
Dalam doanya Mahen meminta agar keputusannya memilih Devani menjadi istri adalah keputusan yang terbaik. Walaupun jika harus jujur, saat ini dia belum bisa melupakan kenangan bersama Devina, almarhumah istri tercintanya.
Mahen berjanji akan menyayangi Devani seperti halnya dia menyayangi Devina.
Devani pun menyisipkan dalam doanya, semoga Mahen menjadi imam yang terbaik bagi rumahtangganya dan dia akan berusaha untuk mencintai Mahen serta mengabdi, menjadi istri serta ibu yang baik bagi Annisa.
Mengenai cintanya terhadap Bastian, Devani hanya bisa memasrahkan kepada Allah SWT, bahwa cinta tak selamanya harus memiliki dan Allah lebih tahu mana yang manusia butuhkan ketimbang yang mereka inginkan.
Dia sekarang harus bisa ikhlas, melepas cinta Bastian, mungkin ini adalah takdir terbaik untuk hidupnya kedepan dengan menikahi orang yang pernah menjadi kakak iparnya.
Selesai berdoa, Devani mencium tangan Mahen. Kemudian Mahen berkata, "Jadilah istriku, jadilah Mama untuk Annisa Van! Jika nanti dalam perjalanan rumah tangga kita, aku berbuat kesalahan dan tidak bisa menjadi suami idamanmu, tolong! tegur dan bantu aku untuk memperbaiki diri, hingga aku bisa menjadi suami yang lebih baik," pinta Mahen.
"Begitu juga dengan aku ya Hen, aku juga bukan gadis baik dan mungkin jauh dari kata sempurna, tapi aku berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu dan ibu yang baik untuk Annisa," ucap Devani.
Mahen pun mengangguk lalu berkata lagi, "Bolehkah aku minta sesuatu sebelum acara pernikahan kita dilaksanakan?" tanya Mahen.
"Katakanlah Hen, apa yang ingin kamu minta, mudah-mudahan aku bisa mewujudkannya," ucap Devani.
"Merubah panggilan terhadapku."
Devani pun tersenyum malu, lalu dia mengangguk sambil berkata, "Iya Kak. Apakah Kak Mahen suka? jika tidak, aku akan menggantinya dengan panggilan lain," ucap Devani.
"Itu jauh lebih baik," ucap Mahen.
Mahen beranjak hendak keluar kamar dan Devani pun melipat mukenah serta ambal, mereka harus segera bersiap untuk acara pernikahan.
Mama Mahen mengetuk pintu kamar Devani, bertepatan dengan Mahen yang hendak keluar, lalu beliau bertanya, "Bagaimana kabar Devani pagi ini Hen? Apa bisa kita tetap melanjutkan rencana pernikahan kalian?" tanya Mama khawatir.
"Mama tenang saja, pokoknya sebentar lagi Devani akan menjadi menantu Mama," ucap Mahen sambil mencium sang Mama.
"Alhamdulillah, memang itu yang mama nantikan. Sudah cukup Mama mendengar dan melihatmu terpuruk, kini waktunya kamu harus bahagia lagi Nak," ucap Mama.
Mahen tersenyum lalu berkata, "Ayo temuin menantu mama dulu, aku akan bersiap Ma dan menghubungi MUA, kenapa mereka belum tiba," ucap Mahen.
__ADS_1
"Baiklah, pergilah Hen, urus semuanya, jangan sampai pernikahan kalian di tunda gara-gara seorang MUA," ucap Mama.
Mahen bergegas keluar dan menuju kamarnya, setelah pamit terhadap Devani dan Mama.
Mama Mahen pun lega melihat Devani sembuh, dan terlihat bahagia. Kemudian beliau berkata, "Bersiap lah Nak, sebentar lagi MUA yang akan merias kamu pasti sampai. Mama akan mengecek, jam berapa cateringan makanan akan mereka antar."
"Iya Ma, terimakasih. Maaf, Aku sudah merepotkan Mama kemaren." ucap Devani.
"Enggak kok, semua sudah berlalu, yang terpenting sekarang, sebentar lagi kamu akan menjadi menantu Mama. Itu hal yang paling membuat Mama bahagia," ucap Mama Mahen.
"Mama keluar dulu ya, cepatlah bersiap."
"Baik Ma," ucap Devani.
Devani pun membersihkan diri, tak lama kemudian, MUA yang akan meriasnya pun datang.
MUA mulai membersihkan wajah Devani dan memoleskan riasan step by step sesuai urutan tugas yang biasa mereka kerjakan.
Setelah selesai merias wajah, mereka memakaikan kebaya lengkap dengan asesorisnya dan yang terakhir memakaikan hijab di kepala Devani.
Sekarang giliran Mahen yang berdandan, dia mengenakan kemeja putih, jas warna cream serta celana dengan warna senada.
Kini kedua mempelai sudah duduk di ruangan yang sudah dihias sederhana, sebagai tempat acara sakral akan dilaksanakan.
Mahen dan Devani duduk bersebelahan, sementara Papa Andara selaku wali pernikahan, duduk berhadapan dengan Mahen dengan di dampingi oleh penghulu serta para saksi.
Papa Emir, Mama, Hans, Mama Intan, Annisa dan beberapa orang tetangga serta kerabat dekat pun ikut menyaksikan akad nikah yang sebentar lagi akan dilangsungkan.
"Kalian sudah siap, jika acara kita mulai?" tanya penghulu pernikahan kepada Mahen dan Devani.
"Saya siap Pak!" ucap Mahen diikuti oleh Devani.
"Bagaimana para saksi, apakah kalian juga sudah siap untuk menyaksikan pernikahan Dek Mahen dan Dek Devani?" tanya Pak Penghulu lagi.
__ADS_1
Kedua orang saksi pun mengangguk, lalu penghulu pernikahan mulai membuka acara dengan mengucap salam dan membacakan doa sebagai pembuka acara.
Kemudian penghulu memberi arahan untuk menandatangani surat menyurat. Setelah kedua pengantin selesai menandatangani surat-surat baru lah penghulu meminta Mahen agar berjabat tangan dengan Papa Andara.
Dengan satu kali tarikan nafas, papa dan Mahen berhasil mengucapkan ijab kabul. Mahen yang sudah pernah sekali menikah, tidak merasa kesulitan lagi dalam mengucapkan kalimat sakral tersebut, begitu pula dengan papa Andara.
Setelah mendapatkan pernyataan sah dari para saksi, dan diikuti sah oleh semua yang hadir, sekarang Devani dan Mahen telah terikat dalam hubungan pernikahan.
Lalu Devani mencium tangan Mahen, sedangkan Mahen mencium kening serta puncak kepala Devani sambil membaca doa untuk kebahagiaan rumah tangganya.
Kemudian penghulu pernikahan meminta Mahen membacakan janji pernikahan, setelah itu mereka sungkeman kepada para orang tua dan tetangga serta semua kerabat yang datang dalam acara tersebut.
Acarapun dilanjutkan dengan pembacaan doa penutup sebelum Mahen, Devani serta para orangtua mempersilakan para tamu undangan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Acara makan pun sudah selesai dan para tamu juga sudah pulang satu persatu, kini yang tinggal adalah sekretaris Mahen yang sedang menangis di bahu Gara. Dia tidak rela pernikahan itu berjalan lancar.
Mahen, Devani dan yang lain merasa heran, kenapa Lusy menangis, kemudian Mahen pun bertanya kepada Lusy tapi yang menjawab adalah Gara.
"Tenang Bos! Dia cuma terharu dan teringat pernikahan sang kakakh," ucap Mahen.
Gara pun pamit, dia yang akan mengantar Lushy pulang. Sepeninggal mereka, Annisa pun datang menghampiri Mahen dan berkata, "Terimakasih Pa, sudah buat Bunda jadi Mama Nisa."
"Seharusnya Papa yang berterimakasih kepada mu Nak, berkat kamu, mata batin Papa terbuka bahwa hidup terus berjalan, papa tidak boleh menyesali semua yang sudah digariskan oleh sang pencipta. Ayo sekarang Papa gendong ke kamar, kamu harus istirahat. Papa dan Mama mau membantu Oma serta Eyang, melayani teman-teman Mama yang baru tiba," ucap Mahen.
Setelah mengantar Annisa ke kamar, Mahen kembali untuk menemui anak-anak asuh mereka dan teman-teman Devani. Mahen mempersilakan mereka menikmati hidangan sambil ngobrol.
Hanya Bastian yang tidak hadir di pernikahan itu, dia tidak sanggup menyaksikan Devani resmi menjadi milik Mahen.
Sebenarnya tadi Bastian sudah datang tapi saat hendak masuk ke halaman rumah keluarga Andara niatnya berubah, sambil menitikkan air mata, dia memutar balik motornya dan pergi ke arena balapan, guna melampiaskan kesedihannya di sana.
Bersambung.....
Hai para sobat, kali ini aku rekomendasikan kaya sahabatku, insyaallah nggak kalah keren lho, ayo silahkan mampir dan jangan lupa beri dukungannya ke karya kami ya Sobat. 🙏♥️
__ADS_1