BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 88. MENYELIDIKI ASAL USUL


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Gara saat melihat Dokter sudah selesai memeriksa keadaan Devani.


"Demamnya sudah turun, kalau boleh saya tahu, apa sebenarnya yang membuat wanita ini syok dan stres hingga dia tidak memiliki semangat lagi untuk hidup?"


"Saya yang salah Dok," ucap Gara lalu menceritakan sekilas tentang apa yang telah dia lakukan tadi malam terhadap Devani.


Gara mengesampingkan rasa malunya demi kesembuhan Devani. Dia ingin Dokter membantunya agar bisa mengembalikan semangat hidup Devani.


Dokter menyarankan agar membawa Devani ke psikiater untuk menindaklanjuti pengobatan tersebut. Dan meminta Gara agar tetap sabar, jangan sampai Devani trauma dan ketakutan setelah dia pulih dari demamnya nanti saat melihatnya.


Gara mengantar Dokter keluar dan meminta pengawal agar mengantar pulang sang Dokter. Setelah itu, dia pun kembali ke dalam kamar ingin menemani Devani.


Ternyata Devani meringkuk di sudut kamar sambil menutupi dirinya dengan selimut sembari menangis dan berkata, "Aku kotor, aku kotor," ucapnya berkali-kali dengan tubuh yang gemetar.


Gara menangis melihatnya, betapa bejat dirinya hingga membuat Devani menjadi seperti itu.


Saat Gara mendekat, Devani menatapnya tajam sambil berteriak, "Pergi! Pergi kau! Aku benci! Benci!" lalu Devani pingsan kembali.


Gara berlari, mengangkat dan membaringkan tubuh Devani ke atas kasur. Dia lalu mencari minyak kayu putih untuk membantu menyadarkannya.


Setelah membalurkan ke bagian-bagian yang bisa merangsang kesadaran, Gara pun menyelimuti tubuh Devani. Dia mengelus kepala Devani sambil bermonolog, "Aku salah, maafkan aku. Aku akan bertanggung jawab. Kamu boleh hukum aku apa saja asal kamu jangan seperti ini. Tolonglah sadar. Kamu boleh pukul aku, lampiaskan lah kemarahanmu padaku. Ayo bangunlah, pukul aku!" ucap Gara.


Devani mulai sadar, dia kembali menangis dan kini tangisannya terdengar pilu, dia memanggil papa dan mamanya dan meratapi nasibnya.


Gara nekat mendekati Devani dan berkata, "Aku akan menikahimu, tolong berikan alamat rumah keluargamu dan aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku di hadapan Papa mamamu."


Devani semakin kencang menangis, kata menikah telah membuat dirinya teringat dengan Mahen.


Lalu dia mengamuk, melempar bantal dan guling ke arah Gara.


"Bajingan! Pergi! Kau bajingan, lebih baik mati saja!"

__ADS_1


Devani menutup wajahnya dengan selimut, dia tertawa lalu menangis sambil terus bergelung dalam selimut.


Gara tidak tahu bagaimana cara membujuknya, lalu dia mendekat, rasanya gara ingin memeluk wanita itu sambil terus mengucapkan kata maaf.


Tiba-tiba Devani bangkit, dia membuang selimut yang menutupi tubuhnya dan membabi buta menyerang Gara. Devani memukul serta mencakar wajah Gara, untungnya gara sempat mengelak hingga hanya pipi kirinya saja yang tergores sedikit.


Lalu Gara menarik paksa Devani ke dalam pelukannya hingga Devani nggak bisa bergerak. Gara hanya ingin menenangkan dan mengatakan keseriusannya ingin meminta maaf dan bertanggung jawab.


Tubuh Devani melemah, lalu Gara merebahkannya ke atas tempat tidur. Gara membiarkan Devani sendiarian disana agar bisa beristirahat.


Kemudian Gara mencoba menelpon kembali pengelola Club malam. Kali ini panggilannya terhubung.


Saat mendengar suara menyahut di sana, Gara langsung memberondong dengan berbagai pertanyaan yang membuat pengelola Club tersebut kelabakan.


Pengelola Club membuang badan, dia tidak mau di persalahkan karena dia juga tidak tahu asal usul wanita itu. Yang dia tahu seseoran telah menyerahkan kepadanya.


Saat Gara mendesak agar mereka memberitahu siapa yang menjual wanita itu, pengelola Club pun berkata, "Maaf, aku tidak bisa memberitahukannya Bos!"


Gara geram lalu dia mengancam, jika sampai wanita itu, nantinya menjadi gila, Gara akan menghancurkan club tersebut, hingga pengelola akan merasa menyesal pernah menjual wanita baik-baik kepada pelanggan-pelanggannya.


Devani tertidur, setelah lelah menangis dan mengamuk. Lalu kesempatan ini Gara pergunakan untuk keluar menemui Mahen.


Gara mengunci pintu kamarnya, kemudian meninggalkan pesan kepada dua orang pengawal yang menjaga di luar agar memperhatikan wanitanya lewat jendela. Jika terjadi apa-apa yang membahayakan, mereka di minta untuk cepat menghubungi Gara.


Setelah meninggalkan pesan, gara pun berangkat ke tempat dirinya berjanji ingin bertemu Mahen.


Mahen sudah menunggu kedatangan Gara, dia memesan minuman untuk menemaninya duduk di sana.


Saat Gara tiba, Mahen lalu bertanya, "Aku pikir kamu tidak jadi datang?"


"Maaf Hen, aku rada telat, aku menunggu dia tertidur dulu," ucap Gara.

__ADS_1


"Coba kamu cerita, sebenarnya ada masalah apa, hingga kau mengundangku ke sini?" tanya Mahen.


Gara kemudian menceritakan semua yang terjadi dari awal datang sampai dia menghabiskan malam bersama dengan wanitanya dan mendapati wanita itu mengurung diri di kamar mandi dalam keadaan basah kuyup serta pingsan. Terus wanitanya shok dan stres hingga Dokter menyarankan agar membawa ke psikiater.


Mahen mendengarkan cerita Gara dengan serius, lalu dia berkata, "Apa kamu sudah memberitahu keluarganya Gar?"


"Bagaimana aku akan memberitahu keluarganya jika aku saja tidak tahu identitas dan asal usulnya Hen!"


"Kenapa kamu tidak tanya kepada pengelola Club yang nawarin wanita itu ke lo?"


"Sudah Hen, tapi dia juga tidak tahu dan dia menutupi identitas yang menjual wanita itu," ucap Gara.


"Pastilah, mungkin mereka sebuah jaringan, jika sampai terbongkar bakal terjerat semua," duga Mahen.


"Jadi aku harus bagaimana Hen, aku tidak tega mendengarnya terus menangis histeris. Tubuhnya gemetar, dia trauma dan dia sangat membenciku."


"Pastilah dia membencimu, dia merasa masa depannya sudah hancur. Kamu harus bisa mengambil simpatinya dan hilangkan rasa takutnya terhadapmu. Tunjukkan perhatian mu terus kepada dia, bahwa kamu benar-benar menyesal. Dan yang terpenting, hentikan kebiasaan burukmu, minum dan bergonta-ganti wanita. Bukankah aku sudah mengingatkanmu Gar!"


"Iya, seandainya kemaren aku menuruti perkataan mu, pasti hal itu tidak akan terjadi."


"Nasi sudah jadi bubur, tidak usah kamu sesali lagi, yang terpenting sekarang, perbaiki dirimu. Rawat dia hingga sembuh, mudah-mudahan dia mau memaafkan mu."


"Dan benar kata dokter, lebih baik kamu bawa dia ke psikiater untuk menghilangkan traumanya."


"Terimakasih Hen atas saranmu, kau memang sahabat terbaikku. Oh ya, bagaimana dengan istrimu, apa belum ada kabarnya juga?"


Mahen menggeleng lalu dia menjawab, "Entahlah Gar, padahal polisi sudah membantu mencarinya tapi istriku seperti di telan bumi. Sampai sekarang belum ada kabarnya," ucap Mahen sedih.


"Sabar ya sobat, mudah-mudahan istrimu segera di temukan dan kita bisa menemukan kebahagiaan. Jika saja wanita itu mau memaafkan aku, aku akan menikahinya Hen. Aku akan berhenti berpetualang. Sepertinya dia wanita yang baik dan bisa jadi ibu yang baik bagi anak-anak ku kelak."


"Mudah-mudahan Gar, aku senang melihatmu mau berubah, semoga harapanmu bisa terkabul dan kita berdua bisa hidup bahagia dengan wanita yang kita cintai," ucap Mahen.

__ADS_1


"Oh ya Hen, aku pamit dulu ya, aku takut dia terbangun dan mengamuk. Saat ini aku mengurungnya di kamar dan anak buahku, aku suruh perhatikan lewat jendela saja. Sekali lagi terimakasih," ucap Gara sambil menepuk pundak Mahen.


Mahen pun tersenyum, dia senang melihat perubahan sikap Gara dan sekarang Mahen akan pergi ke bandara untuk menjemput keluarganya yang sore ini berangkat dari Turki.


__ADS_2