BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 67. KHAWATIR


__ADS_3

Devani kembali mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya, keringat dingin pun bercucuran karena menahankan rasa sakit, hingga membuat Mahen semakin khawatir.


"Sabar ya Sayang, sebentar lagi kita sampai," ucap Mahen sambil menghapus keringat di dahi Devani dengan saputangannya.


Mobil Mahen sudah memasuki halaman rumah keluarga Andara, Papa Andara dan Papa Emir berlari keluar saat melihat Mahen turun dari mobil sambil menggendong Devani.


"Sini Nak, biar Papa bantu menggendong Devani," pinta Papa Andara.


"Nggak apa-apa Pa, biar aku saja yang bawa masuk, Dokter sudah datang Pa?" tanya Mahen.


"Sudah, beliau menunggu di dalam," ucap Papa Andara.


Mahen bergegas, menggendong Devani ke kamarnya lalu merebahkan di atas kasur. Dokter langsung memeriksanya dan mengatakan jika penyakit lambungnya kambuh.


Seperti biasa Dokter memberikan suntikan serta obat lambung yang biasa di konsumsi Devani saat penyakitnya sedang kambuh.


Kemudian Dokter meminta agar Devani di beri makan bubur dulu serta jangan konsumsi makanan yang pedas sampai kondisinya stabil.


Setelah di beri minum obat, Devani pun tertidur, lalu Mahen menyelimuti tubuhnya. Mahen tidak beranjak dari sisi Devani, dia duduk di sofa yang ada di kamar itu, menunggu sampai Devani terbangun.


"Pergilah istirahat Nak, biar kami yang menjaga Devani," ucap Mama Intan.


"Iya Hen, kamu pasti lelah," ucap Mamanya.


"Nggak apa-apa Ma, biar aku saja yang menjaganya. Oh ya Ma, jika kondisi Devani tidak ada perubahan, sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit saja," ucap Mahen.


"Biasanya, jika sudah minum obat dari Dokter Rendra dan di bawa tidur saat terbangun kondisi Devani lebih baik," ucap Mama Intan.


"Mudah-mudahan saja ya Ma, Devani segera sembuh, tapi jika sampai besok tidak ada perubahannya kita akan bawa dia ke rumah sakit," ucap Mahen.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana dengan pernikahan kalian?" tanya Mama Intan.


"Kita tunda saja Ma, sampai Devani sehat," jawab Mahen.


"Kalau malam nanti kondisinya membaik, jangan ditunda lagi Hen, nggak baik pernikahan yang sudah direncanakan dengan matang, ditunda-tunda lagi, pamali!" ucap mamanya.


"Iya Ma, aku tahu, mudah-mudahan Devaninya segera membaik."


"Oh ya Hen, bagaimana dengan Bastian? Apakah akhirnya dia ikhlas melepaskan Devani?" tanya Mama.


"Dia harus ikhlas Ma, karena itu sudah keputusan Devani."


"Syukurlah Devani tetap teguh pada pendiriannya, mudah-mudahan rumah tangga kalian bahagia, tidak ada lagi bayang-bayang Bastian. Mama doakan pernikahan kalian nantinya sakinah, mawaddah dan warahmah," ucap Mama Intan.


"Aamin, terima kasih Ma. Itu yang kami harapkan."


"Oh ya Hen, Mama akan ke kamar Annisa sebentar, tadi dia menunggu kalian kembali hingga tertidur. Mama mau lihat dia dulu, jika sudah bangun, akan Mama bawa kesini."


Setelah kedua mama keluar, Mahen duduk di sisi tempat tidur Devani sambil memainkan ponselnya. Beberapa saat kemudian, diapun melihat tubuh Devani mulai bergerak.


Mahen mengelus kepalanya, lalu bertanya, "Bagaimana Van, apa perut kamu masih sakit?"


"Sudah mendingan kok Hen, kamu istirahat lah, jangan khawatir. Aku sudah sering mengalami hal seperti ini. Dengan istirahat cukup dan makan teratur, nanti juga bakal membaik."


"Syukurlah. Sebentar ya, aku akan ke dapur mengambilkan minum dan makanan untuk mu, kamu tetap berbaring saja ya!" ucap Mahen.


Devani pun menuruti perintah Mahen, dia tiduran sambil mengotak-atik ponselnya. Di sana Devani melihat ada beberapa kali panggilan tak terjawab dari Bastian.


Dia hanya bisa menghela nafas, kenapa Bastian masih saja belum mengerti dan belum ikhlas jika mereka tidak mungkin balikan lagi.

__ADS_1


Ketika melihat Mahen kembali, Devani buru-buru menyimpan ponselnya di balik bantal, karena Devani tidak mau membuat Mahen khawatir dan resah melihat Bastian yang belum juga menyerah.


"Ada apa? kenapa kamu sembunyikan ponselmu? Apa ada telepon dari Bastian lagi?" tanya Mahen.


"Nggak kok," ucap Devani.


"Buka mulutmu, biar aku yang suapin Van," pinta Mahen.


Devani pun memakan bubur yang di ambilkan oleh Mahen sesuap demi sesuap hingga hampir habis dalam mangkuknya. Setelah itu, Mahen memberinya minum. Devani bersyukur, Mahen begitu telaten melayani dirinya yang sedang sakit.


"Terimakasih Hen, kamu sudah selamatkan aku dari obsesi Bastian. Jika kamu tidak datang, mungkin Bastian akan nekat, dia meminta agar aku menikah dengannya. Kami sudah selesai, Hen."


"Sudah jangan diingat lagi, yang terpenting sekarang pikirkanlah kesehatanmu dan pernikahan kita besok," ucap Mahen sambil mengecup kening Devani.


"Terimakasih, masih teguh dengan pilihanmu, aku merasa tersanjung," ucap Bastian sambil menggenggam erat tangan Devani.


Devani mengangguk, dia tidak tahu kenapa perasaannya sekarang semakin aneh, saat Mahen mendekatinya. Dan dia tidak merasakan hal itu saat tadi siang bersama Bastian.


Apa mungkin ini yang dikatakan jodoh, dan Devani tidak tahu kapan cinta datang dan pergi dari hatinya.


Pengaruh obat masih membuat Devani mengantuk, hingga saat Mahen membelai rambutnya diapun kembali tertidur.


Mahen mengecup kening Devani kembali, sembari mengucapkan selamat malam. Setelah itu diapun kembali merebahkan diri di atas sofa dan tertidur.


Keduanya terbangun ketika mendengar panggilan untuk beribadah berkumandang, lalu Mahen bersiap melaksanakan kewajiban kepada Rob begitu juga dengan Devani.


Pagi ini Mahen menjadi imam sholat pertama kali bagi Devani menjelang pernikahan mereka di langsungkan.


Sambil menunggu aku update lagi, mampir yuk ke karya sahabatku, nggak kalah seru lho, yuk kepoin ya dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian di karya kami🙏♥️

__ADS_1



__ADS_2