BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 89. MEMERIKSA MAYAT TANPA IDENTITAS


__ADS_3

"Apa kabar Ma, Pa, Hans?" tanya Mahen sambil memeluk keluarganya.


"Kamu kurusan Nak, lihat lingkar mata kamu, pasti kamu jarang tidur ya!" tanya Mama.


Mahen hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari sang mama.


"Kenapa kamu tidak mengabari kami ha? Memangnya kamu anggap apa kami Nak!" ucap Papa Emir sambil memeluk putranya.


Papa iba melihat Mahen, ada saja cobaan berat yang menimpa rumah tangganya.


"Maaf Pa, aku hanya tidak ingin menyusahkan kalian. Bukankah Papa juga lagi kurang sehat. Hans mengabari aku dua hari lalu, tapi karena sedang kalut mencari Devani, aku belum sempat telepon Papa.


"Kamu jangan khawatir, papa sudah sehat kok, 'kan ada adik kamu yang menjaga kami," ucap Papa Emir.


"Oh ya Kak, bagaimana dengan Devani, apa belum ada kabar juga?" tanya Hans.


"Belum Hans, padahal kami sudah minta bantuan polisi," jawab Mahen.


"Apa bukan Bastian pelakunya Kak, seperti waktu itu?" tanya Hans.


"Bukan, bahkan dia ikut membantu ku mencari Devani."


Sepanjang perjalanan Mama memperhatikan Mahen, putranya lebih pendiam dari biasanya. Mama tidak ingin hilangnya Devani akan membuat putranya kembali ke kebiasaan buruk saat Devina meninggal.


"Anak-anak asuh kalian, apa sudah kamu tanyain, barangkali mereka menemukan petunjuk," tanya Mama.


Mahen menggeleng lalu berkata," tidak satu orangpun melihat Devani saat hari kejadian hilangnya Devani.


Bahkan sampai sekarang mereka menyebar, sambil bekerja mereka tetap berusaha mencari info dengan membawa foto Devani."


"Cara terakhir yang bisa kita lakukan paling menggunakan media untuk mencarinya Nak dengan iming-iming imbalan bagi yang menemukan," ucap Papa.


"Berarti motif si pelaku bukan uang, jika uang pastinya sudah minta tebusan," ucap Mama.


"Tapi Pa, aku masih takut dengan cara itu, takut jika Devani dilukai karena motif penculik bukan uang."


"Barangkali saingan bisnis Kak Mahen?"


"Entahlah Hans, bisa jadi!"

__ADS_1


"Sebelum kejadian apa tidak ada hal mencurigakan Hen?" tanya Mama lagi.


"Nggak ada Ma, kami baik-baik saja bahkan Devani juga belum masuk kantor karena aku melarangnya untuk ngantor dulu sampai kami pindah ke rumah baru."


"Memang aneh, mudah-mudahan ada titik terang dari masalah ini."


Mobil Mahen sudah memasuki pekarangan rumah Andara, Annisa berlari menyambut kedatangan mereka.


"Oma, Opa," Annisa langsung memeluk keduanya dan minta gendong sama Opa.


"Om Hans nggak dapat pelukan ini!" ucap Hans.


"No, Nisa nggak mau peluk Om. Om pembohong!"


"Nisa nggak boleh gitu!" ucap Mahen.


"Ini buat kamu! tapi cium dulu," pinta Hans sambil menyimpan kembali hadiahnya.


Nisa langsung turun dari gendongan Opa dan buru-buru mencium Hans, lalu menengadahkan tangan dengan wajah memelas, meminta hadiahnya.


Hans iba melihat keponakannya, sekecil itu harus kehilangan Mama hingga dia kali, lalu diapun memberikan hadiah tersebut sambil berkata, "Tapi janji! Nisa harus belajar yang rajin, seperti anak-anak yang ada dalam dongeng itu dan harus menjadi anak yang mandiri serta kuat."


"Hans, kamu jangan sering-sering menjanjikan sesuatu, nanti Annisa jadi terbiasa menuntut. Jika kamu memang ada nggak masalah, nah jika tidak!" ucap Mahen.


Nggak apa-apa kok Kak, lagipula yang di minta Annisa bukan barang mahal, tapi barang bermanfaat.


Papa dan Mama Andara menyambut kedatangan besannya, kedua mama saling peluk untuk menguatkan hati atas cobaan yang sedang keluarga ini alami.


Mama Intan menangis, dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya di hadapan sang besan.


"Sabar Jeng, kita pasti bisa menemukan Devani, aku yakin itu Jeng."


"Aku takut Jeng, soalnya sudah 4 hari dia menghilang. Apa dia masih hidup atau sudah meninggal," ratap Mama Intan.


"Ma, kita berdoa ya, jangan terus menangis, nanti mama malah ngedrop dan kita malah susah, nggak bisa pokus untuk mencari Devani.


"Saat Mbok Ijah mempersilakan mereka untuk makan malam, Mahen mendapatkan telepon dari AKBP Wirya.


Beliau memberi tahu, ada mayat di temukan tanpa identitas yang ciri-cirinya hampir sama dengan Devani. Tapi sayang, wajahnya hancur, jadi pihak kepolisian tidak bisa memastikan apakah itu benar Devani atau bukan.

__ADS_1


AKBP Wirya meminta Mahen dan keluarga untuk datang agar bisa memastikan, mana tahu ada tanda khusus, misalnya tanda lahir atau uang lain sebagai pengenal.


Tangan Mahen gemetar, hampir saja ponselnya terjatuh saat mendengar pemberitahuan dari Pak Wirya. Dalam hatinya, Mahen menguatkan diri dan yakin, itu pasti bukan Devani.


Mereka berangkat ke rumah sakit, dimana mayat tanpa identitas itu di bawa. AKBP Wirya sudah menunggu kedatangan mereka di sana.


"Di mana mayatnya, Om? Aku ingin segera memastikan!" ucap Mahen.


"Silahkan ikuti saya!" Pinta Pak Wirya.


AKBP Wirya membawa mereka ke ruangan mayat, lalu seorang perawat membuka peti mayat tersebut. Area leher ke atas tidak diizinkan oleh petugas untuk dilihat karena sudah tidak berbentuk wajahnya.


Mahen mengakui, jika bodi mayat ini sama dengan bentuk badan istrinya. Kemudian Mahen memeriksa jarinya, sama memakai cincin perkawinan belah rotan.


Sebenarnya cincin kawin mereka berlian, tapi Devani tidak mau mencolok untuk memakainya sehari-hari, makanya berlian itu di simpan dan membeli cincin belah rotan hanya sebagai tanda jika dia sudah mempunyai pendamping.


Mahen mengingat-ingat, tanda apa lagi yang bisa untuk membuktikan jika wanita itu bukanlah Devani.


Mahen ingat jika di belakang lutut kiri istrinya ada sebuah bekas luka yang lebar. Dulu Devani, pernah kecelakaan saat dirinya baru belajar naik motor.


Perawat memiringkan mayat tersebut, hati Mahen merasa lega saat melihat, tanda yang di maksud tidak ada di sana. Mahen langsung berkata, "Dia bukan istriku Om."


AKBP Wirya pun menjawab, "Syukurlah kalau begitu, berarti kita masih memiliki harapan untuk menemukan Devani."


"Terimakasih Om, sudah mau membantu kami. Oh ya Om, sampai lupa, ini orangtua saya dan itu adek saya. Mereka baru saja datang," ucap Mahen.


Setelah saling berkenalan, mereka pun pamit pulang dan AKBP Wirya berjanji akan segera memberi kabar jika ada temuan lagi.


Walaupun masih was-was dengan keberadaan Devani, setidaknya saat ini Mahen dan keluarga merasa lega, mayat itu bukanlah Devani dan mereka yakin Devani masih hidup.


"Hans! Besok pagi kamu bisa temani aku?" tanya Mahen.


"Kemana Hen?"


"Kita ke kantor ku dulu, setelah itu baru keliling mencari info. Jika sampai akhir pekan, belum juga menemukan Devani, aku sudah putuskan untuk menyebarkan fotonya di seluruh media sosial dan akan memberikan imbalan bagi siapapun yang menemukannya hidup maupun mati," ucap Mahen.


"Iya Nak, kita tidak mungkin menundanya lagi. Apapun hasilnya nanti, kita harus ikhlas. Jika memang takdir menentukan Devani sudah tiada, setidaknya kita bisa menemukan mayat atau kuburannya," ucap Papa Andara.


Sambil menunggu aku Up lagi mampir yuk ke karyaku yang lain, banyak pilihan lho sobat. Terimakasih 🙏♥️

__ADS_1



__ADS_2