BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 52. BERUBAH LEBIH BAIK


__ADS_3

"Kamu tidurlah dulu Hans, masih ada hal lain yang harus aku kerjakan dan aku akan melihat Annisa dulu," ucap Mahen.


"Iya, tapi ingat ya! cuma lihat Annisa nggak boleh curi start belum halal," ucap Hansen sambil tertawa.


Mahen melempar guling ke arah Hans, lalu pergi melihat Annisa. Dia tahu bagaimana Hans, makanya Mahen tidak bisa marah terhadap adiknya itu.


Hans menyeringai, sambil menangkap guling yang melayang ke wajahnya.


Mahen mengetuk pintu kamar Devani, sambil berkata, "Van, ini aku Mahen, tolong buka sebentar pintunya.


Devani membuka pintu dan bertanya, "Ada apa Hen?"


"Apa Annisa sudah tidur?"


"Sudah, memangnya kenapa Hen?"


"Oh, ya sudah. Aku lupa beri ciuman selamat tidur dan lupa bilang, bahwa pihak sekolah tadi telepon, besok pagi mereka akan pergi ke museum daerah jadi datang jam 9 pagi dengan membawa bekal serta memakai seragam olahraga," ucap Mahen.


"Baiklah, besok pagi aku akan membangunkan dan mengatakannya kepada Annisa. Jadi, siapa yang akan mengantar Annisa ke sekolah Hen?" tanya Devani.


"Bus sekolah yang akan menjemput, berhubung mau ke museum 'kan melewati rumah ini." ucap Mahen.


"Tidurlah Van, aku akan kembali ke kamar. Oh ya, besok setelah kembali dari makam kita ke cafe ya, untuk penuhi janjiku terhadap mereka dan mengundang anak-anak itu seperti yang kamu inginkan," ucap Mahen.


"Tapi Hen, batalin saja deh, mengundang mereka, pasti ada Bastian di sana? biasanya malam sabtu giliran dia mengajar anak-anak itu," ingat Devani.


"Memangnya kenapa? Kamu takut atau memang tidak ingin dia datang ke pernikahan kita?" tanya Bastian.


Devani diam hingga membuat Mahen penasaran, kemudian Mahen berkata lagi, "Apa kamu menyesal Van?"

__ADS_1


Devani menatap Mahen, lalu berkata, "Aku tidak pernah menyesali semua keputusan yang sudah aku buat."


"Kalau begitu tak perlu takut, dia harus terima kenyataan bahwa hubungan kalian memang sudah berakhir dan itu akibat kesalahannya sendiri," ucap Mahen sambil mendekati Devani dan menyelipkan rambut terurai yang menutupi sebagian wajah Devani ke bagian belakang telinganya dan berkata, "Terimakasih sudah memilihku, aku janji akan membahagiakanmu," ucap Mahen sambil merengkuh Devani serta mencium keningnya.


"Tidurlah, aku ingin kamu jangan risaukan apapun lagi, pernikahan kita hanya tinggal dua hari, dan itu yang paling penting dan harus kita pikirkan."


Devani mengangguk, lalu menutup pintu setelah Mahen berbalik dan kembali ke kamarnya.


Sambil memegang keningnya, dan kedua pipin yang merona malu, Devani pun merebahkan tubuhnya ke kasur.


Ini pertama kali Devani mendapatkan ciuman dari seorang pria, dan dia tidak pernah menyangka kalau ciuman pertamanya itu dari orang yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan akan menjadi pendamping hidupnya.


Semua perlakuan Mahen dulu terhadapnya, satu persatu mulai melintas di ingatan. Rasanya Devani tidak percaya lelaki yang menurutnya dulu paling menyebalkan dua hari lagi akan menjadi suaminya.


Rasa lelah membuat Devani tertidur dan bermimpi, Devina kembarannya datang sambil memberikan sebuah kotak kecil yang sangat indah sambil berkata, "Simpanlah Van dan jagalah! kini milikku yang paling berharga adalah milikmu."


Setelah mengatakan hal itu, Devina pun mengelus wajah putrinya dan berlalu pergi dengan tersenyum.


Dia ingin meminta petunjuk dari Allah, jika keputusan yang dia ambil memang sudah mantap dan tidak ada lagi keraguan.


kemudian Devani mendoakan almarhumah Devina agar tenang dan mendapatkan tempat terbaik di sana, serta meminta agar rumah tangganya nanti akan senantiasa mendapatkan ridho dari-Nya.


Setelah selesai diapun kembali tidur bersama Annisa hingga menjelang subuh.


Para penghuni rumah sudah pada bangun untuk melaksanakan aktivitasnya seperti biasa, Devani juga sudah selesai menyiapkan sarapan saat Mahen menghampirinya dan berkata, "Selamat pagi sayang," ucap Mahen yang membuat Devani merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Mahen yang melihat Devani terpaku dengan piring di tangannya pun tersenyum sambil berkata, "Kenapa Sayang?"


"Kamu..." Devani menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Mahen mencium keningnya sambil berkata, "Maaf, jika selama ini aku terlalu kaku, aku memang bukan tipe orang yang romantis," ucap Mahen.

__ADS_1


"Namun aku akan belajar, akan berubah perlahan demi kamu, demi rumah tangga kita kedepannya. Aku mohon kamu juga ubahlah panggilanmu terhadapku nanti setelah kita menikah," pinta Mahen.


"Aku juga bukan tipe romantis, jujur saja, ciuman kamu tadi malam adalah yang pertama bagiku," ucap Devani malu sambil menyendokkan nasi goreng untuk Mahen.


"Aku tahu, kamu tadi malam sangat gugup, wajahmu memerah seperti tomat. Jika kamu terbiasa dengan hal seperti itu, pastilah bakal menuntut lebih seperti kebanyakan wanita di luar sana," ucap Mahen sambil menerima sarapannya dari tangan Devani.


"Kamu pasti punya banyak pengalaman tentang hal itu, apalagi selama kembaran ku tiada, kamu kan sering pergi ke club. Menurut yang ku dengar, di sana banyak sekali wanita seksi yang kerjanya menggoda dan melayani pelanggan," ucap Devani sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


Mahen yang sama sekali belum menyentuh sarapannya mengangakan mulutnya, minta Devani untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Boleh 'kan? Aku ingin makan dari suapan tanganmu dan juga makan sepiring dengan calon istriku," pinta Mahen sambil tersenyum sangat manis.


Devani merasa Mahen sekarang sangat berbeda, tapi dia sangat senang dengan perubahan pria di hadapannya ini.


Sambil mengulurkan sesendok nasi goreng dari piringnya Devani pun bertanya, "Kamu yang sekarang jauh berbeda dari Mahen sebelumnya."


"Demi kamu, aku akan berubah. Satu hal yang harus kamu percaya, walaupun aku keluar masuk club malam belakangan ini, satu kali pun aku belum pernah menyentuh wanita-wanita itu. Wanitaku cuma kalian berdua, Devina dan kamu."


"Aku menyesal Van, telah melampiaskan stres pikiranku terhadap alkohol, dan aku malu terhadapmu yang selama ini, aku pikir pergaulanmu lebih parah dari itu," ucap Mahen sambil mengangakan kembali mulutnya minta lanjut disuapi.


Mereka tidak sadar jika para orang tua memperhatikan interaksi keduanya dari balik pintu menuju dapur.


Mama dan Papa berdehem sambil masuk, hingga membuat Devani malu dan menunduk.


Mahen pun berkata, " Eh! Papa, Mama, ayo kita sarapan," ucap Mahen yang juga malu.


Kalian tidak usah malu, papa mama juga pernah muda, iya 'kan Jeng?" tanya mama Mahen kepada Mama Intan.


"Iya Nak, nggak perlu malu untuk menunjukkan perhatian kepada pasangan, karena dengan begitu hubungan kalian akan semakin dekat. Kami senang melihat kalian bisa seperti ini, mudah-mudahan kedepannya kehidupan rumah tangga kalian bahagia," ucap Mama Intan.

__ADS_1


Semua bahagia dan mengaaminkan doa mama. Devani pun mempersilakan para orang tua untuk menikmati sarapan yang telah dia sajikan.


__ADS_2