
"Sudah cukup Dek, biar kami yang memproses," ucap AKBP Wirya sembari memborgol kedua tangan Lusy.
Lusy tidak bisa berkata apapun, sekarang karirnya hancur dan ambisi cinta bukan malah mendekatkan dirinya kepada Mahen, tapi malah semakin menjauhkannya.
Orangtua Lusy menangis memeluk putrinya, mereka selama ini kurang memperhatikan jika Lusy tumbuh menjadi gadis yang ambisius dan nekad untuk mendapatkan cintanya.
Lusy hanya tertunduk dengan derai air mata membasahi kedua pipinya. AKBP Wirya bersama anak buahnya pun membawa Lusy serta pengelola cafe, ke kantor untuk memproses kasus tersebut.
Mahen menuntut Lusy agar di jatuhi hukuman seberat-beratnya, karena telah membuat Devani kehilangan kebahagiaannya.
Setelah mobil polisi meninggalkan rumah Lusy, Mahen dan yang lain kembali ke cafe untuk mengambil kenderaan mereka.
Mahen mengucapkan terimakasih kepada Bastian dan Gara serta Hansen, berkat mereka kasus ini bisa terungkap.
Sekarang tugas Mahen tinggal mengembalikan kepercayaan diri Devani, menyembuhkan kejiwaan Devani yang sempat terguncang akibat masalah tersebut.
Mahen dan Hansen pun kembali ke rumah dan menceritakan semuanya kepada Papa dan Mama serta mertuanya.
Mereka bersyukur, kasus itu sudah selesai dan sekarang para orang tua ingin melihat Mahen dan Devani melupakan masalah itu. Membina rumah tangga mereka kembali dan hidup bahagia.
"Semua sudah beres, kapan kamu akan membawa Devani ke Turki Hen?" tanya Mama.
"Dua hari lagi Annisa terima raport Ma, nah! lusanya kami berangkat," jawab Mahen.
"Kalau begitu kita sama-sama saja, biar besok Hans memesan tiket untuk kita semua."
"Oh ya, besan ikut ya!" ucap Papa Emir.
"Maaf, kami belum bisa untuk saat ini, biarlah anak-anak dulu yang ke sana. Nanti kami pasti nyusul," jawab Papa Andara.
"Pa, Ma, aku ke kamar dulu ya, ingin melihat keadaan Devani dan melihat Annisa apa sudah tidur atau belum."
"Pergilah Nak, kami juga akan beristirahat," ucap Papa Andara.
Sementara Hansen pamit, dia di telepon oleh sahabatnya, Hansen di minta datang ke Hotel Angkasa, ada perayaan atas keberhasilan temannya dalam memenangkan tender.
Setelah kepergian Hans, Papa dan Mama pergi ke kamar mereka masing-masing dan kini Mahen melihat ibu dan anak saling berpelukan tertidur di dalam selimut.
Mahen membersihkan dirinya, lalu ikut masuk bergelung bersama anak dan istrinya.
Namun, saat tangan Mahen memeluk tubuh sang istri, Devani sempat berteriak, dia trauma, teringat kejadian buruk yang telah menimpanya.
"Ini Aku Sayang, aku suami kamu. Tenanglah, semua sudah selesai."
Devani membuka mata dan dia melihat Mahen tersenyum, kemudian Mahen menarik Devani ke dalam pelukannya.
"Tiga hari lagi kita honey moon, kita lupakan semua masalah. Kamu harus bahagia seperti dulu, karena aku suka istriku yang dulu, yang periang dan sabar," ucap Mahen.
"Bukankah Annisa belum libur?" ucap Devani."
"Ya, tapi dua hari lagi, dia terima raport," ucap Mahen.
Mahen mencium Devani, dia rindu istrinya, tapi Devani masih merasa canggung saat Mahen mulai mencumbunya.
Devani masih merasa jijik akan tubuhnya yang telah di sentuh oleh pria lain.
Mahen yang sadar akan kecanggungan sang istri pun tidak berani memaksa, dia akan sabar sampai Devani benar siap untuk melayaninya.
__ADS_1
Mereka putuskan untuk tidur, besok pagi Mahen akan membantu Devani berkemas.
Devani merasa nyaman, tidur dalam dekapan suaminya, tapi menjelang dinihari dia terjaga dengan keringat dingin bercucuran di dahinya. Mimpi buruk telah membangunkan Devani, Dia terisak dan menggigil saat mengingat mimpinya tersebut.
Mahen yang mendengar suara isak tangis pun terbangun. Kemudian dia duduk dan melihat Devani yang menggigil di balik selimut.
"Ada apa Sayang, kamu sakit?" ucap Mahen sembari menarik tubuh Devani ke dalam pelukannya.
Devani membenamkan wajahnya di dada Mahen dan tangisnya pun pecah.
"Kamu kenapa? Ceritalah Sayang, aku tidak mau melihatmu bersedih lagi," ucap Mahen.
"Aku mimpi buruk Kak, ada seorang bayi minta gendong," ucap Devani.
"Baguslah Sayang, berarti itu mimpi baik, mudah-mudahan putra kita segera ada di sini," ucap Mahen sembari tersenyum dan mengelus perut sang istri.
"Tapi..." ucap Devani. Dia ragu untuk meneruskan ceritanya.
"Ceritalah! Aku siap mendengarkan, bukankah mimpi itu bunga tidur? Jadi tidak usah khawatir. Ayo tersenyum, dan ceritakan ke aku sayang," pinta Mahen.
Kemudian Devani menceritakan mimpinya, dia melihat seorang anak bayi mengulurkan tangan. Dan Devani menggendong bayi tersebut, tapi di kanan kirinya, terlihat Mahen dan Gara juga mengulurkan tangan.
Devani menangis sambil berkata, "Aku takut Kak!"
Mahen memegang bahu Devani dan berkata, "Pandang aku! lihat mataku, kamu percaya aku atau tidak?"
Devani pun menatap manik mata suaminya lalu dia mengangguk dan berkata, "Aku percaya kepada Kak Mahen."
"Apapun yang terjadi, aku ikhlas. Aku akan mencintaimu selamanya. Aku akan memberikan cintaku seperti yang kamu minta, bahkan lebih. Jadi, sekarang tersenyumlah. Kita akan songsong hari depan, berbahagia bersama anak-anak kita nantinya."
"Terimakasih Kak, pantaslah Devina begitu mencintai Kak Mahen dan aku bersyukur, Allah memberiku kesempatan untuk mencintai dan mendapatkan cinta dari Kakak."
Mahen memperlakukan Devani dengan lembut dan mesra untuk menghilangkan traumanya. Kini keduanya pun tenggelam dalam cumbuan yang sama mereka rindukan.
Ketika keduanya siap untuk melakukan penyatuan, tiba-tiba perut Devani mual dan sangat ingin muntah.
Secara repleks, Devani mendorong tubuh Mahen, hingga Mahen terkejut dan hampir saja terjatuh dari atas tempat tidur. Devani berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.
Mahen langsung menyusul sang istri, memijat tengkuknya hingga Devani selesai memuntahkan semuanya.
Setelah melihat Devani tenang, Mahen membersihkan sisa muntahan di mulut Devani. Dia dengan telaten membersihkan tubuh sang istri dan menggendongnya kembali ke tempat tidur.
Mahen mengambil minyak kayu putih milik Annisa lalu membalurkan ke perut Devani dan memakaikan baju serta selimut. Setelah semua kembali bersih barulah dia bertanya, "Bagaimana Sayang, sudah lega? Apa perut kamu sakit? Barangkali kamu masuk angin. Belakangan ini kamu juga tidak teratur makan dan minum," ucap Mahen.
Belum sempat Devani menjawab, kembali perutnya bergejolak, dia ingin muntah kembali.
Mahen yang melihat hal itu langsung menggendong Devani kembali ke kamar mandi. Namun, belum sampai ke kamar mandi, Devani sudah muntah dan mengenai tubuh Mahen.
"Maaf Kak!"
"Nggak apa-apa Sayang, aku bersihkan kamu dulu baru aku mandi," ucap Mahen.
Mahen membersihkan tubuh Devani dulu, barulah membersihkan tubuhnya sendiri. Setelah itu Mahen menggendong Devani kembali ke tempat tidur dan menyelimutinya.
"Sebentar ya sayang, aku pakaian dulu," ucap Mahen.
Mahen pun berpakaian, setelah itu dia memakaikan baju Devani dan mengambil ponselnya. Karena khawatir dengan kesehatan Devani, Mahen langsung menelepon dokter keluarga agar segera datang untuk memeriksa sang istri.
__ADS_1
Walaupun jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari, tapi Dr. Aldy tetap bersedia datang.
Dr. Aldy memang di kenal sebagai dokter yang sangat baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tanggungjawabnya.
Beliau akan datang kapanpun pasien membutuhkan bantuannya, tidak memandang miskin ataupun kaya.
Mahen membangunkan orangtua dan mertuanya untuk menemani Devani, sementara dia membuatkan air jahe untuk mengurangi rasa mual yang dirasakan oleh sang istri.
Sekitar 30 menit menunggu, Dokter Aldy pun tiba. Dokter segera mengeluarkan peralatannya dan melakukan pemeriksaan terhadap Devani.
Setelah selesai memeriksa dan mencek denyut nadi di tangan Devani, Dokter pun tersenyum sembari berkata, "Selamat Dek, kalian akan mendapatkan momongan."
"Apa Dok! Devani hamil?" tanya Mahen tidak percaya.
Dokter pun mengangguk sambil tersenyum dan berkata, "Kalau perkiraan saya tidak salah, kehamilannya sudah memasuki usia 5 minggu. Tapi, untuk lebih akuratnya, bawalah istrimu ke ahli kandungan supaya bisa di berikan vitamin untuk menguatkan kandungannya. Ini hanya saya beri obat anti mual yang aman untuk ibu hamil," ucap Dokter Aldy.
"Terimakasih Dok."
Semua yang mendengar berita itu merasa senang, terutama Papa dan Mama. Mereka secara bersamaan mengucapkan hamdalah sebagai ungkapan rasa syukur.
Mahen memeluk Devani, keduanya pun menangis mendapatkan anugerah terindah dalam rumah tangga yang belum seumur jagung mereka bina.
"Terimakasih Sayang, Allah telah menggantikan kesedihanmu dengan kabar terindah ini," ucap Mahen sembari mencium perut Devani.
"Kamu baik-baik saja di dalam perut Bunda ya sayang, jangan membuat Bunda sakit ataupun sedih," ucap Mahen kepada calon bayinya dan terus menciumi perut Devani.
Kedua besan saling peluk, mereka bersyukur Devani hamil lebih awal jadi tidak membuat mereka ragu akan status bayi tersebut. Bayi dalam kandungan Devani adalah cucu mereka, anak dari Mahen dan Devani bukan anak dari Gara.
Devani dan Mahen lega, mereka menangis bahagia. Kebahagiaan itupun membuat Annisa terbangun. Bocah kecil itu mengucek-ucek mata, dia heran melihat semua berkumpul di sana.
Mahen memeluk Annisa, lalu mengatakan jika dia sebentar lagi akan memiliki seorang adik. Annisa bersorak, lalu menghambur ke dalam pelukan sang Bunda. Mahen memeluk anak dan istrinya sembari mengucapkan rasa syukur dan berharap kebahagiaan terus menghampiri keluarga kecilnya itu.
"Nah, karena kondisi Devani masih hamil muda, honey moon harus di tunda, kami yang akan tinggal di sini lebih lama untuk menemani menantu kami," ucap Mama Mahen.
"Iya benar Jeng, tidak baik melakukan perjalanan saat masih hamil muda," timpal Mama Intan.
"Iya Deh, aku mengalah demi bayiku," ucap Mahen sembari memegangi perut Devani.
Di balik musibah, ternyata Allah telah menyiapkan hadiah terindah untuk rumah tangga Mahen dan Devani. Hadiah yang tidak ternilai, lebih mahal dari apapun yang ada di dunia ini.
~TAMAT~
Terimakasih kepada para readers, semoga dukungan kalian membawa keberkahan dan semoga terhibur ya. Mampir yuk para sobat ke karyaku yang lain, silahkan cek karya-karyaku di bawah ini ya, Terimakasih 🙏♥️
Karya on going :
1. MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
2. RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
NB : Masih rencana ikut event karya pria Super Sistem. Insyaallah, berharap tetap diberikan kesehatan dan kelancaran ide.
__ADS_1
