
"Bunda dan Papa beli apa, banyak sekali!" seru Annisa ketika melihat Mahen menurunkan barang-barang.
Om, Om Hans, bantu Papa dong Om!" seru Annisa kepada Hans yang baru saja sampai.
Hans sudah beberapa hari memang tidak menginap di rumah keluarga Andara, dia diajak oleh teman bisnisnya yang kebetulan bertemu di Indonesia untuk menginap di villa miliknya.
"Oke Sayang, kuli panggul siap menjalankan perintah Nona kecil," sahut Hans sambil menyingsingkan lengan bajunya.
Annisa pun tertawa riang, dia selalu berhasil di buat tertawa oleh Hans dalam setiap kesempatan.
"Berat ya Om?" tanya Anisa ketika melihat Mahen kesusahan mengangkat tas yang berisi pakaian baru yang Mahen dan Devani beli untuk mereka.
"Tenang Sayang, tidak ada yang berat bagi Om Hans, sudah makan bayam tadi, jadi kuat seperti Popeye si pelaut," ucap Hans sambil menunjukkan otot lengannya kepada Annisa.
Semua keperluan kalian sudah kamu beli Nak?" tanya mama Mahen.
"Sudah Ma, ini pakaian Mama, Papa dan Hans serta yang ini pakaian untuk mama Intan juga papa Andara," ucap Mahen.
"Perlengkapan untuk kalian pribadi apakah sudah semua dan yakin tidak ada yang tertinggal Hen? Soalnya hari pernikahan sudah sangat dekat," ucap Mama lagi.
"Sudah kok Ma, mahar, pakaian pengantin, alat make-up, mukenah, sepatu, sendal dan tas semua sudah kami beli," ucap Devani.
"Untuk urusan dalaman jangan lupa ya Sayang," ucap mama Mahen setengah berbisik sambil tersenyum.
"Sudah semua kok ma," ucap Devani.
"Jangan lupa Nak, kunci kebahagiaan rumah tangga yaitu membuat suami betah di rumah, ya salah satunya dengan service kita masalah itu," bisik Mama Mahen lagi hingga membuat Devani malu.
Ketika keduanya asyik berbincang perihal masalah wanita dan suami, Mahen pun berkata, "Ma, besok kita ziarah ya ke makam Devina."
"Bagaimana Jeng, kita pergi sama-sama?" tanya mama Mahen.
"Aku bisanya agak sore Ma, karena hari ini nggak ngantor 'kan, jadi pekerjaan pasti menumpuk," ucap Mahen.
"Ya sudah kita, kita sore saja ziarahnya Jeng," ucap mama Intan.
__ADS_1
"Baiklah kita ketemuan di makan saja ya," ucap Mahen.
"Bagaimana Van, kamu bisa 'kan?" tanya Mahen kepada Devani.
"Bisa Hen, karena aku belum mulai ngantor," ucap Devani.
"Ngomong-ngomong akad nikah jadi jam 9 pagi Jeng?" tanya mama Mahen lagi.
"Jadi, MUA rencananya datang jam 6, jadi bisa sekalian merias kita," ucap mama Intan.
Mama Mahen melihat Devani menguap, lalu beliau berkata, "Pergilah istirahat Nak! Kamu pasti capek!" ucap mama Mahen.
"Sebentar lagi Ma," jawab Devani.
"Oh ya, kamu di beri mahar apa sama anak mama? Boleh mama kepo 'kan?" tanya mama Mahen lagi.
Kemudian Devani mengeluarkan perhiasan dari dalam tasnya dan berkata, ini Ma, "Seperangkat perhiasan dan seperangkat alat sholat."
"Oh syukurlah, minta saja apa yang kamu mau ya, lagipula tidak akan bangkrut calon suamimu karena itu," ucap mama Mahen sambil tersenyum.
Mama Mahen pun mengangguk, lalu dia bertanya, "Ngomong-ngomong bulan madu kalian mau kemana? Devani tidak menginginkan pesta, setidaknya bawalah dia untuk berbulan madu, Hen?" ucap Mama.
"Aku terserah Devani saja Ma," jawab Mahen.
"Ke Turki saja Sayang, sekalian biar tahu rumah mama, toh itu rumah kamu juga," pinta mama.
"Iya Ma, nanti dibicarakan lagi dengan Mahen, kalau aku bagaimana bagusnya saja yang penting tidak mengganggu waktu kerja Mahen.
"Nggak bisa terserah dia! Mahen itu sama dengan papanya, gila kerja! jadi kita sebagai istri itu harus nomor satu, punya hak untuk bersenang dan bahagia."
"Mama jangan propokator dong! Aku bukan gila kerja lho Ma, tapi bekerja keras demi masa depan keluarga," ucap Mahen.
Mahen yang melihat Devani menguap lagi pun berkata, "Ma, kami ke kamar dulu ya, mau nyusun barang-barang, lagian Devani sudah mengantuk," ucap Mahen.
Pergilah! Devani biar beristirahat. Barang-barang besok saja kalian bereskan, kasihan dia jika malam ini masih harus repot.
__ADS_1
"Iya ma. Nisa ayo mau tidur dengan Papa atau bunda?" tanya Mahen.
"Sama Bunda. Ayo Bun, Nisa juga sudah mengantuk," ucap Annisa sambil menarik tangan Devani.
Sementara Mahen membawa barang-barang naik ke atas di bantu oleh Hans.
"Kak, malam ini aku boleh ya ikut tidur di kamarmu, soalnya temanku sedang keliling daerah. Aku tidak nyaman tidur sendiri di villanya," pinta Mahen.
"Boleh, tapi ingat! Kamu tidak boleh mengacau kamarku," ucap Mahen.
"Beres, aku juga sudah mengantuk jadi tidak punya waktu Kak, buat mengacau kamarmu," ucap Hans.
"Kamu tumpuk saja dulu barang-barang itu di kamarku, biar besok kami susun, kasihan Devani sudah lelah."
"Oke Bos. Oh ya Kak, saranku, foto almarhumah Kak Devina jangan dong dipajang lagi di sini, hargai perasaan Devani. Walaupun mereka Kakak beradik, tapi tidak ada wanita yang ingin hati suaminya memikirkan wanita lain, apalagi di saat malam pertama."
"Kamu sok tahu!" seru Mahen.
"Bukannya sok tahu Kak, tapi aku itu lebih tahu perasaan wanita ketimbang kamu."
"Oh jelas, kamu itu playboy cap kadal," ucap Mahen.
"Serius aku kak, jika di malam pertama kalian nanti, foto kak Devina sebesar itu masih terpasang di sini, yakinlah sama aku, kakak tidak akan pernah memiliki Devani seutuhnya. Bisa jadi dia akan pergi dari kakak, bukankah mantan pacarnya masih menunggu dia kembali. Nanti Kakak yang akan menyesal, seperti pepatah sudah kehilangan baru terasa," ucap Mahen.
Mahen memandangi semua foto Devina, lalu dia berkata, "Aku tidak tega untuk menurunkannya Hans. Aku akan terlihat seperti seorang anak, yang akan melupakan mainan lamanya setelah mendapatkan yang baru," ucap Mahen.
Kemudian Mahen berkata lagi, "Biarlah Hans, kamar ini tetap menjadi kamar kenangan buat kami berdua. Mengenai Devani aku sudah membeli rumah di dekat sini, jadi setelah pernikahan selesai kami akan tinggal di sana."
"Nah itu baru benar, terimakasih Kak, aku turut senang mendengarnya. Mengawali yang baru dengan rumah baru dan semua peralatan serba baru."
"Iya Hans, besok tolong kamu periksa rumah itu, aku sudah meminta toko perabotan untuk mengirim barang-barang yang aku pesan, langsung kesana sekaligus dengan perlengkapan kamar pengantin," ucap Mahen.
"Jika nanti ada yang menurutmu kurang bagus, langsung saja kamu minta ganti ke toko. Please, tolong kami ya Hans, soalnya besok aku tidak bisa bolos kerja lagi, sedangkan sore hari kami akan pergi ke makam," ucap Mahen.
Hans mengajak Mahen ngobrol banyak hal, lalu dia berkata lagi, jika setelah menikah, Kakak menemukan sisi buruk Devani, jangan sekali-kali, kakak banding-bandingkan dia, dengan Kak Devina. Ingatlah itu kak!" ucap Mahen.
__ADS_1