
Seminggu sudah pernikahan Mahen berlalu, kini mama dan papanya memutuskan untuk kembali ke Turki, sedangkan Hans sudah pulang duluan tiga hari yang lalu karena ada urusan perusahaan yang mendesak.
Mama dan Papa Mahen sudah merasa tenang untuk meninggalkan putranya yang telah mendapatkan kebahagiaan dalam bahtera rumah tangganya. Sekarang yang harus mereka pikirkan adalah jodoh untuk Hansen. Jika dalam setahun kedepan Hansen tidak membawa calon istrinya, mama mengancam akan mencarikan jodoh untuknya.
Keduanya pamit kepada besan, lalu Opa Emir menghampiri Annisa dan menggendongnya membawa ke mobil. Mahen, Devani dan Annisa akan mengantar mereka ke bandara.
Setibanya di bandara, Papa dan Mama Mahen pamit, mereka berpesan agar keduanya selalu akur dan harus datang ke Turki saat Annisa libur sekolah nantinya.
Mahen memeluk Papa dan mamanya lalu mengucapkan selamat jalan, begitu juga dengan Devani dan Annisa.
Mama berpesan agar Devani rajin meminum jamu yang beliau belikan agar rahimnya subur dan cepat di beri momongan.
Devani bahagia dan bersyukur, dia tidak pernah menyangka bisa mendapatkan mertua yang sangat perhatian, pantaslah jika Devina dulu selalu membanggakan keluarga mertuanya.
Mereka melambaikan tangan saat Mama dan Papa Emir sudah berjalan masuk ke ruangan untuk check-in. Kini Mahen, Devani dan Annisa pun kembali ke rumah.
Minggu depan, Mahen pun berencana akan membawa keluarga kecilnya pindah ke rumah baru mereka yang letaknya tidak jauh dari rumah keluarga Andara.
Sebelumnya mereka telah membicarakan hal ini kepada Mama dan Papa Andara. Sebagai orangtua, mereka tidak bisa menahan, jika anak dan menantunya ingin hidup mandiri.
Sesampainya di rumah, Mahen meminta tolong ke Mbok Ijah untuk menemani Annisa, karena dia dan Devani akan mulai mengepakin barang, jadi saat hari kepindahan nanti, tidak akan terlalu kerepotan.
Setelah selesai, keduanya pun beristirahat, duduk santai dibteras belakang rumah sambil menikmati teh panas dan pisang goreng yang di belikan oleh Mamang sopir keluarga Andara.
"Besok aku mulai ngantor ya Yang, kamu sebaiknya di rumah saja, jangan ke kantor dulu, sampai kita selesai pindahan. Aku tidak mau kamu kecapek-an," pinta Mahen.
"Iya Kak, nanti aku bilang ke Papa jika aku masuk kantornya senin depan saja," ucap Devani.
"Lantas bagaimana dengan antar jemput Annisa Kak?" tanya Devani.
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir, aku sudah mencari orang yang tugasnya khusus untuk antar jemput Annisa saja," ucap Mahen.
"Syukurlah jika begitu Kak, jadi kita bisa bekerja dengan tenang. Tidak was-was memikirkan telat menjemput Annisa. Tapi kak Mahen harus hati-hati dalam memilih orang, jangan sampai putri kita di bawa lari oleh orang tidak di bertanggung jawab," ucap Devani.
"Iya Yang. Sopir untuk Annisa masih keluarganya Mamang juga kok," ucap Mahen.
"Oh, Mamang yang merekomendasikan saudaranya?" tanya Devani.
Mahen pun mengangguk lalu mengajak Devani untuk kembali ke kamar mereka.
Ternyata Annisa sudah ada di sana menunggu sang Bunda.
"Lho, Nisa ada di sini, memangnya simbok kemana?" tanya Devani.
Simbok mau ke pasar Bun, Oma meminta untuk di belikan buah karena stok buah di kulkas sudah habis.
Annisa pun mendekat sambil membawa kertas permainan ular tangga. Akhirnya mereka bertiga main sambil tertawa. Annisa pun senang bisa mengalahkan sang Papa, hingga dia bisa memberikan hukuman kepada papanya.
Lelah bermain, Annisa tertidur, lalu Mahen memindahkan Annisa ke kamarnya.
Malam ini semua beristirahat dengan tenang dan paginya kembali ke aktifitas seperti semula.
Devani menyiapkan sarapan untuk keluarganya, sedangkan Mahen telah bersiap ke kantor. Hari ini adalah hari pertama dirinya menginjakkan kaki di kantor setelah menikah.
Papa mama Andara, Mahen,vAnnisa sudah berkumpul di ruang makan. Devani melayani semua, barulah dia mengambil untuk dirinya sendiri.
Selesai sarapan, sopir Annisa sudah datang menjemput, dia siap berangkat ke sekolah.
Annisa pamit kepada Eyang, papa juga bundanya, begitu juga Mahen pamit kepada mertuanya. Devani mengantar Mahen sampai ke depan pintu, ciuman manis pun mendarat di keningnya saat dirinya selesai mencium tangan sang suami.
__ADS_1
Kebahagiaan Devani nyaris sempurna, tapi apakah itu akan bertahan lama? Apakah Bastian dan Lusy akan membiarkan mereka hidup bahagia?
Tidak ada perjalanan rumah tangga yang seratus persen mulus, kerikil-kerikil tajam pasti ada, tinggal bagaimana kerjasama antara suami istri untuk menyikapinya, menyingkirkan hambatan yang menghalangi mereka untuk bahagia.
Setelah melepas kepergian sang suami, Devani pamit kepada sang Mama untuk pergi ke pasar guna membeli bahan makanan, karena stok di kulkas sudah habis sedangkan pagi ini Mbok Ijah masih bertugas membereskan rumah.
Tadi pagi saat Mahen bersiap ke kantor, dia sudah pamit bahwasanya pagi ini akan belanja bahan makanan untuk di rumah baru mereka dan juga untuk kebutuhan orangtuanya.
Mahen telah memberikan sebuah kartu ATM kepada Devani untuk membeli semua kebutuhan rumah tangga mereka. Walaupun Devani mempunyai penghasilan sendiri tapi, Mahen tidak mau mengusiknya, karena memberi nafkah adalah kewajibannya.
Devani mengeluarkan sepeda motor dari garasi, karena menurutnya pergi ke pasar tradisional dengan menggunakan motor lebih efisien dan efektif ketimbang mengendarai mobil yang seringkali terjebak macet di sana.
Setelah memakai helm, Devani pun berangkat. Dengan semangat, Devani melajukan sepeda motornya menuju pasar, tapi dia tidak pernah menduga jika seorang pengendara mobil box telah mengikutinya.
Di tempat yang sepi mobil tersebut langsung menyalip di depan sepeda motor yang di kendarai oleh Devani hingga Devani kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.
Devani pun menghentikan laju motornya, ketika dia hendak marah, seorang pria dengan penutup wajah turun dari dalam mobil dan membekapnya dengan sebuah sapu tangan.
Obat bius telah membuat Devani pingsan, lalu orang tersebut menaikkan Devani ke box belakang dan menguncinya dari luar. Di box tersebut hanya ada beberapa lubang angin kecil untuk pergantian udara.
Mobil melaju kencang meninggalkan tempat itu menuju ke luar kota, sementara helm dan sepeda motor Devani tergeletak di sana.
Di kantor, perasaan Mahen tidak tenang, gelas yang ada di tangannya tiba-tiba retak dan terdengar suara barang jatuh di dalam ruangan pribadinya.
Mahen bergegas ke dalam, dia ingin mengecek apa sebenarnya yang terjatuh, dan saat dia membuka pintu, mahen kaget, melihat foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding ruang pribadinya jatuh ke lantai.
Pigura itu rusak, kacanya pecah dan tangan Mahen tergores saat menyentuhnya.
Mahen menelepon Lusy agar membawakan kotak P3K dan meminta agar cleaning service segera datang ke ruangannya untuk membereskan pecahan-pecahan kaca tersebut.
__ADS_1