
Mahen buru-buru pulang ke rumah keluarga Andara, dia ingin memastikan apakah Devani memang benar menghilang atau sudah kembali ke rumah.
Saat dia tiba di rumah, mama Intan dan Papa Andara dan orangtuanya serta Hans sudah berkumpul di sana.
"Bagaimana Ma, Pa, sudah ada kabar tentang Devani?" tanya Mahen.
"Belum ada Nak, bagaimana ini?" tanya Mama Intan yang terlihat sangat cemas.
"Coba ceritakan Ma, Hans, bagaimana kejadiannya sampai Devani menghilang?" tanya Mahen kepada Mamanya dan juga Hans.
"Maafkan Mama Hen, tadi kami meninggalkan Devani di tempat Spa sendirian, karena Mama mengajak Annisa untuk jalan-jalan ke mall daripada bosan menunggu Devani melakukan perawatan. Dan setelah kembali, kami tidak menemukan Devani ada di sana," ucap Mama merasa Mahen yang merasa bersalah.
Kemudian Mama melanjutkan ucapannya, "Mama sudah bertanya kepada pemilik dan karyawan Spa Hen, kata mereka Devani tidak jadi melakukan perawatan. Mereka melihat Devani menerima telepon, lalu pergi meninggalkan tempat itu."
"Sekarang kita tenang dulu, barangkali Devani sedang ada urusan di tempat lain. Kita tunggu mudah-mudahan dia akan segera kembali," ucap Papa Andara.
"Tapi Pa, jika tidak kembali juga bagaimana? karena menurut Mama aneh kenapa teleponnya tidak bisa dihubungi," ucap Mama Intan.
"Ya mungkin mungkin saja hp-nya sedang lowbat Ma, kita tunggu sebentar lagi, siapa tahu dia kembali," ucap Papa Andara lagi.
"Atau kita lapor polisi saja!" ucap Mama Mahen.
"Tidak bisa Jeng, lapor polisi, syaratnya harus menghilang 2×24 jam," ucap Papa Andara.
"Iya Ma, betul kata Andara," timpal Papa Emir.
Mahen gelisah, dia mondar-mandir keluar masuk melihat ke arah jalanan, berharap Devani segera kembali.
Melihat putranya yang cemas, Papa Emir pun mendekati Mahen, lalu berkata, "Duduklah Nak! Tenangkan dirimu, sebentar lagi Devani pasti kembali," ucap Papa Emir.
"Perasaanku tidak enak Pa, sepertinya terjadi sesuatu dengan Devani," jawab Mahen.
"Kalau begitu, kita pergi saja cari Devani yuk Kak!" ucap Hans.
"Mau cari di mana Hans? Jakarta begitu luas," ucap Papa Emir.
"Barangkali dia bertemu teman-temannya, tidak ada salahnya jika kita samperin ke sana. Lu, tahu kan Hen? Dimana tempat biasa Devani dan teman-temannya nongkrong?" tanya Hans.
"Iya, aku tahu Hans," jawab Mahen.
"Kita tunggu sebentar lagi, siapa tahu dia kembali," ucap Papa Andara lagi.
"Baiklah Pa, kita tunggu setengah jam lagi, tapi kalau Devani tidak kembali juga, aku tidak bisa menunggu diam di sini, Aku harus mencari dia!" ucap Mahen.
"Ya Hen, kami juga akan ikut mencari," ucap Papa Andara.
__ADS_1
Mereka pun menunggu kedatangan Devani dengan harap-harap cemas, tapi Devani tidak juga pulang.
"Aku harus pergi sekarang Pa, Ma! Aku tidak bisa diam seperti ini terus, aku harus cari Devani, takutnya terjadi apa-apa dengan dia karena ponselnya tetap tidak bisa dihubungi sampai sekarang," ucap Mahen.
"Aku ikut ya Kak!" ucap Hans.
"Mama juga ikut Hen!" ucap mamanya.
"Mama di rumah saja, siapa tahu ada kabar tentang Devani, jadi kita bisa saling beri kabar. Jika kami nanti menemukan Devani, kami akan segera hubungi Mama Papa," ucap Mahen.
"Kalian akan mencari ke mana Hen?" tanya Papa Andara.
"Aku akan coba menemui teman-temannya Pa! Di cafe tempat biasa mereka ngumpul, barangkali ada yang melihat Devani pagi tadi."
"Ya sudah, kalian hati-hati ya, kalau ada apa-apa cepat kabari kami," ucap Papa Andara dan Papa Emir.
"Kami berangkat ya Pa, Ma," pamit Mahen dan Hansen.
Mahen sudah berlari keluar menuju mobilnya, hingga membuat Hans juga ikut berlari mengejarnya.
Dengan kecepatan diatas rata-rata, Mahen melajukan mobilnya, ke cafe tempat biasa Devani, Bastian serta teman-temannya nongkrong.
Sesampainya di cafe, Mahen bertanya, apakah mereka tadi pagi melihat Devani datang ke tempat itu. Ternyata tidak seorang pun yang melihatnya.
Melihat Mahen stres, mereka menyarankan agar Mahen ke tempat balapan, barangkali Devani ada datang kesana.
Tempat itu terlihat sepi, tidak seorangpun teman Devani ada di sana.
Mahen coba menghubungi Bastian, tapi nomornya juga tidak aktif.
"Bagaimana ini Hen, kemana lagi kita akan mencarinya?" tanya Hans.
"Ayo ikut aku, kita cari Bastian ke rumahnya, aku curiga Hans, hilangnya Devani ada hubungannya dengan dia," ucap Mahen.
"Atau Devani memang sengaja pergi Hen karena dia tidak ingin menikah denganmu," ucap Hans.
"Itu tidak mungkin Hans, aku lihat sendiri, bagaimana dia menolak Bastian karena dia tetap pada pendiriannya ingin menikah denganku," ucap Mahen.
"Ya sudah, ayo kita ke rumah Bastian," ajak Hans.
"Memangnya kamu tahu, Bastian tinggal dimana?" tanya Hans.
"Sebentar, aku telepon dulu teman mereka untuk menanyakan dimana rumah orangtua Bastian," ucap Mahen.
Mahen pun menghubungi teman Devani yang ada di cafe, setelah mendapatkan alamat rumah Bastian Mahen segera mengajak Hans kesana.
__ADS_1
Setibanya di sana, rumah itu tampak lengang, hanya ada penjaga pintu masuk. Melihat Mahen dan Bastian celingukan, penjaga pintu menghampiri mereka dan bertanya, "Maaf Dek, cari siapa ya?"
"Bastiannya ada di rumah Pak?" tanya Mahen.
"Den Bastian, sejak tadi pagi keluar Dek," jawab penjaga pintu masuk rumah Bastian.
"Kira-kira kemana ya Pak?"
"Saya kurang tahu Dek, biasanya jika Den Bastian keluar menggunakan mobil Jeep nya pasti perginya jauh. Kalau hanya bertemu teman-temannya, Den Bas sering menggunakan motor."
"Oh, gitu ya Pak. Terimakasih ya Pak, kalau begitu kami permisi," ucap Mahen.
"Ada pesan Dek? Biar saya sampaikan jika Den Bas pulang."
"Bilang saja Pak, Mahen yang datang."
"Baiklah Dek, nanti akan saya sampaikan."
Mahen dan Hans pergi meninggalkan rumah Bastian, mereka bingung akan kemana lagi mencari Devani.
Akhirnya, Mahen putuskan untuk berkeliling saja, berharap menemukan petunjuk. Tiba-tiba teleponnya berdering, Mahen buru-buru melihatnya, ternyata dari Gara.
Mahen menepuk keningnya sendiri, kenapa dia sampai lupa mengabari Gara bahwa siang ini tidak bisa menemuinya.
"Hallo, Hen! Dimana? Aku sudah sejak tadi menunggu kalian lho," ucap Gara.
Maaf Gar, aku tidak bisa ke sana, aku lupa kasi tahu kamu karena sedang panik," ucap Mahen.
"Memangnya ada apa Hen, apa yang membuat seorang Mahen bisa panik?" tanya Gara.
"Devani hilang!" jawab Mahen.
"Apa! Kok bisa? Memangnya calon istri kamu kemana?"
"Entahlah Gar, aku khawatir dia di culik," ucap Mahen lagi.
"Memangnya ada yang kamu curigai Hen?" tanya Gara lagi.
"Ada sih, tapi aku belum yakin," jawab Mahen.
"Aku turut prihatin Hen, besok hari pernikahan kalian, bagaimana jika dia tidak di temukan," ucap Gara semakin membuat Mahen cemas.
"Aku akan mencarinya terus Gar, sampai menemukannya. Jika dalam dua hari ini belum juga ada kabar, aku akan lapor polisi," ucap Mahen.
Kemudian Mahen berkata lagi, "Sudah dulu ya Gar, maaf telah membuat kamu menunggu. Aku akan keliling mencari Devani," ucap mahen.
__ADS_1
"Iya sobat, mudah-mudahan segera ditemukan ya," ucap Gara.
Setelah Mahen mengakhiri panggilannya, Gara segera menelepon Lusy. Dia curiga, hilangnya calon isteri Mahen ada hubungannya dengan obsesi Lusy yang ingin menggagalkan pernikahan Mahen.