
Gara membimbing Devani masuk ke dalam mobilnya, kini Devani tidak pernah memberontak lagi saat Gara mendekatinya, tapi dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Hidup Devani kini dalam diam, dia juga belum siap jika kembali ke keluarganya atau bertemu Mahen.
Mau mengkasuskan masalah ini, itu juga tidak mungkin, bakal mempermalukan dirinya sendiri di hadapan umum.
Yang bisa Devani lakukan saat ini adalah diam, merenungi nasibnya dan tidak tahu kemana dia harus pergi menjauh.
Devani pasrah kemana Gara akan membawanya, selagi pria itu tidak menyakitinya lagi.
Hidupnya telah hancur, dia tidak bisa membayangkan jika sampai Mahen tahu, apa Mahen masih mau menerimanya sebagai istri atau tidak.
Mobil Gara meninggalkan pelataran rumah sakit menuju ke rumah orangtuanya, sedangkan saat ini Bastian baru saja sampai ke rumah sakit.
Bastian langsung menuju ke bagian pelayanan pasien untuk menanyakan tentang ruangan rawat Devani sesuai yang di bilang sahabatnya. Tapi sayang pihak rumah sakit mengatakan tidak ada pasien atas nama Devani.
Kemudian Bastian menelepon sahabatnya yang telah memberi informasi dan dia meminta Bastian untuk datang ke ruangan ganti. Saat ini dia baru selesai pergantian shift kerja. Sahabat Bastian itu seorang cleaning service di rumah sakit tersebut.
Bastian bergegas ke ruangan ganti, lalu mereka berdua menuju ke ruangan, dimana teman Bastian telah melihat seorang pasien yang mirip sekali dengan Devani.
Sesampainya mereka di ruangan VIP tersebut, ternyata ruangan telah kosong. Keduanya pun merasa kecewa, tapi Bastian tidak putus asa, dia mengajak temannya itu untuk kembali ke bagian pelayanan untuk meminta alamat pasien di ruangan VIP yang baru saja keluar.
Namun mereka tidak bisa memberikan sembarangan alamat kepada siapapun, lagipula pasien itu bukan bernama Devani.
Bastian kembali kehilangan jejak, lalu dia menelepon Mahen yang ternyata masih berurusan dengan polisi lalulintas.
Mahen merasa kecewa mendengar kabar dari Bastian, tapi dia tidak mau menyerah, Mahen berniat untuk minta tolong kepada AKBP Wirya untuk meminta data pasien tersebut kepada pihak rumah sakit.
AKBP Wirya pun setuju dan dia segera berangkat dengan beberapa personil nya menuju ke rumah sakit.
Mahen yang baru saja selesai berurusan dengan polisi lalu lintas, juga menuju kesana. Sementara Bastian juga masih menunggu kedatangan Mahen beserta polisi.
Melihat kedatangan pihak kepolisian para pekerja di bagian pelayanan merasa takut, tapi akhirnya AKBP Wirya menjelaskan semuanya. Data itu mereka butuhkan untuk pencarian orang hilang.
Akhirnya bagian pelayanan tidak berani berkeras dan mereka memberikan data jika yang menjamin pasien tersebut bernama Gara Bimantara dan pasien bernama Vina tapi tanpa tanda pengenal.
Mahen sangat terkejut mendengar nama Gara Bimantara, apakah hal itu suatu kebetulan atau memang benar Gara sahabatnya.
__ADS_1
Perasaan Mahen menjadi tidak tenang lalu dia menelepon Gara untuk menanyakan semuanya. Tapi ponsel Gara tidak bisa di hubungi.
Gara yang sudah tiba di rumah, segera membawa Devani masuk. Ternyata sang mama sudah menunggu kehadiran Gara. Papa Gara sudah menceritakan kepada istrinya tentang hal yang dialami oleh Gara.
Pelayan di rumah itu juga telah menyiapkan kamar untuk Devani, sesuai permintaan mama Gara.
"Ayo masuk Nak, ini kamarmu," ucap Mama Gara kepada Devani.
Devani tidak menjawab apapun, selain menurut ketika Mama Gara membawanya masuk ke dalam kamar yang begitu besar dan semua barang tertata dengan rapi.
"Kamu istirahat dulu ya, mana akan menyiapkan makanan untuk mu," ucap Mama gara.
"Gar, temani dulu temanmu ya, Mama akan meminta Minah untuk memasak bubur untuk Vina."
"Iya Ma, terimakasih. Maaf sudah merepotkan Mama," ucap Gara.
Mama menepuk pundak Gara, mama senang ternyata banyak perubahan yang terjadi pada Gara. Sekarang Gara bisa lebih santun bersikap terhadap orangtua.
Sepeninggal mama ke Dapur, Gara menelepon toko pakaian langganan keluarganya, dia meminta mereka membawakan beberapa helai pakaian lengkap dengan pakaian dalam dengan ukuran pelayan toko saja. Karena Gara mengenal pelayan tersebut dan melihat postur tubuhnya hampir sama dengan Vina, wanitanya.
Kemudian Gara meminta tolong kepada pelayan untuk mengambilkan charger ponsel yang ada di kamarnya.
Gara tidak beranjak kemanapun, sampai mamanya datang membawa semangkuk bubur. Kemudian Gara mendekati sang Mama dan berkata, "Ma, biar Gara saja yang nyuapin Vina."
Dengan tersenyum, mama memberikan mangkuk bubur tersebut kepada Gara.
"Vin, ayo makan dulu buburnya," ucap Gara sembari mengulurkan satu sendok bubur ke mulut Devani.
Awalnya Devani tidak merespon tawaran Gara, tapi Gara dengan telaten terus mencoba dan akhirnya Devani pun memakan bubur tersebut.
Mama tersenyum melihat ketelatenan Gara dalam merawat Vina, beliau jadi teringat perlakuan sang Papa, yangjuga sama telatennya mengurus sang mama jika sedang sakit.
Gara sudah selesai menyuapi Devani, lalu dia membersihkan mulut Devani dengan tissue dan memberinya minum.
Setelah itu, Gara menemani Devani sambil menunggu baterai ponselnya terisi.
__ADS_1
Gara membuka ponselnya dan dia melihat banyak panggilan masuk dari Mahen. Lalu Gara melakukan panggilan balik.
Panggilan Gara pun tersambung dan Mahen yang sedang dalam perjalanan ke rumah Gara sesuai alamat yang di berikan oleh bagian pelayanan, buru-buru mengangkatnya.
"Hallo Hen, ada apa kamu menelepon?" tanya Gara.
"Gar, apa benar alamat rumah orang orangtuamu di komplek pondok kelapa?" tanya Mahen.
"Iya benar, memangnya kenapa Hen?" tanya Gara.
"Nanti kami jelaskan di sana, saat ini kami sedang menuju rumahmu," ucap Mahen.
"Dengan senang hati, silahkan kesini, mumpung aku sedang libur bekerja. Aku tunggu ya Hen!" ucap Gara.
Mahen tenang, ternyata Gara ada di rumah, tapi tiba-tiba dia teringat curhatan Gara, bagaimana jika wanita yang di ceritakan Gara adalah Devani.
"Tidak!" ucap Gara hingga membuat Hansen heran.
"Ada apa Hen!"
"Ini pasti tidak mungkin! tidak mungkin Devani wanitanya Gara," ucap Mahen sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Tenang Hen, sabar, mudah-mudahan bukan Devani."
Bastian dan polisi mengikuti Mahen dan Hans dari belakang, dengan mengendarai kendaraannya masing-masing.
Tidak memakan waktu yang lama, mereka pun sampai. Lalu pelayan memanggil Gara, mereka takut karena Mahen datang dengan membawa serta polisi.
Gara pun terkejut, ada hal apa sampai Mahen datang membawa pihak kepolisian ke rumahnya.
Mama Gara dengan panik menghampiri Mahen, lalu bertanya, "Kalian siapa? Kenapa ada polisi di sini, memangnya siapa yang bersalah dan terlibat kasus dengan kalian?"
"Tenang Bu, kami tidak bermaksud membuat ibu takut, kebetulan ada kasus yang sedang mereka tangani dan kami membutuhkan informasi dari Gara," ucap Mahen.
Mama sedikit lega, beliau takut, polisi-polisi itu akan menangkap Gara.
__ADS_1