
"Cepat katakan!" teriak Gara dengan lantang.
Pengelola Club masih saja bungkam hingga membuat Mahen semakin geram, lalu dia berkata, "Seret dia dan bawa ke mobil! kita akan membawanya ke suatu tempat yang bisa membuat mulutnya terbuka atau selamanya akan bungkam!"
Mendengar perkataan Mahen, Gara, Bastian dan Hansen segera membawa pengelola cafe masuk ke dalam mobil, lalu dengan menggunakan satu mobil Mahen bersama yang lain membawanya sesuai petunjuknya.
Bastian mengemudikan mobil dan Hansen duduk di depan bersamanya, sementara Mahen serta Gara mengapit pengelola cafe di bangku belakang. Mereka membungkam mulut pengelola cafe dengan taplak meja yang mereka ambil dari salah satu meja di dalam cafe.
"Bas! tolong berhenti di toko yang menjual tali ya, biar Hansen yang turun. Beli tali yang panjang Hans!" pinta Mahen.
"Untuk apa Kak!"
"Menggantung orang ini di atas kolam buaya. Dia memilih mati daripada harus mengatakan siapa dalangnya. Dia sudah bosan hidup," ucap Mahen.
"Siap Kak!"
"Bagus juga ide kamu Hen, ucap Gara.
"Kita akan menonton, buaya-buaya itu mencabik dan menelannya hidup-hidup," ucap Bastian.
Kemudian keempat sahabat itu tertawa, sedangkan pengelola cafe begidik ngeri mendengar rencana mereka.
"Ampun! Tolong Mas, jangan siksa aku! Aku punya anak-anak yang masih kecil dan butuh biaya, jadi tolong lepaskan aku!"
"Kamu tinggal pilih, katakan yang sebenarnya atau kamu mau menjadi santapan buaya," ucap Mahen.
Bastian sudah membelokkan mobil ke arah peternakan buaya yang Mahen maksud. Kebetulan, pemilik peternakan tersebut, kenal dengan Mahen.
Melihat buaya-buaya yang sepertinya kelaparan membuat pengelola cafe akhirnya mengubah pendiriannya.
Dia sebenarnya di ancam jika sampai membocorkan rahasia tersebut, tapi pengelola cafe juga tidak ingin mati di makan buaya.
"Baiklah, ampun Mas. Tolong lepaskan aku. Aku akan mengatakannya."
Ayo cepat katakan sekarang sebelum kami berubah pikiran!" ucap Gara.
"Dia adalah Lusy."
Seperti disambar petir di siang bolong, Mahen dan Gara sangat terkejut dan Hansen tersenyum ternyata firasatnya benar. Sementara Bastian yang tidak tahu siapa Lusy cuma bingung.
__ADS_1
"Apa! Kamu jangan main-main!" ucap Mahen.
"Aku sudah menduganya Kak. Benar 'kan apa yang aku bilang," ucap Hansen.
"Bajingan, ternyata dia biang keroknya, aku tidak pernah menyangka, Lusy tega melakukan hal itu terhadap kita," ucap Gara.
"Ayo kita cari dia. Lusy harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatannya. Apa salahku sebenarnya sampai dia tega memperlakukan aku seperti ini. Dia ku beri kepercayaan di perusahaan malah menghianatiku!" ucap Mahen geram.
"Sebentar, aku akan menghubungi AKBP Wirya," ucap Mahen lagi.
Belum sempat Mahen menghubungi AKBP Wirya, Bastian yang kebingungan bertanya, "Siapa dia Hen?"
"Sekretaris ku."
"Apa! Ternyata bara dalam sekam," ucap Bastian.
"Sebenarnya, ada yang belum kamu ketahui tentang Lusy Hen," ucap Gara.
"Apa Gar, apa yang tidak aku ketahui?" tanya Mahen penasaran.
"Dia mencintaimu," jawab Gara.
"What!" Mahen membulatkan mata tidak percaya atas ucapan Gara.
"Sumpah, aku tidak tahu Hen, jika dia tega melakukan hal ini. Aku tidak sekongkol dengannya, aku berani bersumpah," ucap Gara.
"Cepat putar mobilnya Bas, sekarang juga kita ke rumahnya!" pinta Mahen.
"Iya Hen, tapi kamu juga harus menghubungi polisi, jangan sampai kita main hakim sendiri yang akan merugikan diri kita sendiri," ucap Bastian.
"Iya Kak, Bastian benar," ucap Hansen.
Mahen sudah mengepalkan kedua tangannya dan dia menggeratakkan gigi. Dia sangat marah dan Mahen akan menuntut Lusy agar mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya.
Mereka pun tiba di rumah orang tua Lusy. Orang tua Lusy terkejut saat melihat banyak pria datang ke rumahnya. Namun setelah melihat Mahen mereka segera memberi hormat.
"Oh, Pak Mahen! Silahkan masuk Pak. Lusi ada kok, tapi sebentar ya, dia baru pulang dan sedang mandi," ucap Ayah Lusy.
Tidak lama menunggu, Lusy pun segera ke ruang tamu bersama ibu yang memanggilnya.
__ADS_1
Lusy kaget melihat Mahen, Gara dan adik Mahen datang mencarinya, dia tidak tahu jika pengelola cafe di kunci Mahen di dalam mobil. Sementara dia tidak mengenal Bastian yang berdiri di belakang Mahen.
"Eh, Pak Mahen. Ada apa Bapak kesini? Pak Mahen kan bisa menelepon saya jika ada pekerjaan," ucap Lusy.
Sebenarnya Lusy takut melihat wajah Mahen saat ini yang terlihat menyeramkan, tapi dia tidak tahu kenapa bos nya saat ini sangat berbeda, tidak seperti biasanya.
Mahen yang sudah tidak bisa menahan amarahnya, langsung melayangkan tamparan ke pipi Lusy hingga dua kali.
Lusy sangat terkejut, pipinya yang putih mulus langsung terlihat memerah karena bekas tamparan Mahen.
"Ada apa ini Pak? Apa salahku sampai Bapak menampar ku!" ucap Lusy balik marah.
Kemudian dia berkata lagi, "Kenapa kalian semua kesini? Sebenarnya ada apa Gar?" tanya Lusy masih tidak tahu maksud kedatangan semua tamunya.
"Dasar kamu Lus, kamu tega menjebak temanmu sendiri dan menyakiti Bos yang telah memberimu karir bagus," ucap Gara.
"Coba kamu lihat siapa pria yang kami ikat di dalam mobil sana!" ucap Gara.
Kemudian Bastian dan Hansen memegangi tangan Lusy dan membawanya ke arah mobil.
Lusy berusaha melawan dengan berkata, "Lepaskan aku! kalian tidak punya hak memperlakukan aku seperti ini!"
Orang tua Lusy juga sempat melawan, mereka marah, kenapa Lusy di perlakukan seperti itu. Tapi Gara menghalangi agar mereka diam dulu dan melihat apa yang selanjutnya akan ditunjukkan oleh Mahen.
"Kamu lihat siapa itu!" ucap Mahen.
"Itu pengelola Club, memangnya kenapa kalian ikat dia seperti itu?dan apa hubungannya denganku?" tanya Lusy yang belum sadar juga akan keterkaitan masalah yang dia timbulkan.
"Kamu masih pura-pura!" teriak Mahen dan kembali melayangkan tamparannya lagi.
Kali ini mulut Lusy berdarah, Bastian dan Gara menghalangi Mahen agar jangan main hakim sendiri, sedangkan Hansen tetap memegangi lengan Lusy untuk berjaga-jaga agar dia tidak melarikan diri.
Lusy mulai sadar dengan apa yang terjadi, dalam pikirannya Mahen telah mengetahui penculikan istrinya. Tapi Lusy kembali berpura-pura bahwa dia tidak tahu apa-apa.
"Kau jahat Lusy! Kau jebak aku agar menyakiti hati sahabatku sendiri," ucap Gara yang mulai ikut geram dengan sikap Lusy.
"Please Gara! Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu malah ikutan marah seperti ini!" ucap Lusy.
"Masih ngeles juga! Kamu jual ke siapa istriku hah!" bentak Mahen.
__ADS_1
Kembali Mahen melayangkan tamparan sambil berkata, "Ini untuk tangisan istriku! Dan ini untuk penghianatanmu!" ucap Mahen sambil kembali melayangkan tamparan ke wajah Lusy.
Darah di sudut pipi Lusy semakin banyak keluar dan kedua pipinya lebam. Ketika Mahen hendak melakukannya lagi, AKBP Wirya pun tiba dan menghentikannya.