BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 53. MELAMPIASKAN KEKECEWAAN


__ADS_3

Mahen pamit pergi ke kantor setelah menyelesaikan sarapannya. Sesuai janji, nanti sore dia akan menunggu mama dan yang lain di makam Devina. Mereka ingin berziarah sebelum acara pernikahan dilaksanakan.


Papa Andara juga pamit kepada besannya untuk pergi ke kantor, sementara Hans seperti biasa janjian pergi bersama teman-temannya.


Annisa yang sudah bangun dan telah dimandikan oleh Mbok Ijah, turun dan bermain dengan Opanya.


Sedangkan para mama yang penasaran dengan apa yang Devani serta Mahen beli kemaren, merasa kepo. Mereka bertanya apa Devani membeli lingerie untuk malam pertamanya atau tidak.


Devani hanya menggelengkan kepala, dia memang tidak membeli satu lingerie pun karena merasa malu dengan Mahen.


Mendengar pengakuan Devani, Mama Mahen jadi punya ide, beliau akan pergi ke mall untuk membelikan kado buat calon menantunya itu, yaitu berupa lingerie.


Melihat besannya tersenyum-senyum sendiri, mama Intan jadi curiga, lalu saat Devani pergi ke kamarnya, beliau pun langsung bertanya, "Ada apa Jeng, kok senyum-senyum sendiri? Aku jadi penasaran lho?"


"Begini Jeng, aku jadi punya ide kado apa yang mau aku berikan untuk pernikahan mereka," jawab Mama Mahen.


"Oh, gitu. Aku masih bingung nih, mau kasi kado apa buat mereka," ucap Mama Intan.


"Papa Devani sih bilang mau beliin rumah, eh ternyata Mahen sudah belikan rumah untuk Devani sebagai hadiah pernikahan. Rumahnya juga tidak jauh dari sini," ucap Mama Intan.


"Iya Jeng, Hans yang cerita. Syukurlah, mereka tidak tinggal jauh dari kalian, jadi masih bisa perhatikan keadaan orang tua dan besan pun bisa sering mengunjungi mereka jika rindu dengan Annisa."


"Benar, tadinya aku sempat takut, seandainya Devani di bawa Mahen ke rumah kamboja, kami bakalan jarang ketemu mereka dan di sini benar-benar sepi," ucap Mama Intan.


"Berarti mereka berdua sudah mendiskusikan hal itu Jeng, makanya memilih membeli rumah di dekat kalian."


Devani yang sedang berada di kamarnya pun sibuk menyusun barang-barang yang mereka beli kemaren. Dia tidak menyangka jodohnya ternyata kakak iparnya sendiri.


Jika dipikir-pikir rasanya janggal dan malu, tapi mungkin ini memang takdir perjalanan hidupnya.


Devani kembali teringat Bastian, bagaimanakah kondisi pria yang dia cintai itu. Sebenarnya dia tidak tega melihat Bastian hancur karena keputusannya, tapi Devani juga tidak bisa mundur dari apa yang sudah di putuskan, karena akan banyak pihak yang terluka.

__ADS_1


Saat Devani memikirkan Bastian, tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata dari Nindi, temannya yang sering nongkrong di cafe bersama Bastian dan anak-anak.


Devani pun menerima panggilan tersebut, dia sangat terkejut, saat Nindi memberitahu jika Bastian melampiaskan rasa kecewanya dengan ikut dalam balapan liar di area terlarang, nanti malam.


Dengan perasaan gusar Devani pun berkata, "Tolong, kalian cegah dia! di sana sangat berbahaya, jangan sampai dia jadi korban, mati sia-sia dan jika hidup pun tiada berguna," ucap Devani.


"Sudah Van, tapi Bastian tidak mau mendengarkan omongan kami, jadi tolong Van, temui dia dan cegah dia! cuma kamu yang bisa menghentikan dia," ucap Nindi.


"Di mana dia sekarang, Nin?" tanya Devani.


"Kata anak-anak, hari ini ada latihan panjat tebing, mungkin saja saat ini dia sedang berada di sana." ucap Nindi.


"Baiklah Nin, terimakasih ya atas informasinya," ucap Devani.


"Sama-sama Van, kami sangat prihatin melihat keadaannya sekarang Van," ucap Nindi lagi.


"Iya aku tahu, aku akan coba mencegahnya," ucap Devina hingga membuat Nindi tenang.


"Aku tidak ingin terjadi hal buruk terhadap dia, tapi apa Mahen akan mengizinkanku pergi?" ucapnya lagi.


"Terserahlah jika Mahen marah, sekarang juga, aku akan menemui Bastian, bagaimanapun juga dia adalah temanku, aku harus mengingatkan dia, sebelum terlambat."


Devani pun membereskan barang-barang secepatnya, lalu dia bersiap, pergi menemui Bastian di tempat latihan panjat tebing sesuai yang diinfokan oleh Nindi.


Devani pamit dengan Mama, dengan alasan ada urusan penting dengan temannya, mama Intan mengizinkannya, tapi dengan syarat tidak boleh terlalu lama, pamali kata Mama Intan.


Devani pun setuju, dia berjanji akan kembali secepatnya, sebelum jam makan siang. Kemudian Devani bergegas ke garasi, mengeluarkan mobilnya dan pergi ke alamat yang di share oleh Nindi barusan untuk menemui Bastian.


Sesampainya di sana, Devani mencari-cari keberadaan Bastian, tapi dia tidak menemukannya.


Lalu Devani bertanya kepada teman-teman Bastian yang dia kenal dan temui di sana, tapi temannya juga menjawab, hari ini mereka belum melihat Bastian datang.

__ADS_1


Devani pun bingung, kemana dia harus mencari Bastian lagi. Dia mencoba menelepon ponsel Bastian, tapi nomor itu tidak pernah aktif, sejak saat dia menolak untuk kembali bersama Bastian tempo hari.


Akhirnya Devani memilih mengelilingi tempat tersebut, sebelum pulang, dia berharap bisa segera bertemu dengan Bastian.


Ternyata Devani beruntung, dia baru saja melihat mobil Bastian masuk ke parkiran tempat itu. Devani menunggu sampai Bastian keluar dari mobilnya, lalu dia pun mendekat sambil berkata, "Bas, tunggu! Aku ingin bicara!" seru Devani.


Bastian menoleh ke arah datangnya suara yang tidak asing baginya, dia terkejut, saat melihat Devani ada di tempat itu.


"Ada apa kamu mencariku Van? Bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi!" ucap Bastian.


"Tolong Bas, beri aku waktu sebentar saja, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," pinta Devani.


"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan Van, pergilah!" usir Bastian.


"Aku dengar kamu mau ikut balapan nanti malam di tempat yang berbahaya itu Bas?" tanya Devani.


"Memangnya kenapa? toh tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Celaka atau tidaknya aku, itu urusanku, kamu tidak usah ikut campur. Pergilah! Jangan pedulikan aku lagi!" ucap Bastian sambil berlalu meninggalkan Devani.


"Tunggu Bas! Sebentar saja, tolong dengarkan aku! Kamu harus membatalkan balapan itu, aku tidak mau terjadi apa-apa terhadapmu!" teriak Devani.


"Maaf! Tidak ada yang bisa melarangku, ini hoby ku, ini hidupku dan bukan lagi urusanmu atau siapapun!" ucap Bastian ketus.


Devani sedih melihat Bastian seperti ini, tapi dia pun bingung harus melakukan apa lagi untuk mencegah Bastian.


Devani mengejar Bastian lagi, lalu berkata, "Maafkan aku Bas, jika kamu melakukan ini semua karena aku, karena ingin melampiaskan kekecewaan dan kemarahanmu. Tolong Bas, pikirkan keselamatanmu, pikirkan orang-orang yang menyayangimu, terutama mamamu," pinta Devani.


"Pulanglah! Aku sibuk, masih ada pekerjaan yang harus ku lakukan," ucap Bastian tanpa menghentikan langkahnya.


Devani pun kehabisan akal dan kata-kata, dia memandang Bastian yang pergi tanpa menoleh lagi ke arahnya. Bastian benar marah dan terluka.


Kini tidak ada pilihan lagi selain pergi meninggalkan tempat itu dan pulang sesuai janjinya kepada sang mama.

__ADS_1


__ADS_2