. NASEHAT PAPA EMIR


__ADS_3

"Bersiaplah Nis, sebentar lagi kita berangkat," pinta Mahen kepada putrinya.


"Dan nanti malam kami jemput kamu ya? sekitar pukul setengah delapan," ucap Mahen kepada Devani.


Devani hanya mengangguk, lalu membawa Annisa ke kamar untuk bersiap.


Selesai ashar, Mahen dan keluarganya pamit kepada keluarga Andara. Papa Emir meminta Papa Andara untuk berkunjung juga ke rumah plamboyan karena mereka juga pasti akan kesepian di sana jika Mahen keluar rumah.


Annisa pamit kepada bundanya sambil berkata, "Jangan lupa nanti malam ya Bun," ucap Annisa.


"Iya Sayang, pergilah! Baik-baik di sana ya!" ucap Devani.


Annisa melambaikan tangan kepada Devani dan eyangnya lalu mobil Mahen pun perlahan pergi meninggalkan keluarga Andara.


Baru beberapa menit Annisa pergi, rumah Andara sudah terasa sepi, Papa dan Mama kembali ke kamarnya sedangkan Annisa pergi ke taman belakang.


Mbok Ijah juga merasakan hal yang sama, kini beliau hanya bengong di dapur, biasanya jam segini Annisa meminta di buatin susu lalu bermain dengan simbok dan juga Devani.


Dalam pikirannya masing-masing, sempat terbersit pertanyaan, bagaimana jika Annisa pergi untuk selamanya dengan keluarga barunya saat Mahen menikah lagi dengan orang lain.


Mama Intan dan Papa Andara juga ngobrol hal yang sama di kamarnya.


Mama Intan berkata, "Usahakan Pa, agar Mahen bisa menikah dengan Devani, aku nggak mau Annisa pergi selamanya dari rumah ini.


"Papa iya lah, seharian di kantor jadi tidak merasa kesepian, nah! Mama gimana? Apalagi sampai Devani suatu saat berjodoh dengan orang lain, pasti dia akan dibawa pergi oleh suaminya."


"Bagaimana dengan pria yang datang kemaren Ma? Apa dia pacar Devani?"


"Iya Pa, tapi berasal dari keluarga yang carut marut. Mama kasihan Pa, jangan sampai Devani masuk ke dalam keluarga seperti itu, walaupun pria itu sayang terhadapnya," ucap mama Intan.


"Kita lihat nanti ya Ma, Papa juga ingin Mahen tetap menjadi menantu kita. Walaupun sekarang dia rada berubah, mau pergi ke club malam dan mabuk, tapi Papa yakin itu hanya untuk menghilangkan perasaan stresnya," ucap papa Andara.

__ADS_1


Di rumah Kamboja, Mahen dan Hans dibantu oleh para pelayan menurunkan tas pakaian mereka lalu membawanya masuk.


Mama dan Papa Emir, berkeliling melihat rumah putranya yang selama ini tidak pernah di tempati.


Rumah itu terlihat bersih dan rapi walau tidak ditinggali karena setiap hari di bersihkan oleh para pembantu.


"Hen... setelah selesai Papa dan mama ingin bicara dengan kamu," ucap Papa Emir.


"Baik Pa, sebentar Mahen angkat dulu tas ini ke kamar," jawab Mahen.


Saat Mahen ke kamar, papa berkata kepada Hans, "Hans, saat kami berbicara dengan Kakakmu, papa mohon, ajak Annisa main dulu ya. Papa tidak ingin dia mendengar tentang kelakuan buruk Papanya."


"Papa ingin menasehati dia agar tidak larut dalam masalahnya dan mengacaukan hidup dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna seperti apa yang dia lakukan sekarang."


"Baik Pa," ucap Hans sambil mengajak Annisa ke kamar untuk menonton televisi.


Mahen telah selesai mengangkat barangnya ke kamar, lalu dia menghampiri papa dan mamanya.


"Duduklah!" pinta Papa Emir.


"Begini, sebenarnya kedatangan kami ke Indonesia ini selain ingin berziarah ke makam istrimu, kami juga ingin memintamu untuk menikah lagi," ucap Papa Emir.


"Tapi Pa!" ucapan Mahen terhenti saat papa Emir mengangkat tangannya agar Mahen jangan memotong dulu ucapannya.


"Papa tahu kamu sangat mencintai Devina, tapi hidup harus terus berjalan Nak! Kita tidak bisa berpatokan terus dengan masa lalu."


"Kamu masih muda, masih jauh perjalanan hidupmu. Coba kamu berkaca! Sekarang penampilanmu tidak terawat, kamu merusak dirimu sendiri dengan mabuk-mabukan dan yang paling papa takutkan, bagaimana putrimu nanti jika kamu seperti ini terus!"


"Saat ini mungkin kamu masih bisa mengandalkan Devani untuk memberinya kasih sayang seorang ibu, tapi...jika Devani suatu saat menikah dan dibawa pergi oleh suaminya, bagaimana nasib putrimu?"


"Jangan egois Nak! Pikirkan semua omongan Papa. Jika masalah perasaan, masalah cinta, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu."

__ADS_1


"Kamu lihat 'kan pernikahan Papa dan mama? Kami menikah, juga bukan karena cinta tapi karena kakek dan nenek kalian yakin, papa dan mama bisa membina rumah tangga yang bahagia. Dan Papa serta mamamu yakin ridho orangtua adalah ridho Allah."


"Sekarang Papa tanya, kamu hidup dan bekerja keras mengurus dan mengembangkan perusahaan ke depannya untuk siapa?" tanya Papa Andara.


"Tentu untuk Annisa Pa," jawab Mahen.


"Nah, apa kamu yakin Nisa akan bahagia jika jauh dari bundanya dan akan bahagia jika terus melihatmu pulang larut dan mabuk!"


Mahen terdiam mendengar ucapan Papa Emir. Kemudian Papa Emir melanjutkan ucapannya lagi.


"Seandainya pun, kamu menikah dengan wanita lain, apa kamu yakin wanita itu bisa menyayangi putrimu seperti halnya Devani menyayanginya?" tanya Papa Emir lagi.


"Makanya Pa, aku tidak mau memikirkan pernikahan lagi, itulah salah satu alasannya."


"Papa beri waktu satu minggu untuk kamu berpikir dan mengambil keputusan. Jika kamu setuju menikah dengan Devani, serahkan semuanya kepada kami, biar kami yang akan membicarakan hal ini kepada Devani dan orangtuanya," ucap Papa Emir.


"Iya Nak, pikirkanlah kebahagiaan mu dan juga Annisa, Mama dan papa yakin suatu saat kamu dan Devani pasti bisa saling mencintai dan hidup bahagia," ucap Mama.


"Bagaimana jika Devani tidak setuju, karena aku tahu Pa, Ma...dia mencintai pria lain dan pria itu salah satu orang yang ikut dalam rombongan motor yang menyebabkan istriku meninggal."


"Asisten pribadiku juga telah menyelediki bahwa pria itu berasal dari keluarga terpandang yaitu putra dari salah satu anggota dewan serta mamanya seorang pengusaha sukses."


"Memangnya kenapa? Kamu takut bersaing dengannya? Kamu lebih unggul, kamu itu pengusaha sukses sementara dia, yang sukses itu orangtuanya bukan pria itu. Selagi mereka belum terikat pernikahan, Devani masih bisa kamu perjuangkan, asal kamu berjanji akan membahagiakannya bukan menyakiti atau menyia-nyiakan dia nantinya."


Mahen terdiam untuk beberapa saat, lalu dia berkata, "Baiklah Pa, Ma...beri aku waktu untuk memikirkannya dulu."


"Kami beri kamu waktu satu minggu untuk berpikir, jangan terlalu lama, nanti keburu Devani di lamar orang lain," ucap Mama.


"Iya...benar kata mamamu, jangan kelamaan mikir. Dan satu lagi, Papa harap, mulai hari ini, tinggalkan club dan jangan kamu minum-minuman keras lagi, cari kegiatan yang benar bermanfaat untuk menghilangkan rasa stresmu."


"Selama kami di sini, Papa bersedia temani kamu, mau main golf...ayo, mau pacuan kuda, papa juga siap. Mau karaoke-an...ayo, di rumah ini kita bisa melakukannya bersama-sama dengan mama dan adikmu," ucap Papa lagi.

__ADS_1


Mahen diam, dia memang salah, selama ini melampiaskan rasa stresnya kepada hal yang tidak berguna dan dilarang agama.


Untung saja Mahen tidak terjebak dengan para wanita tuna susila yang kerap kali menggoda, tebar pesona di club yang hampir setiap malam dia kunjungi.


__ADS_2