BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 47. MEMBERI KESEMPATAN


__ADS_3

"Maaf," ucap Devani sambil menjauhkan dirinya dari Mahen.


Kecanggungan pun terjadi lagi di antara mereka berdua, kemudian dia berkata lagi, "Ayo kita masuk! Besok kamu 'kan harus kerja," ajak Devani.


"Iya, sebentar aku habiskan teh ku dulu, sayang jika bersisa," ucap Mahen.


Setelah Mahen menghabiskan tehnya, Devani pun mengambil gelas kosong dari tangan Mahen dan membawanya ke dapur.


Sebelum pergi ke kamar, Devani mencuci gelas dan piring yang kotor terlebih dahulu. Rupanya Mahen masih menunggunya hingga selesai mencuci piring.


"Sudah selesai?" tanya Mahen yang nyaris membuat Devani terkejut, dia tidak menyangka, jika Mahen menunggunya.


"Oh sudah, aku pikir kamu telah kembali ke kamar?" tanya Devani.


"Belum, aku menunggu kamu selesai," jawab Mahen.


"Ayo kita tidur, besok takutnya terlambat bangun," ucap Devani sambil meninggalkan dapur diikuti oleh Mahen.


Sesampainya di atas, mereka pun masuk ke kamarnya masing-masing setelah Mahen mengucapkan selamat malam dan selamat tidur.


Pagi ini Mahen berangkat ke kantor lebih pagi, tapi dia tidak melihat Devani di bawah. Lalu Mahen mencarinya ke dapur serta ke ruang makan, tetap saja tidak terlihat.


Namun Mahen melihat sarapan paginya sudah tersaji di atas meja. Akhirnya Mahen sarapan tanpa ada yang menemani. Setelah itu, dia kembali ke atas untuk melihat Annisa dan berharap bisa bertemu Devani di sana.


Mahen membuka kamar Annisa, tapi gadis kecilnya itu masih tidur meringkuk di sana, lalu mahen mencium Annisa sebelum pergi meninggalkan kamarnya.


Pandangan Mahen tertuju ke pintu kamar Devani, dia merasa heran nggak biasanya gadis itu tidur lagi.


Mahen memberanikan diri, mengetuk pintu kamar Devani, dia berharap gadis itu ada di dalam sana.


Tiga kali mengetuk pintu tidak ada jawaban dari dalam, lalu Mahen mengambil ponsel dan menelephone Devani.


Ponsel Devani terdengar berdering, ada di dalam kamarnya, tapi kenapa tidak ada yang mengangkat panggilannya.


Karena penasaran, dia memegang handle pintu lalu membukanya, dan ternyata kamar Devani tidak terkunci.


Mahen tidak melihat siapapun ada di dalam sana termasuk tidak ada suara gemericik air di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Kemana kamu Van?" monolog Mahen.


Karena tidak menemukan siapapun Mahen memutuskan untuk turun dan berangkat ke kantor.


Sesampainya di bawah, dia melihat Papa mama, semua ada di sana.


"Sudah mau berangkat Hen?" tanya sang Papa.


"Iya Pa," jawab Mahen tapi matanya masih celingukan mencari kesana kemari hingga membuat para orang tua penasaran.


"Apa yang kamu cari Nak?" tanya mamanya.


"Kemana Devani ya Ma, tumben pagi ini dia tidak terlihat," ucap Mahen.


"Sudah ada yang merasa kehilangan rupanya ya," ucap mamanya.


"Bukan begitu Ma, tumben saja. Biasanya 'kan dia sarapan pagi bersama ku," ucap Mahen.


"Tadi dia pamit mau jogging, pasti sebentar lagi kembali," ucap mama Intan.


"Oh, kalau begitu Mahen berangkat dulu ya Ma," pamit Mahen kepada ibunya.


"Iya Nak, hati-hati ya," ucap mama Intan.


"Pa, Saya duluan ya," ucap Mahen pada Papa Andara. Kemudian diapun pamit kepada papa-mamanya.


Mahen melajukan mobilnya perlahan sambil melihat ke kanan kiri jalan, berharap bisa bertemu Devani, tapi tetap saja Devani tidak terlihat.


Namun, saat di perempatan jalan, Mahen melihat gadis yang dia cari, dia sedang berdebat dengan seseorang yang wajahnya tidak terlihat karena memakai topi dan jaket.


Mahen menghentikan mobilnya dan memperhatikan mereka dari dalam mobil, dengan jarak kira-kira lima puluh meter dari tempat Devani berdebat.


Ketika melihat Devani menangis, Mahen pun turun dan berlari menghampiri mereka.


"Hei, ada apa ini! Kenapa kamu menangis Van?" tanya Mahen sambil memegang kedua bahu Devani.


Setelah itu dia melihat ke arah siapa laki-laki bertopi dan berjaket, Mahen kaget dan berkata, "Kamu!"

__ADS_1


Laki-laki itupun berkata, "Ya, aku Bastian."


Kenapa kamu pagi-pagi ada di sini dan membuat Devani menangis?" tanya Mahen.


"Itu bukan urusanmu, ini urusan antara aku dan Devani," ucap Bastian.


"Tapi kenapa kamu membuat dia menangis dan kulihat dari kejauhan kalian bertengkar. Kan bisa dibicarakan baik-baik, sambil duduk, jadi tidak menimbulkan perhatian orang-orang yang melintas di sini," ucap Mahen.


"Kembalikan dia padaku! Aku mau kamu batalkan pernikahan kalian!" seru Bastian.


Kemudian Bastian berkata lagi, "Dia mencintaiku dan milikku, jadi jangan kamu paksakan kehendakmu! Pernikahan kalian tidak akan bahagia!" teriak Bastian.


"Bas, hentikan! Aku sudah memutuskan dan tidak akan ku tarik lagi ucapanku. Kamu terlambat Bas! Maafkan aku," ucap Devani sambil menangis dan berlari meninggalkan tempat itu untuk kembali ke rumah.


"Tunggu Van!" Seru Bastian dan berlari mengejar Devani.


Langkah lari laki-laki tentunya, lebih cepat dari lari seorang wanita. Bastian pun berhasil mengejar Devani lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


Bastian pun meminta maaf atas tuduhannya yang ternyata salah dan meminta maaf karenanya Devani celaka.


Dia sungguh menyesal, terlalu dibutakan oleh emosi, hingga tidak percaya dengan penjelasan Devani dan Mahen.


Sambil memeluk Devani, Bastian pun kembali berkata, "Maafkan aku Van, tolong beri aku kesempatan sekali lagi. Aku salah, aku khilaf, aku terlalu cemburu, semua itu karena aku terlalu mencintaimu," ucap Bastian sambil mencoba menahan Devani yang meronta ingin lepas dari pelukan Bastian.


"Lepaskan aku Bas, lepaskan! kamu bukan siapa-siapa ku lagi, aku sebentar lagi akan menikah, jadi tolong lepaskan aku," ucap Devani sambil meronta dan memukul dada Bastian saat tangannya terlepas dari pegangan Bastian.


Mahen awalnya mematung di kejauhan, saat melihat Devani berhasil dipeluk oleh Bastian. Dia pasrah, mungkin Devani memang bukan jodohnya.


Sebab di awal janjinya, Mahen akan memberikan Bastian kesempatan sebelum ada ikatan darinya yang di pakaikan kepada Devani dan sebelum pernikahan terjadi, Devani berhak memutuskan pilihannya.


Tapi saat Mahen melihat Devani meronta, memukul, bahkan menggigit Bastian, agar bisa lepas dari dekapannya, Mahen berlari ke arah mereka, dia harus melerai keduanya dan bertanya langsung tentang keputusan Devani.


Mahen menarik lengan Bastian kuat sambil berteriak, "Lepaskan dia! Kamu tidak berhak menyakiti dia!"


Devani pun lepas dari pelukan Bastian dan berlindung di balik tubuh Mahen, dia menangis tergugu.


"Awas! Aku mau bicara dengan dia, kamu tidak berhak ikut campur dengan urusan kami!" ucap Bastian kepada Mahen.

__ADS_1


"Siapa bilang aku tidak punya hak! Devani adalah tunanganku dan sebentar lagi akan jadi istriku," ucap Mahen dengan tegas.


"Kamu tidak perlu kasar, bicara baik-baik, bukankah aku telah mengingatkanmu sebelumnya? Aku telah memberimu kesempatan untuk menyelesaikan kesalahpahaman kalian, sebelum pernikahan kami langsungkan," ucap Mahen.


__ADS_2