
"Lusy! Apa yang telah kamu lakukan, kamu jangan gila ya, pakai adegan culik menculik! Pokoknya, aku tidak mau tahu, kalau sampai Mahen meminta bantuan polisi, aku tidak ingin terlibat!" ucap Gara yang marah melalui telepon.
"Apa maksud kamu Gar, aku saja belum melakukan apapun! Enak saja kamu bilang aku menculik, memangnya siapa yang aku culik!" ucap Lusy.
"Jadi bukan kamu yang menculik calon istri Mahen?"
"hahaha...calon istri Mahen diculik? syukur deh, aku tidak susah turun tangan lagi, semuanya sudah ada yang melakukannya. Mudah-mudahan tidak usah kembali lagi, jadi Mahen stres dan aku akan menghibur dan menjadikan dia milikku," ucap Lusy senang.
"Jadi benar bukan kamu yang menculiknya Lus?"
"Kok Lu, nggak percaya amat sih Gar, sama aku. Sejak kapan aku bisa bohong sama kamu!"
"Kalau begitu siapa ya?" tanya Gara.
"Barangkali mantan cowok gadis itu atau ada wanita lain lagi yang seperti ku, menyukai Mahen dan tidak ingin melihat dia menikahi orang lain," ucap Lusy.
"Mungkin juga, kasihan Mahen. Terdengar suaranya di telepon sangat cemas. Tinggal besok hari pernikahan mereka 'kan!"
"Biarin! Aku sangat berharap, pernikahannya besok gagal," ucap Lusy.
"Terserah kamu deh Lus, tapi yang pasti aku tidak tega melihat Mahen kehilangan gadis itu, kecewa dan terpuruk lagi," ucap Gara sambil menutup ponselnya.
"Huh! yang duluan temenan sama kamu siapa, aku atau Mahen, kok dia jadi lebih membela Mahen sih!" monolog Lusy.
Lusy tersenyum mendengar berita diculiknya calon istri Mahen, Dewi Fortuna sedang ada dipihaknya saat ini. Diapun bergegas hendak pergi menemui Mahen, berpura-pura mau menanyakan masalah laporan pekerjaan yang sedang dia kerjakan.
Sementara Mahen dan Hans terus berkeliling, bahkan mereka mendatangi Spa dimana Devani menghilang, berharap Devani kembali lagi kesana.
Tapi kembali Mahen kecewa, dia tidak menemukan calon istrinya di sana.
"Kemana lagi kita akan mencari Devani ya Hans?" tanya Mahen sambil mengacak rambutnya, karena pikirannya sudah buntu.
"Coba kita balik lagi ke rumah Bastian Hen, barangkali kita bisa mendapatkan petunjuk dari sana," ucap Hans.
__ADS_1
"Ayolah kita coba, aku tidak boleh menyerah, Devani harus bisa kita temukan hari ini juga," ucap Mahen sambil melempar kunci mobil karena dia mau Hans yang menyetir.
Sementara di villa milik keluarga Bastian, Devani masih saja belum bisa mencari akal untuk keluar dari kamar tempat dia di kurung.
Bastian datang menemui Devani dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman karena saat ini sudah waktunya untuk makan siang.
"Ayo makan Sayang, aku membawakan makanan kesukaan kamu cah kangkung dan nila asam manis. Silahkan di nikmati Sayang," ucap Bastian sambil menyodorkan nampan tersebut ke hadapan Devani.
"Aku tidak ingin makan Bas, aku mau pulang!" teriak Devani sambil mendorong nampan tersebut kembali kepada Bastian.
"Please baby, ayolah nanti keburu dingin jadi tidak enak, aku suapin ya!" ucap Bastian sambil menyorongkan makanan yang sudah diambilnya dengan sendok.
"Aku tidak mau makan Bas!" ucap Devani sambil menampik sendok yang sudah ada di depan mulutnya, hingga makanan itupun berserakan di lantai.
Bastian mendesah, lalu dengan sabar dia membereskan makanan yang berserakan di lantai dengan menggunakan tissue.
Kemudian Bastian hendak berjalan keluar kamar tapi Devani memanggilnya, "Tunggu Bas! sebenarnya mau kamu apa dengan mengurungku seperti ini?" tanya Devani.
"Batalkan pernikahanmu dengan Mahen dan menikahlah denganku!" ucap Bastian serius.
"Nggak! Aku tidak bisa terima, kamu tidak mencintai Mahen Van, jadi untuk apa kamu menikah dengan dia! Nanti kamu bakalan menyesal! Kita saling mencintai Van, ayolah menikah denganku," ucap Bastian lagi.
"Kamu terlambat Bas, seandainya hal ini kamu tawarkan sebelum aku kecelakaan, mungkin dengan senang hati aku menerimanya tapi kemana saja kamu saat aku terkapar di sana!" seru Devani marah.
Kemudian dia melanjutkan ucapannya, "Cuma Mahen Bas, yang dengan sabar merawatku! Bahkan membuang kotoranku juga dia mau, dia tidak jijik sama sekali. Apa aku bisa mengkhianati dia, meninggalkan dia di hari pernikahan kami? Kamu sendiri pikir Bas, jika ada diposisi ku," ucap Devani.
Bastian diam, lalu kembali melangkah meninggalkan kamar itu dan menguncinya kembali.
Devani menggedor-gedor pintu kamar itu sambil menangis dan berteriak, memohon agar Bastian melepaskannya.
Pembantu di rumah itu merasa kasihan mendengar teriakkan Devani tapi mereka tidak berani berbuat apapun untuk membebaskannya.
Mereka tidak menyangka, Tuan muda yang selama ini mereka kenal baik, tega mengurung seorang gadis yang besok akan melangsungkan pernikahan.
__ADS_1
Bastian duduk di sofa yang menghadap kamar dimana Devani di kurung. Dia memijat kepalanya yang sakit, sebenarnya dia tidak tega melihat Devani ada di dalam sana tanpa mau makan sedikitpun.
Tapi dia juga tidak rela jika besok harus kehilangan Devani untuk selamanya.
Mama Bastian yang sedang kerepotan mengurus si kecil di rumahnya pun merasa bingung.
Beliau tidak tahu bagaimana cara menenangkan bayinya yang rewel karena biasanya Bastian lah yang berhasil menenangkannya, sedangkan ponsel Bastian sedari tadi tidak bisa dihubungi.
Kemudian Mama Bastian memanggil penjaga pintu, beliau ingin menanyakan apakah Bastian ada meninggalkan pesan atau tidak.
Saat itu datanglah Mahen dan Hans, hingga membuat mama Bastian menghampiri mereka dan bertanya, "Kalian siapa?"
"Maaf Bu, kami temannya Bastian dan ingin menanyakan apakah Bastiannya sudah pulang atau belum karena ada hal penting yang ingin kami tanyakan kepada dia," ucap Mahen.
"Den Bas belum juga pulang Dek," ucap penjaga pintu.
"Memangnya ada masalah apa ya yang ingin kalian tanyakan kepada anak saya?" tanya Mama Bastian.
"Begini Bu, bukannya kami menuduh, tapi calon istri saya menghilang saat pergi ke Spa, sementara terakhir yang menyebabkan calon istri saya itu terluka adalah Bastian," jelas Mahen.
"Apa! Kalian menuduh anak saya yang menculik calon istrimu! Jangan sembarangan menuduh Dek, jika tidak ada bukti," ucap Mama Bastian.
"Kami tidak bermaksud begitu Bu, kemaren Devani terluka gara-gara Bastian dan hari ini dia menghilang, sementara besok kami akan menikah dan yang membuat saya curiga, ponsel mereka tidak bisa dihubungi, jadi saya mohon Bu jika ada kabar tentang Bastian tolong hubungi saya. Ini nomor Hp saya Bu, sekali lagi kami mohon maaf dan kami permisi dulu, Bu," ucap Mahen sambil mengulurkan kartu namanya.
Ketika Mahen hendak naik ke mobilnya, Mama Bastian berkata, "Tunggu! siapa tadi nama calon istrimu?"
"Devani Bu!" jawab Mahen.
"Itu 'kan nama pacar Bastian?"
"Iya Bu, dulu. Mereka sudah putus beberapa bulan lalu, dan sekarang Devani adalah calon istri saya," jawab Mahen lagi.
"Baiklah Dek, nanti jika Bastian bisa dihubungi, saya akan kabari kalian. Tapi saya mohon kasus ini jangan sampai ke tangan polisi, saya tidak mau Bastian berurusan dengan polisi dan nama keluarga kami bisa tercemar," pinta mama Bastian.
__ADS_1
"Iya Bu, saya paham itu. Tapi jika sampai 2×24 jam Devani belum kami temukan, mohon maaf Bu jika kami terpaksa harus lapor," ucap Mahen.
Mama Bastian pun mengangguk, dia berjanji pasti akan menemukan Bastian sebelum 2x24 jam.