
Ujian pertanggungjawaban skripsi atau biasa di sebut sidang meja hijau pun selesai. Devani dinyatakan lulus dengan nilai A, hanya beberapa orang saja yang kurang beruntung dan dinyatakan harus mengulang.
Devani keluar ruangan dengan senyum sumringah, dia sebentar lagi akan menyandang gelar sarjana yang sudah lama di nantikan oleh orangtuanya.
Bastian pun memberi selamat, lalu mengajak Devani untuk makan, guna merayakan kelulusannya.
Devani setuju tapi dia minta agar Bastian mengijinkan Devani untuk membawa Juju ikut bersama mereka. Devani ingin menikmati kebersamaan bersama teman karibnya itu sebelum Juju meninggalkan kota ini dan kembali ke kampungnya.
Juju berasal dari Jogja, dan setelah wisuda dia akan bekerja di sana meneruskan usaha batik orang tuanya. Sebenarnya Juju senang tinggal di sini dan belum ingin pulang, tapi mau bagaimana lagi, tuntutan orangtua membuatnya tidak bisa membantah.
Mendapatkan anggukan dari Bastian, senyum Devani semakin lebar, lalu dia berkata kepada Juju, "Ayo Ju, ikut kami. Kebersamaan seperti ini entah kapan lagi bisa kita nikmati. Setelah ini masing-masing dari kita sibuk dengan urusan masa depan," ucap Devani.
"Iya, kamu benar Van. Aku juga nggak tahu, bisa mengunjungi kota ini lagi atau tidak," ucap Juju.
Mereka bertiga pergi ke Mall, nonton, makan dan shopping, setelah itu baru kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.
Bastian minta izin sama Devani agar kali ini diperbolehkan untuk mengantarnya pulang, karena tidak ada alasan lagi untuk menyembunyikan hubungan mereka dari orangtua Devani.
"Bagaimana Van, sudah boleh aku ke rumahmu?"
"Tentu, ayo kita jalan! Aku tidak mau terlalu sore sampai di rumah. Kasihan Annisa tidak ada teman dan pasti belum mandi sore. Mamaku juga belum terlalu sehat, sementara papa belum pulang dari luar kota."
"Huh...dalam suasana apapun selalu bocah itu nomor satu!" ucap Bastian. Lama kelamaan Bastian merasa iri karena Annisa selalu mendapatkan priorotas utama dari Devani.
"Kenapa kamu Bas, masa kamu iri dengan anak kecil," ucap Devani.
"Ya iyalah, aku 'kan takut. Sekarang mungkin anaknya dan lama kelamaan bisa jadi bapaknya juga menyita perhatianmu."
"Kamu ngaco Bas, itu nggak mungkin, sejak almarhumah Kakak ku masih hidup, aku dengan Mahen itu nggak pernah akur, apalagi sekarang. Bicara saja kalau ada hal penting menyangkut putrinya, kalau tidak ya...siapa lu siapa gue deh," ucap Devani.
"Kamu nggak benci dia 'kan?" tanya Bastian.
__ADS_1
"Memangnya kalau benci kenapa?"
"Bakalan jatuh cinta! Benci itu... benar-benar cinta. Awas lho, jika nanti sampai betulan lu jatuh cinta," ancam Bastian.
"Ayolah! katanya mau antar aku pulang, malah ngaco terus," ucap Devani.
"Lalu, mobilmu kita kemanakan?" tanya Bastian.
"Tenang, nanti aku telepon sopir kantor papaku untuk ambil dan membawanya pulang. Saat ini kunci mobilnya, sudah aku titip ke mas security," ucap Devani.
Kemudian Bastian menghidupkan motornya lalu merekapun berangkat.
Hari ini Mahen memutuskan untuk pulang cepat, dia ingin singgah ke rumahnya untuk mengecek apakah semua sudah bersih dan rapi sesuai perintahnya, karena besok orangtua Mahen tiba di Indonesia.
Dalam perjalanan ke rumahnya, Mahen melihat Devani bersama Bastian. Amarah Mahen memuncak saat melihat, Bastian mengendarai motornya dengan kencang dan Devani berpegangan erat pada pinggang Bastian.
Mahen memukul stirnya sambil menggerutu, "Kematian Devina tidak jadi pelajaran bagimu Vin, kamu masih saja bergaul dengan pria tidak beres seperti itu. Kamu akan menyesal nanti!"
Kemudian Mahen menelepon seseorang, lalu dia berkata, "Cari data tentang Bastian Mahesa! Aku tunggu, paling lambat besok pagi sudah harus ada di mejaku!"
Laju motor di daerah yang padat dengan arus lalu lintas memang sulit untuk diikuti oleh mobil Mahen. Dia terpaksa harus rela kehilangan jejak Bastian dan Devani di pemberhentian lampu merah.
Bastian dengan motor besarnya telah melesat pergi, membelah jalanan, meninggalkan Mahen dibelakang yang sedang kesal.
Keterampilan Bastian dalam mengendarai motor memang selalu di puji oleh sahabat-sahabatnya. Bukan di arena balap saja, di area padat lalu lintas pun dia selalu bisa dengan mudah melewati kenderaan-kenderaan yang ada di depannya.
Devani senang, dia seperti terbebas dari sangkar yang beberapa bulan ini mengurungnya.
Bukan karena paksaan dari siapapun sih...tapi karena belenggu tanggungjawab yang membuat Devani harus rela meninggalkan kesenangan pribadinya demi putri Annisa.
Devani merentangkan tangan, dia berteriak sambil menikmati segarnya udara saat motor Bastian melewati area sepi persawahan.
__ADS_1
"Wow...sudah lama aku tidak menikmati suasana seru seperti ini Bas, apalagi ikut balapan!" ucap Devani.
"Salah kamu! Kenapa mau mengorbankan kesenanganmu sendiri demi orang yang tidak pernah respek terhadapmu," ucap Bastian.
"Coba kamu pikir, apa dia tahu berterimakasih, kamu selalu memberikan perhatian kepada putrinya sementara dia enak-enakan di luar, keluar masuk club dan mabuk. Daripada seperti itu, lebih baik jika dia menghabiskan waktunya untuk bersama Annisa!" ucap Bastian kesal.
"Sudahlah Bas! Aku melakukan hal itu demi Annisa yang sudah seperti anakku sendiri. Aku tidak peduli dengan sikap Papanya," ucap Devani.
"Terserah kamu deh...jadi kapan kamu akan mulai aktif di perusahaan Papa kamu?" tanya Bastian.
"Mungkin lusa aku mulai masuk kerja, karena besok orangtua Bastian dan adiknya tiba dari Turki. Kemungkinan besar selama mereka di sini, Annisa akan tinggal bersama mereka di rumah pribadi Mahen."
"Mahen punya rumah sendiri, kenapa dia malah tetap tinggal di rumah kalian?" tanya Bastian.
"Papa yang memohon agar dia jangan pindah demi mama. Sebenarnya Mahen pernah mengutarakan keinginannya untuk pindah, tapi kesehatan mama langsung ngedrop."
Bastian tidak bisa berkomentar apapun lagi kalau sudah menyangkut masalah orangtua, walau bagaimanapun kesehatan dan kebahagiaan orangtua terutama mama, nomor satu baginya.
"Hei Bas, jangan keterusan! belok kanan lho...arah rumahku, kenapa kamu melamun?" tanya Devani.
"Teringat mamaku, demi mereka kita bisa lakukan apapun ya Van, termasuk mengorbankan kebahagiaan kita. Jasa mereka tidak akan pernah bisa kita balas," ucap Bastian. Ada nada kesedihan di balik ucapannya.
"Belum selesai masalah orangtua mu Bas?" tanya Devani.
Bastian tidak menjawab, dia mendesah dan menggelengkan kepala.
"Sepertinya masalah yang keluargamu hadapi berat ya Bas?" tanya Devani yang ikut prihatin.
"Iya Van, Papaku bukan hanya cuma selingkuh, tapi sudah menikah siri dan saat ini istrinya sedang hamil tua. Aku telat menyelidikinya Van, nasi sudah jadi bubur dan tidak akan mungkin kembali jadi nasi."
"Sekarang tugas kami sebagai anak, bagaimana menghibur dan menguatkan hati Mamaku agar jangan stres dan uring-uringan. Walau bagaimanapun mamaku harus bisa menerima kenyataan dan memiliki dua pilihan, tetap bertahan atau bercerai," ucap Bastian dengan sedih.
__ADS_1
"Maafkan aku ya Van, sudah membuat kamu sedih," ucap Devani.
"No problem, Vin. Tenang... aku sudah ikhlas kok. Walau bagaimanapun, bayi yang wanita itu kandung juga adikku," ucap Bastian.