BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 62. DI CULIK


__ADS_3

Devani membaca pesan dari Bastian, lalu dia membalas pesan tersebut bahwa dirinya tidak bisa menemui dan meminta agar Bastian melupakannya.


Melihat balasan Devani seperti itu, Bastian pun menelepon kembali dan kali ini di angkat oleh Devani.


Bastian sangat memohon untuk yang terakhir kalinya, setelah ini dia tidak akan menggangu kehidupan Devani lagi.


Mengingat hubungan mereka selama ini dan kebaikan Bastian, Devani pun akhirnya mengiyakan permintaan Bastian tapi dengan syarat hanya sebentar saja, karena dia harus kembali sebelum jam makan siang.


Bastian senang, dia melompat kegirangan, berharap inilah kesempatannya untuk mengambil Devani kembali dari sisi Mahen.


Bastian melajukan mobilnya menuju arena balapan, dia harus datang terlebih dahulu sebelum Devani sampai.


Devani tidak jadi perawatan Spa, dia keluar dari tempat itu menggunakan ojek online. Kali ini dia harus bisa membuat Bastian sadar bahwa tidak ada lagi harapan untuk hubungan mereka lagi.


Bastian sudah menunggu di sana saat Devani sampai, dia tersenyum penuh kemenangan, karena rencananya berjalan lancar dan kali ini harus berhasil.


"Selamat Pagi Sayang," sapa Bastian.


Devani pun berkata, "Apa yang ingin kamu bicarakan lagi Bas? Cepatlah, aku tidak bisa lama-lama karena mertuaku sebentar lagi datang menjemputku di tempat SPA."


"Sabar dong Van, belum lagi kita mulai bicara, kamu sudah ingin pulang, begitu bencinya sekarang kamu denganku Van?" tanya Bastian.


"Bukan benci Bas, aku hanya tidak ingin timbul fitnah, besok aku sudah jadi hak Mahen, aku harus bisa menjaga marwah keluargaku."


"Oke, oke, aku tahu. Sekarang kita cari tempat yang enak buat nongkrong dan ngobrol sambil minum, aku haus Van, soalnya tadi tidak sempat sarapan, bantu Mama jaga adikku yang sedang rewel," ucap Bastian.


"Di sini saja Bas!"


"Please ...sekali ini saja Van, aku mohon!" ucap Bastian.


"Baiklah, tapi cari tempat yang tidak jauh dari sini ya!" ucap Devani.


"Siap! Ayo naiklah Tuan putri, kita segera berangkat," ucap Bastian sambil membukakan pintu mobilnya.

__ADS_1


Devani pun naik, dia tidak curiga sedikitpun terhadap Bastian.


Sambil menggenggam erat stirnya Bastian melajukan mobil Jeep nya dengan kencang, awalnya Devani berpikir mungkin Bastian sudah sangat lapar hingga ingin cepat sampai.


Cafe pertama sudah dilewati hingga cafe ketiga di jalan itupun Bastian lewati tanpa memperlambat laju mobilnya. Hal ini membuat Devani heran dan cemas, kemudian dia berkata, "Bas, kenapa kamu terus saja! itu cafe sudah banyak kita lewati, aku bilang 'kan, jangan terlalu jauh," ucap Devani.


"Iya, disitu tidak enak makanannya Van, nanti di depan sana saja," ucap Bastian tanpa menoleh ke arah Devani.


Devani bertambah curiga ketika mobil Bastian malah semakin jauh menghindari keramaian.


"Bas! mau kemana ini! Aku mau turun! Hentikan mobilnya Bas!" teriak Devani.


Bastian tidak menghiraukan teriakan Devani, dia terus saja pokus pada stirnya.


"Bas! Aku harus pulang sekarang! Ayo turunkan aku di sini Bas!" Teriak Devani lagi sambil memukul tangan Bastian yang sedang menyetir hingga membuat mobil sedikit oleng.


"Tenanglah Van atau kita celaka!" ucap Bastian.


"Pokoknya aku mau turun, hentikan mobilnya sekarang juga!" Devani tidak berhenti memukul Bastian hingga mobil Bastian hampir saja menabrak truk yang membawa muatan penuh."


"Kalau kamu terus seperti itu, kita akan mati bersama," ucap Bastian dingin.


"Gila kamu Bas! Mau kemana kita! Aku tidak ingin mereka cemas karena aku tidak kembali juga," ucap Devani.


Bastian tidak menjawab, dia terus melajukan mobilnya ke arah luar kota. Devani semakin panik, dia menangis, memohon agar Bastian menurunkannya, karena dia harus pulang.


Devani mengambil ponsel dari dalam tasnya, dia ingin menghubungi Mahen, tapi Bastian merampas ponsel tersebut dan membuangnya keluar dari dalam mobil.


Devani sangat marah, "Gila kau Bas! kenapa ponselku kamu buang!" ucap Devani sambil menampar wajah Bastian.


Bastian tetap tenang menghadapi kemarahan Devani, dengan santai dia menjawab, "Kamu milikku jadi tidak seorangpun akan mengambilnya dariku termasuk Mahen," ucap Bastian.


"Tolonglah Bas, aku harus pulang sekarang, kamu tidak bisa seperti ini. Mereka semua pasti khawatir Bas!" ucap Devani lagi sambil menangis.

__ADS_1


Bastian terus melajukan mobilnya, hingga mereka tiba di sebuah villa yang sangat besar. Suasana di sana sangat sepi, hanya ada pengurus kebun dan dua orang pembantu yang bertugas membersihkan Villa.


Begitu melihat mobil Bastian masuk ke halaman villa, merekapun buru-buru menghampirinya.


Bastian mengajak Devani turun tapi Devani tidak mau dan dia bersikeras hendak pulang. Kemudian Bastian berkata, "Turunlah! atau kamu mau aku kunci di dalam mobil saja!" ancam Bastian.


Lalu Bastian pun menarik tangan Devani dan meminta pelayan untuk mempersiapkan dua buah kamar karena mereka akan menginap di sana.


Devani meronta minta di lepaskan tapi Bastian menolak, lalu dia membawa Devani ke kamar tamu dan mengurungnya di sana.


Pelayan tidak berani membantah maupun bertanya, mereka segera melaksanakan kewajibannya, memasak makanan untuk tuan mudanya.


Mereka hanya heran, selama ini belum pernah melihat tuannya marah maupun bersikap kasar terhadap seseorang terutama wanita.


Ini juga kali pertama, Bastian membawa seorang wanita di villa pribadi milik keluarganya.


Devani hanya bisa menangis di dalam kamar, dia tidak tahu bagaimana harus menghubungi Mahen dan keluarganya. Devani juga tidak pernah menyangka jika Bastian sanggup berbuat nekad demi menghalangi pernikahannya.


Bastian sendiri masuk ke dalam kamarnya, mandi dan berganti pakaian dengan pakaian santai. Lalu Bastian meminta Bibi untuk pergi ke pasar membelikan beberapa stel pakaian untuk Devani beserta pakaian **********.


Sementara Mama Mahen bingung mencari Devani, beliau bertanya kepada salah satu pekerja Spa tapi mereka bilang bahwa Devani tidak jadi perawatan dan langsung pergi setelah terima telepon.


Mama dan Hans bingung, mereka mencoba menelepon Devani tapi tak tersambung. Lalu mama menelepon Mahen, "Hallo Hen, Devani ada bersama kamu?" tanya Mama.


"Lho, tapi pergi dengan Mama?" tanya Mahen balik.


"Tadi mama, Hans dan Annisa pergi ke Mall dan membiarkan Devavi untuk perawatan sendiri tapi pekerja Spa bilang bahwa Devani tidak jadi perawatan, dia pergi setelah menerima telepon," ucap Mama.


Mahen sangat khawatir, setelah mamanya menutup panggilan, dia mencoba menelepon Devani dan ternyata benar, ponsel Devani tidak bisa dihubungi.


Kemudian Mahen menelepon mama Intan untuk menanyakan siapa tahu Devani sudah pulang ke rumah atau telah memberi kabar di mana dia sekarang.


Mama Intan juga kaget karena Devani terakhir pergi dengan besannya dan tidak ada memberi kabar apapun setelahnya.

__ADS_1


Mahen semakin khawatir, dia bingung harus kemana mencari Devani.


__ADS_2