BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 50. MEMBELI PERLENGKAPAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Mahen menebus obat untuk Devani, setelah itu sesuai rencana, merekapun pergi ke toko perhiasan untuk menjemput perhiasan yang telah mereka pesan sebelumnya.


Pemilik toko menunjukkan pesanan mahen, apakah sudah sesuai permintaan atau belum, ternyata aslinya lebih indah daripada yang ada di catalog.


Mahen puas dengan pelayanan toko tersebut, lalu dia membayarnya dengan cara mentransfer ke rekening pemilik toko.


Kini Mahen menyerahkan perhiasan tersebut kepada Devani sebagai mahar pernikahan darinya. Setelah surat bukti pembelian diserahkan, Mahen dan Devani pun meninggalkan tempat itu menuju ke butik.


Pemilik butik mempersilakan Mahen dan Devani untuk mencoba baju pengantin mereka, biar bisa di lihat apakah sudah sesuai atau belum. Ternyata semuanya sudah sesuai pesanan dan ukuran tubuh Devani dan Mahen.


Berhubung di sebelah butik ada toko perlengkapan sholat, maka Mahen juga membelikan satu set mukenah dengan renda berbordir.


Semua perlengkapan sudah dibeli termasuk alat makeup, sendal/sepatu. Mengenai pakaian dalam Mahen meminta Devani memilih bersama pemilik toko sementara dirinya menerima telepon.


Masalah MUA atau perias pengantin, sudah dihubungi oleh mama Intan dan mereka akan datang tiga jam sebelum akad nikah dilangsungkan.


Mahen yang sudah selesai dengan urusannya, segera menemui Devani, lalu membayar semua nota belanja.


"Semua sudah Van? Apa tidak ada yang kurang, bagaimana dengan pakaian Annisa, Mama dan Papa, sekalian saja kita belanja ya Van, kamu tidak lelah 'kan?" tanya Mahen.


"Pakaian Annisa sudah, gamis dan kebaya buat mama kita juga sudah, tinggal buat papa, aku bingung mana yang sesuai," ucap Devani.


"Serahkan saja kepada pemilik toko untuk mencarikan yang senada dengan pakaian Mama serta Annisa," ucap Mahen.


"Oh iya, kenapa aku linglung ya, sampai nggak kepikiran kesitu."


"Sini! Kamu duduk dulu, istirahat! Itu tandanya kamu sudah lelah, biar aku yang akan memilihkan batik buat papa kita," ucap Mahen.


Dengam bantuan pemilik toko, Mahen pun sudah mendapatkan apa yang dia inginkan sesuai dengan warna kebaya para mama.


Kini Mahen dan Devani sudah selesai belanja, Mahen segera meminta tolong bagian pengantar barang agar membawakan barang belanjaan ke dalam mobil.

__ADS_1


Semua sudah tersusun rapi di dalam mobil dan sekarang saatnya makan siang. Mahen dan Devani memilih makan di cafe sekitaran mall tempat mereka belanja.


"Silahkan pesan Van, terserah pilih menu yang mana, aku ikut saja," ucap Mahen.


"Bagaimana jika sup saja rasanya lebih segar makan yang panas dengan suasana mendung," ucap Devani.


"Boleh, sup iga sapi 'kan? Minumnya jus jeruk saja, kalau kamu punya pilihan lain, silahkan saja Van?"


"Samakan saja lah," ucap Devani.


"Mas, ini pesanan kami ya," ucap Devani sambil menyerahkan kertas buku catatan pesanan yang ada di tangannya.


"Baiklah Pak, Bu, mohon ditunggu ya, biar kami siapkan dulu," ucap pelayan.


Sambil menunggu pesanan datang, mereka ngobrol tentang pernikahan. Mahen menanyakan apakah Devani tetap dengan pendiriannya yang tidak mau mengadakan resepsi.


Devani tetap dengan pendiriannya, dia hanya ingin mengundang anak-anak cafe temannya. Kemudian Mahen bertanya, "Bagaimana dengan Bastian? Apa kamu juga akan mengundangnya?"


"Aku yang akan mengundangnya, terima atau tidak terima dia harus berbesar hati menerima kenyataannya," ucap Mahen.


"Terserah kamu Hen, jika mengenai tetangga, Mbok Ijah dan pembantu yang lain sudah membantu kita untuk mengundang mereka. Mengenai kerabat sudah papa Mama yang mengundangnya," ucap Devani.


"Berarti sudah beres ya Van dan terakhir apa setelah menikah kita akan tetap tinggal bersama papa dan mama?" tanya Mahen.


"Sebenarnya aku kepingin mandiri, tapi melihat kondisi Mama kok rasanya tidak tega meninggalkan beliau sendiri di rumah, apalagi saat papa ke kantor."


"Begini saja, kita beli rumah yang tidak jauh dari rumah Papa Andara, jadi setiap hari kita bisa mengunjungi mereka. Adil 'kan! keinginan kamu terpenuhi, Papa mama juga bisa sering-sering main ke rumah kita," ucap Mahen.


"Apa tidak terlalu menghamburkan uang Hen? untuk kebutuhan pernikahan saja kamu sudah sangat banyak mengeluarkan uang," ucap Devani.


"Tenang Sayang, calon suami kamu ini tidak akan bangkrut jika hanya membelikan sebuah rumah buat kamu," ucap Mahen.

__ADS_1


"Terserah deh, jika memang tidak memberatkan kamu," ucap Devani.


"Aku akan menghubungi penanggungjawab komplek untuk mencarikan rumah buat kita," ucap Mahen.


Kemudian Mahen menghubungi penanggungjawab komplek, untuk segera mencarikan rumah seperti yang mereka mau.


Tidak lama menunggu, penanggung jawab kompleks perumahan pun menghubungi Mahen bahwa rumah yang dia mau sudah ada.


Mahen berjanji, hari ini juga akan kesana untuk mengeceknya, apa memang sesuai dengan selera Devani atau tidak.


Satu lagi keseriusan Mahen yang membuat Devani mulai mengaguminya yaitu dia tidak mau bertele-tele dalam mengerjakan sesuatu.


Makanan yang mereka pesan pun sudah terhidang, kini keduanya dipersilahkan oleh pelayan untuk menikmatinya.


Devani mengambilkan terlebih dahulu nasi serta semangkuk sop iga untuk Mahen, barulah dia mengambil untuk dirinya. Itu yang membuat Mahen semakin ketagihan, rasanya makan seperti ada yang kurang saat Devani tidak melayaninya pada waktu makan.


Mahen berharap dengan momen-momen kebersamaan, bisa menumbuhkan benih cinta diantara mereka.


Selesai makan merekapun pulang tapi Mahen dan Devani akan singgah dulu untuk melihat rumah yang ditawarkan oleh penanggungjawab kompleks.


Mereka tiba sesuai janji, Pak Usup sudah menunggu kedatangan mereka di teras rumah yang dimaksud. Ternyata rumah itu hanya berjarak dua blok dari rumah papa Andara.


Rumah itu sangat terawat walau tidak dihuni, karena sang pemilik yang pindah tugas keluar negeri selalu meminta penjaga rumah untuk membersihkannya setiap hari. Jadi daripada kosong terus, pemilik menyerahkan tanggungjawab untuk menjualkan rumah tersebut dengan janji akan diberi komisi.


Mahen dan Devani berkeliling dari mulai ruang depan, tengah serta belakang, lalu ke lantai atas dan terakhir ke pekarangan, baik depan maupun belakang.


Setelah cocok, Mahen meminta penanggung jawab kompleks untuk mengurus akta jual belinya. Mahen akan menunggu, surat-menyurat itu selesai, barulah menyelesaikan pembayaran berikut memberi komisi kepada beliau.


Penanggung jawab kompleks berjanji akan mengurus semua surat menyurat secepatnya dan dia pastikan sebelum pernikahan Mahen semua sudah beres.


Setelah puas berkeliling, Mahen mengajak Devani untuk kembali ke kediaman papa Andara karena Annisa pasti sudah menunggu kepulangan mereka.

__ADS_1


Mendengar suara deru mesin kenderaan di luar rumah, membuat Annisa berlari membuka pintu dan menghambur ke pelukan Papa dan Bundanya secara bergantian saat melihat mereka turun dari mobil.


__ADS_2