BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 96. MEMBAWA DEVANI PULANG


__ADS_3

Mahen keluar membawa Devani, tapi Devani menyembunyikan wajahnya di dada Mahen. Dia masih terisak dan rasanya tidak memiliki muka untuk menghadapi yang lain.


AKBP Wirya meminta penjelasan kepada Mahen tentang bagaimana ceritanya sampai Devani ada di rumah keluarga Gara.


Mahen hanya menjelaskan sekilas karena tidak ingin membuat istrinya sedih dan mengingat kembali kejadian malam itu.


Akhirnya mereka sepakat untuk mengusut siapa pelaku yang telah menculik Devani saat hendak pergi ke pasar pagi itu.


Walaupun Mahen marah terhadap Gara, tapi dia juga tidak bisa menyalahkannya. Mereka pun pamit, untuk membawa Devani kembali ke rumah.


Gara sangat menyesal, sekali lagi dia memohon maaf kepada Mahen dan berjanji akan memperbaiki hidupnya dan akan membantu mengusut tuntas masalah tersebut.


Namun untuk melampiaskan amarahnya, Mahen sempat memukul Gara hingga mulutnya mengeluarkan darah, tapi setelah itu, dia tidak berkata apapun selain menerima maaf dari sahabatnya itu.


Bastian juga prihatin melihat kondisi Devani, dia juga berjanji akan mencari tahu siapa dalang sebenarnya.


Walau bagaimanapun, Devani adalah wanita yang Bastian cintai dan melihat kondisinya seperti itu membuat hatinya sangat sakit.


Ketika Bastian berpamitan kepada Gara, Bastian sempat melayangkan bogemnya kepada Gara dan menamparnya hingga dua kali. Namun Gara tidak melawan karena dia memang salah dan menyesali semua yang terjadi.


"Itu untuk kesalahanmu yang telah menyakitinya!" ucap Bastian.

__ADS_1


Polisi menghalangi Bastian ketika akan memukul Gara lagi dan mereka pun memutuskan untuk pergi dari rumah orangtua Gara.


Mahen akan membawa Devani kembali ke keluarga Andara. Sepanjang perjalanan, Mahen memeluk Devani dan mereka tidak berkata apapun.


Hansen juga prihatin melihat kondisi iparnya, sesekali dia hanya melirik dari kaca spion saja.


Mama dan Papa kedua belah pihak yang telah di beri kabar oleh Hansen bahwa Devani telah di temukan, merasa sangat gembira. Tapi mereka belum mengetahui apa sebenarnya yang menimpa Devani, Karena hanya Mahen yang berhak menjelaskan semuanya.


Sesampainya mereka di rumah, papa dan Mama serta Annisa menyambut kedatangan mereka dengan suka cita, tapi saat melihat kondisi Devani seperti itu mereka sangat sedih.


Kedua Mama menangis, memeluk putri mereka sementara Devani tidak berkata sepatah katapun. Hanya air mata yang terus meleleh dari kedua matanya.


Kemudian, sang Mama membawa Devani ke kamarnya, mereka ingin membiarkan Devani beristirahat.


Devani memeluk Annisa erat, dia rindu putrinya itu. Isak tangis keduanya membuat Mahen tak kuasa menahan kesedihannya.


Mahen memeluk keduanya lalu berkata, "Kalian berdua adalah cintaku dan aku akan menjaga serta menyayangi kalian sampai aku mati."


Kemudian Mahen berkata lagi, "Kamu istriku dan selamanya akan tetap menjadi istriku. Tenang lah Sayang, lupakan semua masa lalu pahit itu. Yang terpenting sekarang, kamu harus banyak istirahat dan pulihkan kesehatanmu lagi. Kami akan menjebloskan dalang dari semua ini."


Devani hanya mengangguk dan merebahkan kepalanya ke dada Mahen. Dia merasa nyaman dalam dekapan suaminya itu. Sejenak Devani bisa melupakan masalahnya dan akhirnya tertidur dengan di temani Mahen serta Annisa.

__ADS_1


Mama, Papa kedua belah pihak serta Hans, masih membahas masalah itu di ruang tengah, mereka akan menjebloskan siapapun pelaku yang telah membuat putri mereka seperti itu.


Sebelum pulang tadi, Mahen, Gara, Bastian dan Hansen telah sepakat, malam ini mereka akan mendesak pengelola Club agar mengaku dan mengatakan siapa dalang dari semuanya.


Mahen saat ini tidak ingin meninggalkan istrinya sendirian, dia mengelus dan mencium puncak kepala Devani sembari berjanji akan menyembuhkan trauma ketakutannya. Mereka akan berangkat ke Turki setelah pelaku tertangkap.


Dengan perjalanan itu, Mahen berharap, Devani bisa pulih, dan melupakan kejadian buruk tersebut.


Sore hari Muti terbangun, dia mengerjapkan mata dan melihat Mahen serta Annisa tidak beranjak sedikitpun dari sisinya.


"Bunda mau minum teh, sebentar ya Bun, Nisa mintakan sama Simbok. Papa mau juga?" tanya Annisa.


"Iya Sayang, Papa kopi saja ya!"


"Siap Pa, sebentar ya Pa...Bun, Annisa ke dapur dulu."


Annisa pun keluar kamar, dia melihat Oma, Opa, serta kedua eyangnya masih mengobrol, lalu Nisa menghampiri mereka dan berkata, "Eyang dan Opa mau minum teh? Oma dan Eyang putri mau teh atau kopi? Om Hans?"


"Oh terimakasih Sayang, kami teh saja dan minta tolong Mbok untuk siapin cemilannya ya," pinta Oma.


"Iya Oma, Annisa bilang ke simbok dulu ya Ma, untuk menyiapkan semuanya."

__ADS_1


Mereka bersyukur, Annisa bisa mandiri semenjak Bundanya tidak di rumah. Dia bisa mengambil sendiri kebutuhannya, jika Mbok Ijah sedang repot dan eyang kakungnya sedang tidak ada di rumah.


__ADS_2